fbpx
Connect with us

Kehamilan

5 Jenis Infeksi yang Menyebabkan Cacat Janin

Infeksi merupakan faktor utama penyebab bayi lahir cacat. Karena itu, sebaiknya Bunda waspada akan jenis-jenis infeksi yang dapat menyebabkan kecacatan pada janin.

mm

Published

on

infeksi yang menyebabkan cacat janin
infeksi kehamilan dapat menyebabkan kemungkinan cacat janin

Infeksi pada kehamilan merupakan penyebab tertinggi bayi lahir cacat. Meski tidak menimbulkan keluhan, kondisi ini bisa berdampak buruk pada janin. Selain keguguran dan meninggalnya janin di dalam kandungan, bayi berisiko lahir dengan BB rendah atau mengalami gangguan fungsi organ. Inilah 5 jenis infeksi pada kehamilan yang perlu diwaspadai.

Infeksi Cytomegalovirus (CMV)

Cytomegalovirus merupakan jenis infeksi yang kerap terjadi saat hamil. Pada beberapa kasus, kondisi ini bisa menyebabkan bayi mengidap CMV bawaan. Infeksi ini umumnya memiliki gejala:

    • Peradangan retina
    • Ruam pada kulit
    • Ukuran kepala tidak normal (kecil) akibat perkembangan otak yang tidak lengkap
    • Kulit, mata, dan selaput lendir menguning
    • Kejang
    • Pembesaran hati dan limpa
    • Berat badan bayi rendah

Rubella

Infeksi yang disebut sebagai campak Jerman ini rentan menyerang ibu hamil, terutama pada trimester pertama. Kondisi ini dapat menyebabkan keguguran, kematian janin, atau bayi lahir prematur.

Jika bayi terlahir hidup, ia akan mengalami sindrom Rubella kongenital yang ditandai dengan cacat pada organ tubuh (mata, telinga, dan jantung), autisme, serta gangguan perkembangan motorik dan mental secara permanen.

Langkah pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan vaksinasi Rubella (MMR) paling lambat satu bulan atau empat minggu sebelum mulai hamil.

Herpes

Infeksi virus Herpes dapat menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, dan berat lahir bayi rendah. Kondisi ini bisa terjadi pada minggu-minggu akhir menjelang persalinan, saat bersalin, atau pascabersalin.

Jika terjadi di akhir masa kehamilan, infeksi Herpes dapat menyebabkan mikrosefali, radang retina, ruam kulit, dan hidrosefalus. Langkah pencegahan bisa dilakukan lewat pemberian obat antivirus acyclovir pada ibu hamil yang mengidap herpes genitalis (herpes pada kelamin) saat hamil.

Toksoplasma

Infeksi ini disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii yang dibawa oleh kucing. Parasit ini juga terdapat dalam daging yang tidak dimasak hingga matang atau dalam air yang terkontaminasi.

Jika tak ditangani dengan serius, infeksi ini bisa menular ke janin dan berisiko menyebabkan hidrosefalus, mikrosefali, keterbelakangan mental, atau peradangan retina.

Selain diagnosis dan pengobatan sejak dini, menjaga kebersihan diri dan makanan adalah hal yang wajib Bunda terapkan agar terhindar dari infeksi toksoplasma.

Zika

Infeksi Zika ditularkan oleh nyamuk Aedes atau lewat hubungan seksual yang tidak aman. Jika terjadi saat hamil, virus ini akan menyebabkan cacat bawaan lahir dan kelainan otak pada bayi.

Hingga kini, belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan infeksi Zika. Langkah pencegahan yang paling dianjurkan adalah menggunakan kondom saat berhubungan intim dan menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi tempat tumbuhnya jentik nyamuk.

Itulah beberapa infeksi berbahaya yang rentan dialami ibu hamil. Karenanya, penting bagi Bunda untuk melakukan deteksi dini infeksi sebagai upaya pencegahan penyakit.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kehamilan

Adakah Gerakan Fisik Tertentu yang Bisa Menyebabkan Keguguran?

mm

Published

on

gerakan yang menyebabkan keguguran
Ada beberapa gerakan yang dinilai menyebabkan keguguran. Benarkah?

