fbpx
Connect with us

Air Susu Ibu

Bunda, Begini Cara Melakukan Pijat Oksitosin

mm

Published

on

pijat oksitosin

ASI (Air Susu Ibu) adalah asupan utama bayi hingga usia 6 bulan. Setelah itu, ASI bisa terus diberikan hingga usia 2 tahun bersama makanan pendamping ASI (MPASI). Karena manfaat ASI yang sangat penting bagi tumbuh kembang si kecil, ibu perlu berupaya untuk menambah produksinya.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk melancarkan aliran ASI, salah satunya dengan teknik pijat oksitosin. Apa yang dimaksud dengan pijat oksitosin? Ini adalah salah satu teknik untuk menambah laju produksi ASI pada payudara. Nah, berikut langkah-langkah yang bisa ditempuh.

Persiapan Pemijatan

Sebelum melakukan pijat oksitosin, Bunda perlu melakukan persiapan terlebih dahulu. Kenakanlah pakaian yang nyaman atau tidak memakai baju sama sekali supaya pemijatan berlangsung dengan lebih mudah. Kemudian, kompreslah payudara dengan air hangat dan lakukan breast massage sendiri.

Proses Pemijatan

Untuk melakukan pijat oksitosin, Bunda bisa meminta bantuan dari suami. Namun, pemijatan juga bisa dilakukan oleh orang lain, seperti anggota keluarga (ibu dan adik perempuan), asisten rumah tangga, atau terapis.

Posisi yang disarankan untuk pemijatan ini adalah telungkup di meja atau telungkup di sandaran kursi. Nah, di area tulang belakang bagian leher, carilah tulang dengan bagian yang paling menonjol. Tulang ini disebut processus spinosus atau cervical vertebrae 7. Sekitar 1-2 jari dari tonjolan tersebut, geser ke kanan dan kiri masing-masing 1-2 jari.

Lalu, lakukan pemijatan secara perlahan-lahan dengan gerakan memutar di titik ini dari bawah ke batas garis bra. Inilah titik yang tepat untuk merangsang hormon oksitosin. Pijat oksitosin dapat dilakukan kapan saja, termasuk sebelum menyusui atau memerah ASI. Pijat juga bisa dilakukan ketika sedang stres atau badan terasa pegal.

Manfaat Pijat Oksitosin

Sebenarnya, tujuan melakukan pijat oksitosin adalah untuk merelakskan tubuh. Dalam kondisi yang relaks, hormon endhorpine akan yang diproduksi lebih banyak, yang bereft pada meningkatnya hormon oksitosin. Semakin banyak oksitosin yang muncul, ASI pun akan semakin lancar. Selain itu, pijat yang dilakukan pada bagian punggung diyakini dapat mengurangi ketegangan saraf dan menurunkan kadar hormon penyebab stres.

Namun perlu diperhatikan, pijat oksitosin tidak boleh dilakukan ketika Bunda sedang dalam keadaan hamil. Aktivitas pemijatan ini dapat menyebabkan terjadinya kontraksi sehingga berisiko terhadap kondisi kandungan.

Hal yang terpenting dari usaha untuk meningkatkan produksi ASI adalah, Bunda harus merasa bahagia, relaks dan rutin menyusui atau memompa ASI.

Hubungi konselor laktasi untuk memahami dan mempraktekan pijat oksitosin ini lebih lengkapnya.

Bunda dapat memperoleh berbagai informasi ringan lain seputar teknik menyusui di Facebook dan Instagram Ibu Sehati. Jadi, jangan lupa untuk like dan follow, ya! Unduh juga aplikasi Sehati di Play Store dan Apple Store untuk mendapatkan informasi secara praktis.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Air Susu Ibu

Ini yang Dapat Memengaruhi Rasa ASI Bunda

mm

Published

on

rasa asi

Bunda pernah penasaran nggak sih dengan rasa ASI yang Bunda produksi? Secara umum, rasa air susu ibu cenderung manis dan sedikit gurih. Meski demikian, seperti pada umumnya kita menerima rasa, setiap orang memiliki selera tersendiri. Dan seperti makanan lainnya, air susu ibu bisa diterima dengan rasa yang berbeda-beda oleh setiap orang. 

