fbpx
Connect with us

Kehamilan

Bunda, Ini Pentingnya Menghitung Tinggi Fundus Pada Saat Hamil

mm

Published

on

tinggi fundus adalah

Fundus adalah bagian teratas rahim. Pada masa kehamilan, salah satu cara untuk mengetahui kondisi janin adalah dengan melakukan perhitungan Tinggi Fundus Uteri (TFU). TFU atau tinggi fundus adalah jarak antara fundus uteri dengan tulang pubis. Ada dua metode yang biasa digunakan untuk menghitung tinggi fundus, yaitu palpasi (perabaan) dan memakai alat ukur. Perhitungan TFU dapat mulai dilakukan pada usia kehamilan 20 minggu.

Guna Mengukur Tinggi Fundus

Mengapa tinggi fundus perlu diukur? Apa saja informasi penting yang bisa didapatkan dari pemeriksaan ini? Ada beberapa alasan di baliknya, yaitu:

1. Untuk mengetahui usia kehamilan

Ternyata, usia kehamilan bisa dihitung berdasarkan tinggi fundus, loh Bun. Apabila menggunakan metode palpasi, cara paling sederhana adalah dengan meletakkan telunjuk dan jari tengah di bawah atau atas garis pusar. Jika fundus berada dua jari di atas garis pusar, usia kehamilan sekitar 22-24 minggu. Jika fundus berada tepat di garis pusar, usia kehamilan sekitar 18-20 minggu.

Namun, metode ini tidak begitu akurat. Pemeriksaan yang sama di waktu yang sama pun dapat menunjukkan hasil yang bervariasi. Hal ini disebut intra-observer variation. Selain itu, perbedaan jarak antara tulang pubis dan pusar pada setiap wanita ketika sedang tidak hamil juga dapat memengaruhi akurasi perhitungan.

Untuk itu, perlu dilakukan metode perhitungan fundus dengan menggunakan alat ukur. Pada masa akhir kehamilan, ukuran rahim dalam centimeter hampir sama dengan usia kehamilan. Sebagai contoh, jika ukuran rahim 22-26 cm, usia kehamilan sekitar 24 minggu. Kemudian, ukuran rahim biasanya akan bertambah 1cm setiap minggu.

2. Untuk mengetahui HPL (Hari Perkiraan Lahir)

Salah satu cara untuk mengetahui HPL adalah dengan menghitungnya dari HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir). Nah, perhitungan berdasarkan HPHT tersebut dapat didukung oleh perhitungan tinggi fundus. Jika perkiraan usia kehamilan berdasarkan HPHT tidak sesuai dengan perkiraan usia kehamilan berdasarkan TFU, maka sebaiknya dilakukan konfirmasi dengan melakukan pemeriksaan USG.

Adapun menentukan HPL dengan tepat sangat penting untuk menghindari persalinan prematur atau lewat waktu. Selain itu, Bunda bisa mempersiapkan mental sekaligus segala keperluan menyambut si kecil.

3. Untuk mengetahui pertumbuhan bayi

Tinggi fundus juga dapat menunjukkan pertumbuhan bayi di dalam rahim. Pengukuran tinggi fundus dapat memberikan informasi perkiraan berat badan janin, sehingga dapat dinilai apakah terjadi pertumbuhan yang terlalu cepat (bayi besar) atau lambat (pertumbuhan janin terhambat). Kedua kondisi tersebut menunjukkan adanya sesuatu yang salah pada kehamilan tersebut.

Pertumbuhan janin yang terlambat bisa disebabkan oleh asupan nutrisi yang buruk, hipertensi, atau kelainan pada janin. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan menambah asupan nutrisi yang dibutuhkan. Sementara pertumbuhan janin yang terlalu cepat dapat ditemui pada kondisi diabetes gestasional dan hal ini dapat berpengaruh terhadap kondisi ibu dan janin.