Bagi Bunda yang tengah hamil muda, pasti sering mendengar nasihat dari orang-orang terdekat untuk mengurangi aktivitas. Beberapa yang paling sering adalah saran untuk tidak naik-turun tangga, jongkok, atau mengangkat benda-benda berat karena dikhawatirkan dapat menyebabkan keguguran. Hmm, benarkah demikian?

Penyebab Keguguran

Keguguran jarang sekali disebabkan oleh aktivitas yang dilakukan oleh ibu. Lazimnya, keguguran terjadi karena sedari awal kehamilan telah berisiko. Diabetes, penyakit tiroid, lupus, serta penyakit autoimun adalah beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko keguguran. Cedera berat yang disebabkan oleh kecelakaan mobil atau motor juga bisa jadi penyebabnya. Pun, dikutip dari WebMD, 60% keguguran terjadi karena kejanggalan dalam DNA janin, entah karena kelebihan atau kekurangan kromosom.

Bagaimana dengan Berolahraga?

Jika sebelum hamil Bunda sudah aktif berolahraga, perlukah berhenti untuk sementara waktu? Tidak ya, Bun. Para ahli justru menyarankan Bunda untuk berolahraga saat hamil agar tubuh tetap bugar. Mungkin, intensitasnya saja yang perlu diperhatikan. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang menangani Bunda ya mengenai intensitas dan frekuensi berolahraga selama kehamilan.

Yang perlu Bunda tahu, olahraga tidak lantas menyebabkan keguguran. Olahraga mungkin menyebabkan kontraksi rahim, tapi tidak sampai menyebabkan keguguran atau komplikasi kehamilan. Dilansir dari Verywell Family, sebuah studi metaanalisis yang meninjau 100 studi terkait hubungan aktivitas fisik dengan kehamilan menemukan kurang dari 1% saja efek samping olahraga terhadap kehamilan. 

Studi terbaru juga menunjukkan bahwa olahraga yang dilakukan selama kehamilan tidak meningkatkan risiko keguguran. Malahan, olahraga yang dilakukan secara tepat dapat bermanfaat bagi kehamilan.

Namun, bagi Bunda yang sebelumnya pernah mengalami keguguran atau kesulitan mengalami kehamilan, kehati-hatian tetap diperlukan, ya. Menurut studi yang dilakukan oleh peneliti dari University of Massachusetts Amherst, olahraga dengan intensitas tinggi pada ibu hamil yang memiliki riwayat keguguran berhubungan dengan risiko keguguran pada usia kehamilan muda. Namun, hubungan antara olahraga intensitas tinggi dan risiko keguguran tidak ditemukan pada ibu yang belum pernah mengalami keguguran sebelumnya.

Lalu, Bagaimana dengan Jongkok?

Selain berolahraga, jongkok dan aktivitas mengangkat benda berat adalah dua gerakan yang kerap dikhawatirkan menyebabkan keguguran. Sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari University of Washington menunjukkan bahwa jongkok dapat meningkatkan risiko keguguran.

Namun, yang perlu dicatat, gerakan jongkok yang dimaksud dalam penelitian ini adalah gerakan jongkok yang dilakukan berulang-ulang kali dalam sehari. Pasalnya, penelitian ini dilakukan pada pekerja industri tekstil yang tengah hamil, yang memang diharuskan berjongkok berkali-kali dalam rangka memenuhi pekerjaan.

Nah, untuk gerakan mengangkat benda berat pun demikian. Mengangkat benda berat tidak lantas menyebabkan keguguran. Peningkatan risiko keguguran sebanyak 3 kali lipat baru akan terjadi jika Bunda mengangkat beban lebih dari 10 kg setidaknya sebanyak 50 kali dalam seminggu. Jadi, jika frekuensinya rendah dan benda yang diangkat tidak terlalu berat, masih aman ya, Bun. Namun, Bunda tetap perlu berhati-hati. 

Bunda, itulah ulasan mengenai gerakan yang dapat menyebabkan keguguran. Pada dasarnya, jarang sekali keguguran disebabkan oleh aktivitas yang bumil lakukan. Keguguran lebih banyak terjadi karena kelainan pada kromosom janin dan faktor risiko lainnya. 

