fbpx
Connect with us

Kehamilan

Gerakan Yoga untuk Ibu Hamil bersama Nujuh Bulan Studio

mm

Published

on

gerakan yoga untuk ibu hamil

Gerakan yoga baik dilakukan oleh ibu hamil karena beragam manfaatnya. Selain memberikan rasa relaks untuk ibu hamil, gerakan yoga juga bisa membantu Bunda meregangkan otot-otot yang kaku dan memperkuat otot-otot yang dapat membantu dalam proses persalinan nanti.

Kali ini, Ibu Sehati mengajak Nujuh Bulan Studio untuk memberikan beberapa gerakan yoga untuk ibu hamil yang juga nyaman dan aman. Meski demikian, amat disarankan bagi Bunda untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum melakukan gerakan yoga ini. Pasalnya, ada beberapa kondisi kesehatan atau kehamilan yang mungkin menjadi penghalang bagi Bunda untuk berlatih yoga.

Nujuh Bulan Studio adalah Childbirth Education Center yang menyediakan berbagai aktivitas, fasilitas, dan dukungan untuk Bunda dan si kecil. Untuk mengecek jadwal yoga di Nujuh Bulan Studio, silakan klik di sini.

Silakan cek video gerakan yoga tersebut di sini ya, Bunda. Selamat mencoba!

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kehamilan

Mengenali Risiko Kehamilan dengan Sindrom APS atau Kekentalan Darah

mm

Published

on

kehamilan dengan sindrom aps
Kehamilan dengan sindrom aps memiliki banyak risiko.

Antiphospolipid syndrome (APS) atau sindrom kekentalan darah adalah gangguan autoimun yang kerap menimbulkan sejumlah risiko pada kehamilan. Awalnya, sindrom ini diketahui sebagai penyakit bawaan dari lupus. Namun, seiring berjalannya waktu, sindrom APS juga ditemukan sebagai sebuah kejadian tunggal atau lebih dikenal dengan sebutan sindrom APS primer. Sindrom ini pulalah yang kerap menjadi penyebab utama stroke pada orang di bawah usia 50 tahun. 

Sayangnya, sulit mengenali sindrom APS semenjak dini. Biasanya, seseorang baru terdeteksi mengalami sindrom APS ketika mengalami keguguran berulang atau ketika memiliki gumpalan darah di otak atau pembuluh darah lainnya. Lantas, apa saja risiko yang ditimbulkan oleh sindrom APS pada kehamilan?

Risiko Kehamilan dengan Sindrom APS

Ibu hamil yang menderita sindrom kekentalan darah berisiko mengalami keguguran dalam kehamilannya. Namun, risikonya lebih tinggi pada trimester kedua, yakni di antara usia kehamilan 3 sampai 6 bulan. Ibu yang mengalami sindrom APS pun lima kali lebih berisiko mengalami stillbirth atau bayi lahir mati dibanding ibu yang tidak mengalami sindrom ini. 

Bagi ibu yang mengalami keguguran berulang, sindrom APS pun kerap menjadi penyebab utamanya. Meski begitu, jika sindrom ini cepat terdeteksi saat keguguran terjadi dan mendapat penanganan tepat, risiko keguguran kembali pada kehamilan berikutnya mungkin berkurang.

Oh ya, Bun. Karena sindrom APS mempengaruhi baik plasenta maupun rahim, ada sejumlah komplikasi lain yang mungkin terjadi ketika hamil, yakni:

  • Tekanan darah tinggi atau hipertensi
  • Preeklampsia
  • Kelahiran prematur
  • Oligohidramnion atau kekurangan cairan ketuban
  • Stres janin 
  • Insufisiensi plasenta

Apa Gejala Sindrom APS?

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sindrom APS sulit dideteksi secara dini. Pasalnya, sindrom satu ini hampir tidak memiliki gejala. Gejala paling mungkin sindrom APS pada perempuan adalah kejadian keguguran berulang. 

Jika Bunda mengalami keguguran berulang, dokter mungkin akan melakukan tes antibodi antikoagulan lupus atau antibodi antikardiolipin. Bila hasilnya positif lebih dari satu kali, ada kemungkinan Bunda mengalami sindrom APS. Namun, hasil ini pun belum tentu akurat ya, Bun, mengingat sindrom APS tidak selalu berkaitan dengan lupus.

Bisakah Ibu dengan Sindrom APS Melalui Kehamilan dengan Baik?

