fbpx
Connect with us

Kesehatan

Inilah Cara Memijat Bayi yang Bisa Bunda Coba di Rumah

mm

Published

on

cara memijat bayi
Cara memijat bayi berikut ini bisa Bunda coba.

Bukan hanya orang dewasa, bayi juga bisa dipijat loh, Bun. Dengan gerakan yang tepat dan lembut, si kecil bisa merasakan manfaat dari pijatan bayi.

Menurut Bidan Ika Yul Salshabila, founder @homecarebidan yang juga merupakan baby massage certified, pijat bayi memiliki beragam manfaat untuk bayi. Dengan rutin memijat bayi, ia akan lebih nyaman untuk tidur. Istirahatnya pun akan lebih nyenyak di malam hari. Tak hanya itu, daya tahannya pun akan lebih kuat.

Bila Bunda kerap membawa bayi ke tukang urut atau baby spa untuk memberikan pijat bayi, kini cobalah melakukannya di rumah. Dengan melakukan sendiri pijat bayi di rumah, bonding antara Bunda dan si kecil akan lebih kuat, loh. Soal gerakannya? Tak perlu khawatir. Bidan Salshabila telah memberikan detail gerakan memijat bayi yang bisa Bunda tiru.

Tahap Persiapan Pijat Bayi

Sebelum melakukan pijat bayi, ada beberapa hal yang perlu Bunda perhatikan, yakni soal pencahayaan dan suhu ruang. Pastikan Bunda memijat si kecil di ruangan yang cukup pencahayaannya, tidak terlalu terang atau terlalu gelap. Pasalnya, jika terlalu terang, bayi bisa merasa silau dan tidak nyaman. Sebaliknya, bila terlalu gelap, Bunda akan sulit melihat bagian tubuh bayi yang hendak diberikan pijatan. Soal suhu pun demikian. Pastikan suhu ruang nyaman untuk bayi, tidak terlalu dingin ataupun panas.

Selain suhu dan pencahayaan, Bunda juga mesti memperhatikan kondisi bayi saat hendak diberikan pijatan. Pastikan si kecil berada dalam kondisi prima, tidak lapar, dan tidak mengantuk. Jika ia dipijat dalam kondisi mengantuk, khawatirnya ia akan rewel sehingga Bunda pun kesulitan memijatnya. Oh ya, tunda lakukan pijat bayi bila si kecil dalam kondisi demam atau memiliki luka terbuka. Jangan pula melakukan pijat bila si kecil memiliki kelainan jantung bawaan ya, Bun.

Lakukan persiapan berikut ini sebelum memijat bayi, ya Bun:

  • Jangan lupa menggunting kuku, pastikan kuku jari tangan Bunda pendek.
  • Jangan lupa melepas aksesori yang melekat di tangan seperti cincin, gelang dan jam tangan.
  • Cuci bersih kedua tangan.
  • Minta izin kepada bayi dengan memberi tanda bahwa kita akan memijat, yaitu dengan menggosokkan kedua telapak tangan di dekat telinganya, kemudian sentuhkan telapak tangan Bunda yang sudah hangat di dadanya. Ucapkan, “Halo sayang, hari ini Bunda akan memijat.”
  • Gunakan minyak nabati seperti minyak kelapa, minyak zaitun, minyak biji anggur, dan Virgin Coconut Oil.

Berikut adalah cara memijat bayi, untuk setiap bagian tubuhnya.

Gerakan Pijat untuk Kaki

Saat memijat bayi, mulailah dengan memijat bagian kaki. Inilah gerakan per gerakan memijat kaki yang bisa Bunda lakukan.

  • Gerakan 1: Lakukan gerakan memijat dari pangkal kaki ke pergelangan kaki kanan, ulangi 3 kali
  • Gerakan 2: Memilin dari bagian paha ke kaki bawah, ulangi 3 kali
  • Gerakan 3: Pijat masing-masing jari kaki, mulai dari ibu jari. Ulangi 3 kali.
  • Gerakan 4: Usap telapak kaki dengan kedua ibu jari secara bergantian
  • Gerakan 5: Akupresure dengan pola zigzag, dimulai dari bagian bawah ibu jari, ke bawah, kemudian ke atas lagi.
  • Gerakan 6: Bentuk huruf C besar dengan ibu jari dan telunjuk Anda, tekankan ke telapak kaki bayi. Kemudian bentuk huruf C kecil dan tekan ke telapak kaki.
  • Gerakan 7: Pijat punggung kaki
  • Gerakan 8: Akupresure di pergelangan kaki dengan gerakan titik-titik, kemudian gerakan menelusur menggunakan kedua ibu jari.
  • Gerakan 9: Pijat punggung kaki
  • Gerakan 10: Pijatan dari atas ke bawah kaki bayi, ulangi 3 kali.
  • Gerakan 11: Angkat kaki bayi, lakukan gerakan rolling dengan kedua telapak tangan.
  • Gerakan 12: Gerakan penutup dengan mengusap dari arah paha ke bawah, ulangi 3 kali.

