fbpx
Connect with us

Parenting

Mencoba Jadi Ibu yang Sempurna? Ini Dampaknya bagi Kesehatan

mm

Published

on

menjadi ibu sempurna, bisa berdampak terhadap kesehatan bunda

Menjadi seorang ibu yang sempurna itu sulit. Kegagalan atau usaha keras untuk mencapainya, bisa jadi membuat ibu depresi. Lalu bagaimana?

Semua orang ingin menjadi sempurna, melakukan sesuatu dengan baik, atau menghasilkan sesuatu yang baik. Sepertinya hal itu memang sudah menjadi hal yang naluriah. Namun harus diakui, menjadi ibu bisa menonjolkan sisi pribadi Bunda yang menuntut kesempurnaan.

Bagaimana tidak? Bunda bukan menghasilkan sebuah produk, melainkan janin yang akan bertumbuh menjadi manusia dewasa. Dengan tugas penting tersebut, tentu saja kita ingin melakukan yang terbaik untuk memastikan si kecil nanti bisa menjadi orang yang baik juga untuk lingkungannya.

Akan tetapi, seringkali tujuan itu menjadi ‘beban’ yang hanya ditanggung si ibu. Memastikan asupan makanan si kecil, memberikan pendidikan yang baik, menegakkan disiplin… ah, ada begitu banyak hal yang harus dilakukan untuk ‘membentuk’ anak. Keinginan yang berlebihan untuk tampak sempurna di mata orang lain ini pada akhirnya bisa membuat Bunda tertekan, lho. Bahkan bukan tidak mungkin hal ini akan berdampak negatif terhadap kesehatan, baik mental maupun fisik.

Baca juga: 5 Tips Hadapi Teman dengan Gaya Parenting yang Berbeda

Belum lagi, ada kompetisi antara para ibu yang harus dihadapi. Kompetisi ini akan ‘memecut’ ibu untuk menjadi lebih sempurna lagi. Ibu yang perfeksionis akan terjebak di antara wejangan orang tua yang ia percaya benar dan tren kekinian yang ia peroleh dari media sosial, teman, pencarian google dan dokter mereka. Apakah saya harus menyusui? Apakah saya ibu yang gagal kalau saya merasa ingin menyerah? Apakah saya harus menggunakan gendongan atau stroller? Apakah perkembangan si kecil normal, di bawah standar, atau di atas standar?

Ketika ekspektasi tak sejalan dengan realita

Seorang sosiologis dari Universitas Kansas, AS, Carrie Wendell-Hummell melakukan wawancara terhadap 47 ibu dan bapak baru yang mengalami masalah kesehatan mental saat hamil dan setelah melahirkan. Dari wawancaranya tersebut dia menemukan bahwa ekspektasi orang tua yang terlalu ideal adalah salah satu pemicu masalah kesehatan mental yang mereka alami.

“Ekspektasi ideal mengenai parenthood ini lebih banyak ditemukan pada orangtua yang mengenyam pendidikan, dari kelas menengah, yang terbiasa dengan pencapaian-pencapaian tertentu dalam hidup mereka,” ucap Wendel-Hummell seperti dikutip dari cafemom.com.

“Mereka sadar bahwa menjadi orang tua itu bukan hal yang mudah, namun dalam praktiknya, tugas ini bahkan lebih sulit dari yang mereka bayangkan. Mereka memiliki ekspektasi tinggi, dan saat hal itu tidak berhasil dicapai, mereka mengalami masalah mental.”

Baca juga: Bentuk Dukungan Ini Bisa Diberikan untuk Ibu yang Sedang Hamil

Tekanan dari lingkungan

Seakan tekanan dari dalam saja belum cukup, Bunda pun harus menghadapi tuntutan sosial. Dalam hal ini, sosial bukan hanya dari lingkungan sekitar yang secara langsung berinteraksi dengan Bunda, tetapi juga dari media sosial.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Universitas Michigan, AS, menemukan bahwa ibu yang merasakan tekanan tersebut, berisiko tinggi mengalami depresi.

