fbpx
Connect with us

Kehamilan

‎Kehamilan Ektopik vs Kehamilan Anggur, Apa Perbedaannya?

Apa yang membedakan antara kehamilan ektopik dan kehamilan anggur? Simak ulasan selengkapnya dalam artikel berikut.

mm

Published

on

kehamian ektopik dan kehamilan anggur
Hal apa saja yang membedakan antara kehamilan ektopik dan kehamilan anggur? Simak ulasan selengkapnya dalam artikel berikut.

Kehamilan ektopik dan kehamilan anggur merupakan dua kondisi yang berbeda, namun sama-sama membahayakan ibu hamil. Sayangnya, banyak yang menganggap keduanya adalah hal yang sama. Meski sama-sama menimbulkan gejala perdarahan pada awal kehamilan, namun penting bagi ibu hamil untuk memahami perbedaan dua kondisi kehamilan abnormal tersebut. Berikut adalah perbedaan mendasar antara kehamilan ektopik vs kehamilan anggur ya Bunda.

Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik disebut juga hamil di luar kandungan, atau terjadinya perkembangan hasil konsepsi di luar rongga rahim. Setelah dibuahi oleh sperma di dalam saluran telur, sel telur akan berubah menjadi suatu hasil konsepsi yang disebut zigot. Zigot ini kemudian akan diantarkan melalui saluran telur oleh bulu-bulu halus dalam saluran telur menuju ke dalam rongga rahim untuk kemudian membenamkan diri (implantasi) ke dinding dalam rahim dan berkembang di sana.

Perkembangan zigot dalam rongga rahim ini akan diikuti dengan pembesaran rahim. Akan tetapi pada beberapa kasus, terdapat gangguan pada penghantaran zigot ke dalam rahim. Hal ini dapat terjadi beberapa hal:

  • Rusaknya bulu-bulu halus dalam saluran telur
  • Gangguan pergerakan bulu halus dalam saluran telur akibat hormon atau karena saluran telur yang mengalami sumbatan. Pada kondisi ini, zigot tidak dapat mencapai rongga rahim dan menempel pada dinding saluran telur, sekitar leher rahim, indung telur , atau bahkan pada organ-organ dalam perut lainnya.

Dalam kondisi zigot menempel dan berkembang selain di dalam rongga rahim, perkembangan zigot ini tidak dapat diikuti dengan perkembangan dari organ yang ditumpanginya, sehingga lama-lama terjadi kerusakan akibat desakan yang berlebih dari hasil konsepsi yang menjadi lebih besar.

Dapat diambil sebagai contoh, perkembangan hasil konsepsi pada saluran telur tidak dapat diimbangi dengan pembesaran dari saluran telur. Akibatnya saluran telur akan meregang akibat pertambahan ukuran hasil konsepsi di dalamnya. Pada kondisi tertentu, regangan ini mengakibatkan pecahnya dinding saluran telur dan mengakibatkan terjadinya perdarahan ke dalam perut. Jika terjadi hal demikian, maka diperlukan tindakan operasi segera untuk menghentikan perdarahan.

Oleh karena itu perlu dilakukan skrining pada trimester pertama kehamilan untuk menentukan lokasi kehamilan ya, Bunda. Apabila diketahui sebelum pecah, pada kondisi tertentu dapat dilakukan tindakan konservatif dengan memberikan agen kemoterapi.

Hati-hati jika saat trimester pertama kehamilan Bunda merasakan nyeri perut hebat, lemas/anemia dan atau disertai dengan keluarnya bercak darah dari vagina. Mungkin gejala ini menunjukkan adanya kehamilan ektopik yang terganggu. Pada kondisi ini, dokter akan menegakkan diagnosis dengan melakukan pemeriksaan USG. Pada kondisi yang berat, saat operasi seringkali dibutuhkan transfusi untuk menggantikan darah yang hilang.

Adapun tindakan yang dilakukan saat operasi adalah dengan menjahit kembali bagian yang robek untuk menghentikan perdarahan, atau pada kondisi yang berat dan tidak mungkin diperbaiki, dapat dilakukan pengangkatan saluran telur yang rusak untuk menghentikan perdarahan.

Jangan khawatir, karena Bunda masih bisa hamil lagi meskipun hanya mempunyai satu saluran telur yang berfungsi baik. Akan tetapi, apabila pada kehamilan sebelumnya Bunda mengalami kehamilan di luar kandungan, maka risiko untuk terjadi kehamilan di luar kandungan lagi menjadi lebih besar.