Pengukuran tinggi fundus untuk mengetahui pertumbuhan janin mungkin menjadi tidak akurat jika Bunda mengalami beberapa hal berikut:

  • Obesitas
  • Pernah memiliki tumor jinak dalam rahimnya
  • Mengandung bayi kembar, atau lebih dari dua.

Jika pengukuran tinggi fundus lebih kecil atau lebih besar dari ekspektasi — atau meningkat lebih cepat dari yang diharapkan, hal tersebut dapat menjadi indikasi kondisi-kondisi ini:

Jika hal ini yang terjadi, biasanya Bunda akan disarankan untuk melakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui penyebabnya sekaligus melihat kondisi janin secara lebih jelas.

Jadi, menghitung tinggi fundus ternyata sangat penting selama masa kehamilan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kehamilan

Memahami Perubahan pada Tubuh setelah Keguguran

mm

Published

on

efek keguguran
Efek keguguran tak hanya pada psikis, tapi juga fisik

Bunda mungkin ingat beberapa waktu lalu Chrissy Teigen, istri dari penulis lagu dan penyanyi John Legend, sempat berbagi cerita pengalamannya melalui keguguran via Instagram maupun Twitter. Dari kisahnya, kita jadi memahami bahwa keguguran bukanlah pengalaman yang mudah untuk dilalui, baik secara psikis maupun fisik. Efek keguguran pada fisik ibu bahkan bisa bertahan hingga berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.

Bila Bunda adalah salah satu yang baru saja melalui momen berat itu, artikel ini mungkin bisa membantu Bunda memahami perubahan apa saja yang terjadi dan apa yang harus dilakukan karenanya.

Perubahan Fisik setelah Mengalami Keguguran

Di Indonesia, perempuan pekerja yang mengalami keguguran berhak mendapatkan cuti selama 1,5 bulan lamanya. Pemberian waktu istirahat ini bukan tanpa alasan. Selain kondisi emosional yang butuh waktu untuk pulih, kondisi fisik Bunda setelah mengalami keguguran pun akan terasa sangat berbeda.

Dilansir dari Parents.com, semakin lama Bunda mengalami kehamilan sebelum akhirnya keguguran, semakin banyak pula efek keguguran yang akan dirasakan tubuh. Hal paling mungkin yang Bunda rasakan adalah perubahan pada payudara dan kenaikan berat badan. 

Jika Bunda mengalami kematian janin dalam kandungan atau intrauterine fetal death (IUFD) di mana usia kandungan sudah di atas 20 minggu, Bunda mungkin sudah merasakan penuh pada payudara karena ASI sudah mulai dipersiapkan. ASI yang semestinya diperuntukkan bagi bayi, kini tetap tinggal dalam payudara dan bisa menimbulkan rasa sakit.

Tak hanya itu, hal lainnya yang mungkin Bunda alami adalah timbulnya selulit, sakit pada perut, rambut rontok, hingga rasa sakit pada vagina. Rasa sakit pada vagina ini umumnya dirasakan oleh para bunda yang mendapatkan episiotomi (jahitan pada perineum) ketika proses mengeluarkan janin. 

Bunda juga akan merasakan kram perut karena rahim yang berkontraksi untuk mengeluarkan sisa darah. Perdarahan yang lebih banyak dari menstruasi pun akan terjadi. Gumpalan darah pun mungkin akan turut keluar. Bagi Bunda yang sebelumnya pernah melahirkan, rasanya tidak akan jauh berbeda dengan masa nifas. 

Efek keguguran pada tubuh ini bisa bertahan selama beberapa hari bahkan minggu tergantung lamanya kehamilan sebelum mengalami keguguran. Perdarahan yang dialami oleh perempuan saat keguguran di usia 6 minggu biasanya akan lebih sedikit dan singkat dibanding perdarahan pada keguguran di usia 16 minggu.

Kondisi Emosional yang Dialami

Selain perubahan fisik, perubahan emosional tak dapat dinafikan. Rasa bingung, sedih, bahkan bersalah, campur baur jadi satu. Dan rasa duka ini mungkin diperparah dengan kondisi hormon yang berubah tiba-tiba. Saat keguguran terjadi, hormon estrogen dan progesteron turun drastis. Hormon hCG pun pelan-pelan menurun hingga nol. Kondisi emosional yang sudah tak stabil akan bertambah buruk karena hal ini.

