Sebagian perempuan memilih sepeda motor sebagai alat transportasi karena dinilai lebih praktis saat dibawa ke jalanan. Tak jarang, perempuan hamil pun masih bisa “santai” mengendarai sepeda motor, terlepas dari risiko polusi udara serta guncangan akibat jalanan berlubang yang bisa memicu trauma pada perut dan janin.
Guncangan saat berkendara tidak bisa dianggap sepele saat hamil. Risiko guncangan dapat semakin serius jika bunda mengalami kelemahan pada mulut rahim, adanya gangguan pada tulang punggung, serta letak plasenta yang rendah.
Naik motor saat hamil, baik dibonceng maupun mengendarainya sendiri, tentu tidak dilarang. Namun, Bunda perlu lebih berhati-hati untuk memastikan tidak ada pengaruh buruk yang bisa ditimbulkan dari “kerasnya” dinamika berlalu-lintas di jalan raya.
Selama Bunda tidak merasakan nyeri, kram, keluar flek, atau perdarahan, naik motor saat hamil tentu akan aman-aman saja. Lantas, apa saja yang perlu diperhatikan agar tetap aman naik motor selama hamil?
Jangan sungkan memakai jaket, helm, dan masker saat berkendara jarak dekat. Meski sebentar, udara kotor akibat asap knalpot dan debu bisa tetap terhirup. Pastikan juga Bunda mengenakan helm dengan kencang untuk menghindari tiupan angin yang bisa bikin kepala terasa berat saat berkendara dan tentunya melindungi kepala dari trauma yang mungkin terjadi saat berkendara.
Ibu hamil sering kali merasa sulit menyeimbangkan tubuh. Karenanya, sebaiknya Bunda tidak duduk menyamping. Sebab, selain membahayakan tubuh karena sulitnya mengatur posisi nyaman, duduk menyamping juga bisa membuat kaki dan punggung jadi terasa lebih pegal.
Pengendara motor kopling tentu sering kesal saat harus melakukan kick starter. Jika pada orang sehat saja kick starter bisa melelahkan, bagaimana dengan ibu hamil? Dorongan tenaga yang kuat saat kick-starter dapat membuat perut terasa kram dan kaki pegal. Maka dari itu, jika motor kopling Bunda sulit dihidupkan, baiknya langsung minta bantuan orang lain untuk kick starter.
Jalan rusak bisa menyebabkan guncangan saat berkendara. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, guncangan dapat menimbulkan efek samping yang lumayan serius. Oleh karenanya, lebih baik menghindari jalanan rusak agar perjalanan lebih nyaman. Kalau terpaksa lewat jalanan berlubang, lebih baik berkendara pelan-pelan saja, atau minta orang yang menyetir agar lebih hati-hati.
Bunda sebaiknya tidak mengenakan pakaian ketat saat naik motor karena dapat menghambat gerak sekaligus membuat perut terasa sesak. Pakai baju longgar dan lapisi dengan sweater atau jaket untuk melindungi tubuh dari terpaan angin dan sinar ultraviolet.
Bunda tetap boleh naik motor saat hamil selama merasa aman dan nyaman. Namun, saat kehamilan sudah menginjak usia 30 minggu, sebaiknya hentikan naik motor. Bunda tentu akan mengalami kesulitan untuk menyeimbangkan tubuh dan mengontrol sepeda motor saat perut sudah semakin membesar. Lebih baik gunakan moda transportasi yang lebih aman seperti mobil pribadi atau bus.
Untuk mendapat informasi menarik lain seputar kehamilan, persalinan, dan menyusui dengan mengikuti Facebook dan Instagram Ibu Sehati.
Bunda mungkin ingat beberapa waktu lalu Chrissy Teigen, istri dari penulis lagu dan penyanyi John…
Pandemi Covid-19 berdampak pada kita semua. Namun, tahukah, Bunda, bahwa pandemi ini memiliki konsekuensi tersendiri…
Neonatal intensive care unit atau biasa disingkat NICU adalah ruang perawatan intensif bagi bayi yang…
Tidak ada seorang ibu atau ayah yang ingin melahirkan bayi prematur. Akan tetapi, beberapa orangtua…
Vaksinasi Covid-19 terus digencarkan pemerintah untuk mencapai kekebalan komunitas atau herd immunity. Di tengah program…
Masa nifas atau postpartum kerap menjadi masa yang sulit bagi ibu baru. Adaptasi, rasa sakit…