fbpx
Connect with us

Kesehatan

Inilah Cara Memijat Bayi yang Bisa Bunda Coba di Rumah

mm

Published

on

cara memijat bayi
Cara memijat bayi berikut ini bisa Bunda coba.

Bukan hanya orang dewasa, bayi juga bisa dipijat loh, Bun. Dengan gerakan yang tepat dan lembut, si kecil bisa merasakan manfaat dari pijatan bayi.

Menurut Bidan Ika Yul Salshabila, founder @homecarebidan yang juga merupakan baby massage certified, pijat bayi memiliki beragam manfaat untuk bayi. Dengan rutin memijat bayi, ia akan lebih nyaman untuk tidur. Istirahatnya pun akan lebih nyenyak di malam hari. Tak hanya itu, daya tahannya pun akan lebih kuat.

Bila Bunda kerap membawa bayi ke tukang urut atau baby spa untuk memberikan pijat bayi, kini cobalah melakukannya di rumah. Dengan melakukan sendiri pijat bayi di rumah, bonding antara Bunda dan si kecil akan lebih kuat, loh. Soal gerakannya? Tak perlu khawatir. Bidan Salshabila telah memberikan detail gerakan memijat bayi yang bisa Bunda tiru.

Tahap Persiapan Pijat Bayi

Sebelum melakukan pijat bayi, ada beberapa hal yang perlu Bunda perhatikan, yakni soal pencahayaan dan suhu ruang. Pastikan Bunda memijat si kecil di ruangan yang cukup pencahayaannya, tidak terlalu terang atau terlalu gelap. Pasalnya, jika terlalu terang, bayi bisa merasa silau dan tidak nyaman. Sebaliknya, bila terlalu gelap, Bunda akan sulit melihat bagian tubuh bayi yang hendak diberikan pijatan. Soal suhu pun demikian. Pastikan suhu ruang nyaman untuk bayi, tidak terlalu dingin ataupun panas.

Selain suhu dan pencahayaan, Bunda juga mesti memperhatikan kondisi bayi saat hendak diberikan pijatan. Pastikan si kecil berada dalam kondisi prima, tidak lapar, dan tidak mengantuk. Jika ia dipijat dalam kondisi mengantuk, khawatirnya ia akan rewel sehingga Bunda pun kesulitan memijatnya. Oh ya, tunda lakukan pijat bayi bila si kecil dalam kondisi demam atau memiliki luka terbuka. Jangan pula melakukan pijat bila si kecil memiliki kelainan jantung bawaan ya, Bun.

Lakukan persiapan berikut ini sebelum memijat bayi, ya Bun:

  • Jangan lupa menggunting kuku, pastikan kuku jari tangan Bunda pendek.
  • Jangan lupa melepas aksesori yang melekat di tangan seperti cincin, gelang dan jam tangan.
  • Cuci bersih kedua tangan.
  • Minta izin kepada bayi dengan memberi tanda bahwa kita akan memijat, yaitu dengan menggosokkan kedua telapak tangan di dekat telinganya, kemudian sentuhkan telapak tangan Bunda yang sudah hangat di dadanya. Ucapkan, “Halo sayang, hari ini Bunda akan memijat.”
  • Gunakan minyak nabati seperti minyak kelapa, minyak zaitun, minyak biji anggur, dan Virgin Coconut Oil.

Berikut adalah cara memijat bayi, untuk setiap bagian tubuhnya.

Gerakan Pijat untuk Kaki

Saat memijat bayi, mulailah dengan memijat bagian kaki. Inilah gerakan per gerakan memijat kaki yang bisa Bunda lakukan.