Gerakan Pijat untuk Dada dan Perut

  • Gerakan 1: Dengan kedua telapak tangan, usap dada bayi ke arah perut. Ulangi 3 kali.
  • Gerakan 2: Pijat menyilang dengan kedua telapak tangan, secara bergantian, masing-masing 3 kali untuk tiap sisi.
  • Gerakan 3: Pijat dari arah perut ke bawah, dari sisi kiri ke sisi kanan, ulangi 3 kali.
  • Gerakan 4: Secara bergantian, lakukan gerakan satu putaran dengan telapak kiri dan setengah putaran dengan telapak kanan di perut bayi. Ulangi 3 kali.
  • Gerakan 5: Lakukan gerakan memilin dengan jari-jari tangan untuk memijat diafragma bayi, dari arah kiri ke kanan. Baik untuk mengeluarkan udara.
  • Gerakan 6: Pijat ILU pada bagian perut bayi, ulangi 3 kali.
  • Gerakan 7: Pijat membentuk lingkaran besar, 3 kali. Diikuti dengan lingkaran kecil, 3 kali.
  • Gerakan 8: Pijat menyilang dari bawah ke atas kemudian pijat bahu, lakukan secara bergantian kanan dan kiri, ulangi 3 kali.
  • Gerakan 9: Dengan kedua telapak tangan, pijat maju-mundur di bagian dada dan perut bayi. Ulangi 3 kali.
  • Gerakan 10: Pijat dari atas ke bawah, ulang 3 kali.

Gerakan Pijat Lengan

  • Gerakan 1: Telusuri lengan bayi dengan telapak tangan, dari atas ke bawah. Ulang 3 kali.
  • Gerakan 2: Gerakan memilin dari pangkal ke pergelangan tangan. Ulang 3 kali.
  • Gerakan 3: Pijat jari-jari tangan.
  • Gerakan 4: Pijat punggung tangan dengan kedua ibu jari.
  • Gerakan 5: Akupresure pada pergelangan tangan bagian luar dengan gerakan memutar, setelah itu gerakan menelusur.
  • Gerakan 6: Pijat punggung tangan dengan kedua ibu jari.
  • Gerakan 7: Telusuri lengan bayi dengan telapak tangan, dari atas ke bawah. Ulang 3 kali.
  • Gerakan 8: Rolling lengan dengan kedua telapak tangan.
  • Gerakan 9: Telusuri lengan bayi dengan telapak tangan, dari atas ke bawah. Ulang 3 kali.

Gerakan Pijat Wajah

  • Gerakan 1: Telusuri bagian dahi dengan kedua ibu jari. Ulangi 3 kali.
  • Gerakan 2: Telusuri alis dengan kedua ibu jari. Ulangi 3 kali.
  • Gerakan 3: Pijat dari arah pangkal hidung ke bawah. Ulangi 3 kali.
  • Gerakan 4: Pijat dari ujung dagu, sepanjang tulang rahang, sampai ujung telinga. Ulangi 3 kali.
  • Gerakan 5: Lakukan gerakan pijat dari arah sebaliknya, menggunakan jari tengah. Ulangi 3 kali.

