fbpx
Connect with us

Kehamilan

Ini Fakta Seputar Perut Hamil Bunda

mm

Published

on

fakta seputar perut hamil bunda

Salah satu hal paling menggemaskan yang akan terjadi pada Bunda selama kehamilan adalah munculnya baby bump, alias bentuk perut yang bertambah gembung seiring bertumbuhnya janin.

Tak heran bila kemudian Bunda sering sekali mengecek atau mengukur baby bump dari waktu ke waktu demi memastikan sang calon bayi terus bertumbuh dengan baik. Namun, apa sebenarnya baby bump bisa menjadi tolok ukur kondisi buah hati di dalam rahim? Dan apakah bentuk baby bump benar-benar bisa memprediksi jenis kelamin bayi seperti yang selama ini terdengar di masyarakat? Supaya Bunda lebih paham mengenai hal ini, berikut serba-serbi tentang baby bump yang perlu Bunda ketahui.

Baca juga: 4 Faktor Penyebab Pertumbuhan Janin Terhambat

Baby Bump Tak Selalu Terlihat di Awal Kehamilan

Beberapa wanita merasa panik ketika baby bump tak kunjung muncul di awal kehamilan. Kecemasan-kecemasan berlebih tak jarang menyertainya. Khawatir tak betul-betul hamil atau khawatir si calon bayi tak tumbuh dengan baik adalah beberapa contoh kecemasan yang sering muncul.

Menghadapi baby bump yang seolah bersembunyi di awal kehamilan, Bunda seharusnya tak perlu cemas. Normalnya, perut gembung saat hamil memang baru terlihat di trimester kedua. Baby bump yang muncul di trimester awal biasanya disertai dengan bloating atau kembung.

Jadi, alih-alih merepresentasikan keberadaan si bayi, baby bump di awal kehamilan justru menandakan kembung. Baby bump juga bisa muncul di trimester awal kehamilan jika sebelumnya Bunda pernah melalui kehamilan. Otot perut yang lemah juga bisa memicu kehadiran baby bump lebih awal.

Bisakah Bentuk Baby Bump Digunakan untuk Memprediksi Jenis Kelamin?

fakta perut hamil

Meghan Markle dan perut hamilnya yang berubah dari bulan ke bulan. Sumber: Yahoo Style.

“Ih, perutnya gendut di bawah, anaknya pasti laki-laki nih!” Familier dengan komentar seperti ini, Bunda? Jika tak sering, Bunda pasti setidaknya pernah sekali dua kali mendengar celetukan ini ketika hamil. Saat jenis kelamin sang jabang bayi belum diketahui, memang ada saja yang kerap coba memprediksi dengan tanda-tanda tertentu. Bentuk perut adalah salah satu patokan yang paling kerap digunakan. Namun, hal ini bisa dipercaya tidak, sih?

Sejauh ini, secara medis, bentuk baby bump berbicara soal kondisi otot perut sang bunda dan bukan sama sekali perihal jenis kelamin sang calon bayi. Ketika baby bump terbentuk di perut bagian atas, ini berarti Bunda memiliki otot perut yang kuat dan kencang. Sebaliknya, ketika baby bump terbentuk di perut bagian bawah, otot perut berarti sudah tidak terlalu kencang atau kendur.

Ada banyak faktor penyebabnya, mulai dari usia, jumlah kehamilan sebelumnya, hingga kurangnya olahraga. Tak hanya itu, bentuk baby bump juga dipengaruhi bentuk tubuh. Wanita dengan tubuh yang tinggi umumnya akan memiliki bentuk baby bump yang lebih ramping daripada wanita bertubuh pendek.

Mengapa Garis-Garis Hitam Muncul di Sepanjang Perut?

Saat perut membesar, bukan hanya stretch mark, garis-garis hitam pun akan muncul. Dalam dunia medis, ini disebut dengan linea negra. Kabarnya, sama dengan stretch mark, muncul atau tidaknya garis ini pada perut Bunda dipengaruhi oleh faktor genetik. Jika memang genetik Bunda rentan dengan kemunculan linea negra, garis-garis ini pasti akan muncul ketika Bunda hamil. Pencetusnya adalah hormon kehamilan.

