fbpx
Connect with us

Kehamilan

Preeklampsia, Waspadai Gejalanya Sejak Dini untuk Cegah Komplikasi

mm

Published

on

penyebab, gejala, dan cara mengatasi preeklampsia

Preeklampsia merupakan salah satu kondisi serius yang harus sangat diwaspadai saat kehamilan. Diderita sekitar 5% ibu hamil, preeklampsia dapat menimbulkan komplikasi yang membahayakan ibu dan bayi jika tidak ditangani dengan baik sejak dini. Memastikan Bunda melakukan perawatan kehamilan (ANC) dengan baik dan benar, serta tidak melewatkan waktu kunjungan ke dokter kebidanan dan kandungan atau bidan adalah hal yang sangat disarankan. Kita pelajari lebih jauh yuk tentang pre-eklampsia.

Apa Itu Preeklampsia?

  • Preeklampsia adalah komplikasi pada kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah yang tinggi dan timbulnya kerusakan pada salah satu sistem organ tubuh, pada umumnya ginjal.
  • Preeklampsia umumnya timbul pada usia kehamilan 20 minggu ke atas pada ibu hamil yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal.
  • Preeklampsia dapat terjadi tiba-tiba. Peningkatan tekanan darah, walau sedikit, dapat merupakan tanda preeklampsia.
  • Jika tidak dirawat dan ditangani dengan baik, preeklampsia dapat mengakibatkan komplikasi serius, bahkan fatal, bagi ibu dan bayi.
  • Pengobatan preeklampsia adalah dengan melahirkan si kecil. Jika kehamilan Bunda masih terlalu muda, maka Bunda, Ayah dan dokter dapat berdiskusi untuk mencari jalan terbaik.

Gejala Preeklampsia

  • Terkadang pre-eklampsia muncul dan berkembang tanpa menunjukkan gejala apa pun.
  • Pada beberapa kasus, peningkatan tekanan darah terjadi perlahan, tetapi umumnya peningkatan tekanan darah terjadi secara drastis dan tiba-tiba.
  • Melakukan pemantauan dan pemeriksaan tekanan darah merupakan bagian penting dari perawatan kehamilan atau ANC, mengingat gejala awal kondisi ini pada umumnya adalah peningkatan tekanan darah. Jangan lupa isi “JURNAL” ya Bunda
  • Tekanan darah 140/90 milimeter merkuri (mm Hg) atau lebih tinggi, yang tercatat dalam dua kali kesempatan dalam jarak setidaknya empat jam, merupakan kondisi yang abnormal dan harus diwaspadai.
  • Kelebihan protein dalam urin (proteinuria) atau timbulnya gejala/tanda gangguan ginjal
  • Sakit kepala sangat parah
  • Perubahan pada penglihatan, termasuk kehilangan penglihatan temporer, penglihatan kabur atau sensitif terhadap cahaya.
  • Nyeri pada perut bagian atas, umumnya di bawah tulang rusak pada sisi kanan.
  • Mual atau muntah
  • Berkurangnya produksi urin atau air seni
  • Berkurangnya trombosit darah (thrombocytopenia)
  • Terganggunya atau rusaknya fungsi hati/liver.
  • Kesulitan bernapas atau napas pendek akibat cairan dalam paru-paru.
  • Peningkatan berat badan tiba-tiba dan bengkak (edema), khususnya di wajah atau tangan, seringkali timbul pada kondisi pre-eklampsia. Namun kondisi ini juga muncul pada kehamilan normal, sehingga tidak dapat diandalkan sebagai gejala pre-eklampsia.

Kapan Sebaiknya Berkonsultasi ke Dokter?

  • Pastikan Bunda tidak melewatkan waktu kunjungan ke dokter agar pemantauan tekanan darah tidak terlewatkan.
  • Segera hubungi dokter atau ke Unit Gawat Darurat (UGD) jika Bunda mengalami sakit kepala hebat, penglihatan kabur, nyeri hebat pada perut atau kesulitan bernafas yang hebat.
  • Mengingat sakit kepala, mual, rasa nyeri dan sakit adalah keluhan yang biasa terjadi saat hamil, terkadang menjadi sulit bagi Bunda untuk memilah apakah kondisi ini normal atau mengindikasikan adanya masalah serius, khususnya jika ini merupakan kehamilan pertama Bunda. Disarankan untuk menghubungi dokter Bunda jika gejala ini timbul.

Penyebab Preeklampsia

Penyebab pasti pre-eklampsia masih belum diketahui. Para ahli meyakini komplikasi ini berawal dari plasenta, organ pemasok nutrisi bagi janin selama masa kehamilan.