Referensi

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2863132/

https://www.sciencedaily.com/releases/2020/05/200526161115.htm

https://www.verywellfamily.com/does-exercise-cause-miscarriages-and-pregnancy-loss-2371373

https://www.webmd.com/baby/features/4-myths-about-miscarriages#2

Continue Reading

Kehamilan

Begini Kondisi Rahim setelah Mengalami Keguguran Tanpa Kuretase

mm

Published

on

kondisi rahim setelah keguguran tanpa kuret
Tidak semua kasus keguguran membutuhkan prosedur kuretase.

Keguguran adalah kejadian kehilangan janin pada usia kehamilan di bawah 20 minggu. Biasanya keguguran dialami oleh ibu hamil pada tiga bulan pertama kehamilan. Penyebabnya bisa bermacam-macam dan kadang tidak selalu berada di bawah kendali kita.

Banyak ibu yang tidak menyadari bahwa ia tengah mengalami keguguran. Beberapa hanya mengira keguguran yang ia alami sebagai perdarahan biasa. Memang, tanda awal keguguran dan tanda awal kehamilan tidak jauh berbeda. Keduanya dimulai dengan munculnya flek darah. Namun, pada keguguran, flek darah akan berubah menjadi perdarahan berat dan kadang dibarengi dengan gumpalan darah besar. Jika pembalut yang Bunda kenakan penuh dibanjiri darah dalam kurun waktu kurang dari satu jam, segera ke rumah sakit, ya.

Apakah Semua Keguguran Membutuhkan Tindakan Kuretase?

Tidak semua kejadian keguguran membutuhkan tindakan kuretase. Normalnya, setelah mengalami keguguran, tubuh akan mengeluarkan jaringan janin yang tertinggal dalam rahim dengan sendirinya. Namun, kemungkinan jaringan janin keluar dengan sendirinya lebih besar pada ibu yang mengalami keguguran sebelum mencapai usia kehamilan 10 minggu. 

Setelah 10 minggu, potensi keguguran yang tidak komplet atau “incomplete miscarriage” akan lebih besar. Incomplete miscarriage adalah kondisi ketika tubuh tidak mampu mengeluarkan jaringan sehingga tindakan kuret pun dibutuhkan. Tanda adanya jaringan yang masih tertinggal dalam tubuh sebagai berikut:

  • Sakit punggung
  • Kram perut
  • Perdarahan vagina
  • Hilangnya tanda kehamilan, seperti morning sickness

Setelah mengalami keguguran, Bunda akan diberikan pilihan untuk mengosongkan rahim dari jaringan janin. Pilihan pertama adalah expectant management di mana Bunda diminta menunggu agar jaringan keluar dengan sendirinya. Lamanya bisa memakan waktu 3-4 minggu. 

Bila dalam rentang waktu itu jaringan tidak keluar, tindakan lanjutan dibutuhkan. Entah itu dengan pemberian obat atau kuretase. Dua opsi ini biasanya diserahkan kepada Bunda, kecuali Bunda memiliki komplikasi atau mengalami kondisi darurat maka kuret akan lebih direkomendasikan.

Ini yang Akan Bunda Alami Jika Tidak Melakukan Kuretase

Jika seluruh jaringan janin telah keluar dengan sendirinya, tentu tidak ada masalah bagi Bunda. Tubuh termasuk rahim akan segera pulih dalam beberapa minggu. Namun, bagi Bunda yang mengalami incomplete miscarriage dan tidak melakukan kuretase, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. 

Bila tidak melakukan kuret, Bunda akan diberi pengobatan prostaglandin. Opsi ini bisa dipilih jika Bunda tidak memiliki komplikasi ya. Dengan pengobatan prostaglandin, proses pengeluaran sisa jaringan akan terjadi seperti keguguran alami. Namun, karena diberi obat, pengeluaran jaringan akan terjadi lebih cepat. Efeknya, Bunda akan mengalami kram perut yang lebih hebat serta perdarahan.