Baca juga: Tak Perlu Panik, Hal ini Wajar Terjadi pada Tubuh Saat Hamil

Lantas, bagaimana menghindarinya? Cobalah mengontrol berat badan selama kehamilan. Jangan sampai kenaikan yang terjadi, lebih dari yang dianjurkan. Jika Bunda bisa mempertahankan ini, linea negra akan lebih sulit muncul. Namun, tenang saja, linea negra akan hilang seiring berakhirnya masa kehamilan, kok!

Ukuran Normal Baby Bump

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, baby bump di trimester pertama kehamilan memang lazimnya tak terlihat. Sebab, di masa-masa awal kehamilan, umumnya rahim masih tersembunyi di balik tulang pinggang. Saat memasuki trimester kedua, barulah baby bump muncul.

Nah, memasuki pekan ke-20 kehamilan, umumnya dokter atau bidan akan mengecek ukuran tinggi fundus rahim Bunda. Tinggi Fundus Uteri ini dihitung melalui beberapa cara atau metode. Ukuran yang menjadi patokan adalah jarak dari tulang pubis hingga ke bagian teratas uterus atau tepat di bagian pusar.

Baca juga: Bunda, Ini Pentingnya Menghitung Tinggi Fundus saat Hamil

Bila ideal, ukuran baby bump Bunda tak akan lebih atau kurang dari 20 cm atau sesuai dengan usia kehamilan. Jika ukurannya menyimpang 3 cm saja, entah lebih besar atau lebih kecil, dokter atau bidan biasanya akan melakukan pemeriksaan lanjutan, misalnya USG. Pemeriksaan USG biasanya digunakan untuk melihat ukuran bayi, apakah lebih kecil atau justru lebih besar dari ukuran seharusnya.

Bunda, itulah serba-serbi mengenai baby bump yang perlu diketahui. Dengan memahaminya, Bunda tak perlu lagi merasa cemas berlebih ketika kondisi baby bump tidak seperti yang ada di bayangan.

Bila Bunda ingin tahu lebih banyak tentang kehamilan, jangan lupa like dan follow laman Facebook dan Instagram Ibu Sehati. Unduh juga aplikasi SEHATI yang tersedia di Google Play Store maupun App Store untuk mendapatkan kabar terkini seputar kesehatan ibu dan bayi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kehamilan

Begini Kondisi Rahim setelah Mengalami Keguguran Tanpa Kuretase

mm

Published

on

kondisi rahim setelah keguguran tanpa kuret
Tidak semua kasus keguguran membutuhkan prosedur kuretase.

Keguguran adalah kejadian kehilangan janin pada usia kehamilan di bawah 20 minggu. Biasanya keguguran dialami oleh ibu hamil pada tiga bulan pertama kehamilan. Penyebabnya bisa bermacam-macam dan kadang tidak selalu berada di bawah kendali kita.

Banyak ibu yang tidak menyadari bahwa ia tengah mengalami keguguran. Beberapa hanya mengira keguguran yang ia alami sebagai perdarahan biasa. Memang, tanda awal keguguran dan tanda awal kehamilan tidak jauh berbeda. Keduanya dimulai dengan munculnya flek darah. Namun, pada keguguran, flek darah akan berubah menjadi perdarahan berat dan kadang dibarengi dengan gumpalan darah besar. Jika pembalut yang Bunda kenakan penuh dibanjiri darah dalam kurun waktu kurang dari satu jam, segera ke rumah sakit, ya.

Apakah Semua Keguguran Membutuhkan Tindakan Kuretase?

Tidak semua kejadian keguguran membutuhkan tindakan kuretase. Normalnya, setelah mengalami keguguran, tubuh akan mengeluarkan jaringan janin yang tertinggal dalam rahim dengan sendirinya. Namun, kemungkinan jaringan janin keluar dengan sendirinya lebih besar pada ibu yang mengalami keguguran sebelum mencapai usia kehamilan 10 minggu. 