Di awal kehamilan, terbentuk pembuluh-pembuluh darah baru yang kemudian berkembang sehingga pasokan darah ke plasenta menjadi efisien.

Pada perempuan dengan pre-eklampsia, pembuluh darah-pembuluh darah ini sepertinya tidak berkembang sebagaimana seharusnya; lebih sempit dibandingkan pembuluh darah normal dan memiliki reaksi yang berbeda terhadap perubahan hormon. Hal ini membatasi jumlah darah yang dapat mengalir melaluinya.

Dampak yang dapat timbul akibat kondisi di atas mencakup:

  • Kurangnya aliran darah ke rahim/kandungan
  • Kerusakan pembuluh darah
  • Masalah pada sistem imunitas atau kekebalan tubuh
  • Gen tertentu
manfaat pemeriksaan tekanan darah untuk ibu hamil

Melakukan pemeriksaan tekanan darah sebagai cara memantau risiko preeklampsia.

Komplikasi terkait Tekanan Darah Tinggi Lain yang Dapat Timbul Selama Kehamilan

Pre-eklampsia merupakan salah satu dari empat komplikasi terkait tekanan darah tinggi yang dapat timbul selama kehamilan. Tiga lainnya adalah:

  • Hipertensi Gestasional

Penderita hipertensi gestasional memiliki tekanan darah yang tinggi tetapi tidak terdapat kelebihan protein di air seninya atau tanda-tanda kerusakan organ lainnya. Beberapa pendeita hipertensi gestasional pada akhirnya mengalami pre-eklampsia.

  • Hipertensi Kronis

Hipertensi kronis adalah tekanan darah tinggi yang terjadi sebelum kehamilan atau sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu. Namun, karena tekanan darah tinggi umumnya tidak menunjukkan gejala, kemungkinan sulit untuk mendeteksinya saat kondisi ini terjadi.

  • Hipertensi Kronis dengan Preeklampsia

Kondisi ini terjadi pada perempuan yang mengalami tekanan darah tinggi kronis sebelum hamil dan berkembang semakin parah saat ia hamil dengan disertai adanya kandungan protein dalam air seninya atau komplikasi kesehatan lainnya selama kehamilannya.

Faktor Risiko

Preeklampsia merupakan komplikasi yang hanya terjadi saat kehamilan. Berikut faktor risikonya:

  • Memiliki sejarah preeklampsia. Pernah mengidap preeklampsia, baik diri Bunda sendiri atau pun anggota keluarga lainnya, secara berarti meningkatkan risiko terjadinya komplikasi ini.
  • Kehamilan pertama. Risiko tertinggi terkena pre-eklampsia adalah saat kehamilan pertama.
  • Pasangan baru. Kehamilan yang terjadi bersama pasangan baru meningkatkan risiko terjadinya pre-eklampsia dibandingkan kehamilan kedua, ketiga dan seterusnya bersama pasangan yang sama.
  • Usia. Risiko terjadinya pre-eklampsia lebih tinggi pada perempuan yang hamil di usia lebih dari 40 tahun.
  • Obesitas. Risiko terjadinya pre-eklampsia lebih tinggi pada perempuan dengan obesitas.
  • Kehamilan kembar. Pre-eklampsia lebih sering terjadi pada ibu hamil dengan bayi kembar.
  • Jarak kehamilan. Kehamilan berjarak kurang dari dua tahun atau lebih dari 10 tahun memiliki risiko lebih tinggi terhadap pre-eklampsia.
  • Memiliki sejarah kondisi tertentu. Mengidap kondisi tertentu sebelum hamil seperti tekanan darah tinggi kronis, sakit kepala migren, diabetes tipe 1 atau 2, penyakit ginjal, kecenderungan penggumpalan darah atau lupus, dapat meningkatkan resiko pre-eklampsia.

Komplikasi yang Dapat Timbul

  • Semakin parah dan semakin dini pre-eklampsia terjadi, risiko yang dihadapi ibu dan bayi juga semakin besar.
  • Pre-eklampsia dapat mengharuskan dilakukannya persalinan dipercepat baik melalui induksi atau operasi (sectio cesaria). Konsultasikan dengan dokter Bunda ya.
  • Komplikasi yang dapat timbul mencakup:
  • Berkurangnya Aliran Darah ke Plasenta.

Preeklampsia berpengaruh terhadap pembuluh nadi yang membawa darah ke plasenta. Jika pasokan darah ke plasenta tidak cukup, jumlah oksigen dan nutrisi yang akan diterima si kecil di dalam rahim dapat berkurang dan hal ini dapat menyebabkan Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT), Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR) atau kelahiran premature. Kelahiran premature dapat menimbulkan masalah pernafasan pada bayi.