Gerakan Pijat untuk Punggung

  • Gerakan 1: Usap punggung bayi dari atas ke bawah, hingga pangkal bokong. Ulangi 3 kali.
  • Gerakan 2: Pijat menyilang dengan kedua telapak tangan, secara bergantian, masing-masing 3 kali untuk tiap sisi.
  • Gerakan 3: Pijat dari arah pinggang ke bawah, dari sisi kiri ke sisi kanan, ulangi 3 kali.
  • Gerakan 4: Pijat ILU pada bagian punggung bayi. Berbeda dengan ILU pada perut, lakukan pijatan pada kedua sisi punggung. Gerakan “L” dan “U” pun tidak terbalik. Ulangi 3 kali untuk masing-masing gerakan.
  • Gerakan 5: Pijatan memutar dari punggung atas ke bawah, sisi kanan dan kiri. Ulangi 3 kali. Gerakan ini membantu mengeluarkan lendir dan dahak.
  • Gerakan 6: Pijat menyilang dari bawah ke atas kemudian pijat bahu, lakukan secara bergantian kanan dan kiri, ulangi 3 kali.
  • Gerakan 7: Usap punggung dengan kedua telapak tangan dengan gerakan maju-mundur. Ulangi 3 kali.
  • Gerakan 8: Usap punggung bayi dari atas ke bawah, hingga pangkal bokong. Ulangi 3 kali.

Seluruh gerakan ini bisa Bunda lakukan dan ulangi setiap hari atau sesuai kebutuhan. Untuk tutorial lengkapnya, Bunda bisa cek video berikut ini.

Usai memijat si kecil, ucapkan terimakasih kepadanya karena telah kooperatif selama proses pijat. Setelah itu peluk tubuhnya. Meskipun bayi tidak atau kurang kooperatif, tetap ucapkan terimakasih sambil mengatakan bahwa besok kita coba untuk pijat kembali.

Bila Bunda ingin tahu lebih banyak tentang informasi seputar kehamilan dan menyusui, jangan lupa like dan follow laman Facebook dan Instagram Ibu Sehati. Unduh juga aplikasi SEHATI yang tersedia di Google Play Store maupun App Store untuk mendapatkan kabar terkini seputar kesehatan ibu dan bayi.

Selamat mencoba!

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kesehatan

Ini yang Perlu Bunda Ketahui tentang Bayi Prematur

mm

Published

on

Kondisi bayi prematur yang belum berkembang utuh, memerlukan perawatan dan perhatian khusus.

Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum waktunya, atau di bawah usia kehamilan 37 minggu. Wajarnya, di dalam rahim Bunda akan terus berkembang dan menyempurnakan diri, sebagai bekal hidupnya ketika terlahir ke dunia. Akan tetapi, karena terlahir sebelum usia yang seharusnya, kondisi tubuh bayi prematur pun belum sempurna. 

Kondisi ini menyebabkan bayi prematur perlu dirawat di ruang NICU atau Neonatal Intensive Care Unit. Mengetahui kondisi bayi prematur merupakan langkah awal untuk dapat merawat bayi prematur dengan baik. Berikut ini beberapa hal yang perlu Bunda ketahui tentang bayi prematur. 

1. Berat bayi lahir rendah. Semakin matang usia kelahiran bayi, semakin berat pula badannya. Bahkan di usia kehamilan 37 ke atas, janin mulai menumpuk lapisan lemak di kulitnya. Tidak heran jika bayi yang lahir prematur memiliki berat badan yang rendah. Bayi prematur biasanya terlahir dengan berat badan kurang dari 2,5 kg. Seiring usianya, berat badan dan ukurannya juga akan bertambah. 

2. Bayi prematur mungkin akan dirawat di ruang NICU. Jangan panik jika dokter yang menangani si kecil memutuskan untuk merawatnya di NICU. Pahamilah bahwa keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi si kecil dan memahami kebutuhannya. Bunda tetap dapat melakukan bonding dengan si kecil. Tanyakan pada fasilitas kesehatan terkait mengenai apa saja yang bisa Bunda lakukan untuk menjalin komunikasi dengan si kecil. 

3. Di NICU, si kecil mungkin perlu dirawat dalam inkubator dan ‘terikat’ dengan berbagai peralatan medis, Beberapa peralatan itu diperlukan untuk mengatur suhu tubuh dan memonitor tanda vital. Mungkin si kecil juga perlu menggunakan ventilator dan selang makanan yang diperlukan untuk membantunya bernapas dan mengonsumsi makanan. 

4. Bayi prematur masih rentan terhadap kuman. Lahir sebelum matang, menyebabkan bayi prematur memiliki sistem imunitas yang belum berkembang maksimal. Oleh sebab itu, wajib menjaga lingkungannya tetap bersih dan bebas kuman. 