Jawabannya bisa, Bun! Seperti dilansir dari verywellfamily.com, ibu hamil yang menderita sindrom APS dan ditangani dengan tepat memiliki peluang sebesar 70% untuk menjalani kehamilan dengan baik. Perawatan yang diberikan biasanya melibatkan aspirin dosis rendah dan suntik heparin. Walau jenis perawatan ini meningkatkan kesuksesan kehamilan, perlu diingat bahwa risiko komplikasi pada trimester ketiga dapat meningkat.

Karena itulah, pada ibu dengan sindrom APS, obgyn akan menyarankan pemeriksaan secara mendalam ke spesialis yang berkaitan. Pemantauan secara rutin dan berkala selama kehamilan pun disarankan untuk melihat perkembangan janin serta untuk memeriksa ada atau tidaknya komplikasi. Pada trimester ketiga, Bunda mungkin akan diminta melakukan pemeriksaan CTG agar kondisi stres pada janin, jika memang ada, bisa cepat terdeteksi.

Itulah Bunda secuil informasi mengenai kehamilan dengan sindrom APS. Bila Bunda pernah mengalami keguguran berulang dan kini sedang merencanakan kehamilan kembali, lebih baik minta dokter untuk mengecek keberadaan sindrom APS ini ya, Bun, karena bisa jadi inilah penyebabnya.

Continue Reading

Kehamilan

Sudah Lewat HPL tapi Bayi Belum Lahir? Waspadai Hal Ini

mm

Published

on

lewat hpl belum lahir
Waspadai hal ini jika sudah lewat hpl tapi bayi belum lahir.

Saat pertama kali memeriksakan diri setelah tahu positif hamil, tenaga kesehatan seperti bidan dan dokter akan menghitung hari perkiraan lahir (HPL) bayi Bunda. Untuk memperkirakan HPL, bidan akan menghitungnya dari hari pertama haid terakhir (HPHT). 

Biasanya, bidan menggunakan kalender khusus untuk mengalkulasi tanggal HPL dari HPHT. Metode ini bisa jadi tidak akurat jika Bunda lupa tanggal HPHT. Ketika HPHT keliru, otomatis begitu pula dengan HPL-nya. Dan inilah yang biasanya kerap terjadi. Bunda menyangka kehamilan telah lewat HPL atau lewat waktu, padahal perhitungan HPHT-nya lah yang keliru.

Karena itulah, di awal kehamilan, Bunda disarankan memeriksakan diri ke dokter kandungan untuk melakukan USG. Pemeriksaan USG di awal kehamilan penting untuk memastikan kehamilan terjadi di dalam kandungan dan bukannya di luar kandungan

Dengan melakukan USG di awal kehamilan, usia gestasi atau usia kehamilan juga bisa diperkirakan dengan lebih akurat. Jadi, tidak masalah jika Bunda keliru mengingat tanggal HPHT, dokter bisa memastikannya lewat USG.

Bila di awal kehamilan Bunda telah melalui proses tadi dan saat ini bayi tak kunjung lahir meski sudah lewat HPL, bisa jadi ada penyebab lain selain keliru mengingat HPHT, seperti obesitas atau kelainan genetik pada janin. Jika memang demikian penyebabnya, maka komplikasi-komplikasi yang biasanya terjadi setelah usia kehamilan lewat 42 minggu ini perlu Bunda waspadai.

Makrosomia

Makrosomia adalah kondisi ketika bayi lahir dengan berat di atas 4 kg. Kondisi ini tidak baik bagi bayi karena dapat meningkatkan risiko diabetes, obesitas, dan gangguan metabolisme. Ibu yang melahirkannya pun bukan tanpa risiko. Dengan melahirkan bayi makrosomia, ibu berisiko mengalami sobekan rahim dan juga perdarahan berlebih.

Insufisiensi Plasenta

Insufisiensi plasenta adalah kurang sempurna atau rusaknya plasenta yang bisa mengakibatkan kurang maksimalnya transfer oksigen dan nutrisi kepada janin. Pada kehamilan lewat HPL, hal ini bisa terjadi karena plasenta mencapai perkembangan maksimumnya pada pekan ke-37 dan fungsinya pun mulai mengalami penurunan. Ketika insufisiensi plasenta terjadi, ada banyak masalah kesehatan yang bisa dialami bayi, seperti cerebral palsy dan gangguan kemampuan belajar.