  • Plasenta Abrupsi

Pre-eklampsia meningkatkan resiko Bunda terkena Plasenta Abrupsi, kondisi serius dimana sebagian atau seluruh plasenta terlepas dari dinding bagian dalam rahim sebelum si kecil lahir. Abrupsi berat dapat menyebabkan terjadinya perdarahan hebat dan kerusakan plasenta, yang bisa membahayakan jiwa Bunda dan si kecil.

  • Sindroma HELLP

HELLP merupakan singkatan dari kondisi terjadinya Hemolysis (kerusakan sel darah merah), peningkatan enzim Liver (atau hati), dan kadar atau jumlah trombosit rendah (Low Platelet).  Sindroma ini dapat dengan cepat mengancam jiwa Bunda dan si kecil. Gejalanya adalah: mual dan muntah, sakit kepala dan nyeri di perut kanan bagian atas. Sindroma HELLP sangat berbahaya karena dapat menjadi pertanda adanya kerusakan pada sejumlah sistem organ tubuh. Pada beberapa kasus, sindroma ini muncul secara tiba-tiba, bahkan sebelum terdeteksi adanya kondisi tekanan darah tinggi.

  • Eklampsia

Saat preeklampsia tidak terkendali, eklampsia yang pada intinya adalah pre-eklampsia disertai kejang, dapat terjadi. Gejala eklampsia yang langsung terjadi diantaranya adalah nyeri pada perut bagian kanan atas, sakit kepala berat, penglihatan terganggu dan perubahan keadaan mental seperti menurunnya kewaspadaan. Dampak eklampsia yang sangat serius bagi ibu dan bayi, mengharuskan bayi untuk segera dilahirkan berapapun usia kehamilannya.

  • Penyakit Jantung

Pre-eklampsia berpotensi meningkatkan resiko terkena gangguan pada jantung dan pembuluh darah jantung di masa mendatang. Resiko akan semakin bertambah jika sebelumnya pernah mengalami pre-eklampsia lebih dari satu satu kali atau kelahiran prematur. Untuk meminimalkan resiko, jaga berat badan ideal Bunda setelah melahirkan, konsumsi beragam sayuran dan buah-buahan, berolahraga teratur dan jangan merokok.

Kunjungan ke Dokter

Pre-eklampsia biasanya terdiagnosa saat Bunda melakukan kunjungan dan pemeriksaan kehamilan rutin. Apabila terdiagnosa, kemungkinan besar Bunda harus melakukan pemeriksaan kehamilan tambahan ke dokter kebidanan dan kandungan.

Berikut hal-hal yang dapat Bunda dan Ayah persiapkan sebelum kunjungan ke dokter:

  • Tuliskan semua gejala yang Bunda alami dan rasakan, bahkan jika menurut Bunda itu adalah gejala kehamila normal.
  • Buat daftar semua obat-obatan, vitamin, suplemen yang Bunda konsumsi.
  • Jika memungkinkan, ajak Ayah, keluarga atau teman untuk membantu mengingat semua informasi yang diberikan saat kunjungan ke dokter.
  • Buat daftar pertanyaan untuk dokter Bunda sesuai kadar kepentingannya sebagai antisipasi terbatasnya waktu.

Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan umum terkait pre-eklampsia yang dapat Bunda tanyakan ke dokter:

  • Apakah kondisi ini telah mempengaruhi/membahayakan bayi saya?
  • Apakah aman untuk melanjutkan kehamilan ini?
  • Apakah pertanda atau gejala yang harus diwaspadai, dan kapan saya harus menghubungi dokter?
  • Seberapa sering saya harus kontrol, dan bagaimana kesehatan serta kesejahteraan bayi saya dimonitor?
  • Perawatan apa yang tersedia, dan mana yang dokter rekomendasikan?
  • Saya memiliki kondisi atau gangguan kesehatan lain. Bagaimana saya sebaiknya mengelola kondisi ini?
  • Adakah larangan aktivitas yang harus saya patuhi?
  • Apakah saya harus melahirkan melalui operasi section cesaria?
  • Selain pertanyaan-pertanyaan di atas, jangan ragu untuk bertanya jika ada yang terlintas saat konsultasi.

Tes dan Diagnosa

Gejala yang timbul untuk dapat didiagnosa dengan pre-eklampsia adalah memiliki tekanan darah yang tinggi dan salah satu atau lebih komplikasi di bawah ini setelah kehamilan berusia lebih dari 20 minggu:

  • Terdapat kandungan protein di air seni atau proteinuria
  • Trombosit rendah
  • Gangguan fungsi liver/hati
  • Gejala atau tanda adanya gangguan ginjal selain protein dalam air seni.
  • Cairan di paru-paru (oedema paru)
  • Serangan sakit kepala
  • Gangguan penglihatan

Sebelumnya, gejala untuk diagnosa pre-eklampsia adalah jika ibu hamil memiliki tekanan darah tinggi dan protein di dalam air seni. Namun, para ahli kini mengetahui bahwa memungkinkan untuk terkena pre-eclampsia walau tidak terdapat kadar protein dalam air seni.