Bagaimana Menyelesaikannya?

Kondisi fisik yang melelahkan ditambah dengan kondisi emosional yang masih berduka mungkin membuat Bunda ingin menyendiri dan menjauh dari kehidupan sosial. Its okay, take your time. Namun, jika dirasa Bunda tak dapat menyelesaikannya sendiri, cobalah ungkapkan perasaan kepada orang terdekat yang membuat Bunda nyaman. Entah itu pasangan, orang tua, atau sahabat. 

Tak perlu pula merasa bersalah jika Bunda ingin menerima bantuan sebanyak mungkin. Kondisi fisik yang belum sepenuhnya prima mungkin akan membuat Bunda kesulitan mengerjakan pekerjaan rumah. Jika sahabat ataupun saudara menawarkan bantuan, terimalah selama Bunda merasa nyaman.
Jika bercerita dengan orang terdekat belum juga mendamaikan hati Bunda, Bunda bisa meminta bantuan profesional, seperti terapis, psikolog, ataupun psikiater. Bergabung dalam support group pun terkadang bisa membantu. Namun, pastikan support group yang Bunda ikuti diampu oleh seorang tenaga ahli, ya.

Continue Reading

Kehamilan

Pertanyaan seputar Vaksin Covid-19 untuk Ibu Hamil dan Menyusui

mm

Published

on

vaksin covid untuk ibu hamil
Apakah vaksin Covid-19 bagi ibu hamil atau menyusui benar aman dan efektif?

Vaksinasi Covid-19 terus digencarkan pemerintah untuk mencapai kekebalan komunitas atau herd immunity. Di tengah program yang terus bergulir, banyak juga pertanyaan terkait keamanan dan efektivitas vaksin, salah satunya untuk ibu hamil dan menyusui. 

Berikut ini Ibu Sehati merangkumkan beberapa pertanyaan yang kerap muncul mengenai kaitan vaksin Covid-19 dengan ibu hamil dan menyusui. Yuk, disimak. 

Bagaimana cara kerja vaksin Covid-19?

Tujuan vaksin adalah agar penerima dapat memiliki kekebalan terhadap suatu penyakit. Untuk Covid-19 itu sendiri, yang menjadi penyebabnya adalah virus SARS CoV-2. Melalui vaksinasi tubuh kita berkenalan dengan virus tersebut. Setelah dikenali, diharapkan tubuh dapat membangun sistem kekebalan untuk melawan virus tersebut. Mereka yang belum menerima vaksin, tubuhnya tidak mengenali virus dan tidak tahu cara melawannya. Itu sebabnya, mereka yang tidak menerima vaksin, dapat jatuh sakit karena tubuh tidak memiliki bekal untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh virus. 

Akan tetapi, kekebalan tubuh itu tidak datang secara serta-merta. Diperlukan waktu bagi vaksin untuk dapat bekerja maksimal. Vaksin SInovac yang digunakan di Indonesia, misalnya, diperlukan dua kali suntikan dengan jarak antara 28 hingga 40 hari. 

Apakah janin bisa mengidap Covid-19 jika ibu hamil menerima vaksin Covid-19?

Melalui vaksinasi Covid-19, bayi dalam kandungan ibu tidak akan terpapar virus. Virus Covid-19 itu sendiri terbuat dari satu protein yang tidak akan bereplikasi di dalam tubuh manusia. Selain tidak menyebabkan seorang yang divaksin menjadi positif Covid-19, begitupun janin dalam perut ibu hamil. 

Apakah vaksin Covid-19 aman untuk ibu hamil dan menyusui?

Dalam situasi darurat, uji klinis vaksin tidak akan melibatkan ibu hamil. Itu sebabnya, hingga sekarang tidak ada angka efikasi maupun keamanan vaksin bagi ibu hamil. Dari semua vaksin Covid-19 yang beredar saat ini pun tidak ada yang melibatkan ibu menyusui dalam uji klinisnya. 