Aspirasi Mekonium

Kondisi ini terjadi ketika bayi meminum air ketuban yang sudah tercampur fesesnya sendiri. Feses pertama bayi atau mekonium biasanya keluar 24-48 jam setelah bayi lahir. Namun, pada beberapa kondisi seperti kehamilan di atas 40 minggu, ada kalanya mekonium keluar saat masih berada di dalam kandungan. Efek aspirasi mekonium pada bayi adalah sulit napas, henti napas, dan tampak lemah setelah melahirkan.

Apa yang Bisa Bunda Lakukan?

Ketika sudah lewat HPL tapi tak ada tanda-tanda melahirkan, hal pertama yang harus Bunda lakukan adalah tetap tenang. Stres akan berdampak tidak baik bagi Bunda dan si kecil dalam kandungan. Tak perlu khawatir berlebihan karena kehamilan lewat waktu lazim terjadi pada ibu yang baru pertama kali hamil. Meski begitu, bukan berarti Bunda lengah, tetaplah proaktif melakukan hal-hal di bawah ini.

  • Periksakan diri ke dokter kandungan. Bila HPL telah berlalu tapi tak kunjung ada tanda melahirkan, segeralah periksakan diri ke dokter kandungan. Biasanya, dokter akan melakukan pemeriksaan CTG untuk mengetahui kondisi janin di dalam rahim, apakah mengalami stres atau tidak. Jika ternyata janin mengalami stres, dokter akan melakukan tindakan sesegera mungkin.
  • Aktif bergerak. Bila setelah diperiksa janin ternyata masih dalam kondisi baik, dokter biasanya akan memberi waktu hingga seminggu dari HPL untuk memberi kesempatan janin terlahir secara alami tanpa intervensi. Selama periode menunggu ini, baiknya Bunda aktif bergerak, seperti rajin berjalan kaki atau berlatih dengan gym ball.
  • Stimulasi payudara. Ini bisa Bunda lakukan sendiri atau dengan bantuan suami. Pijatlah payudara untuk memunculkan kontraksi secara alami.

Bunda, persalinan lewat dari HPL selama satu atau dua hari biasa terjadi. Jangan terburu panik jika belum ada tanda melahirkan, ya. Namun, tetap waspadai pula dampaknya jika persalinan terlalu jauh dari HPL. Berkonsultasilah selalu dengan tenaga kesehatan yang menangani Bunda. Itu yang paling utama.

Continue Reading

Kehamilan

Vitamin Ibu Hamil dari Bidan, Apa Saja Fungsinya?

mm

Published

on

Vitamin ibu hamil dari bidan
Ada setidaknya 4 jenis vitamin ibu hamil dari bidan yang akan Bunda terima setelah pemeriksaan kehamilan.

Asupan nutrisi berkualitas merupakan kunci perkembangan janin dalam kandungan ibu hamil. Sebab itulah, Bunda disarankan untuk menjaga pola makan yang sehat dan bergizi, untuk memenuhi semua kebutuhan nutrisi selama hamil. 

Akan tetapi, tidak semua nutrisi tersebut dapat dipenuhi dari makanan yang Bunda konsumsi. Apalagi ada beberapa jenis nutrisi yang perlu dipastikan kecukupannya, demi memastikan kehamilan yang sehat dan nyaman. Sebut saja zat besi yang sangat diperlukan ibu hamil untuk memastikan janin bertumbuh optimal. 

Lalu apa saja vitamin ibu hamil dari bidan dan apa saja fungsinya? Disimak yuk, Bun. 

Suplemen Zat Besi

Tahukah, Bunda? Kekurangan zat besi selama hamil bisa berakibat fatal bagi Bunda dan janin. Pasalnya zat besi memiliki peran yang sangat penting selama proses kehamilan. Adalah zat besi yang memastikan suplai oksigen dan nutrisi ke janin berjalan lancar. Baik oksigen maupun nutrisi penting bagi tumbuh kembang janin. 

Oleh sebab itu, kekurangan zat besi diketahui dapat menghambat pertumbuhan janin dan juga meningkatkan risiko perdarahan saat persalinan pada ibu. Lebih lanjut, kekurangan zat besi ini bisa menimbulkan kerugian jangka panjang bagi janin. Bayi yang selama dalam kandungan kekurangan asupan nutrisi dan oksigen dapat mengalami apa yang disebut stunting intrauterine yang sangat potensial berlanjut menjadi stunting dalam perkembangan usianya. 