Tekanan darah yang melebihi 140/90 mm Hg pada ibu hamil dianggap abnormal. Namun, satu kali pengukuran dengan hasil tekanan darah yang tinggi tidak langsung berarti Bunda mengalami pre-eklampsia. Pada saat Bunda satu kali terdeteksi memiliki tekanan darah abnormal, atau cukup jauh lebih tinggi daripada tekanan darah Bunda biasanya, umumnya dokter Bunda akan memantau hasil pengukuran tekanan darah selanjutnya.

Apabila hasil pengukuran tekanan darah Bunda empat jam setelah yang pertama tetap menunjukkan hasil abnormal, kemungkinan kecurigaan dokter bahwa Bunda mengalami pre-eklampsia terbukti. Dokter biasanya akan meminta Bunda untuk melakukan pengukuran tekanan darah tambahan serta melakukan tes darah dan air seni.

Baca juga: Manfaat Pemeriksaan Tekanan Darah untuk Ibu Hamil

Tes yang Dapat Dilakukan

Jika dokter Bunda mencurigai adanya pre-eklampsia, kemungkinan ada beberapa tes yang harus dilakukan:

  • Tes Darah. Tes ini akan dapat membantu menentukan fungsi hati dan ginjal serta jumlah hemoglobin di dalam darah, sel yang membantu proses pembekuan darah.
  • Analisa Air Seni (Urin). Sampel air seni tunggal untuk mengukur rasio protein hingga kreatinin – senyawa kimia yang terkandung di dalam urin – dapat digunakan untuk membuat diagnosa. Sampel air seni (urin) yang diambil lebih dari 24 jam sebelumnya dapat digunakan untuk menghitung jumlah protein yang hilang di dalam urin dan merupakan petunjuk untuk mengetahui kegawatan pre-eklampsia.
  • USG Janin. Umumnya dokter akan merekomendasikan untuk dilakukannya pengawasan dan pemantauan ketat terhadap pertumbuhan bayi dengan menggunakan USG. Citra si kecil yang terlihat saat pemeriksaan USG memungkinkan dokter untuk membuat taksiran berat badan janin dan jumlah cairan di dalam rahim (cairan amniotik).
  • Tes Non-stres atau profil biofisik. Tes nonstres merupakan prosedur sederhana untuk menguji reaksi detak jantung janin saat ia bergerak. Profil biofisik memadukan hasil USG dan tes non-stres untuk mendapatkan informasi lebih banyak mengenai pernafasan, irama, pergerakan serta volume cairan amniotik di dalam rahim.

Perawatan dan Pengobatan

Satu-satunya penawar pre-eklampsia adalah kelahiran. Bunda dihadapkan pada resiko yang tinggi terhadap terjadinya kejang, abrupsi plasenta, stroke dan kemungkinan perdarahan hebat hingga tekanan darah Bunda turun. Jika usia kehamilan Bunda masih muda, kelahiran mungkin bukan merupakan hal yang terbaik bagi si kecil.

Dokter akan memberitahu jadwal berkunjung Bunda untuk pemeriksaan kehamilan jika didiagnosa dengan pre-eklampsia, dan sepertinya Bunda harus lebih sering melakukannya dibandingkan dengan kehamilan tanpa komplikasi pre-eklampsia. Hal yang sama juga berlaku untuk tes darah, USG dan tes non-stres.

Baca juga: Solusio Plasenta, Jarang Terjadi tapi Patut Diwaspadai

Perawatan yang dapat dilakukan untuk pre-eklampsia diantaranya adalah:

  • Pengobatan untuk menurunkan tekanan darah. Tanyakan dan diskusikan dengan dokter Bunda ya.
  • Pemberian corticosteroids. Jika Bunda menderita pre-eklampsia berat atau sindroma HELLP, pengobatan corticosteroid dapat untuk sementara meningkatkan fungsi liver/hati dan hemoglobin guna membantu memperpanjang usia kehamilan. Corticosteroid juga dapat membantu mematangkan paru-paru si kecil setidaknya dalam 48 jam. Hal ini merupakan langkah penting untuk mempersiapkan kehidupan bayi lahir prematur. Tanyakan lebih jauh mengenai hal ini kepada dokter ya Bunda
  • Bed rest. Umumnya ibu hamil dengan pre-eklampsia disarankan untuk melakukan bedrest. Namun penelitian menunjukkan bahwa tidak terlihat manfaat yang berarti. Selain itu dapat meningkatkan resiko terjadinya penggumpalan darah selain berdampak pada kondisi ekonomi dan kehidupan sosial Bunda. Diskusikan dengan dokter Bunda untuk hal ini ya.
  • Rawat Inap. Pre-eklampsia berat kemungkinan mengharuskan Bunda untuk dirawat di rumah sakit guna perawatan yang lebih intensif dan uji yang lebih teratur untuk memonitor kesejahteraan janin serta memonitor volume cairan amniotik. Kekurangan cairan amniotik merupakan pertanda buruknya pasokan darah ke janin.
  • Jika Bunda didiagnosa dengan pre-eklampsia mendekati akhir kehamilan, umumnya dokter akan merekomendasikan untuk dilakukan percepatan kelahiran. Diskusikan dengan dokter Bunda ya.

Umumnya tekanan darah Bunda akan kembali normal dalam 12 minggu setelah melahirkan, atau lebih cepat.

Pencegahan

  • Walau para peneliti terus melakukan penelitian tentang cara pencegahan pre-eklampsia, namun sejauh ini belum ditemukan strategi yang jitu.
  • Mengkonsumsi lebih sedikit garam, mengubah aktivitas, membatasi asupan kalori, mengkonsumsi bawang putih atau minyak ikan tidak mengurangi resiko terhadap pre-eklampsia. Begitu juga dengan meningkatkan asupan vitamin E dan C.
  • Dalam beberapa kasus, konsumsi aspirin dalam dosis rendah dan suplemen Kalsium dapat membantu menurunkan resiko terhadap pre-eklampsia. Namun, langkah pencegahan ini hanya dapat dilakukan setelah Bunda berkonsultasi dengan dokter kandungan Bunda ya.
  • Sebelum kembali hamil, khususnya jika Bunda terkena pre-eklampsia pada kehamilan sebelumnya, langkah dan persiapan terbaik adalah dengan memastikan kondisi kesehatan Bunda sudah prima.
  • Kurangi berat badan jika memang dianjurkan oleh dokter dan pastikan kondisi lain seperti diabetes terkelola dengan baik.
  • Begitu hamil, rawat diri dan kehamilan Bunda serta si kecil dengan melakukan perawatan kehamilan sejak dini secara teratur.
  • Jika pre-eklampsia terdeteksi dini, Bunda, Ayah dan dokter dapat berkolaborasi untuk mencegah timbulnya komplikasi serta merencanakan langkah terbaik untuk Bunda dan si kecil.
  • Untuk saat ini, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah mengikuti dan melakukan perawatan kehamilan dengan baik dan jangan lewatkan janji temu dengan dokter/bidan.
  • Bunda akan diukur tekanan darahnya dan diuji untuk melihat kadar protein dalam urin. Juga, penting bagi Bunda dan Ayah untuk cermat mengamati pertanda pre-eklampsia agar dapat segera menginformasikan dokter atau bidan Bunda dan segera mendapatkan perawatan.
Sumber:
Dr. Ari Waluyo, SpOG
www.mayoclinic.org
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kehamilan

Benarkah Minyak Zaitun Bermanfaat untuk Bumil?

mm

Published

on

manfaat minyak zaitun untuk ibu hamil
Minyak zaitun bermanfaat baik bagi ibu hamil maupun calon bayi.

Minyak zaitun kerap menjadi pilihan yang lebih menyehatkan untuk menggoreng. Karena itulah, orang yang ingin menjalani pola hidup sehat biasanya “hijrah” dari minyak goreng biasa ke minyak zaitun. Namun, apakah aturan ini berlaku pula untuk ibu hamil? Apakah minyak zaitun juga memiliki manfaat untuk ibu hamil?

Apakah Minyak Zaitun Bermanfaat bagi Ibu Hamil?

Ternyata jawabannya adalah iya. Sama seperti manfaat minyak zaitun pada umumnya, konsumsi minyak zaitun pada ibu hamil juga memiliki segudang manfaat. Ini karena minyak zaitun mengandung lemak baik yang bagus untuk tubuh. Tak hanya itu, minyak zaitun juga mengandung vitamin A dan omega 3 yang tentunya baik bagi bumil. Inilah beberapa manfaat minyak zaitun pada ibu hamil.

Menghindarkan Ibu Hamil dari Infeksi

Saat hamil, imun tubuh biasanya akan melemah. Dan dengan begitu, Bunda akan lebih mudah terserang infeksi. Salah satu cara agar Bunda tidak mudah terkena infeksi adalah dengan mengonsumsi pangan yang mengandung vitamin A. Minyak zaitun adalah salah satu sumbernya.