Di NICU, setiap pengunjung wajib mencuci tangannya terlebih dahulu. Penggunaan gaun rumah sakit, masker, dan sarung tangan juga disarankan. Begitu pun ketika si kecil sudah dirawat di rumah, jaga kebiasaan untuk mencuci tangan sebelum memegangnya. Batasi kerabat maupun teman yang berkunjung. Asap rokok juga bisa berbahaya bagi bayi prematur Bunda. 

5. Si kecil memerlukan pemantauan dokter secara rutin. Adalah penting untuk terus menjaga komunikasi dengan dokter anak si kecil dan meng-update perkembangannya. Kunjungan rutin ke dokter tetap perlu dilakukan. Sayangnya, bayi prematur masih rentan tidak hanya terhadap kuman tapi juga terhadap kondisi kesehatan tertentu. Ia pun perlu divaksinasi sesuai jadwal. 

6. Si kecil mungkin mengalami kesulitan menyusui. Selain usus dan paru-parunya yang masih berkembang, si kecil juga masih kesulitan mengisap, menelan dan bernapas secara bersamaan. Padahal, keahlian ini diperlukan untuk memenuhi nutrisinya di luar rahim. Pun, bayi prematur cepat merasa lelah dari kegiatan tersebut. 

Selama di NICU ia memperoleh nutrisi dari infus atau selang yang dimasukkan melalui hidung atau mulutnya. Selang tersebut mengantarkan ASI atau susu formula ke dalam perutnya. 

Ketika si kecil mulai mengisap dari payudara Bunda untuk memperoleh asupan ASI, lakukanlah secara bertahap, yaitu dengan mengkombinasikan menyusui langsung dengan pemberian ASI melalui botol. Akan tetapi, selalu mulai dengan memberikan ASI langsung ya, Bun. Selain itu, beri jarak antar menyusui lebih sering, pasalnya si kecil cenderung menyusu sedikit-sedikit. 

7. Pola tidur bayi prematur berbeda dengan bayi yang lahir sesuai usia. Tidak hanya dalam hal waktu tetapi juga kualitas tidur. Bayi prematur dapat tidur selama 22 jam per hari. Namun karena mereka masih perlu sering menyusu, tidurnya tidak akan terlalu nyenyak. Itu sebabnya mereka akan tampak seperti selalu mengantuk. Bayi prematur baru dapat tidur sepanjang malam di usia 8 atau 9 bulan. 

Itulah tujuh fakta yang perlu Bunda ketahui tentang bayi prematur. Dengan memahami kondisinya. Bunda pun dapat memberikan perawatan yang tepat untuk si kecil. 

Continue Reading

Kesehatan

Bunda, Ini Cara Merawat Bayi Prematur yang Tepat

mm

Published

on

cara merawat bayi prematur
Bagaimana cara merawat bayi prematur yang tepat?

Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Jika Bunda mengalami persalinan prematur, maka si kecil akan dirawat di NICU atau Neonatal Intensive Care Unit. Pasalnya bayi yang terlahir prematur memiliki kondisi tubuh yang tidak sebaik bayi yang lahir di atas usia 37 minggu. 

Karena belum berkembang secara maksimal, bayi prematur memiliki risiko gangguan kesehatan dibanding bayi yang lahir cukup bulan. Bayi prematur belum memiliki cukup simpanan lemak pada tubuhnya sehingga lebih rentan terhadap ketidakstabilan suhu. Ia juga juga bisa mengalami kesulitan makan, berisiko memiliki gula darah rendah, lebih mudah lelah, rentan terhadap infeksi dan kesulitan bernapas. 

Ada saatnya setelah dirawat di NICU, dokter akan memperbolehkan si kecil pulang untuk dirawat di rumah. Jangan khawatir, dengan perawatan yang tepat si kecil akan bertumbuh dengan baik. 

Berikut ini cara merawat bayi prematur di rumah. 