Oleh karena itu periksakanlah diri Bunda ke dokter untuk dapat dilakukan USG dalam rangka menentukan lokasi kantung kehamilan, segera setelah mendapati hasil tes kehamilan yang positif.

Kehamilan Anggur

Berbeda dengan kehamilan ektopik, kehamilan anggur terjadi di dalam rahim. Akan tetapi, pada kondisi ini terjadi kegagalan perkembangan dari hasil konsepsi menjadi janin. Umumnya hal ini terjadi sebagai akibat dari kerusakan kromosom pada hasil konsepsi. Akibat kondisi tersebut, hasil konsepsi akhirnya membentuk sekumpulan gelembung berisi cairan yang menyerupai anggur.

Ibu yang mengalami kehamilan ini biasanya juga akan mengalami gejala mual muntah yang berlebihan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan ukuran tinggi fundus uteri yang lebih besar dari usia kehamilan, tidak ditemukan denyut jantung janin dan apabila terjadi perdarahan, dapat ditemukan gelembung-gelembung kecil berisi cairan menyerupai anggur.

Evakuasi jaringan abnormal merupakan metode utama yang umumnya disarankan dokter untuk menangani kehamilan anggur. Langkah tersebut dapat ditempuh melalui beberapa prosedur seperti kuret atau pengangkatan rahim apabila penderita sudah tidak ingin memiliki anak lagi.

Berbeda dengan kuret pada keguguran, pada hamil anggur diperlukan pengukuran BhCG serial untuk memastikan tindakan selanjutnya. Apabila pada evaluasi paska kuret atau pengangkatan rahim didapatkan kenaikan kadar bHCg, maka perlu dilakukan pemberian kemoterapi.

Selain itu, apabila hasil pemeriksaan Patologi Anatomik jaringan yang dikeluarkan menunjukkan adanya tanda keganasan, maka perlu dilakukan kemoterapi.

Selama pengobatan, Bunda disarankan untuk tidak hamil dulu hingga kadar BhcG normal selama beberapa kali pengukuran.

Nah, itulah perbedaan antara kehamilan ektopik vs kehamilan anggur. Untuk mendapatkan berbagai informasi dan tips menarik seputar kehamilan, download saja aplikasi mobile Ibu Sehati di Play Store atau App Store. Sebagai aplikasi pendamping ibu hamil berbahasa Indonesia, Ibu Sehati akan menjadi teman baik Bunda dalam menjalani kehamilan yang sehat dan menenangkan. Semoga bermanfaat!

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kehamilan

Persiapan Kehamilan dalam 4 Minggu, Ini yang Perlu Bunda Lakukan!

mm

Published

on

persiapan kehamilan
Mempersiapkan kehamilan dengan baik, agar kondisi janin dan ibu sehat sampai waktunya melahirkan.

Setelah menikah, Anda dan suami siap memiliki momongan? Jika memang sudah merencanakan untuk segera memiliki anak setelah menikah, sebaiknya lakukan perencanaan terlebih dahulu. Tidak hanya secara mental, kondisi tubuh Bunda juga perlu dipersiapkan dengan matang. Pasalnya, kondisi tubuh yang sehat akan membantu janin berkembang secara optimal. Apa saja yang perlu dipersiapkan? 

Minggu pertama

Atur pola makan dan asupan nutrisi baik. Ya, apa yang Bunda makan sangat menentukan kondisi kesehatan tubuh dan juga janin di dalam kandungan Bunda. Tidak hanya makanan yang dikonsumsi saat hamil ya, Bun, tetapi juga makanan sebelum hamil. Sebab itu, pastikan Bunda mengonsumsi makanan sehat dan bergizi tinggi yang bisa membantu pertumbuhan janin nantinya

Selain makanan bergizi seimbang yang mengandung karbohidrat, protein, lemak dan vitamin, tambahkan beberapa nutrisi spesifik. Misalnya asam folat yang diperlukan untuk menjaga pertumbuhan organ-organ janin. Targetkan asupan asam folat sebanyak 400-800 mikrogram setiap harinya. Asam folat bisa ditemukan dalam sayuran hijau. Selain itu juga bisa membantu pemenuhannya dengan konsumsi suplemen. 

Selain asam folat, tidak ada salah mengonsumsi suplemen multivitamin pelengkap lain, yang dikhususkan bagi ibu hamil. Suplemen ini membantu tubuh menyiapkan nutrisi dalam tubuh dan mencegah kekurangan nutrisi pada masa awal kehamilan. 