Mengurangi Risiko Stretch Mark dan Puting Kering

Tak hanya dikonsumsi, minyak zaitun juga bermanfaat sebagai pemakaian luar. Saat hamil, Bunda pasti rentan mengalami stretch mark karena kulit yang tiba-tiba melar. Untuk mengurangi risiko ini, Bunda dapat mengoleskan minyak zaitun ke area perut dan paha. Aplikasi minyak zaitun secara rutin dapat membuat Bunda terhindar dari stretch mark loh! Kalaupun stretch mark muncul, biasanya tidak akan terlalu parah dan cenderung samar.

Oh ya, aturan aplikasi yang sama bisa Bunda terapkan pada puting. Menjelang persalinan, puting maupun areola biasanya akan kering dan pecah-pecah. Jika dibiarkan, tentu akan membuat Bunda tidak nyaman. Aplikasikanlah minyak zaitun untuk meredakan gejalanya. Namun, pemakaian minyak zaitun pada puting tidak disarankan saat si kecil sudah lahir ya. Khawatir minyak zaitun yang menempel pada puting akan tertelan oleh bayi.

Manfaat Minyak Zaitun pada Bayi

Rupanya, minyak zaitun yang dikonsumsi semasa kehamilan tidak hanya bermanfaat bagi Bunda saja, tetapi juga bagi bayi yang dikandung. Inilah sejumlah manfaat yang bisa diperoleh.

Baik untuk Perkembangan Otak dan Jantung Janin

Minyak zaitun yang kaya dengan omega 3 sangatlah baik untuk perkembangan jantung janin. Pun, bayi yang lahir dari ibu yang mengonsumsi minyak zaitun selama kehamilan, memiliki proses belajar yang lebih baik.

Refleks Psikomotor yang Lebih Baik

Seperti dilansir dari momjunction.com, bayi yang lahir dari ibu yang rutin mengonsumsi minyak zaitun selama kehamilan juga terbukti memiliki refleks psikomotor yang lebih baik. 

Berkaitan dengan Rendahnya Risiko Mengi

Mengi atau nafas dengan suara tinggi adalah salah satu hal yang kerap terjadi pada bayi. Tahukah, Bunda? Sebuah studi yang dipublikasikan oleh Pediatric Pulmonology menunjukkan bahwa konsumsi minyak zaitun selama kehamilan berkaitan dengan rendahnya kejadian mengi pada bayi di satu tahun pertama kehidupannya. Luar biasa, bukan?

Cara Mengonsumsi Minyak Zaitun selama Kehamilan

Setelah tahu manfaat minyak zaitun bagi ibu hamil dan janin, Bunda tak perlu ragu lagi untuk mengonsumsi minyak satu ini selama kehamilan. Namun, bagaimana sih konsumsi yang disarankan? 

Untuk mengonsumsi minyak zaitun selama kehamilan, Bunda bisa menggunakannya sebagai alternatif minyak untuk menggoreng atau memanfaatkannya sebagai salad dressing. Mengenai seberapa banyak konsumsi minyak zaitun dalam sehari, Bunda bisa mengonsultasikannya pada dokter masing-masing karena dokter pasti akan melihat riwayat kesehatan Bunda.

Bunda, itulah informasi seputar manfaat minyak zaitun bagi ibu hamil. Selamat menjalani hidup yang lebih sehat!

Continue Reading

Kehamilan

Benarkah Aspirin Bisa Meningkatkan Risiko Keguguran? Ini Faktanya

mm

Published

on

aspirin keguguran
Studi mengenai dampak aspirin pada keguguran memiliki hasil beragam.

Aspirin atau yang dikenal dengan asam asetil salisilat merupakan obat dengan beragam manfaat, mulai dari meredakan demam, nyeri, hingga dimanfaatkan untuk pengobatan jantung dan pengenceran darah. Obat satu ini lazimnya dikonsumsi atas resep dokter. Namun, ada pula jenis aspirin yang dapat dibeli bebas di apotek atau toko obat.

Meski beberapa jenis aspirin dapat dibeli bebas, Bunda mesti hati-hati mengonsumsinya, terutama bagi yang tengah hamil. Pasalnya, beberapa temuan mengaitkan aspirin dengan risiko keguguran. Walau temuan terkait hal ini masih penuh perdebatan, tak ada salahnya jika kita waspada, bukan? 

Aspirin dan Risiko Keguguran

Aspirin adalah salah satu jenis obat anti-inflamasi nonsteroid. Dilansir dari verywellfamily.com,  salah satu studi pada awal tahun 2000-an menunjukkan adanya peningkatan risiko keguguran sebesar 80% pada perempuan hamil yang mengonsumsi jenis obat ini. Studi lainnya pada tahun 2003 mencatat temuan yang sama, yakni penggunaan obat anti-inflamasi nonsteroid dapat meningkatkan potensi keguguran.