Rasa manis dan gurih Air Susu Ibu 

Pernah bertanya-tanya kenapa rasa air susu ibu cenderung manis? Ya, ASI mengandung laktosa susu. Memang, laktosa bukanlah tipe gula yang paling manis. Ada banyak jenis laktosa lain dengan kadar manis yang lebih tinggi dari ASI. Laktosa merupakan salah satu kandungan utama dalam air susu ibu, sehingga memberi rasa manis dalam susu ini.

Selain laktosa, ASI juga mengandung lemak. Kandungan lemak dalam susu ini memberi rasa gurih. Kandungan lemak ini akan muncul di produksi ASI bagian akhir (hindmilk), sementara awalnya ASI yang mengalir dari payudara Bunda mengandung lebih sedikit lemak (foremilk). 

Apa yang memengaruhi rasa ASI?

Selain rasa manis dan gurih, rasa air susu ibu juga dipengaruhi rasa makanan yang Bunda konsumsi setiap hari. Ketika Bunda mengonsumsi pola makan bergizi seimbang yang padat dengan sayur-sayuran dan buah-buahan, si kecil juga akan ‘mencicipi’ makanan sehat ini. 

Banyak ahli percaya, ketika si kecil tumbuh semakin besar dan mulai mengonsumsi makanan padat, ia akan lebih siap menerima makanan yang sudah dicicipinya melalui ASI. 

Selain makanan, hal ini juga memengaruhi rasa ASI

Perubahan rasa ASI juga bisa terjadi karena beberapa hal di bawah ini. Reaksi bayi terhadap rasa ASI yang berbeda juga akan bervariasi, ada yang menerimanya dengan baik, ada pula yang cenderung menyusui lebih sedikit, bahkan mogok menyusui.

Hormon

Perubahan tingkat hormon dalam tubuh, utamanya menjelang usai masa nifas, bisa mempengaruhi rasa air susu ibu loh, Bun. Tapi jangan salah kira, menyusui dapat tetap dilakukan ketika Bunda sedang menstruasi, kok. Begitu pula ketika Bunda hamil lagi, menyusui masih dimungkinkan asal Bunda tidak mengalami penyulit. 

Olahraga 

Meningkatnya asam laktat dan produksi keringat di kulit payudara yang timbul akibat olahraga berat bisa mengubah rasa ASI. Selama si kecil tidak masalah dengan perubahan rasa ini, olahraga bisa tetap dilakukan ya Bun. Tetapi jika si kecil terganggu, cobalah untuk berolahraga ringan-sedang saja. Selain itu coba lap keringat pada payudara Bunda sebelum mulai menyusui. 

Obat-obatan

Beberapa obat-obatan bisa mengubah rasa air susu Bunda. Jika Bunda baru mengonsumsi obat baru dan melihat si kecil tidak menyusui selahap biasanya, bisa jadi obat tersebut penyebabnya. Konsultasikan hal ini dengan dokter ya, Bun. 

Merokok

Penelitian menunjukkan bahwa air susu yang diproduksi seseorang setelah merokok akan mengandung rasa dan bau dari rokok tersebut. Jika Bunda merokok, sebaiknya lakukan setelah menyusui si kecil dan cobalah untuk tidak merokok setidaknya dua jam sebelum menyusui kembali.  

Alkohol 

Minum alkohol juga diketahui dapat memengaruhi rasa air susu ibu. Diperlukan waktu dua jam bagi alkohol yang dikonsumsi untuk keluar dari tubuh. Jika memang Bunda sulit untuk meninggalkan konsumsi alkohol, cobalah untuk menunggu setidaknya dua jam untuk menyusui atau memerah ASI. 

ASI Beku 

ASI perah atau ASIP beku yang dilumerkan bisa terasa dan berbau seperti sabun. Tak perlu khawatir, ASI yang dicairkan ini masih aman diberikan kepada si kecil. Hanya saja, mungkin ia tidak akan terlalu suka dengan rasa dan baunya. 