Opsi pengobatan ini umumnya aman bagi mayoritas perempuan. Namun, karena ada risiko perdarahan dan kram berat, Bunda harus senantiasa dalam pengawasan dokter. Selalu berkonsultasilah dengan dokter yang menangani Bunda mengenai efek pengobatan yang dialami. Jangan bepergian ke manapun hingga pengobatan benar-benar selesai karena Bunda mungkin akan merasakan sakit yang luar biasa. Berbaringlah saat kram atau rasa sakit datang. Pengosongan rahim menggunakan obat memakan waktu 24-48 jam.

Kapan Bisa Kembali Beraktivitas Normal?

Setelah jaringan janin dikeluarkan dari tubuh, dokter mungkin akan melakukan USG abdominal untuk memastikan rahim telah benar-benar kosong. Jika rahim telah benar-benar kosong, Bunda mungkin masih akan diminta menunggu hingga 2 minggu untuk dapat melakukan hubungan seks secara aman atau menggunakan tampon. Selama kurun waktu ini, Bunda tidak diperkenankan memasukkan apapun ke dalam vagina untuk menghindari infeksi.

Itulah kira-kira yang akan Bunda alami jika memilih untuk tidak melakukan kuret setelah keguguran. Apapun pilihan Bunda, pastikan ada orang terdekat untuk mendampingi karena keguguran bukanlah peristiwa ringan untuk dihadapi sendiri. Semoga lekas pulih, Bun!

Continue Reading

Kehamilan

9 Kebiasaan Sederhana ini Bisa Mencegah Keguguran

mm

Published

on

aktivitas yang menyebabkan keguguran

Tahukah, Bunda? Ternyata ada sekitar 15% ibu hamil yang mengalami keguguran. Sayangnya angka ini merupakan asumsi yang dipastikan terlalu rendah. Pasalnya, banyak keguguran di masa awal kehamilan tidak disadari oleh ibu hamil. Kebanyakan kejadian keguguran di masa awal kehamilan ini disebabkan oleh ketidaknormalan kromosom. 

Selain kelainan kromosom, penyebab lain keguguran adalah usia ibu yang sudah lanjut, obesitas, dan masalah medis kronis seperti diabetes, masalah tiroid dan hipertensi. Semua penyebab tadi bisa jadi memang sulit dikontrol. Diabetes dan hipertensi merupakan masalah kesehatan yang kerap kali diperoleh dari garis keturunan. Namun ada beberapa hal yang bisa Bunda lakukan untuk mengurangi kemungkinan mengalami keguguran maupun kematian janin atau stillbirth. Dengan menerapkan beberapa kebiasaan ini selama hamil, risiko keguguran dapat dikontrol, selain juga menjaga kehamilan yang sehat. 

1. Cuci tangan

Ada beberapa infeksi yang bisa menyebabkan keguguran maupun kematian janin. Salah satu hal yang paling mudah dilakukan untuk mencegah infeksi adalah dengan menerapkan kebiasaan cuci tangan dan jaga jarak dengan orang yang sakit. Apalagi di musim pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. 

Cuci tangan selama setidaknya 20 detik menggunakan sabun dan air hangat atau mengalir. Selalu cuci tangan ketika: 

  • Sebelum dan sesudah makan 
  • Setelah menggunakan toilet
  • Setelah bepergian ke tempat ramai 
  • Setelah berhubungan dengan orang yang sakit 
  • Setelah menyentuh benda yang banyak disentuh orang lain seperti uang, pegangan pintu, keranjang belanja, dll. 

2. Berhenti merokok

Sudah banyak diketahui bahwa merokok bisa menimbulkan masalah kesehatan serius. Kebiasaan merokok meningkatkan risiko kanker, penyakit paru-paru, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan stroke. Perempuan yang merokok lebih berisiko mengalami kemandulan dan/atau keguguran, janin yang terhambat pertumbuhannya, persalinan prematur, atau bayi yang lahir dengan berat rendah (BBLR).

Bayi yang lahir dari ibu perokok memiliki risiko lebih tinggi mengalami kematian. Berhenti merokok tidak hanya menyelamatkan nyawa bayi yang dilahirkan, tetapi juga memastikan Bunda tetap ada di sisi si kecil hingga ia bertumbuh dewasa. 