Meski telah ada dua studi yang mengaitkan penggunaan obat anti-inflamasi nonsteroid dengan keguguran, yang mana aspirin termasuk di dalamnya, hasil ini belum sepenuhnya meyakinkan. Mengapa? Karena bisa jadi penyebab keguguran pada partisipan dalam studi bukanlah penggunaan aspirin itu sendiri, melainkan penyakit awal yang diderita si ibu hamil yang membuatnya mengonsumsi aspirin. Hal seperti ini tidak dijelaskan dalam studi. Pun, temuan dari studi lainnya sangatlah beragam sehingga kesimpulannya belum jelas betul.

Bisakah Aspirin Mencegah Keguguran?

Meski beberapa studi mengaitkan penggunaan aspirin dengan peningkatan risiko keguguran, ada pula studi yang menunjukkan hal sebaliknya. Hmm, kontradiktif sekali, ya?

Namun, hal ini menjadi masuk akal mengingat aspirin kerap dimanfaatkan sebagai obat pengencer darah. Nah, aspirin mungkin saja bermanfaat bagi perempuan yang mengalami keguguran berulang karena sindrom antifosfolipid atau sindrom kekentalan darah. Penggunaan aspirin dalam dosis rendah, atas saran dokter tentunya, dapat menghambat terbentuknya gumpalan darah. Aliran darah menuju janin pun akan lebih lancar sehingga risiko keguguran dapat dihindari.

Bermanfaat bagi Kehamilan Berikutnya

Disadur dari WebMd, konsumsi aspirin rupanya juga bermanfaat bagi kehamilan berikutnya pada perempuan yang pernah mengalami satu atau dua keguguran. Ashley Naimi, Profesor Epidemiologi Emory University, mengatakan bahwa hal ini mungkin terjadi karena sifat aspirin sebagai anti-inflamasi. Yang mana, keguguran mungkin terjadi karena inflamasi yang tidak terdeteksi.

Dalam studinya yang dipublikasikan dalam Annals of Internal Medicine, sekitar 1.200 partisipan yang memiliki riwayat 1 hingga 2 keguguran terlibat. Hasilnya, perempuan yang mengonsumsi aspirin dosis rendah sebanyak 5 hingga 7 kali per minggu lebih mungkin untuk hamil kembali dan melahirkan bayi yang sehat dibanding yang tidak mengonsumsi aspirin. Menarik sekali ya, Bun, temuannya.

Itulah Bunda beragam temuan yang membahas keterkaitan aspirin dengan risiko keguguran. Untuk sampai pada kesimpulan yang adekuat, masih diperlukan penelitian lagi. Yang terpenting, jika saat ini Bunda sedang hamil, lebih baik berkonsultasi dulu dengan nakes sebelum mengonsumsi obat apapun, termasuk aspirin. Semoga sehat selalu ya, Bun.

Continue Reading

Kehamilan

Bunda, Pahami Penyebab Pembengkakan yang Terjadi saat Hamil

mm

Published

on

bengkak saat hamil
Bukan hanya perut yang akan membesar selama kehamilan, beberapa hal ini juga.

Tubuh mengalami banyak perubahan selama kehamilan. Di masa awal, banyak calon ibu merasakan kulit yang lebih berkilau atau rambut yang terasa lebih lebat. Namun seiring bertambah besarnya perut, semua gejala kehamilan yang menyenangkan itu berubah dengan kulit yang menjadi lebih gelap, kaki dan tangan yang membengkak, bahkan wajah pun ikut membengkak. Selain kenaikan berat badan, hal ini juga disebabkan perubahan dalam tubuh Bunda. 

Penyebab tubuh bengkak saat hamil 

Tahukah Bunda, tubuh ibu hamil menyimpan lebih banyak cairan di dalam tubuhnya. Selama hamil, volume cairan di dalam tubuh bisa meningkat hingga 8 liter banyaknya, atau 33 cangkir! Wow, banyak ya, Bun! Nggak heran kalau Bunda merasakan tubuh lebih berat.

Tidak hanya cairan, volume plasma tubuh ibu hamil juga meningkat sebanyak 30-50 persen, loh. Itu artinya, total volume darah dalam tubuh Bunda juga meningkat banyak. 

Lantas, ke mana cairan tersebut disimpan? Apakah beredar di dalam tubuh secara merata? 