  • Belajar cara memakaikan bedong. Dekapan kain bedong yang terlilit di badan si kecil memberikan kenyamanan baginya. Pada kenyataannya, si kecil memang seharusnya masih berada di dalam rahim yang nyaman. Belajar memasangkan bedong dari bidan atau perawat yang ada di rumah sakit dan berlatihlah sampai bisa melakukannya dengan cepat. Bedong juga membantu si kecil tidur lebih nyenyak. 
  • Tak perlu merasa kasihan untuk membangunkannya saat jadwal menyusui. Pasalnya bayi prematur cenderung tertidur sepanjang hari, bahkan melewati jadwal menyusuinya. Padahal asupan makanan sangat diperlukan untuk membuatnya lebih kuat. Bahkan saat menyusui, bisa saja si kecil jatuh tertidur. Jika ini yang terjadi, coba untuk mengganti posisinya, membuatnya bersendawa, menyanyikan lagu yang berirama ceria, atau menggosok keningnya dengan handuk yang dingin. 
  • Tetapkan aturan berkunjung. Kehadiran anggota keluarga baru tentu disambut dengan gembira oleh seluruh keluarga. Namun kondisi bayi prematur yang masih rentan membuat waktu dan jumlah orang berkunjung perlu dibatasi. Bunda juga perlu mengingatkan agar si kecil tidak digendong-gendong dari satu tangan ke tangan yang lain. Pastikan juga setiap anggota atau kerabat yang berkunjung tidak sedang batuk-pilek, untuk menghindari tertular. Apalagi di masa pandemi ini, sebaiknya tunggu si kecil hingga sudah lebih kuat dan cukup umur untuk menerima tamu. Dengan catatan, prosedur kesehatan harus tetap dijalankan.
  • Dapatkan dukungan yang Bunda perlukan. Bunda bisa bertanya-tanya kepada orang tua yang pernah merawat bayi prematur. Misalnya, orang tua yang Bunda kenal dari rumah sakit dan anaknya sama-sama dirawat di NICU. Bunda juga bisa berkonsultasi dengan bidan. Jika ternyata Bunda merasakan adanya gejala depresi pascapersalinan, segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan bantuan medis. Gejolak hormon setelah persalinan merupakan hal yang normal, namun jika dikombinasikan dengan kurangnya waktu tidur dan kecemasan kala merawat bayi prematur, beban mental tentu terasa lebih berat. 

Menjadi orangtua baru memang memerlukan komitmen, namun jika si kecil terlahir prematur, diperlukan komitmen lebih. Jangan lupa untuk memberi waktu bagi diri sendiri untuk sekadar beristirahat. Minta bantuan dengan cucian yang menumpuk, jangan merasa bersalah karena lebih memilih tidur siang daripada mencuci piring. 

Dua bulan pertama mungkin Bunda akan merasa seperti kehilangan kontrol, akan tetapi pada akhirnya Anda akan terbiasa dengan peran sebagai orangtua bayi prematur. Tak perlu khawatir, di masa batita nanti dia akan mengejar ketertinggalannya, kok.

Continue Reading

Kesehatan

Daftar Vaksin Anak Hingga Usia 1 Tahun Berdasarkan Rekomendasi IDAI

mm

Published

on

vaksin anak 1 tahun
Hingga anak berusia 1 tahun, ada beragam vaksin yang direkomendasikan IDAI.

Vaksin adalah hal penting yang harus diberikan kepada anak. Dengan pemberian vaksin sesuai jadwal, Bunda sudah membantu si kecil terhindar dari penyakit berbahaya. Atau, kalaupun terpapar, tidak sampai parah dampaknya.

Sejauh ini, ada sejumlah vaksin yang diwajibkan oleh pemerintah hingga anak berusia 1 tahun, yakni polio, DPT, Hib, hepatitis B, dan campak. Pemberiannya pun disubsidi oleh pemerintah sehingga bisa didapatkan secara gratis di puskesmas terdekat atau di tempat praktik bidan dengan biaya terjangkau. 

Namun, di samping vaksin-vaksin yang disebutkan tadi, ada vaksin lain yang direkomendasikan oleh IDAI untuk diberikan kepada anak hingga usianya 1 tahun. Rekomendasi vaksin ini pun baru saja diterbitkan pada akhir 2020 lalu yang artinya relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Yuk, kita simak Bun vaksin apa saja yang direkomendasikan untuk anak hingga usianya 1 tahun!

Vaksinasi untuk Bayi Baru Lahir

Sesaat setelah bayi lahir, ada dua vaksin yang harus diberikan, yakni:

  • Hepatitis B 1
  • OPV-0 (polio oral)

Dua vaksin ini biasanya langsung diberikan oleh tenaga kesehatan tanpa diminta. Namun, jika ingin memastikannya, Bunda bisa mengonfirmasinya ketika diizinkan untuk pulang.