  • Gerakan 1: Lakukan gerakan memijat dari pangkal kaki ke pergelangan kaki kanan, ulangi 3 kali
  • Gerakan 2: Memilin dari bagian paha ke kaki bawah, ulangi 3 kali
  • Gerakan 3: Pijat masing-masing jari kaki, mulai dari ibu jari. Ulangi 3 kali.
  • Gerakan 4: Usap telapak kaki dengan kedua ibu jari secara bergantian
  • Gerakan 5: Akupresure dengan pola zigzag, dimulai dari bagian bawah ibu jari, ke bawah, kemudian ke atas lagi.
  • Gerakan 6: Bentuk huruf C besar dengan ibu jari dan telunjuk Anda, tekankan ke telapak kaki bayi. Kemudian bentuk huruf C kecil dan tekan ke telapak kaki.
  • Gerakan 7: Pijat punggung kaki
  • Gerakan 8: Akupresure di pergelangan kaki dengan gerakan titik-titik, kemudian gerakan menelusur menggunakan kedua ibu jari.
  • Gerakan 9: Pijat punggung kaki
  • Gerakan 10: Pijatan dari atas ke bawah kaki bayi, ulangi 3 kali.
  • Gerakan 11: Angkat kaki bayi, lakukan gerakan rolling dengan kedua telapak tangan.
  • Gerakan 12: Gerakan penutup dengan mengusap dari arah paha ke bawah, ulangi 3 kali.

Gerakan Pijat untuk Dada dan Perut

  • Gerakan 1: Dengan kedua telapak tangan, usap dada bayi ke arah perut. Ulangi 3 kali.
  • Gerakan 2: Pijat menyilang dengan kedua telapak tangan, secara bergantian, masing-masing 3 kali untuk tiap sisi.
  • Gerakan 3: Pijat dari arah perut ke bawah, dari sisi kiri ke sisi kanan, ulangi 3 kali.
  • Gerakan 4: Secara bergantian, lakukan gerakan satu putaran dengan telapak kiri dan setengah putaran dengan telapak kanan di perut bayi. Ulangi 3 kali.
  • Gerakan 5: Lakukan gerakan memilin dengan jari-jari tangan untuk memijat diafragma bayi, dari arah kiri ke kanan. Baik untuk mengeluarkan udara.
  • Gerakan 6: Pijat ILU pada bagian perut bayi, ulangi 3 kali.
  • Gerakan 7: Pijat membentuk lingkaran besar, 3 kali. Diikuti dengan lingkaran kecil, 3 kali.
  • Gerakan 8: Pijat menyilang dari bawah ke atas kemudian pijat bahu, lakukan secara bergantian kanan dan kiri, ulangi 3 kali.
  • Gerakan 9: Dengan kedua telapak tangan, pijat maju-mundur di bagian dada dan perut bayi. Ulangi 3 kali.
  • Gerakan 10: Pijat dari atas ke bawah, ulang 3 kali.

Gerakan Pijat Lengan

  • Gerakan 1: Telusuri lengan bayi dengan telapak tangan, dari atas ke bawah. Ulang 3 kali.
  • Gerakan 2: Gerakan memilin dari pangkal ke pergelangan tangan. Ulang 3 kali.
  • Gerakan 3: Pijat jari-jari tangan.
  • Gerakan 4: Pijat punggung tangan dengan kedua ibu jari.
  • Gerakan 5: Akupresure pada pergelangan tangan bagian luar dengan gerakan memutar, setelah itu gerakan menelusur.
  • Gerakan 6: Pijat punggung tangan dengan kedua ibu jari.
  • Gerakan 7: Telusuri lengan bayi dengan telapak tangan, dari atas ke bawah. Ulang 3 kali.
  • Gerakan 8: Rolling lengan dengan kedua telapak tangan.
  • Gerakan 9: Telusuri lengan bayi dengan telapak tangan, dari atas ke bawah. Ulang 3 kali.

Gerakan Pijat Wajah

  • Gerakan 1: Telusuri bagian dahi dengan kedua ibu jari. Ulangi 3 kali.
  • Gerakan 2: Telusuri alis dengan kedua ibu jari. Ulangi 3 kali.
  • Gerakan 3: Pijat dari arah pangkal hidung ke bawah. Ulangi 3 kali.
  • Gerakan 4: Pijat dari ujung dagu, sepanjang tulang rahang, sampai ujung telinga. Ulangi 3 kali.
  • Gerakan 5: Lakukan gerakan pijat dari arah sebaliknya, menggunakan jari tengah. Ulangi 3 kali.