Namun, vaksin dari jenis mRNA yang tidak diaktifkan, sehingga tidak dapat bereplikasi dibandingkan vaksin lain dengan jenis yang sama seperti vaksin tetanus, difteri maupun influenza. Sehingga, secara umum vaksin jenis ini aman dan dapat memberikan perlindungan pasif untuk janin, serta tidak menyebabkan keguguran maupun kelainan kongenital. 

Namun demikian, sejumlah badan dunia, organisasi profesi, lembaga kesehatan nasional maupun internasional seperti World Health Organisation (WHO) dan Persatuan Obstetri dan Ginekolog Indonesia (POGI) belum merekomendasikan vaksinasi Covid-19 untuk ibu hamil. Sebaliknya, vaksinasi bagi ibu menyusui diperbolehkan sepanjang tidak ada kontraindikasi. 

Apakah perlu berhenti menyusui setelah divaksin?

Bayi akan mendapatkan segudang manfaat dari air susu ibu. Manfaat ASI bagi tumbuh kembang bayi begitu berlimpah, termasuk di dalamnya antibodi. Itu sebabnya, Bunda tidak perlu berhenti menyusui setelah menerima vaksin Covid-19. Bahkan bayi dapat menerima manfaat vaksin dari ASI Bunda. 

Saya berencana menjalankan program hamil, apakah boleh divaksin?

Jika Bunda berencana menjalankan program kehamilan, sebaiknya tunda terlebih dahulu sampai mendapatkan vaksin Covid-19. Bunda dapat menjalankan program hamil paling lama 4 minggu setelah divaksin untuk menghindari Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)

Saya tengah melaksanakan vaksinasi lain, apakah dapat menerima vaksin Covid-19?

Tergantung vaksinasi apa yang sedang dilaksanakan. Jika dari vaksinasi tersebut diharapkan angkat titer antibodi tinggi dalam waktu yang cepat, maka vaksinasi tersebut perlu diselesaikan terlebih dahulu. Sementara untuk pemberian vaksin yang bersifat booster atau penguat, dapat ditunda.  

Apakah vaksin Covid-19 dapat menyebabkan kemandulan?

Tidak ada bukti bahwa vaksin Covid-19 menyebabkan kemandulan. Kabar ini sempat beredar Desember tahun lalu. Dikatakan bahwa kandungan yang ada pada vaksin bisa menyerang protein yang diperlukan untuk perkembangan plasenta. Akan tetapi, direktur WHO menepis kabar tersebut. Menurut situs Healthline, protein vaksin Covid-19 merupakan struktur yang sama sekali berbeda dari protein yang ada di plasenta. Sehingga, keduanya tidak berhubungan. 

Continue Reading

Kehamilan

Depresi Pasca Persalinan, Lebih Rentan saat Pandemi Covid-19?

mm

Published

on

depresi pasca persalinan

Masa nifas atau postpartum kerap menjadi masa yang sulit bagi ibu baru. Adaptasi, rasa sakit pasca-melahirkan, lelah mengurus bayi, kurang tidur, puting lecet; semua itu berpotensi membuat ibu baru merasa kewalahan. Belum lagi, jika dukungan sosial tak cukup baik, rasa lelah dan stres mungkin meningkat berkali lipat.

Sayangnya, masa pandemi seperti ini menambah buruk kondisi yang sudah sulit bagi seorang ibu baru. Isolasi, pembatasan mobilitas, tak bisa dengan mudah bertemu kerabat dekat, hingga kekhawatiran tertular virus mematikan telah membuat segalanya jadi lebih buruk. Dilansir dari whattoexpect.com, sebuah studi menunjukkan bahwa depresi pascapersalinan atau postpartum depression (PPD) dan postpartum anxiety (PPA) meningkat selama pandemi Covid-19.

Apa Itu PPD dan PPA?