Setelah 10 minggu, potensi keguguran yang tidak komplet atau “incomplete miscarriage” akan lebih besar. Incomplete miscarriage adalah kondisi ketika tubuh tidak mampu mengeluarkan jaringan sehingga tindakan kuret pun dibutuhkan. Tanda adanya jaringan yang masih tertinggal dalam tubuh sebagai berikut:

  • Sakit punggung
  • Kram perut
  • Perdarahan vagina
  • Hilangnya tanda kehamilan, seperti morning sickness

Setelah mengalami keguguran, Bunda akan diberikan pilihan untuk mengosongkan rahim dari jaringan janin. Pilihan pertama adalah expectant management di mana Bunda diminta menunggu agar jaringan keluar dengan sendirinya. Lamanya bisa memakan waktu 3-4 minggu. 

Bila dalam rentang waktu itu jaringan tidak keluar, tindakan lanjutan dibutuhkan. Entah itu dengan pemberian obat atau kuretase. Dua opsi ini biasanya diserahkan kepada Bunda, kecuali Bunda memiliki komplikasi atau mengalami kondisi darurat maka kuret akan lebih direkomendasikan.

Ini yang Akan Bunda Alami Jika Tidak Melakukan Kuretase

Jika seluruh jaringan janin telah keluar dengan sendirinya, tentu tidak ada masalah bagi Bunda. Tubuh termasuk rahim akan segera pulih dalam beberapa minggu. Namun, bagi Bunda yang mengalami incomplete miscarriage dan tidak melakukan kuretase, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. 

Bila tidak melakukan kuret, Bunda akan diberi pengobatan prostaglandin. Opsi ini bisa dipilih jika Bunda tidak memiliki komplikasi ya. Dengan pengobatan prostaglandin, proses pengeluaran sisa jaringan akan terjadi seperti keguguran alami. Namun, karena diberi obat, pengeluaran jaringan akan terjadi lebih cepat. Efeknya, Bunda akan mengalami kram perut yang lebih hebat serta perdarahan.

Opsi pengobatan ini umumnya aman bagi mayoritas perempuan. Namun, karena ada risiko perdarahan dan kram berat, Bunda harus senantiasa dalam pengawasan dokter. Selalu berkonsultasilah dengan dokter yang menangani Bunda mengenai efek pengobatan yang dialami. Jangan bepergian ke manapun hingga pengobatan benar-benar selesai karena Bunda mungkin akan merasakan sakit yang luar biasa. Berbaringlah saat kram atau rasa sakit datang. Pengosongan rahim menggunakan obat memakan waktu 24-48 jam.

Kapan Bisa Kembali Beraktivitas Normal?

Setelah jaringan janin dikeluarkan dari tubuh, dokter mungkin akan melakukan USG abdominal untuk memastikan rahim telah benar-benar kosong. Jika rahim telah benar-benar kosong, Bunda mungkin masih akan diminta menunggu hingga 2 minggu untuk dapat melakukan hubungan seks secara aman atau menggunakan tampon. Selama kurun waktu ini, Bunda tidak diperkenankan memasukkan apapun ke dalam vagina untuk menghindari infeksi.

Itulah kira-kira yang akan Bunda alami jika memilih untuk tidak melakukan kuret setelah keguguran. Apapun pilihan Bunda, pastikan ada orang terdekat untuk mendampingi karena keguguran bukanlah peristiwa ringan untuk dihadapi sendiri. Semoga lekas pulih, Bun!

Continue Reading

Kehamilan

9 Kebiasaan Sederhana ini Bisa Mencegah Keguguran

mm

Published

on

aktivitas yang menyebabkan keguguran

Tahukah, Bunda? Ternyata ada sekitar 15% ibu hamil yang mengalami keguguran. Sayangnya angka ini merupakan asumsi yang dipastikan terlalu rendah. Pasalnya, banyak keguguran di masa awal kehamilan tidak disadari oleh ibu hamil. Kebanyakan kejadian keguguran di masa awal kehamilan ini disebabkan oleh ketidaknormalan kromosom. 