Gerakan Pijat untuk Punggung

  • Gerakan 1: Usap punggung bayi dari atas ke bawah, hingga pangkal bokong. Ulangi 3 kali.
  • Gerakan 2: Pijat menyilang dengan kedua telapak tangan, secara bergantian, masing-masing 3 kali untuk tiap sisi.
  • Gerakan 3: Pijat dari arah pinggang ke bawah, dari sisi kiri ke sisi kanan, ulangi 3 kali.
  • Gerakan 4: Pijat ILU pada bagian punggung bayi. Berbeda dengan ILU pada perut, lakukan pijatan pada kedua sisi punggung. Gerakan “L” dan “U” pun tidak terbalik. Ulangi 3 kali untuk masing-masing gerakan.
  • Gerakan 5: Pijatan memutar dari punggung atas ke bawah, sisi kanan dan kiri. Ulangi 3 kali. Gerakan ini membantu mengeluarkan lendir dan dahak.
  • Gerakan 6: Pijat menyilang dari bawah ke atas kemudian pijat bahu, lakukan secara bergantian kanan dan kiri, ulangi 3 kali.
  • Gerakan 7: Usap punggung dengan kedua telapak tangan dengan gerakan maju-mundur. Ulangi 3 kali.
  • Gerakan 8: Usap punggung bayi dari atas ke bawah, hingga pangkal bokong. Ulangi 3 kali.

Seluruh gerakan ini bisa Bunda lakukan dan ulangi setiap hari atau sesuai kebutuhan. Untuk tutorial lengkapnya, Bunda bisa cek video berikut ini.

Usai memijat si kecil, ucapkan terimakasih kepadanya karena telah kooperatif selama proses pijat. Setelah itu peluk tubuhnya. Meskipun bayi tidak atau kurang kooperatif, tetap ucapkan terimakasih sambil mengatakan bahwa besok kita coba untuk pijat kembali.

Bila Bunda ingin tahu lebih banyak tentang informasi seputar kehamilan dan menyusui, jangan lupa like dan follow laman Facebook dan Instagram Ibu Sehati. Unduh juga aplikasi SEHATI yang tersedia di Google Play Store maupun App Store untuk mendapatkan kabar terkini seputar kesehatan ibu dan bayi.

Selamat mencoba!

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kesehatan

Mengenal Vaksin Hib, Vaksin Penting untuk Mencegah Infeksi Serius

mm

Published

on

vaksin hib
Vaksin Hib penting untuk mencegah radang selaput otak.

Dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Bunda akan mendapati vaksin Hib sebagai salah satu vaksin yang wajib diberikan untuk bayi. Vaksin ini diberikan agar si kecil terhindar dari infeksi yang disebabkan oleh bakteri Haemophilus influenzae type b. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri ini bisa bermacam-macam, Bun, mulai dari bronkitis hingga radang selaput otak.

Meski dapat pula menyerang orang dewasa yang memiliki daya tahan tubuh lemah, bakteri Hib lebih rentan menyerang bayi berusia 6-12 bulan karena daya tahan tubuh mereka yang belum maksimal. Maka dari itu, penting bagi bayi untuk mendapatkan vaksin Hib sesuai jadwal agar risiko infeksi dapat dihindari. 

Manfaat Vaksin Hib

Tujuan pemberian vaksin adalah merangsang sistem imun tubuh untuk mengenali agen penyakit yang disuntikkan sebagai ancaman. Itulah mengapa tenaga kesehatan akan memastikan kesehatan si kecil sebelum vaksin Hib ini diberikan. Si kecil harus dalam kondisi yang sehat dan bugar saat diberikan vaksin agar sistem imunnya siap. 

Setelah menerima vaksin ini, si kecil diharapkan dapat terhindar dari risiko berat infeksi-infeksi ini.