Dalam penelitian yang dilakukan terhadap 113 perempuan, para responden diminta melengkapi kuesioner tentang depresi dan kecakapan menjadi orang tua. Selama kehamilan dan setelah persalinan, mereka disodori pertanyaan yang dapat dijawab dengan “setuju” atau “tidak setuju”. Dari kuesioner tersebut, peneliti mengumpulkan lebih banyak jawaban “setuju” untuk pernyataan-pernyataan berikut ini: “Saya harus bisa melakukannya sendiri,” “Ibu lain mengalami lebih sedikit kesulitan pengasuhan daripada saya,” dan “Saya merasa bersalah saat mendahulukan kebutuhan diri sendiri di atas keperluan bayi saya.”

Hal yang Bisa Bunda Lakukan

Nah, agar terhindar dari tekanan tersebut, berikut ini beberapa hal yang bisa Bunda lakukan:

  1. Fokuslah membangun hubungan dengan orang-orang tercinta di sekeliling Bunda.. Daripada memfokuskan pikiran dan tenaga Bunda untuk membuat diri Anda, anak dan keluarga Anda sempurna, cobalah untuk menjalin hubungan yang lebih berarti dengan orang di sekitar Bunda.
  2. Tanamkan dalam pikiran Bunda bahwa apa yang Bunda lihat di sosial media bukanlah hal yang 100% nyata. Jika Bunda merasa tekanan tertentu dari akun-akun yang Bunda ikuti, ada baiknya cek kembali. Pilih akun yang memang menyuarakan hal-hal yang lebih positif dan penting.
  3. Cobalah menjadi diri sendiri. Berhenti membandingkan apa yang Bunda lakukan dengan yang dilakukan oleh orang lain. Setiap keluarga, setiap anak, setiap ibu dan setiap bapak adalah individu yang berbeda. Cara A belum tentu dapat diterapkan untuk keluarga Bunda. Bahkan, setiap keluarga akan menemukan caranya sendiri, sesuai dengan karakteristik individu yang ada di dalamnya.
  4. Biarkan si kecil belajar menjadi diri mereka sendiri daripada menuntut mereka untuk menjadi orang lain yang lebih baik. Ingatlah bahwa melakukan kesalahan merupakan sebuah proses menuju perbaikan.
  5. Jangan lupa untuk menikmati perjalanan menjadi ibu. Berhentilah berpikir bahwa Bunda mengemban tugas penting dan harus melakukan hal-hal terstruktur untuk mencapainya. Ajak si kecil bermain dan nikmati setiap kekonyolan dan kekotoran yang terjadi.
  6. Lower your expectations dan cobalah untuk menerima orang lain apa adanya. Harapan hanya akan membuat Bunda tertekan. Setiap manusia diciptakan unik dan tidak sempurna. Berhenti menunjuk kesalahan diri sendiri dan orang lain.

Ya, betul. Menjadi ibu tidaklah gampang. Dan mencoba menaburkan gula manis di atasnya dengan feed instagram, status Facebook ataupun Pinterest yang indah, tidak akan membuat tugas Bunda jadi lebih ringan. Mencoba untuk terus-menerus mencapai ekspektasi hanya akan membuat Bunda (tambah) lelah. Lagipula, jadi ibu bukanlah sebuah kompetisi, kan?

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kesehatan

Ini Panduan Perawatan Bayi Baru Lahir di Tengah Pandemi Covid-19

mm

Published

on

Ini panduan perawatan bayi baru lahir di tengah pandemi COVID-19.

Di tengah pandemi Covid-19, banyak kebiasaan maupun prosedur yang perlu disesuaikan dengan aktivitas kita sehari-hari. Tidak saja tata cara persalinan yang aman, penanganan bayi baru lahir juga penting untuk diperhatikan. 

Selain membawa kebahagiaan, kehadiran bayi baru di dalam keluarga tak ayal juga membawa kekhawatiran, khususnya bagi orang tua baru. Layaknya masa perkenalan, banyak hal yang perlu dipelajari dan disesuaikan untuk merawat si bayi. Apalagi, kondisi pandemi Covid-19 membawa banyak perubahan pada kebiasaan menjalani keseharian. Otomatis, orang tua baru harus menyesuaikan diri terhadap dua kondisi. 

Lalu apa yang perlu dilakukan oleh orang tua baru? Adakah tata cara yang perlu disesuaikan? Berikut ini penjelasannya ya, Bun. 