Menjaga kebugaran tubuh dengan aktivitas fisik setidaknya empat sampai lima kali seminggu merupakan cara yang baik untuk mempersiapkan tubuh sebelum hamil. Lakukan setidaknya 30 menit aktivitas sedang setiap kali berolahraga. Mulailah dari yang mudah, misalnya berjalan kaki di depan rumah. Jika sudah terbiasa berolahraga, Anda bisa mencoba latihan yang lebih menantang, misalnya jogging, hiking atau bersepeda di luar ruang. 

Lakukan pemeriksaan fisik untuk melihat adanya masalah kesehatan. Semakin cepat terdeteksi, semakin cepat pula dokter dapat menanganinya. Selain pemeriksaan fisik, dokter juga mungkin akan melakukan pemeriksaan sampel darah untuk melihat kadar kolesterol dan gula darah. Manfaatkan kesempatan tersebut untuk juga melengkapi imunisasi yang mungkin terlewatkan. Imunisasi tidak hanya menjaga Bunda dari penyakit, tetapi juga melindungi janin.  

Minggu kedua

Di minggu ini, Bunda bisa mulai menjadwalkan pemeriksaan dengan dokter kandungan. Dokter kandungan akan memeriksa kondisi tubuh Bunda dan melihat kesiapannya untuk mengandung janin. Misalnya dengan melihat kondisi rahim dan saluran indung telur melalui USG. Dokter juga akan mengecek kemungkinan Bunda mengidap penyakit seksual menular. Penyakit ini dapat menyebabkan infeksi kehamilan yang berakibat fatal bagi pertumbuhan janin. 

Selain itu, mulailah untuk memantau siklus mens Bunda. Dengan mengetahui siklus mens ini Bunda akan tahu kapan masa subur Bunda. Mengetahui siklus mens juga membantu Bunda mengamati adanya ketidaknormalan pada siklus maupun kondisi darah mens yang bisa menjadi pertanda adanya hal yang tidak normal dan perlu ditangani segera. 

Ini juga saat yang tepat untuk mulai lebih waspada dan menghindari paparan pada benda-benda yang berpotensi mengandung racun dan berbahaya bagi janin. Misalnya parfum sintetis, memilih produk yang bebas BPA (bisphenol-A, biasa terdapat pada peranti makan), pembersih rumah dan sanitasi tubuh, serta produk-produk kecantikan yang berpotensi mengandung bahan kimia berbahaya. Ganti produk pembersih rumah dengan yang terbuat dari bahan-bahan natural, hindari makanan kalengan, dan periksalah produk kecantikan Bunda ya. Sebaiknya mulai juga hindari asap rokok, minuman beralkohol, dan konsumsi obat-obatan.

Ini juga saat yang tepat untuk membangun ritual untuk meredam stres. Bunda bisa mencoba jalan-jalan santai di ruang terbuka, belajar teknik pernapasan (bisa diaplikasikan juga saat proses persalinan), mencoba hobi yang membawa perasaan relaks buat Bunda, atau mencoba yoga. Olahraga yoga tak hanya baik untuk meredam kecemasan, tapi juga dapat memperkuat otot-otot tubuh yang akan bekerja dalam proses persalinan nanti.  Yuk, cari kelas yoga yang dekat dengan lokasi tempat tinggal Bunda. 

Minggu ketiga

Saatnya mempersiapkan tubuh lebih jauh lagi. Cek indeks massa tubuh apakah sudah ideal. Jika IMT di bawah normal atau di atas normal, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk dapat mencapai target IMT ideal. Baik IMT di atas maupun di bawah normal dapat menimbulkan risiko pada ibu hamil, sebab itu perlu dikelola dengan baik. 

Cobalah juga untuk mengecek riwayat kesehatan dari kedua pihak. Tanyakan kepada orangtua Bunda dan Ayah apakah ada riwayat kesehatan yang perlu diwaspadai. Beberapa penyakit atau kondisi kesehatan dapat diwariskan dari keturunan Anda sebelumnya, dari yang ringan sampai yang berat. Misalnya kondisi alergi, diabetes tipe 2, hingga risiko kanker payudara. Bukan berarti Anda tidak bisa memiliki anak jika ada risiko tersebut dari garis keturunan keluarga, namun ada baiknya mengetahui hal ini sebagai upaya mencegah dan menangani kondisi tersebut lebih awal. 