  • Meningitis. Merupakan radang selaput otak yang dapat menyebabkan anak mengalami kerusakan otak permanen hingga kematian.
  • Pneumonia, yakni radang pada salah satu atau kedua paru-paru.
  • Septic arthritis. Infeksi ini terjadi pada sendi yang bisa menyebabkan nyeri sendi yang hebat pada lutut, pinggul, bahu, dan lengan.
  • Perikarditis, infeksi yang menyerang perikardium atau selaput yang melindungi dan mengelilingi jantung. Infeksi ini bisa menyebabkan rasa sesak berat pada anak.
  • Epiglotitis atau infeksi pada katup laring yang menyebabkan nyeri hebat pada tenggorokan.

Jadwal Pemberian Vaksin Hib

Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, vaksin Hib diberikan sebanyak 3 kali dengan tambahan satu kali booster. Vaksin diberikan dalam bentuk suntikan. Berikut jadwalnya.

  • Vaksin Hib 1 saat anak berusia 2 bulan
  • Vaksin Hib 2 saat anak berusia 3 bulan
  • Vaksin Hib 3 saat anak berusia 4 bulan
  • Booster saat anak berusia 18 bulan

Vaksin Hib tidak boleh diberikan kepada anak yang belum berusia 6 minggu. Pemberian vaksin ini biasanya akan dibarengi dengan pemberian vaksin DPT dan HB. Booster satu kali pada usia 18 bulan bertujuan untuk meningkatkan kembali antibodi anak terhadap paparan bakteri ini. Pasalnya, antibodi yang meningkat setelah pemberian vaksin dapat turun kembali sewaktu-waktu sehingga diperlukan booster untuk meningkatkannya kembali.

Harga Vaksin Hib

Harga vaksin Hib bervariasi tergantung lokasi Bunda mendapatkannya. Karena merupakan vaksin yang diwajibkan pemerintah, harga vaksin Hib disubsidi dan bisa didapatkan secara gratis di puskesmas. Bunda juga bisa mendapatkannya di bidan praktik mandiri (BPM) dengan harga sekitar Rp 150 ribu, sudah termasuk dengan vaksin DPT, HB, dan polio tetes yang diberikan bersamaan. 

Sementara itu, bagi Bunda yang memilih memvaksin si kecil di rumah sakit, harga vaksin bervariasi mulai dari Rp 350 ribu, termasuk vaksin DPT dan HB, tapi belum termasuk biaya dokter.

Efek Samping

Jika si kecil mendapatkan vaksin Hib dalam kondisi sehat, jarang sekali ada efek samping serius yang dihadapi. Efek samping ringan yang mungkin terjadi setelah mendapatkan vaksin ini adalah demam serta rasa pegal dan kemerahan pada bagian tubuh yang disuntik. Untuk mengatasi efek samping ini, Bunda bisa melakukan hal-hal berikut:

  • Sesampainya di rumah, segera kompres bagian tubuh yang disuntik dengan air hangat. Ini bertujuan untuk meminimalisasi bengkak dan kemerahan.
  • Bila demam, kompres dahi, lipatan leher, lipatan paha, dan lipatan ketiak anak dengan air hangat.
  • Tenaga kesehatan juga mungkin meresepkan obat penurun panas untuk meredakan demam. 
  • Perbanyak asupan cairan si kecil dengan menyusuinya lebih sering.

Jika terjadi reaksi alergi berat, seperti sesak napas, bengkak pada wajah, gatal-gatal, dan atau demam si kecil tidak turun setelah 3 hari, segera periksakan ke dokter anak.

Bunda, itulah serba-serbi vaksin Hib yang perlu diketahui. Ingatlah untuk memberikan vaksin sesuai jadwal agar si kecil tumbuh jadi anak yang sehat dan bugar.

Continue Reading

Kesehatan

Perawatan Tali Pusat Bayi Baru Lahir, Ini Caranya

mm

Published

on

perawatan tali pusat
Perawatan tali pusat yang benar dapat mencegah infeksi tali pusat.

Tali pusat bayi adalah “selang” yang membawa makanan dan oksigen dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya. Selain membawa kedua hal penting tersebut, tali pusat juga bertanggung jawab membawa sisa pencernaan dari janin, yang nantinya akan dibuang melalui sistem pencernaan Bunda. 