Selain kelainan kromosom, penyebab lain keguguran adalah usia ibu yang sudah lanjut, obesitas, dan masalah medis kronis seperti diabetes, masalah tiroid dan hipertensi. Semua penyebab tadi bisa jadi memang sulit dikontrol. Diabetes dan hipertensi merupakan masalah kesehatan yang kerap kali diperoleh dari garis keturunan. Namun ada beberapa hal yang bisa Bunda lakukan untuk mengurangi kemungkinan mengalami keguguran maupun kematian janin atau stillbirth. Dengan menerapkan beberapa kebiasaan ini selama hamil, risiko keguguran dapat dikontrol, selain juga menjaga kehamilan yang sehat. 

1. Cuci tangan

Ada beberapa infeksi yang bisa menyebabkan keguguran maupun kematian janin. Salah satu hal yang paling mudah dilakukan untuk mencegah infeksi adalah dengan menerapkan kebiasaan cuci tangan dan jaga jarak dengan orang yang sakit. Apalagi di musim pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. 

Cuci tangan selama setidaknya 20 detik menggunakan sabun dan air hangat atau mengalir. Selalu cuci tangan ketika: 

  • Sebelum dan sesudah makan 
  • Setelah menggunakan toilet
  • Setelah bepergian ke tempat ramai 
  • Setelah berhubungan dengan orang yang sakit 
  • Setelah menyentuh benda yang banyak disentuh orang lain seperti uang, pegangan pintu, keranjang belanja, dll. 

2. Berhenti merokok

Sudah banyak diketahui bahwa merokok bisa menimbulkan masalah kesehatan serius. Kebiasaan merokok meningkatkan risiko kanker, penyakit paru-paru, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan stroke. Perempuan yang merokok lebih berisiko mengalami kemandulan dan/atau keguguran, janin yang terhambat pertumbuhannya, persalinan prematur, atau bayi yang lahir dengan berat rendah (BBLR).

Bayi yang lahir dari ibu perokok memiliki risiko lebih tinggi mengalami kematian. Berhenti merokok tidak hanya menyelamatkan nyawa bayi yang dilahirkan, tetapi juga memastikan Bunda tetap ada di sisi si kecil hingga ia bertumbuh dewasa. 

3. Berhati-hati di dapur

Penyakit yang berasal dari makanan seperti listeria kerap dikaitkan dengan meningkatnya risiko keguguran. Begitu pula parasit seperti toksoplasma gondii yang dapat masuk dari makanan yang dikonsumsi. Meskipun ibu hamil selalu disarankan untuk menghindari konsumsi makanan mentah atau keju yang dipasteurisasi, hal ini tidak cukup. Pasalnya bakteri jahat ini juga bisa datang dari makanan lain, jika tidak menerapkan prinsip pengolahan makanan yang sehat di dapur.

Terapkan hal berikut ini di dapur: 

  • Cuci tangan sebelum dan sesudah mengolah makanan mentah, terutama daging-dagingan 
  • Masak daging, ikan dan telur sesuai suhu yang disarankan. 
  • Segera masukkan makanan sisa ke dalam kulkas
  • Segera olah atau simpan dalam freezer daging atau ikan dalam waktu satu atau dua hari setelah dibeli
  • Cuci bersih sayur dan buah-buahan.

4. Vaksin flu

Meski sempat ada kabar yang mengatakan bahwa vaksin flu dapat menyebabkan keguguran, penelitian yang dilakukan memperlihatkan tidak adanya risiko keguguran setelah vaksin. Vaksin flu disarankan bagi ibu hamil untuk dilakukan, di trimester berapa pun. Pasalnya beberapa strain flu dapat berisiko dan bahkan lebih fatal bagi ibu hamil dibandingkan populasi kebanyakan. Selain itu, demam tinggi yang kerap menjadi salah satu gejala flu juga dihubungkan dengan cacat tabung saraf. 