Pertama-tama, pastikan pemberian ASI dilakukan segera

Bayi baru lahir tidak serta merta memiliki daya tahan tubuh. Air susu ibu adalah satu-satunya asupan nutrisi bagi bayi yang juga akan membantu membentuk daya tahan tubuhnya. Itu sebabnya, pemberian ASI eksklusif ini menjadi lebih penting di tengah pandemi COVID-19. Jika Bunda terbukti tidak mengidap Covid, maka Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dapat segera dilakukan setelah si kecil lahir ke dunia. IMD dapat membantu produksi ASI dan juga membangun daya tahan tubuh bayi baru lahir.

Bagaimana jika ibu mengidap Covid-19? Hingga saat ini, penularan virus dari ASI yang diberikan kepada bayi, masih belum terbukti. Sehingga, lembaga kesehatan dunia WHO menyarankan pemberian ASI tetap dilakukan pada ibu menyusui yang mengidap Covid-19. Akan tetapi, beberapa fasilitas kesehatan mungkin akan menerapkan prosedur yang berbeda. Jadi pastikan Bunda sudah paham mengenai prosedur tersebut sebelum memilih fasilitas kesehatan untuk melahirkan. 

Apakah bayi baru lahir perlu dites Covid-19? 

Ibu yang akan melahirkan wajib menjalani pemeriksaan Covid-19. Jika ditemukan bahwa ibu positif, maka bayi yang baru dilahirkan perlu menjalani tes swab. Begitu pula bayi yang baru lahir dari ibu dengan gejala klinis Covid-19, wajib melakukan tes swab. Selain itu, bayi baru lahir dari pasien dan suspek perlu menjalani dua kali tes swab dengan hasil negatif untuk diperbolehkan pulang dari rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang menangani kelahiran tersebut. 

Jika ternyata Bunda tidak mengidap Covid-19, maka penanganan persalinan dan perawatan bayi baru lahir dapat dilakukan dengan prosedur yang sama, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan untuk mengurangi risiko penularan. 

Segera lakukan imunisasi bayi baru lahir 

Selain ASI, daya tahan tubuh bayi juga perlu dibangun dengan imunisasi. Bayi baru lahir perlu mendapatkan imunisasi hepatitis B dan polio. Imunisasi hep-B memberikan kekebalan tubuh yang melindungi si kecil dari penyakit hepatitis B. Imunisasi ini dilakukan segera setelah bayi lahir dan pada saat usia bayi 1-2 bulan untuk dosis kedua, dilanjutkan saat bayi berusia 6-18 bulan untuk dosis ketiga. 

Sementara imunisasi polio diberikan untuk mencegah bayi terkena penyakit polio ya, Bun. Penyakit ini termasuk penyakit berbahaya yang bisa menyebabkan kelumpuhan dan kecacatan. Imunisasi polio diberika sebanyak 4 kali, yakni saat bayi baru lahir, usia 2 bulan, usia 4 bulan, usia 6 bulan, usia 18-24 bulan dan diulang pada saat si kecil berusia 5-6 tahun.

Perhatikan dan terapkan prosedur pemberian vaksin yang aman ya, Bun. Bunda dapat melakukan imunisasi di Puskesmas jika memang fasilitas kesehatan tersebut memisahkan pemberian layanan kesehatan ibu dan anak dengan pasien Covid-19 atau umum. Jika tidak, Bunda juga bisa membawa si kecil ke praktik bidan mandiri yang menyediakan imunisasi. Ada baiknya tidak menunda pemberian imunisasi untuk memastikan si kecil memiliki daya tahan tubuh yang kuat, yang penting dimiliki khususnya di masa pandemi seperti ini. 

Jaga kontak bayi dengan orang atau dunia luar

Saat pandemi seperti sekarang ini, tempat paling aman bagi bayi baru lahir adalah di dalam rumah. Bagaimana jika ada yang akan menjenguk? Meski tradisi ini lazim dilakukan, bayi bisa saja terpapar virus corona dari penjenguk yang tidak bergejala. Ada baiknya ayah dan bunda dengan tegas menolak permintaan tersebut. Menghindari kontak merupakan salah satu cara paling efektif untuk menjaga bayi dari paparan virus corona. 