Setelah si kecil terlahir, dokter akan menjepit tali pusat tersebut dengan klem dan kemudian mengguntingnya. Meski merupakan bagian dari tubuh bayi, sesungguhnya tali pusat ini tidak memiliki saraf. Sehingga ketika dipotong, baik ibu maupun si kecil tidak akan merasa sakit. 

Ketika bayi baru lahir, tali pusatnya akan tampak kekuningan dan mengilap. Saat mengering, warna tali pusat akan berubah menjadi cokelat atau abu-abu, beberapa bayi bahkan memiliki tali pusat berwarna keunguan atau biru. 

Tali pusat yang mengering kemudian akan copot dengan sendirinya. Peristiwa lepasnya tali pusat ini biasanya terjadi di hari ke-10 sampai 14 hari setelah bayi lahir. Tapi, pada beberapa bayi bisa saja lebih lama dari perkiraan tersebut. 

Perawatan tali pusat bayi 

Selama masih menempel pada pusarnya, maka ada beberapa langkah perawatan yang perlu dilakukan. Dalam melakukan perawatan tersebut, perhatikan hal-hal berikut ini: 

  • Hati-hati. Jangan menyentuh langsung atau menarik tali pusat. 
  • Jaga tali pusat tetap bersih dan kering. Sebab itu, hindari merendam bayi dalam bak ketika memandikan bayi baru lahir.  Lebih baik lap-lap tubuh bayi dengan busa bersabun, bilas dengan lap basah, dan kemudian keringkan dengan handuk mandi. 
  • Jangan melepas tali pusat bayi secara paksa. Pada akhirnya, tali pusat akan terlepas dengan sendirinya. Hindari membersihkan pangkal tali pusat dengan kapas beralkohol, ya Bun. 
  • Lipat popok sehingga bagian pinggangnya tidak mengenai atau menggesek tali pusat. 

Jika tali pusat si kecil tanpa sengaja terkena kotoran BAB-nya, bersihkan secara perlahan dengan sabun dan air. Selain itu, selalu cek tali pusat si kecil untuk melihat ada atau tidaknya infeksi. Segera periksa atau hubungi dokter jika Bunda melihat hal ini: 

  • Darah di ujung tali pusat 
  • Cairan berwarna putih kekuningan yang agak kental 
  • Bengkak atau kemerahan pada tali pusat 
  • Bayi menangis atau menolak ketika Bunda menyentuh salah satu bagian tali pusat.  

Jika si kecil terlahir dengan berat badan rendah (di bawah 2,5 kg) atau lahir prematur atau memiliki masalah kesehatan lain, ada kemungkinan ia lebih rentan mengalami infeksi. Ada baiknya lebih awas menjaga kesehatannya dan memperhatikan adanya tanda-tanda di atas ya, Bun. 

Setelah tali pusat bayi puput 

Ketika hal ini terjadi, jangan panik saat Bunda melihat ada beberapa tetes darah pada popoknya. Hal ini wajar terjadi. Namun, jika jumlah noda darah tersebut cukup banyak dan mengkhawatirkan, jangan ragu untuk segera membuat janji dengan dokter. 

Sebaliknya, tali pusat yang tidak kunjung puput juga bisa membuat Bunda khawatir. Jika dalam waktu lebih dari tiga minggu tali pusatnya tidak juga puput, sabar ya Bun. Tetap jaga area tali pusat bersih dan kering dan pastikan tidak tertutup bagian dari popok. Namun jika lebih dari 6 minggu belum lepas juga, ditambah ada gejala demam atau infeksi, periksakan ke dokter. 

Begitu tali pusatnya puput, tetap jaga area pusar bayi kering dan bersih. Mungkin saja Bunda melihat ada cairan berwarna kuning dan lengket keluar dari sini. Hal tersebut wajar dan kadang terjadi setelah tali pusat bayi lepas. 