Kebutuhan zat besi pada ibu hamil adalah sekitar 800 mg per hari. Dikutip dari situs Kementerian Kesehatan Indonesia, 300 mg dari kebutuhan tersebut adalah untuk janin dan 500 mg diperlukan untuk menambah massa hemoglobin maternal. Sayangnya, kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi hanya dengan konsumsi makanan sehari-hari. 

Suplementasi yang diberikan oleh bidan dalam bentuk tablet tambah darah (TTD) mengandung 200 mg ferro sulfat atau setara dengan 60 mg besi elemental. Bidan akan merekomendasikan ibu hamil untuk mengonsumsi TTD sebanyak 10 butir setiap bulannya. 

Asam folat

Nutrisi yang satu ini punya peran yang tak kalah krusial dalam kehamilan Bunda. Asam folat diketahui dapat mencegah terjadinya cacat janin, terutama cacat pada sistem saraf bayi. Cacat bayi ini dapat berkembang saat janin masih berusia 28 hari, yakni di saat banyak ibu belum menyadari kehamilannya. 

Mengingat perannya yang penting, asam folat juga disarankan untuk dikonsumsi oleh ibu yang sedang mempersiapkan kehamilan. Tentunya hal ini dapat mencegah cacat sistem saraf berkembang saat ibu tidak menyadarinya. 

Kebutuhan asam folat pada ibu hamil adalah berkisar antara 400-800 mikrogram per hari sampai usia kehamilan mencapai 3 bulan. Selain dari konsumsi makanan yang tinggi asam folat, suplementasi juga sangat diperlukan. Hal ini memastikan ibu tidak kekurangan asam folat, terutama di trimester pertama kehamilan. Apalagi di saat ini banyak ibu mengalami kesulitan menjaga pola makan sehat dikarenakan gangguan pola makan atau ngidam.

Suplementasi asam folat yang dianjurkan adalah 400 mikrogram per hari. Akan tetapi dosis ini perlu disesuaikan dengan kebutuhan individual ibu hamil. Pada kondisi hamil kembar misalnya, dosis perlu ditingkatkan. Begitu pula pada ibu hamil yang pernah mengandung anak dengan kondisi cacat tulang belakang atau penyakit jantung bawaan. Bidan akan memperhatikan risiko tersebut dan memberikan dosis yang sesuai untuk Bunda. 

Kalsium

Ketika hamil, Bunda perlu mengasup kalsium setidaknya 1.000 mg per hari. Meningkatnya kebutuhan kalsium selama kehamilan diperlukan untuk mendukung kesehatan tulang dan gigi Bunda serta janin. Kalsium juga diperlukan dalam perkembangan organ jantung, saraf, dan otot si kecil dalam kandungan. 

Tidak hanya itu, kalsium juga memiliki peran penting dalam mengurangi risiko tekanan darah tinggi atau hipertensi dan preeklampsia pada ibu hamil. Konsumsi makanan tinggi kalsium bisa membantu memenuhi kebutuhan kalsium selama hamil. Misalnya susu rendah lemak, keju, yogurt, sayuran hijau, kacang-kacangan atau produk olahannya seperti kacang, tahu dan susu kedelai atau susu almond. 

Untuk memastikan tercukupinya asupan kalsium, terutama pada ibu hamil yang mengalami kesulitan memenuhinya dari asupan makanan sehari-hari, suplementasi pun diperlukan. Bidan akan memberikan kalsium tambahan dalam jumlah yang sesuai dengan kondisi masing-masing ibu.

Vitamin D

Vitamin ini diketahui memiliki peran penting dalam metabolisme tulang. Selain diproduksi oleh tubuh secara alami ketika terpapar sinar matahari, vitamin D juga ditemukan dalam ikan, telur, dan produk fortifikasi.

Kekurangan vitamin D pada ibu hamil, bisa meningkatkan risiko preeklampsia, diabetes gestasional, persalinan prematur, dan kondisi lain yang berhubungan dengan perkembangan jaringan. Sehingga, suplementasi vitamin D dapat membantu ibu hamil dalam menurunkan risiko preeklampsia, berat badan lahir rendah dan persalinan prematur

Suplementasi vitamin D pada ibu hamil sebaiknya dilakukan berdasarkan kondisi spesifik. Untuk itu, konsumsi suplemen vitamin D jika memang disarankan oleh tenaga kesehatan dalam porsi yang dianjurkan. 

Itulah beberapa vitamin ibu hamil dari bidan yang biasanya dianjurkan untuk dikonsumsi. Ada baiknya Bunda berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan suplementasi yang memang sesuai dengan kondisi kesehatan Bunda, ya.

Continue Reading

Trending