Mastitis

Mastitis adalah kondisi infeksi pada payudara yang dapat menyebabkan air susu memiliki rasa yang asin. Jika Bunda mengalami kondisi ini, tetaplah menyusui. Meski demikian, si kecil mungkin akan menolak menyusu pada sisi payudara yang mengalami infeksi. Ketika mengalami mastitis, Bunda perlu mengonsumsi antibiotik untuk mengatasinya. Sebab itu, sebaiknya konsultasi dengan dokter untuk penanganan yang tuntas. 

Produk perawatan tubuh

Lotion, krim, sabun, parfum, minyak aromaterapi, atau salep yang diaplikasikan di area payudara juga bisa memengaruhi rasa asi ya, Bun. Jika mengenakan salah satu dari produk tersebut, pastikan Bunda membersihkan area kulit di sekitar payudara sebelum menyusui si kecil. 

Untuk memastikan kualitas ASI, terutama asi perah, tidak masalah jika Bunda mencicipi air susu sendiri. Pencicipan ini juga bisa dilakukan oleh suami atau anggota keluarga lain, namun pastikan mereka mencoba di wadah terpisah dari yang akan digunakan untuk memberi ASI ke si kecil, ya.

Continue Reading

Air Susu Ibu

Inisiasi Menyusui Dini: 1 Jam Pertama Penentu Kesuksesan Menyusui

mm

Published

on

inisiasi menyusui dini
Inisiasi menyusui dini di satu jam pertama menentukan kesuksesan menyusui.

Air susu ibu atau ASI adalah makanan yang sangat penting bagi bayi baru lahir. Di dalamnya, terdapat banyak kandungan nutrisi yang sangat dibutuhkan bayi. Itulah mengapa, WHO menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan bayi. Artinya, dari usia 0-6 bulan, bayi hanya mengonsumsi ASI tanpa dikombinasi dengan makanan apapun. Ini akan memberinya gizi dan imun yang cukup. 

Namun, tahukah Bunda? Selain pemberian ASI, ada hal lain yang dapat menentukan kecukupan nutrisi si kecil. Kita mengenalnya dengan IMD atau inisiasi menyusui dini.

Inisiasi menyusui dini adalah pemberian ASI dari ibu ke bayi pada kurun waktu satu jam pertama setelah persalinan. Proses menyusuinya diberikan langsung dari ibu ke bayi, bukan dengan bantuan botol atau cup feeder ya, Bun. Yuk, cari tahu mengapa inisiasi menyusui dini penting untuk diberikan.

Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan Kolostrum

Tahukah, Bunda? Kampanye IMD ini sangat didukung oleh WHO, loh. Bukan tanpa sebab, susu yang keluar dari payudara Bunda pada satu jam pertama setelah kelahiran bayi rupanya adalah kolostrum atau “first milk”  yang disebut-sebut sebagai makanan sempurna bagi bayi baru lahir.  

Tak hanya nutrisi, kolostrum juga dapat membentuk imun bagi bayi. Tekstur kolostrum ini berbeda dengan ASI loh, Bun. Kolostrum biasanya lebih lebih kental dan berwarna kuning keemasan.

Disebutkan WHO, konsumsi kolostrum pada satu jam pertama kelahirannya berpotensi membuat bayi akan terus menyusu sehingga malnutrisi bisa dihindari. Ada setidaknya 170 juta anak yang memiliki berat badan di bawah standar di seluruh dunia dan 3 juta di antaranya tewas tiap tahunnya. Angka yang cukup fantastis ya, Bun? Namun, tahukah, Bunda? Menurut sebuah studi yang diterbitkan oleh jurnal Pediatrics, 41% bayi yang meninggal dunia di bulan pertama kehidupannya seharusnya bisa diselamatkan dengan pemberian kolostrum di satu jam pertama kelahiran. 

Satu hal lagi yang perlu Bunda tahu. Inisiasi menyusui dini rupanya tak hanya bermanfaat bagi bayi, tapi juga bermanfaat bagi Bunda. Seperti dilansir dari medicalnewstoday.com, pemberian kolostrum kepada bayi di satu jam pertama setelah persalinan dapat meningkatkan produksi ASI. Senang kan, Bun?