Anjurkan kerabat untuk menjenguk bayi secara virtual melalui video call yang bisa dilakukan secara personal ataupun kelompok. Untuk tidak mengurangi kesan, kado atau bingkisan makanan juga bisa dikirim melalui kurir. Aman dan tetap berkesan, kan? 

Pastikan ketersediaan kebutuhan dasar dan dukungan moral

Pastikan kebutuhan dasar bayi seperti popok, tisu basah, dan juga perlengkapan mandi dan sanitasinya. Sediakan dalam jumlah yang cukup banyak, namun tidak berlebihan, agar ayah dan bunda tidak perlu sering-sering keluar rumah untuk membelinya. Jika memungkinkan, beli kebutuhan tersebut di toko online. 

Jika ayah dan bunda tinggal berdua saja di dalam rumah, mungkin kehadiran bayi baru bisa membuat orang tua kewalahan. Kehadiran kerabat atau asisten rumah tangga mungkin bisa membantu meringankan beban. Akan tetapi, pastikan siapa pun yang memegang si kecil, terjaga kebersihannya dan dapat Bunda percaya ya. 

Itulah beberapa saran perawatan bayi baru lahir di tengah pandemi Covid-19. Selama masa ini, orang tua memang perlu menerapkan kehati-hatian ekstra untuk menjaga kesehatan keluarga. Akan tetapi, dengan tetap patuh pada protokol, risiko penularan bisa ditekan serendah mungkin. Jadi, tetap waspada ya, Bunda.

Continue Reading

Parenting

Ini Penyebab Gangguan Pola Tidur pada Bayi dan Cara Mengatasinya

mm

Published

on

pola tidur bayi
Pola tidur bayi memang berbeda. Jika bayi Bunda sulit tidur, ini yang bisa dilakukan.

Pola tidur bayi baru lahir biasanya belum terbentuk dan kerap membuat orang tuanya kelelahan. Di waktu yang seharusnya kita beristirahat, si kecil malahan membuka matanya lebar-lebar. Sebaliknya di saat seharusnya ia beraktivitas atau di siang hari, ia tertidur saja seharian.  

Bersiaplah Ayah dan Bunda, pola tidur bayi akan menjadi salah satu hal yang mewarnai dinamika kehidupan sebagai orangtua baru. Selain masalah pola tidur bayi baru lahir, gangguan pola tidur ini juga bisa terjadi saat si kecil sakit, tumbuh gigi atau teething, mengalami perubahan rutinitas, ataupun mencapai milestone tertentu. 

Meski begitu, Bunda atau Ayah dapat membantu si kecil untuk tidur dengan lebih nyaman dan membentuk pola tidurnya dengan mengetahui apa yang menyebabkannya sulit tidur. Yuk, coba kenali masalah tidur yang terjadi pada si kecil dan bagaimana mengatasinya. 

Masalah bayi baru lahir

Bayi baru lahir masih beradaptasi dengan pola tidur yang normal. Pada usia ini biasanya si kecil tidur 14 sampai 17 jam sehari, yang dibagi menjadi dua yaitu 8 sampai 9 jam tidur malam dan 7 hingga 9 jam tidur siang. Tentu saja ia belum bisa tidur tanpa terbagun. Itu artinya di malam maupun siang hari ia akan bangun beberapa kali untuk menyusui. 

Bayi baru lahir biasanya tidur sebentar-sebentar diselingi menyusu. Ya, dengan kebutuhannya untuk menyusui, rasanya seperti tidak ada istirahat untuk Bunda, ya. Ia pun masih sering menangis karena merasa belum nyaman. Agar Bunda tetap dapat beristirahat, cobalah menyusui si kecil dalam posisi berbaring menyamping

Bayi tidak suka tidur telentang

Si kecil jadi gelisah saat dibaringkan secara telentang? Umumnya bayi, terutama yang baru lahir, memang merasa lebih nyaman saat tidur tengkurap. Akan tetapi posisi ini juga menimbulkan risiko kematian bayi yang dikenal dengan sudden infant death syndrome (SIDS). Sehingga para ahli pun merekomendasikan untuk menidurkan bayi secara telentang. Jikapun Bunda menidurkan si kecil dalam posisi tengkurap, pastikan untuk selalu mengawasinya ya. 