Beberapa bagian cairan tersimpan dalam sel tubuh untuk menjaga fungsi sel tersebut. Sisa cairan tersebut tersimpan di luar sel untuk meningkatkan sirkulasi oksigen, sistem pembuangan sampah, dan mengontrol aliran elektrolit. 

Sementara peningkatan plasma darah merupakan reaksi dari meningkatnya kebutuhan plasenta dan organ maternal Bunda. Intinya, pertambahan volume plasma atau darah memang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan janin dan organ tubuh Bunda. 

Artinya, semakin bertambah usia janin, semakin meningkat pula kebutuhannya. Menjelang waktu persalinan di trimester ketiga, volume darah di tubuh Bunda pun mencapai puncaknya. Itu sebabnya, pembengkakan pada beberapa bagian tubuh akan sangat terasa di trimester ini. 

Bukan hanya itu yang bisa menyebabkan pembengkakan saat hamil, Bun. Meningkatnya kadar sodium dalam tubuh juga bisa jadi biang keroknya. Pasalnya, sodium mempengaruhi bagaimana tubuh menyerap dan memproses air. Kenaikan kadar sodium sedikit saja bisa menyebabkan pembengkakan. 

Mana yang normal dan yang tidak?

Sebagian besar penyebab pembengkakan saat hamil memang wajar terjadi. Akan tetapi, Bunda juga perlu mewaspadai beberapa penyebab yang tidak wajar. Lalu bagaimana membedakannya? 

Pada dasarnya, tidak perlu panik jika Bunda mengalami bengkak pada kaki, pergelangan kaki, jari-jemari atau tangan. Bunda juga mungkin menyadari kalau pembengkakan ini menjadi lebih parah menjelang akhir hari. Hal ini disebabkan karena cairan ekstra di dalam tubuh kerap berkumpul di bagian tubuh yang terjauh dari jantung sebagai organ pemompa. Selain itu, kondisi cuaca yang panas dan lembap serta aktivitas yang membuat Bunda lebih banyak berdiri juga bisa menyebabkan pembengkakan. 

Akan tetapi, ada beberapa kondisi selama kehamilan yang juga menyebabkan pembengkakan, yaitu preeklampsia dan pembekuan darah. Harap diingat bahwa kedua hal ini merupakan faktor risiko yang perlu dipantau secara serius oleh tenaga kesehatan. Selain itu, pembengkakan yang terjadi karena kedua kondisi ini berbeda dari bengkak biasa. 

Pembengkakan yang terjadi karena preeklampsia biasanya terjadi pada area lengan, muka, dan sekitar mata yang terjadi secara tiba-tiba atau bertahap. Pada pengidap preeklampsia, pembengkakan ini juga diikuti gejala lain seperti rasa sakit kepala yang menetap, gangguan penglihatan, nyeri perut, dan pertambahan berat badan yang terjadi secara tiba-tiba. 

Sementara pembengkakan yang terjadi karena pembekuan darah biasanya juga disertai dengan gejala:

  • Rasa nyeri yang nyata
  • Kulit kemerahan 
  • Area tubuh yang bengkak juga terasa lembek 
  • Hangat jika disentuh

Jika Bunda mengalami gejala-gejala ini, segera menghubungi dokter kandungan atau bidan ya.

Mengatasi pembengkakan normal

Jika pembengkakan yang disebabkan oleh preeklampsia dan pembekuan darah perlu ditangani oleh dokter, maka pembengkakan normal bisa diatasi dengan beberapa cara berikut ini: 

  • Angkat kaki hingga posisinya berada di atas jantung Bunda. Misalnya dengan berbaring di kasur dan mengganjal kaki dengan beberapa bantal yang ditumpuk. Cara ini bisa membantu mengalirkan cairan kembali ke arah jantung. 
  • Minum banyak air untuk membuang cairan ekstra dan sodium yang tersimpan dalam tubuh. 
  • Gunakan kaos kaki kompresi untuk meningkatkan sirkulasi darah, apalagi jika Bunda terpaksa duduk dalam satu posisi dalam waktu yang lama, misalnya saat bepergian jarak jauh. 
  • Hindari beraktivitas di luar rumah saat cuaca panas dan lembap. 
  • Naikkan kaki beberapa kali jika Bunda berdiri dalam waktu yang lama. 
  • Hindari sepatu berhak tinggi dan gunakan sepatu yang nyaman. 
  • Konsumsi lebih banyak makanan yang mengandung potassium seperti pisang dan avokad untuk mengeluarkan tumpukan sodium dalam tubuh. 
  • Kurangi konsumsi makanan asin seperti makanan kaleng, fast food, dan keripik. 

Semoga cara tersebut bisa membantu mengurangi ketidaknyamanan yang dirasakan saat mengalami bengkak ya, Bun.

Continue Reading

Trending