Dampak IMD terhadap Kondisi Psikologis Bayi

Selain karena kolostrum, IMD juga penting karena saat melakukan ini Bunda akan secara otomatis melakukan skin to skin contact dengan bayi. Menurut WHO, skin to skin contact ketika bayi baru lahir mampu meningkatkan kemungkinan suksesnya ASI eksklusif, paling tidak dalam kurun waktu 1-6 bulan. Bayi yang melakukan skin to skin contact dengan ibunya setelah persalinan juga terbukti lebih jarang menangis dan lebih sering berinteraksi dengan ibunya, loh.

Mengapa demikian? Menurut Ketua International Lactation Consultant Association (ILCA), Rebecca Mannel, bayi yang baru lahir berada dalam kondisi tenang dan siap untuk belajar hal baru. Bayi pun siap mengeksplorasi lingkungan dengan kelima inderanya. Ketika Bunda memeluknya di kondisi ini, ia akan mempelajari wajah serta suara Bunda. Ia juga akan mengasosiasikan suara dengan wajah Bunda. Nalurinya pun akan bekerja untuk menemukan payudara Bunda hingga ia merasakan susu yang keluar dari payudara.

Selain itu, Mannel juga mengungkapkan bahwa bayi yang melakukan skin to skin contact dengan ibunya sesaat setelah persalinan akan tetap merasa hangat. Tahu kan Bun kalau suhu ruangan sekitar 2 hingga 3 derajat lebih rendah daripada suhu rahim sehingga bayi kerap merasa kedinginan saat dilahirkan? Nah, dengan melakukan kontak kulit ke kulit, Bunda akan membantunya tetap merasa hangat. Ia pun jadi lebih mampu meregulasi jantung, pernapasan, serta tidak terlalu merasa kesakitan. Efeknya, bayi akan lebih tenang dan jarang menangis.

Itulah, Bun, beberapa hal penting terkait IMD. Agar bisa melakukan IMD setelah persalinan, komunikasikan ini dengan fasilitas kesehatan Bunda, ya. Masukkan dalam birth plan agar dokter atau bidan tahu yang Bunda inginkan selama persalinan. Good luck!

Continue Reading

Air Susu Ibu

Fakta Menyusui di Tengah Pandemi Covid-19

mm

Published

on

ibu menyusui positif covid
Bagaimana cara aman menyusui bagi ibu yang terinfeksi covid?

Pandemi Covid-19 telah mengubah banyak hal, tidak saja dari segi kesehatan tetapi juga kehidupan sosial. Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah pemberian ASI pada ibu yang positif terinfeksi Covid-19. Meski belum banyak informasi yang berhasil disimpulkan karena terhitung baru, pertanyaan pun bermunculan. Apakah ibu menyusui dapat menularkan virus ke anak yang disusuinya? Lalu apakah ibu tetap dapat menyusui langsung? Simak jawaban yang diambil dari panduan World Health Organization di bawah ini. 

Apakah covid-19 dapat ditularkan melalui Air Susu Ibu? 

Hingga saat ini tidak ada bukti yang memperlihatkan adanya virus pada ASI ibu yang positif Covid-19. Berdasarkan hal itu, para ahli pun sependapat bahwa Covid-19 tidak dapat ditularkan melalui air susu ibu yang dikonsumsi langsung dari ibu yang positif mengidap Covid-19  atau dari ASI perah ibu tersebut. Meski demikian, penelitian terus dilakukan untuk menemukan lebih banyak informasi seputar hal ini. 

Jika ibu yang mengidap covid-19 melahirkan, apakah dapat menerapkan Inisiasi Menyusui Dini? 

Ibu yang positif covid-19 tetap dapat melakukan inisiasi menyusui dini dengan melakukan kontak kulit-ke-kulit yang dilakukan segera setelah anak lahir. Ibu juga tetap dapat melakukan perawatan metode kanguru untuk meningkatkan suhu tubuh neonatus dan fungsi fisiologis lain. Memiliki banyak manfaat, di antaranya mengurangi kematian neonatus, IMD tetap disarankan bahkan pada ibu yang positif covid-19 sekalipun. 