Jika si kecil tidak mau tidur telentang, coba diskusikan hal ini dengan dokter anak. Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada penyebab atau kondisi fisik yang menyebabkan ketidaknyamanan ini. Umumnya kondisi ini semata disebabkan karena bayi tidak nyaman dengan posisi ini. 

Jika memang itu kasusnya, ada beberapa trik mudah yang bisa dicoba untuk lebih membiasakan si kecil tidur telentang, misalnya dengan membedong atau memberikannya dot untuk tidur. Terapkan hal ini sampai si kecil merasa nyaman tidur telentang. 

Terbalik antara siang dan malam 

Namanya juga anak kecil yang belum tahu apa-apa, wajar jika ia tidak bisa membedakan waktu siang dan malam. Andalah yang dapat menerapkan kebiasaan tidur di malam hari dan beraktivitas di siang hari. 

Umumnya seiring berjalannya waktu, kebiasaan ini akan berubah mengikuti pola tidur ayah dan bunda. Meski demikian ada beberapa cara yang dapat membantunya membedakan siang dan malam dengan lebih cepat. Misalnya, batasi tidur siang selama maksimal 3 jam setiap kali. Artinya jika ia tertidur selama 3 jam, bangunkanlah untuk memberinya susu. Selain itu coba matikan lampu kamar tidur dan TV, serta kegiatan yang terlalu menstimulasi di malam hari.

Menolak tidur

Biasanya terjadi pada bayi menginjak usia 4 bulan. Bayi yang biasanya tidur selalu itu akan mulai menolak untuk tidur. Oh, tidak! Kondisi ini juga bisa berulang saat bayi berusia 8 sampai 10 bulan, dan 12 bulan. Walau juga tidak menutup kemungkinan hal ini terjadi kapan saja, tidak tergantung usia. Bersiap ya, Bunda.

Mengapa hal ini terjadi? Pada usia ini bayi sudah mulai mengenal dunia di sekelilingnya. Ia merasa tertarik dengan semua yang terjadi. Rasanya dunia begitu seru dan menyenangkan, sayang kalau ditinggal tidur, Bun. 

Untuk mengatasinya, cobalah untuk membangun rutinitas sebelum tidur dan konsisten melakukannya. Ritual tersebut dapat dimulai dari memandikan, menyusui, membacakan cerita, kemudian menyanyikan lagu pengantar tidur dan memberinya pelukan. Juga pastikan si kecil mendapatkan cukup tidur di siang hari sebagai pengganti waktu tidurnya yang hilang di malam hari. 

Tenang saja, Bun. Biasanya kondisi ini hanya sementara. Ketika ia sudah terbiasa dengan kondisi sekitarnya, pola tidur bayi akan kembali normal. 

Perubahan pola tidur siang

Ketika usianya bertambah, jam tidur siang si kecil pun berkurang. Jika bayi Bunda menyambut perubahan ini secara positif dengan tidur malam lebih lama, tentu kebiasaan ini perlu diteruskan. Namun jika ia menjadi lebih rewel di malam hari atau sulit tidur malam, mungkin dia merasa terlalu lelah dan Bunda perlu mengajaknya untuk tidur siang lebih lama. 

Cobalah untuk menerapkan rutinitas menenangkan untuk membawanya tidur siang, misalnya dengan memasang musik yang menenangkan, pijat lembut di tubuhnya, dan membacakan cerita. Mungkin ia tidak akan langsung mengikuti rutinitas ini dengan tidur siang, akan tetapi cobalah untuk konsisten sampai akhirnya ia mengerti. Konsistensi adalah kunci, Bunda. 

Tidak mampu tidur secara mandiri 

Baik orang dewasa maupun bayi, bisa saja terbangun dua kali sepanjang tidur malam. Kebiasaan tidur malam yang baik akan terbentuk jika si kecil sudah mampu jatuh tidur secara mandiri, baik sebelum tidur malam maupun saat ia terbangun di malam hari. 

Kebiasaan ini sudah bisa dilatih saat usia si kecil menginjak usia 6 bulan. Namun jika ia belum mampu melakukannya sendiri, alias masih disusui atau diayun untuk membantunya tertidur kembali, maka mungkin Bunda bisa melakukan latihan tidur untuknya. 

