Ketika Bayi Mendengkur, Apakah Perlu Dikhawatirkan?

Apakah Bunda perlu merasa khawatir jika mendengar bayi mendengkur saat sedang tidur? Seperti halnya tangisan bayi yang memiliki banyak makna, bayi yang mengeluarkan suara dengkuran juga dapat menunjukkan beberapa pertanda.

Mengapa Bayi Mendengkur?

Bunda mungkin merasa kaget ketika mendengar suara dengkuran keluar dari mulut bayi pada saat masih berusia 3 minggu. Sebenarnya, ini merupakan hal yang wajar. Bayi yang baru lahir memiliki saluran pernapasan yang masih sempit dan dipenuhi oleh sekresi lendir. Dinding saluran napas kita akan menghasilkan lendir untuk pertahanan tubuh. Apabila terdapat benda asing yang terhirup kita, maka bersihan lendir ini akan membantu untuk mengeluarkannya dari saluran napas kita. Bila lendir ini terlalu banyak jumlahnya, maka refleks tubuh kita yaitu untuk batuk dan mendorongnya keluar.  

Mekanisme pembersihan lendir tersebut belum terlalu baik pada bayi yang baru lahir. Akibatnya, masih terdapat lendir pada saluran napas bayi baru lahir.  Udara yang melewati kumpulan sekresi lendir tersebut dapat menyebabkan suara bergetar yang berbeda-beda seperti musik dari instrumen. Jadi, dalam hal ini dengkuran merupakan suara yang dihasilkan oleh kejadian tersebut pada saluran napas.

Apabila terdapat riwayat alergi pada keluarga Bunda, maka produksi lendir bayi dapat menjadi lebih banyak. Akibatnya, suara dengkuran atau grok-grok pada bayi dapat makin jelas terdengar. Kondisi tersebut dapat diperberat apabila terdapat asap rokok, debu, tungau debu rumah, maupun bulu binatang.  

Cara Mengatasinya

Ada beberapa cara yang dapat Bunda lakukan bila memiliki bayi yang mendengkur, yaitu:

  • Jaga kebersihan

Bunda perlu menjaga kebersihan rumah karena debu serta tungau debu rumah terdapat pada barang-barang di rumah kita, seperti boneka bulu, tirai jendela, ranjang tidur, tumpukan baju ataupun majalah, karpet bulu, dan sebagainya.

  • Melakukan penguapan

Cara untuk mengeluarkan sekresi berlebih pada hidung dapat dengan penguapan. Bawalah bayi ke kamar mandi yang terlebih dahulu telah dibuat dalam kondisi agak hangat. Lalu, biarkan uap tersebut membersihkan saluran pernapasan bayi. Selain itu, Bunda juga dapat menerapkan ini di dalam kamar dengan membawa baskom air hangat ke kamar.

  • Menghindari asap rokok dan bulu binatang

Beberapa bahan alergen adalah asap rokok dan bulu binatang. Supaya bayi tidak mendengkur lagi, singkirkan bahan-bahan tersebut dari lingkungan bayi.

Kapan Harus Waspada?

Ketika usia bayi bertambah, Bunda mungkin sudah menyiapkan boks bayi sebagai tempat tidurnya setiap malam. Namun, itu bukan berarti Bunda boleh abai terhadap kondisi bayi pada saat tidur. Bunda harus selalu memantau kondisi bayi, termasuk mengamati apakah ia mendengkur.

Ketika bayi semakin bertumbuh, saluran pernapasannya pun berkembang. Masalah dengkuran otomatis akan berkurang. Namun, jika bayi terus mendengkur tanpa perubahan atau bahkan bertambah buruk, Bunda harus berkonsultasi dengan dokter. Bunda perlu memperhatikan apakah bayi terdapat jeda bernapas atau berhenti bernapas sejenak (apnea). Bila hal tersebut terjadi, segera bawa bayi berobat ke dokter.

Biasanya, dokter juga akan memastikan saluran hidung bayi tidak bermasalah dan strukturnya normal. Masalah penyebab dengkuran dapat juga karena nasal septum yang membelah dan menyimpang ke satu sisi. Pembesaran amandel atau adenoid juga dapat memicu terjadinya dengkuran pada bayi. Bunda dapat merekam video pada saat bayi mendengkur, dan menunjukkannya pada Dokter saat berobat, untuk dapat dipastikan apakah ada tanda bahaya atau tidak.

Jadi, jangan anggap sepele masalah bayi mendengkur. Segera hubungi dokter jika Bunda merasakan ada hal yang tidak beres. Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati.

Bunda juga bisa mendapatkan berbagai informasi penting dari Facebook dan Instagram Ibu Sehati. Like dan follow untuk mendapatkan kabar terbaru. Ada pula aplikasi Sehati yang dapat diunduh dari Google Play Store dan Apple Store. Yuk, jangan sampai ketinggalan.

dr. Karina Kaltha, Sp.A

Dokter Karina adalah dokter spesialis anak yang saat ini berpraktik di BJ Medical Center. Perempuan asal Jakarta ini menuntaskan pendidikan kedokterannya di Universitas Indonesia, Jakarta pada tahun 2010. Ia pun memperoleh gelar spesialisasinya di universitas yang sama 8 tahun berikutnya. Selain aktif menulis di Ibu Sehati, Dokter Karina juga aktif menulis artikel ilmiah. Salah satu penelitiannya yang telah disampaikan di hadapan publik berjudul “Radioactive Iodine Therapy in an Adolescence Girl with Graves Disease”. Hasil penelitian ini dipresentasikan di Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak pada tahun 2017.

Recent Posts

Memahami Perubahan pada Tubuh setelah Keguguran

Bunda mungkin ingat beberapa waktu lalu Chrissy Teigen, istri dari penulis lagu dan penyanyi John…

4 years ago

Simak! Ini Dampak Pandemi bagi Ibu Hamil dan Bayi

Pandemi Covid-19 berdampak pada kita semua. Namun, tahukah, Bunda, bahwa pandemi ini memiliki konsekuensi tersendiri…

4 years ago

Panduan untuk Ayah, saat Si Kecil Dirawat di NICU

Neonatal intensive care unit atau biasa disingkat NICU adalah ruang perawatan intensif bagi bayi yang…

4 years ago

Mengenal Ruang NICU, Fungsi dan Perkiraan Tarif

Tidak ada seorang ibu atau ayah yang ingin melahirkan bayi prematur. Akan tetapi, beberapa orangtua…

4 years ago

Pertanyaan seputar Vaksin Covid-19 untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Vaksinasi Covid-19 terus digencarkan pemerintah untuk mencapai kekebalan komunitas atau herd immunity. Di tengah program…

4 years ago

Depresi Pasca Persalinan, Lebih Rentan saat Pandemi Covid-19?

Masa nifas atau postpartum kerap menjadi masa yang sulit bagi ibu baru. Adaptasi, rasa sakit…

4 years ago