5. Menurunkan berat badan sebelum hamil

Seperti halnya merokok, obesitas juga dikaitkan dengan banyak masalah kesehatan–dari meningkatnya risiko penyakit jantung, diabetes, dan beberapa tipe kanker, hingga komplikasi kehamilan seperti kelahiran prematur, preeklamsia, diabetes gestasional, dan semua tipe keguguran. 

Meski kaitan antara obesitas dan keguguran belum dapat dipahami secara pasti, beberapa penelitian yang dilakukan di berbagai belahan dunia, menemukan hasil yang sama yaitu perempuan obesitas memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami keguguran ataupun stillbirth

6. Konsumsi pola makan sehat

Pola makan sehat tidak hanya berlaku bagi Bunda yang ingin menurunkan berat badan. Penelitian memperlihatkan hasil bahwa pola makan yang tinggi kandungan buah-buahan, sayur-sayuran, dan gandum utuh dapat menurunkan risiko komplikasi kehamilan

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Stanford ditemukan bahwa perempuan memiliki risiko 50% lebih kecil untuk mengalami anencephaly (cacat pada tengkorak dan otak) ketika mengonsumsi makanan sehat. Pola makan sehat juga dikaitkan dengan kontrol berat badan dan kontrol gula darah yang optimal bagi perempuan yang mengidap diabetes. 

7. Melakukan pemeriksaan kehamilan

Pemeriksaan kehamilan merupakan hal yang penting dilakukan secepat mungkin. Pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter kandungan ataupun bidan bisa menemukan masalah kesehatan atau komplikasi kehamilan lebih dini sehingga keguguran dapat dicegah. 

8. Konsumsi obat secara rutin

Masalah kesehatan kronis seperti lupus, diabetes, dan tekanan darah tinggi, semuanya dikaitkan dengan meningkatnya risiko keguguran. Jika Bunda memang mengidap penyakit kronis, demi menjalani kehamilan yang sehat dan terkontrol, pastikan konsumsi obat/pengobatan tetap berjalan rutin. 

9. Terapkan seks aman

Yup, ada baiknya menerapkan hubungan seks yang aman untuk mencegah Bunda tertular penyakit seksual. Penyakit seperti chlamydia atau sipilis berpotensi menyebabkan keguguran, stillbirth, kematian bayi baru lahir, kemandulan dan kehamilan ektopik

Continue Reading

Kehamilan

Warna Keputihan saat Hamil bisa Berubah-ubah, Kenapa?

mm

Published

on

warna keputihan saat hamil

Selain perubahan yang terlihat secara jelas di depan mata, kehamilan juga membawa berbagai perubahan yang tidak terlihat nyata. Salah satunya adalah warna cairan vagina atau keputihan yang terjadi selama Bunda hamil. 

Pada dasarnya, cairan vagina atau keputihan tersebut adalah hal yang wajar. Cairan kental tersebut juga dikenal sebagai lendir leher rahim yang diproduksi oleh kelenjar yang terletak di dekat leher rahim itu sendiri. 

Lendir atau cairan keputihan ini memegang peranan penting dalam sistem reproduksi perempuan. Di siklus menstruasi, tepatnya di masa infertil, tekstur cairan ini menjadi lebih tebal dan lengket untuk mencegah terjadinya infeksi saat hamil. Mendekati waktu ovulasi, cairan keputihan menjadi lebih encer dan banyak jumlahnya. Tekstur seperti ini memudahkan sperma untuk berenang dan sampai di tujuan akhirnya. 

Merasa area celana dalam menjadi lebih basah menjelang menstruasi? Perubahan ini disebabkan oleh aliran darah yang lebih deras ke area vagina, kenaikan kadar estrogen, dan leher rahim yang bersiap menghadapi menstruasi. Mengamati perubahan cairan keputihan ini dapat membantu mengenali kondisi tubuh saat sedang subur-suburnya atau sebaliknya. 