Mulailah membangun rutinitas sebelum tidur. Jika si kecil masih ketergantungan dengan ASI sebelum tidur, mulailah menjadwalkan pemberian ASI terakhirnya 30 menit sebelum jam tidur yang direncanakan. Kemudian, saat dia mengantuk tapi belum tidur, taruh si kecil di tempat tidurnya. Mungkin dia akan rewel pada awalnya, tapi tahan diri Bunda untuk tidak segera menggendongnya. Berikan dia kesempatan untuk menenangkan diri sendiri. Jika ia mulai mengenyot ibu jarinya, tidak apa. Kebiasaan ini tidak terlalu buruk dan dapat membantunya tertidur secara mandiri. 

Lalu bagaimana jika ia terbangun di malam hari? Boleh-boleh saja mendekati dan menengoknya, tapi coba tahan diri untuk tidak segera menggendong dan menyusuinya. Saat ia sudah menguasai teknik menenangkan diri sendiri, ia akan tidur lagi secara mandiri. Usapan atau tepukan pelan di bokong sudah cukup membuatnya tenang. 

Dalam menerapkan sleep training diperlukan konsistensi ya, Bun. Membiarkan si kecil menangis tanpa menggendong dan mengayunnya memang terdengar tega. Akan tetapi, saat berusia 6 bulan, si kecil sudah dapat menggunakan tangisan sebagai ‘senjata’. Dengan menerapkan kebiasaan di atas, ia akan belajar bahwa tangisannya tidak sejitu itu. Pada akhirnya ia akan berhenti menangis dan memilih beristirahat, biasanya pada latihan di malam ketiga atau keempat. 

Itu tadi beberapa masalah gangguan pola tidur bayi. Selamat mencoba beberapa trik di atas, ya. 

Continue Reading

Parenting

Sleep Training untuk Bayi, Mana yang Paling Pas untuk Bunda?

mm

Published

on

sleep training
Ada berbagai metode sleep training yang bisa diterapkan untuk bayi

Apakah si kecil terus terbangun di tengah malam hanya untuk ditenangkan kembali menuju tidurnya? Hmm, jika saat ini ia telah menginjak usia 4 bulan, ini mungkin waktu yang tepat bagi Bunda untuk melakukan sleep training. Apa itu?

Sleep training adalah pengajaran yang dilakukan kepada bayi agar ia bisa tertidur sendiri tanpa bantuan orang lain. Setelah melakukan sleep training, bayi diharapkan dapat tertidur sendiri di kasurnya tanpa perlu diayun atau ditepuk-tepuk oleh orang lain. Melalui sleep training, si kecil juga diharapkan mampu terlelap kembali dengan sendirinya ketika ia terbangun di tengah malam. 

Bunda dapat memulai sleep training sejak bayi berusia 4 hingga 6 bulan. Pasalnya, di usia inilah biasanya bayi mengalami perubahan jadwal tidur. Jadwal tidur yang tadinya teratur bisa berubah dan bahkan mengganggu aktivitas ayah dan bunda. Sehingga bayi membutuhkan sleep training agar mampu menenangkan dirinya sendiri saat terbangun dari tidur. Pun di usia ini biasanya bayi belum mengenal kursi goyang atau dot, sehingga lebih mudah beradaptasi dengan kebiasaan baru yang diterapkan melalui sleep training ini.

Nah, apa saja metode sleep training yang bisa Bunda coba terapkan? Yuk, cek di sini.

Cry it Out (CIO)

Metode cry it out bisa dibilang adalah metode paling “tega” di antara metode sleep training yang lain. Sebab, dalam metode ini, Bunda diharapkan untuk membiarkan si kecil menangis di tempatnya hingga tertidur sendiri. Pastikan saja kalau sebelumnya si kecil diantar ke tempat tidur dalam keadaan perut yang kenyang dan lingkungan sekeliling tempat tidur cukup aman

Dengan metode ini, biasanya bayi sudah bisa tertidur dengan sendirinya tanpa menangis setelah 3 sampai 4 hari. Tahukah, Bun? Metode ini biasanya justru terasa lebih sulit untuk orang tua daripada untuk bayi. Karena Bunda pasti tidak tega kan mendengar dia menangis? Belum lagi jika Bunda masih tinggal dengan orang tua atau mertua, ada kemungkinan mereka merasa terganggu dengan suara tangis bayi. Akan tetapi dalam metode CIO ini, konsistensi adalah kunci.