Komplikasi tali pusat

Meski jarang terjadi, beberapa kondisi kesehatan dapat muncul akibat komplikasi tali pusat bayi, seperti: 

  • Omphalitis: Kondisi ini terjadi jika area sekitar pangkal tali pusat terinfeksi. Gejala yang timbul adalah bayi merasa resah, mengalami demam, area sekitar pangkal tali pusat menjadi lembek serta mengalami pendarahan atau ada cairan keluar dari pusar. 
  • Hernia tali pusat: Kondisi ini ditandai dengan terlihatnya sebagian usus di lingkaran pusar. Bukan kondisi serius dan biasanya akan membaik saat si kecil berusia 2 tahun. 
  • Umbilical granuloma: Adalah benjolan kecil berwarna pink kemerahan yang tidak lepas saat tali pusat puput. Benjolan ini tidak menyebabkan rasa sakit. Jika merasa terganggu dengan kehadirannya, dokter anak bisa menghilangkan benjolan dengan jahitan atau tindakan bedah minor. 

Itulah panduan perawatan tali pusat bayi baru lahir yang perlu Bunda ketahui. Perawatan bisa dilakukan bersama ayah di rumah. Jika mengalami kesulitan, jangan khawatir, selalu ada bidan yang bisa membantu Bunda. 

Continue Reading

Kesehatan

Ini Panduan Perawatan Bayi Baru Lahir di Tengah Pandemi Covid-19

mm

Published

on

Ini panduan perawatan bayi baru lahir di tengah pandemi COVID-19.

Di tengah pandemi Covid-19, banyak kebiasaan maupun prosedur yang perlu disesuaikan dengan aktivitas kita sehari-hari. Tidak saja tata cara persalinan yang aman, penanganan bayi baru lahir juga penting untuk diperhatikan. 

Selain membawa kebahagiaan, kehadiran bayi baru di dalam keluarga tak ayal juga membawa kekhawatiran, khususnya bagi orang tua baru. Layaknya masa perkenalan, banyak hal yang perlu dipelajari dan disesuaikan untuk merawat si bayi. Apalagi, kondisi pandemi Covid-19 membawa banyak perubahan pada kebiasaan menjalani keseharian. Otomatis, orang tua baru harus menyesuaikan diri terhadap dua kondisi. 

Lalu apa yang perlu dilakukan oleh orang tua baru? Adakah tata cara yang perlu disesuaikan? Berikut ini penjelasannya ya, Bun. 

Pertama-tama, pastikan pemberian ASI dilakukan segera

Bayi baru lahir tidak serta merta memiliki daya tahan tubuh. Air susu ibu adalah satu-satunya asupan nutrisi bagi bayi yang juga akan membantu membentuk daya tahan tubuhnya. Itu sebabnya, pemberian ASI eksklusif ini menjadi lebih penting di tengah pandemi COVID-19. Jika Bunda terbukti tidak mengidap Covid, maka Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dapat segera dilakukan setelah si kecil lahir ke dunia. IMD dapat membantu produksi ASI dan juga membangun daya tahan tubuh bayi baru lahir.

Bagaimana jika ibu mengidap Covid-19? Hingga saat ini, penularan virus dari ASI yang diberikan kepada bayi, masih belum terbukti. Sehingga, lembaga kesehatan dunia WHO menyarankan pemberian ASI tetap dilakukan pada ibu menyusui yang mengidap Covid-19. Akan tetapi, beberapa fasilitas kesehatan mungkin akan menerapkan prosedur yang berbeda. Jadi pastikan Bunda sudah paham mengenai prosedur tersebut sebelum memilih fasilitas kesehatan untuk melahirkan. 

Apakah bayi baru lahir perlu dites Covid-19? 

Ibu yang akan melahirkan wajib menjalani pemeriksaan Covid-19. Jika ditemukan bahwa ibu positif, maka bayi yang baru dilahirkan perlu menjalani tes swab. Begitu pula bayi yang baru lahir dari ibu dengan gejala klinis Covid-19, wajib melakukan tes swab. Selain itu, bayi baru lahir dari pasien dan suspek perlu menjalani dua kali tes swab dengan hasil negatif untuk diperbolehkan pulang dari rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang menangani kelahiran tersebut. 