Apakah ibu yang positif tetap disarankan untuk menyusui anaknya?

Penularan virus corona melalui ASI dan menyusui belum terbukti, sehingga ibu tetap disarankan untuk menyusui. Untuk memastikan tidak terjadi penularan dari ibu ke anak, tetap terapkan langkah-langkah kebersihan serta mengenakan masker kain atau medis jika tersedia. Masker dapat mengurangi kemungkinan tersebarnya droplet virus dari ibu ke bayi. 

Berikut ini langkah yang bisa dilakukan ibu untuk mencegah penularan kepada bayinya: 

  • Mencuci tangan dengan sabun dan air atau hand sanitizer berbasis alkohol sesering mungkin, terutama sebelum menyentuh bayinya
  • Mengenakan masker medis saat menyusui, dengan memperhatikan hal berikut: 
    • Segera ganti masker jika sudah terasa lembap
    • Segera buang maske ke tempat sampah tertutup setelah digunakan
    • Tidak menggunakan ulang masker yang sudah dipakai
    • Tidak menyentuh bagian depan masker dan lepaskan masker dengan memegang talinya
  • Gunakan tisu untuk menutup mulut saat bersin atau batuk, lalu segera buang tisu ke tempat sampah tertutup dan mencuci tangan menggunakan hand sanitizer atau sabun dan air
  • Bersihkan area permukaan di ruangan ibu menggunakan desinfektan. Lakukan pembersihan ini secara rutin.

Apakah ibu menyusui yang positif Covid-19 perlu mencuci payudaranya sebelum menyusui langsung atau sebelum memerah ASI?

Sebenarnya tidak perlu. Akan tetapi, jika ibu baru saja batuk di atas payudara yang dalam kondisi terbuka, maka payudara tersebut perlu dibersihkan dengan air sabun hangat setidaknya selama 20 detik, sebelum menyusui. Intinya, ibu perlu memastikan payudara dalam kondisi bersih dari droplet sebelum menyusui si kecil atau memerah ASI. 

Jika ibu yang positif Covid-19 tidak dapat menyusui, bolehkah bayi diberi susu formula? 

Sebaiknya ASI tetap diberikan. Alternatif terbaik untuk pemberian asupan bagi bayi baru lahir atau yang masih kecil adalah: 

  • ASI perah
    • Ibu dapat memerah ASI secara manual menggunakan tangan atau dengan pompa mesin. Pilihan mengenai cara memerah sepenuhnya bergantung pada pilihan ibu dengan mempertimbangkan ketersediaan peralatan, biaya, dan kondisi lingkungan. Memerah ASI juga bermanfaat untuk mempertahankan produksi ASI. Dengan demikian ibu dapat langsung menyusui si kecil saat ia pulih. 
    • Sebelum memberikan ASI perah, ibu atau siapa pun yang membantu, harus mencuci tangannya. Begitupun sebelum menyentuh alat pompa atau botol. Pastikan perlengkapan menyusui dan alat perah selalu disterilisasi setelah digunakan. 
    • ASI perah sebaiknya diberikan dalam cangkir dengan sendok yang sudah bersih. Cangkir dan sendok lebih direkomendasikan karena mudah dibersihkan ketimbang botol dan dot. 
    • Pastikan ASI perah diberikan oleh orang yang sehat.
  • Donor ASI
    • Jika ibu tidak mungkin memerah ASI, maka ASI donor dapat diberikan kepada bayi sementara ibu menjalani pengobatan dan pemulihan 

Bila ASI perah atau ASI donor tidak tersedia atau tidak layak, maka dapat dipertimbangkan untuk ibu susu. Jika tidak ada juga, barulah formula bisa dipertimbangkan dengan memastikan kelayakan, persiapan yang benar, aman dan berkelanjutan.

Menyusui tidak saja memberikan asupan nutrisi yang penting bagi bayi, terutama bayi baru lahir, tapi juga sebuah proses yang membangun kedekatan antara ibu dan bayi. Hingga saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa ASI dapat menularkan virus, sehingga menyusui tetap dapat dilakukan. Selamat menyusui!

Continue Reading

Trending