Ferber Method

Jika Bunda tidak nyaman meninggalkan si kecil begitu saja seperti metode cry it out, Bunda bisa mencoba metode satu ini. Bila dalam metode CIO Bunda benar-benar meninggalkan bayi setelah menaruhnya di tempat tidur, tidak demikian dengan metode Ferber. Bunda masih diperkenankan untuk mengecek si kecil secara berkala di tempat tidurnya.

Langkah awal metode ini adalah meletakkan si kecil di tempat tidur setelah tiba waktu tidurnya. Setelah itu, tinggalkan bayi sendirian. Kemudian, tunggu selama beberapa menit untuk mengeceknya kembali. Saat mengecek si kecil, jangan angkat ia dari tempat tidurnya ya, Bun. Bunda boleh mengelusnya, tapi jangan sampai mengangkatnya apalagi menina-bobokannya. Si kecil tidak akan belajar tidur secara mandiri jika Bunda melakukan ini. 

Semakin lama, perpanjang interval ketidakhadiran Bunda dalam satu malam. Misalnya, jika sebelumnya Bunda akan mengecek kembali selang 3 menit, tingkatkan jadi 5 menit. Terus tingkatkan intervalnya perlahan-lahan hingga menyentuh 10 atau 15 menit. Pertahankan interval ini hingga si kecil tertidur. Dibandingkan dengan metode CIO, metode ini mungkin tidak akan terlalu berat untuk Bunda. Namun, memang membutuhkan waktu hitungan minggu untuk berhasil.

Chair Method

Metode satu ini mungkin akan jauh lebih nyaman bagi Bunda maupun si kecil. Namun, seperti metode Ferber, metode ini butuh waktu yang lama untuk berhasil dibandingkan dengan metode CIO. Jadi, chair method mungkin tak akan cocok untuk Bunda yang menginginkan hasil cepat. 

Bagaimana cara kerjanya?

Setelah memasuki waktu tidur si kecil dan memastikan ia kenyang, taruh bayi di tempat tidurnya. Bunda bisa mengambil kursi lalu duduk di samping tempat tidur si kecil. Jika si kecil menangis, Bunda bisa menenangkannya dengan cara menepuk-nepuknya. Namun, jangan berinteraksi terlalu lama ya. Saat si kecil sudah tertidur, Bunda bisa meninggalkan ruang tidurnya. 

Bila penerapan metode ini sudah berlalu selama 3 hari, perlebar jarak duduk Bunda: dari yang sebelumnya berada persis di samping tempat tidur si kecil menjadi di antara tempat tidur dan pintu. Lama-kelamaan, Bunda bisa sama sekali tidak berada dalam ruangan saat menunggu si kecil tertidur.

Kekurangan metode ini adalah terkadang chair method justru membuat si kecil lebih rewel. Pasalnya, ia tertidur dengan kondisi Bunda ada di dalam kamar yang sama dengannya, tetapi terbangun tanpa Bunda di sisinya. Ini bisa membuat si kecil marah saat terbangun. Jadi, tetap kenali karakter buah hati Bunda, ya. Bila metode ini justru membuatnya semakin rewel di pagi hari, lebih baik coba metode yang lain.

Pick Up, Put Down Method

Metode ini hampir sama dengan metode Ferber. Hanya saja, metode ini tidak mensyaratkan interval waktu untuk menenangkan si kecil. Setelah Bunda meletakkan si kecil di tempat tidur, tunggu apakah ia menangis. Jika ia menangis, tunggulah beberapa saat dan lihat apakah ia bisa tertidur dengan sendirinya. Bila tidak, angkat dan tenangkan ia. Setelah tenang, taruh kembali di tempat tidur. Ulangi pola ini hingga si kecil bisa tertidur pulas sepanjang malam

Metode ini mungkin cocok bagi Bunda yang tidak tegaan. Namun, metode ini mensyaratkan kesabaran karena keberhasilannya sangat lama.

Itulah beberapa metode sleep training yang bisa Bunda coba. Pilihlah yang paling cocok dengan karakter Bunda dan si kecil. Semangat, Bun!

Continue Reading

Trending