Jika ternyata Bunda tidak mengidap Covid-19, maka penanganan persalinan dan perawatan bayi baru lahir dapat dilakukan dengan prosedur yang sama, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan untuk mengurangi risiko penularan. 

Segera lakukan imunisasi bayi baru lahir 

Selain ASI, daya tahan tubuh bayi juga perlu dibangun dengan imunisasi. Bayi baru lahir perlu mendapatkan imunisasi hepatitis B dan polio. Imunisasi hep-B memberikan kekebalan tubuh yang melindungi si kecil dari penyakit hepatitis B. Imunisasi ini dilakukan segera setelah bayi lahir dan pada saat usia bayi 1-2 bulan untuk dosis kedua, dilanjutkan saat bayi berusia 6-18 bulan untuk dosis ketiga. 

Sementara imunisasi polio diberikan untuk mencegah bayi terkena penyakit polio ya, Bun. Penyakit ini termasuk penyakit berbahaya yang bisa menyebabkan kelumpuhan dan kecacatan. Imunisasi polio diberika sebanyak 4 kali, yakni saat bayi baru lahir, usia 2 bulan, usia 4 bulan, usia 6 bulan, usia 18-24 bulan dan diulang pada saat si kecil berusia 5-6 tahun.

Perhatikan dan terapkan prosedur pemberian vaksin yang aman ya, Bun. Bunda dapat melakukan imunisasi di Puskesmas jika memang fasilitas kesehatan tersebut memisahkan pemberian layanan kesehatan ibu dan anak dengan pasien Covid-19 atau umum. Jika tidak, Bunda juga bisa membawa si kecil ke praktik bidan mandiri yang menyediakan imunisasi. Ada baiknya tidak menunda pemberian imunisasi untuk memastikan si kecil memiliki daya tahan tubuh yang kuat, yang penting dimiliki khususnya di masa pandemi seperti ini. 

Jaga kontak bayi dengan orang atau dunia luar

Saat pandemi seperti sekarang ini, tempat paling aman bagi bayi baru lahir adalah di dalam rumah. Bagaimana jika ada yang akan menjenguk? Meski tradisi ini lazim dilakukan, bayi bisa saja terpapar virus corona dari penjenguk yang tidak bergejala. Ada baiknya ayah dan bunda dengan tegas menolak permintaan tersebut. Menghindari kontak merupakan salah satu cara paling efektif untuk menjaga bayi dari paparan virus corona. 

Anjurkan kerabat untuk menjenguk bayi secara virtual melalui video call yang bisa dilakukan secara personal ataupun kelompok. Untuk tidak mengurangi kesan, kado atau bingkisan makanan juga bisa dikirim melalui kurir. Aman dan tetap berkesan, kan? 

Pastikan ketersediaan kebutuhan dasar dan dukungan moral

Pastikan kebutuhan dasar bayi seperti popok, tisu basah, dan juga perlengkapan mandi dan sanitasinya. Sediakan dalam jumlah yang cukup banyak, namun tidak berlebihan, agar ayah dan bunda tidak perlu sering-sering keluar rumah untuk membelinya. Jika memungkinkan, beli kebutuhan tersebut di toko online. 

Jika ayah dan bunda tinggal berdua saja di dalam rumah, mungkin kehadiran bayi baru bisa membuat orang tua kewalahan. Kehadiran kerabat atau asisten rumah tangga mungkin bisa membantu meringankan beban. Akan tetapi, pastikan siapa pun yang memegang si kecil, terjaga kebersihannya dan dapat Bunda percaya ya. 

Itulah beberapa saran perawatan bayi baru lahir di tengah pandemi Covid-19. Selama masa ini, orang tua memang perlu menerapkan kehati-hatian ekstra untuk menjaga kesehatan keluarga. Akan tetapi, dengan tetap patuh pada protokol, risiko penularan bisa ditekan serendah mungkin. Jadi, tetap waspada ya, Bunda.

Continue Reading

Trending