Cairan Keputihan Berubah selama Kehamilan 

Seperti perubahan cairan keputihan sesuai siklus menstruasi, perubahan ini juga terjadi selama Bunda hamil. Saat hamil, tubuh Bunda akan mengeluarkan cairan keputihan berwarna putih atau bening, dengan atau tanpa bau. Cairan keputihan ini dikenal sebagai leukorrhea. Istilah leukorrhea ini lebih sering dikaitkan meskipun sebenarnya juga dapat dialami oleh perempuan yang tidak hamil. 

Selama kehamilan, produksi leukorrhea akan meningkat karena naiknya kadar hormon estrogen dalam tubuh yang mengalir ke area vagina. Meski demikian, peningkatan ini tidak terlalu kentara sampai setidaknya usia kehamilan 8 minggu.

Di trimester pertama kehamilan, cairan vagina akan meningkatkan sebagai upaya menghilangkan sel-sel yang mati dan bakteri dari rahim dan vagina untuk membantu mengurangi risiko infeksi. Jumlah cairan keputihan yang dialami akan meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan. Jadi selama cairan keputihan saat hamil tidak berbau dan berwarna, hal itu tidak perlu dikhawatirkan.

Seiring waktu, cairan keputihan juga membantu membentuk mucus plug, yaitu kumpulan lendir pelindung janin yang berada di saluran leher rahim. Cairan ini menutup lubang di leher rahim untuk mencegah infeksi masuk ke rahim dan membahayakan bayi.

Warna Keputihan Cokelat atau Pink saat Hamil

Warna keputihan saat hamil bisa berubah menjadi cokelat atau pink muda. Keputihan ini bisa terlihat seperti garis atau bercak berwarna pada celana dalam atau kertas tisu saat mengusap area vagina. Jika terlihat seperti perdarahan tipis, bisa jadi itu vlek darah. Biasanya, keputihan berwarna cokelat atau pink ini tidak menandakan adanya masalah. Penyebabnya bisa jadi adalah beberapa hal ini: 

  • Implantasi: beberapa perempuan (tapi tidak semua) melihat adanya keputihan berwarna cokelat atau pink di awal-awal masa kehamilan, beberapa hari setelah jadwal mens yang seharusnya datang. Jika demikian halnya, maka ini merupakan tanda implantasi atau menempelnya sel telur yang sudah dibuahi di dinding rahim, yang biasanya terjadi 10 hari setelah pembuahan. 
  • Hubungan intim atau pemeriksaan dalam: cairan keputihan saat hamil yang berwarna cokelat atau pink juga bisa terjadi setelah berhubungan intim atau pemeriksaan dalam. Hal ini terjadi karena leher rahim dan vagina sangat mudah teriritasi selama kehamilan, akibat banyaknya aliran darah yang menuju ke sana. 
  • Latihan atau olahraga berat: latihan fisik yang berat bisa menyebabkan cairan keputihan berwarna pink atau cokelat dan bisa terjadi di trimester awal, tengah maupun akhir kehamilan. Jika ini terjadi, tandanya Bunda perlu menurunkan intensitas olahraga, ya. 
  • Tanda awal persalinan: jika cairan keputihan yang keluar dan vagina berwarna cokelat atau pink dan terjadi menjelang waktu persalinan, maka ini sangat mungkin merupakan tanda persalinan sudah dekat. Pada saat itu leher rahim akan melebar sehingga mucus plug akan terlepas dari dinding leher rahim dan keluar dalam bentuk gumpalan-gumpalan kecil. 

Itulah beberapa hal yang bisa jadi penyebab warna keputihan saat hamil berubah-ubah. Akan tetapi, cairan keputihan juga bisa jadi penanda adanya infeksi loh, Bun. Yaitu jika warna keputihan saat hamil kuning, hijau, atau keabu-abuan. Selain itu juga berbau dan teksturnya berbuih atau bergumpal seperti yogurt. Jika ini yang terjadi, sebaiknya Bunda segera memeriksakan diri ke dokter kandungan ya. 

Continue Reading

Trending