3. Berhati-hati di dapur

Penyakit yang berasal dari makanan seperti listeria kerap dikaitkan dengan meningkatnya risiko keguguran. Begitu pula parasit seperti toksoplasma gondii yang dapat masuk dari makanan yang dikonsumsi. Meskipun ibu hamil selalu disarankan untuk menghindari konsumsi makanan mentah atau keju yang dipasteurisasi, hal ini tidak cukup. Pasalnya bakteri jahat ini juga bisa datang dari makanan lain, jika tidak menerapkan prinsip pengolahan makanan yang sehat di dapur.

Terapkan hal berikut ini di dapur: 

  • Cuci tangan sebelum dan sesudah mengolah makanan mentah, terutama daging-dagingan 
  • Masak daging, ikan dan telur sesuai suhu yang disarankan. 
  • Segera masukkan makanan sisa ke dalam kulkas
  • Segera olah atau simpan dalam freezer daging atau ikan dalam waktu satu atau dua hari setelah dibeli
  • Cuci bersih sayur dan buah-buahan.

4. Vaksin flu

Meski sempat ada kabar yang mengatakan bahwa vaksin flu dapat menyebabkan keguguran, penelitian yang dilakukan memperlihatkan tidak adanya risiko keguguran setelah vaksin. Vaksin flu disarankan bagi ibu hamil untuk dilakukan, di trimester berapa pun. Pasalnya beberapa strain flu dapat berisiko dan bahkan lebih fatal bagi ibu hamil dibandingkan populasi kebanyakan. Selain itu, demam tinggi yang kerap menjadi salah satu gejala flu juga dihubungkan dengan cacat tabung saraf. 

5. Menurunkan berat badan sebelum hamil

Seperti halnya merokok, obesitas juga dikaitkan dengan banyak masalah kesehatan–dari meningkatnya risiko penyakit jantung, diabetes, dan beberapa tipe kanker, hingga komplikasi kehamilan seperti kelahiran prematur, preeklamsia, diabetes gestasional, dan semua tipe keguguran. 

Meski kaitan antara obesitas dan keguguran belum dapat dipahami secara pasti, beberapa penelitian yang dilakukan di berbagai belahan dunia, menemukan hasil yang sama yaitu perempuan obesitas memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami keguguran ataupun stillbirth

6. Konsumsi pola makan sehat

Pola makan sehat tidak hanya berlaku bagi Bunda yang ingin menurunkan berat badan. Penelitian memperlihatkan hasil bahwa pola makan yang tinggi kandungan buah-buahan, sayur-sayuran, dan gandum utuh dapat menurunkan risiko komplikasi kehamilan

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Stanford ditemukan bahwa perempuan memiliki risiko 50% lebih kecil untuk mengalami anencephaly (cacat pada tengkorak dan otak) ketika mengonsumsi makanan sehat. Pola makan sehat juga dikaitkan dengan kontrol berat badan dan kontrol gula darah yang optimal bagi perempuan yang mengidap diabetes. 

7. Melakukan pemeriksaan kehamilan

Pemeriksaan kehamilan merupakan hal yang penting dilakukan secepat mungkin. Pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter kandungan ataupun bidan bisa menemukan masalah kesehatan atau komplikasi kehamilan lebih dini sehingga keguguran dapat dicegah. 

8. Konsumsi obat secara rutin

Masalah kesehatan kronis seperti lupus, diabetes, dan tekanan darah tinggi, semuanya dikaitkan dengan meningkatnya risiko keguguran. Jika Bunda memang mengidap penyakit kronis, demi menjalani kehamilan yang sehat dan terkontrol, pastikan konsumsi obat/pengobatan tetap berjalan rutin. 

9. Terapkan seks aman

Yup, ada baiknya menerapkan hubungan seks yang aman untuk mencegah Bunda tertular penyakit seksual. Penyakit seperti chlamydia atau sipilis berpotensi menyebabkan keguguran, stillbirth, kematian bayi baru lahir, kemandulan dan kehamilan ektopik

Continue Reading

Trending