Vaksinasi untuk Anak Usia 1 Bulan

Pada usia 1 bulan, ada 1 vaksin yang mesti diberikan kepada si kecil, yakni:

  • BCG

Vaksin satu ini berguna untuk mencegah si kecil terkena penyakit tuberkulosis. Oh ya, jika saat baru lahir adik bayi belum diberikan OPV-0, usia 1 bulan ini adalah waktu yang tepat untuk memberikannya, Bun. Karena BCG dan OPV termasuk dalam daftar vaksin yang diwajibkan oleh pemerintah, Bunda bisa mendapatkannya di puskesmas terdekat.

Vaksinasi untuk Anak Usia 2 Bulan

Nah, di usia 2 bulan, vaksin yang diberikan kepada si kecil mulai bervariasi, Bun. Ini daftarnya:

  • DPT Combo 1 (DPT-Hepatitis B-Hib)
  • OPV-1
  • PCV-1 (mencegah penyakit yang ditimbulkan bakteri pneumokokus)
  • Rotavirus-1 (mencegah diare)

Untuk vaksin rotavirus, ada dua pilihan ya, Bun, yakni rotavirus monovalen atau pentavalen. Rotavirus monovalen diberikan dalam dua dosis, dimulai dari usia 6 minggu dan harus selesai pada usia 24 minggu dengan interval minimal 4 minggu antarvaksin. Sementara itu, 3 rotavirus pentavalen diberikan dalam tiga dosis, dimulai dari usia 6 minggu dan harus selesai pada umur 32 minggu. PCV dan rotavirus tidak termasuk dalam vaksin yang disubsidi oleh pemerintah sehingga Bunda hanya bisa mendapatkannya di rumah sakit.

Vaksinasi untuk Anak Usia 3 Bulan

Pada usia 3 bulan, waktunya mengulang vaksin DPT kombo, Bun, dan tentunya OPV yang ke-2. Kedua vaksin ini bisa didapatkan di puskesmas, ya.

Vaksinasi untuk Anak Usia 4 Bulan

Vaksin pada usia 4 bulan hampir sama dengan vaksin pada usia 2 Bulan. Hanya saja, ditambah dengan vaksin IPV (polio suntik). Berikut daftarnya.

  • DPT Combo 3 (DPT-Hepatitis B-Hib)
  • OPV-3
  • IPV-1
  • PCV-2
  • Rotavirus-2 

Bagi Bunda yang memilih vaksin rotavirus monovalen, pemberian vaksin rotavirus tuntas di usia ini, ya.

Vaksinasi untuk Anak Usia 6 Bulan

Pada usia 6 bulan, ini daftar vaksin yang direkomendasikan untuk diberikan.

  • IPV-2
  • PCV-3
  • Rotavirus-3 (bagi Bunda yang memilih vaksin pentavalen)
  • Influenza

Ketiga vaksin di atas tidak disubsidi oleh pemerintah sehingga hanya bisa didapatkan di rumah sakit ya, Bun.

Vaksinasi untuk Anak Usia 9 Bulan

Setelah pemberian vaksin di usia 6 bulan, si kecil baru akan diberi vaksin lagi pada usia 9 bulan. Berikut daftar rekomendasinya.

  • MR (campak)
  • Japanese encephalitis (JE)

Dari kedua vaksin di atas, hanya vaksin MR atau campaklah yang disubsidi oleh pemerintah. Vaksin JE bisa Bunda dapatkan di rumah sakit. Oh ya, vaksin ini diperlukan untuk mencegah infeksi radang otak yang disebabkan oleh virus JE.

Vaksinasi untuk Anak Usia 12 Bulan

Nah, akhirnya si kecil sampai juga di usia 1 tahun. Di usianya yang sudah menginjak 12 bulan ini, berikut rekomendasi vaksin yang bisa diberikan.

  • PCV-4 (booster)
  • Varisela-1 (mencegah cacar air)
  • Hepatitis A-1

Seluruhnya tidak disubsidi oleh pemerintah ya, Bun, sehingga hanya bisa didapatkan di rumah sakit.

Itulah rekomendasi vaksin dari IDAI hingga anak berusia 1 tahun. Biasanya, rekomendasi diberikan dengan melihat prevalensi atau jumlah kasus kejadian di suatu wilayah. Bila memang prevalensinya tinggi, maka vaksin akan disarankan untuk diberikan. 

Tentu akan lebih baik jika Bunda bisa memberikan seluruh rekomendasi vaksin di atas kepada si kecil. Namun, silakan konsultasikan lebih lanjut dengan dokter spesialis anak agar sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Continue Reading

Trending