Bunda mungkin akrab dengan istilah baby blues, rasa sedih yang kerap melanda ibu baru selama 2 minggu pertama setelah melahirkan. Biasanya, baby blues disebabkan oleh perubahan hormon drastis karena usainya kehamilan. Jika rasa sedih dan cemas bertahan selama lebih dari 2 minggu, berhati-hatilah! Bisa jadi itu adalah sinyal PPD dan PPA.

PPD bisa muncul kapan saja. Tidak selalu terjadi setelah melahirkan. Hingga anak berusia 1 tahun, depresi yang muncul dalam rentang waktu itu bisa dikategorikan sebagai PPD. Ibu dengan PPD mungkin merasakan kelelahan yang teramat sangat dan kewalahan. Ibu lain mungkin merasakan gejala yang berbeda seperti sulitnya membangun hubungan dengan anak serta adanya perasaan konsisten untuk menyakiti buah hati.

Sementara itu, PPA adalah rasa khawatir berlebihan akan keselamatan dan keamanan bayi. Kecemasan dan kekhawatiran ini hadir secara konsisten disertai dengan gejala fisik seperti pusing dan mual.

Pandemi Covid-19 Membuat Ibu Lebih Rentan terhadap PPD dan PPA

Dikutip dari whattoexpect.com, 1 dari 8 ibu menderita PPD dalam kondisi sebelum pandemi. Studi terkini menunjukkan bahwa dalam kondisi pandemi, angka kemungkinannya bisa lebih besar dari ini. 

Sebuah studi yang dilakukan pada Mei hingga Agustus 2020 menemukan bahwa 36% atau 1 dari 3 wanita hamil dan ibu baru mengidap depresi. Prevalensi ini meningkat dari yang sebelumnya hanya sekitar 10% saja.

Apa yang kira-kira membuatnya jadi lebih buruk? Pandemi mengubah hidup kita. Dari yang sebelumnya bisa bebas keluar rumah, menjadi harus membatasi diri. Kalaupun akhirnya pergi ke luar rumah, ada beberapa proteksi yang mesti dilakukan dan tidak benar-benar bebas. Pulang dari beraktivitas di luar rumah pun kita kerap dilanda kecemasan apakah akan tertular covid.

Di samping itu, pandemi memisahkan kita dari orang-orang terdekat. Karena pandemi, bisa jadi seorang ibu baru terkendala mendapatkan dukungan dari orang tuanya atau kerabatnya karena terpisah kota atau pulau. Yang mana, kita tahu bahwa mobilitas antarkota apalagi antarpulau benar-benar dibatasi akhir-akhir ini.

Yang terakhir adalah kekhawatiran bayi akan terjangkit virus Covid-19. Di masa normal saja, bayi sudah menjadi golongan rentan terserang virus dan penyakit, apalagi sekarang? Kecemasan ibu pasti akan berlipat.

Menangani PPD dan PPA di Tengah Pandemi

Penanganan PPD dan PPA di tengah pandemi agak berbeda dengan saat kondisi normal. Di beberapa rumah sakit, layanan psikolog dan psikiater mungkin belum dibuka. Sebagai gantinya, beberapa klinik membuka layanan konsultasi daring melalui platform digital seperti zoom. Ini untuk menghindari risiko penularan Covid-19.

Jika Bunda ragu untuk pergi ke psikolog atau psikiater, mungkin Bunda bisa menceritakan keluhan yang dirasa terlebih dulu kepada obgyn atau bidan saat kontrol rutin setelah melahirkan. Obgyn atau bidan mungkin akan memberikan kuesioner untuk diisi sebagai skrining awal depresi. Bila Bunda dideteksi rentan terhadap depresi, barulah obgyn ataupun bidan akan merujuk Bunda ke terapis profesional.

Ancaman PPD dan PPA selama pandemi tidak bisa diremehkan. Kondisi yang berubah membuat adaptasi sebagai ibu baru jadi lebih sulit. Jika Bunda merasa kewalahan, stres, ataupun tertekan, segera ceritakan pada orang terdekat maupun tenaga profesional.

Continue Reading

Trending