Minggu ini saatnya Bunda mempersiapkan tubuh dengan mengurangi kebiasaan ngopi ya, Bun. Terutama jika Bunda terbiasa mengonsumsi kopi hingga lebih dari dua gelas sehari. Mulailah menguranginya secara perlahan dan menggantinya dengan konsumsi air putih. Hindari dehidrasi dengan minum air putih setidaknya 8 gelas sehari. Pada perempuan hamil, kebutuhan air akan meningkat. 

Minggu keempat 

Meskipun kesehatan ibu sangat penting dalam menentukan kondisi janin, ada baiknya minta suami untuk melakukan pemeriksaan kesehatan juga. Sekitar 30 persen kasus kemandulan disebabkan oleh faktor/kondisi pasangan. Pastikan Ayah menerapkan hidup sehat; melakukan pemeriksaan fisik, mengonsumsi makanan sehat dan seimbang, berolahraga, berhenti merokok dan membatasi konsumsi minuman beralkohol. 

Selain itu, pengetahuan orang tua tentang kehamilan yang sehat juga penting dan akan menentukan bagaimana Bunda menjalani kehamilan dan persalinan nanti. Sehingga, inilah saatnya mempersiapkan diri dengan melahap informasi sebanyak-banyaknya seputar kehamilan dan kesehatan. Ada baiknya mencari informasi dari media yang terpercaya ya, Bun. 

Terakhir, pastikan apakah asuransi yang Bunda atau Ayah miliki menanggung biaya pemeriksaan kehamilan dan persalinan. Jika tidak, Bunda dapat mengatur keuangan untuk memastikan biaya ini dapat terpenuhi ya. Pada trimester pertama, idealnya Bunda melakukan pemeriksaan kehamilan sekali sebulan, dua minggu sekali pada trimester kedua dan seminggu sekali di sebulan terakhir sebelum waktu persalinan tiba. 

Itulah beberapa hal yang bisa Bunda lakukan untuk mempersiapkan diri sebelum hamil. Untuk informasi seputar kehamilan, Bunda dapat menjadi Ibu Sehati sebagai panduan ya. 

Continue Reading

Kehamilan

Keguguran vs Stillbirth, Ini Perbedaannya, Bun!

mm

Published

on

stillbirth adalah
Stillbirth adalah peristiwa yang berbeda dengan keguguran.

Kehilangan calon bayi yang dinanti merupakan pengalaman yang menyedihkan bagi setiap orang tua. Di dunia medis, kehilangan calon bayi dapat dikategorikan menjadi keguguran dan stillbirth. Meski sama-sama menggambarkan kondisi kehilangan janin, kedua istilah ini merujuk pada kondisi yang berbeda. Apa bedanya?

Beda Keguguran dengan Stillbirth

Dilansir dari MedicineNet.com, keguguran adalah kondisi kehilangan janin yang dialami seorang ibu sebelum memasuki usia kehamilan 20 minggu. Sementara itu, stillbirth adalah kondisi ketika ibu kehilangan janinnya setelah usia 20 minggu kehamilan. 

Namun, para dokter memiliki pendapat yang berbeda soal ini. World Health Organization (WHO) mengusulkan istilah stillbirth digunakan ketika bayi baru lahir tidak menunjukkan tanda kehidupan setelah melalui masa kehamilan 28 minggu. Perlu dicatat, stillbirth bukan hanya berarti bayi meninggal setelah lahir ya, Bun. Bisa saja bayi sudah meninggal dalam kandungan lantas terpaksa dilahirkan. Gejala yang dialami oleh ibu dengan stillbirth adalah berhentinya gerakan janin, kram, nyeri, atau pendarahan.

Selain definisinya, keguguran dan stillbirth juga memiliki perbedaan dari sisi penyebabnya. Simak di bawah ini.

Penyebab Keguguran

Keguguran paling umum disebabkan oleh kelainan kromosom sehingga janin berhenti bertumbuh, entah karena kelebihan atau justru kekurangan kromosom. Semakin dini keguguran terjadi maka semakin mungkin penyebabnya adalah kelainan kromosom. Siapapun bisa mengalami ini, tetapi risikonya meningkat bagi ibu hamil yang berusia 35 tahun ke atas. Selain kelainan pada kromosom, hal lainnya yang menjadi penyebab keguguran adalah:

  • Kelainan struktur rahim
  • Kelainan pembekuan darah pada ibu
  • Penggunaan alkohol dan obat terlarang
  • Masalah kesehatan, seperti darah tinggi, diabetes, atau penyakit autoimun
  • Infeksi
  • Mengalami kekerasan fisik

Penyebab Stillbirth

Meski kelainan kromosom atau cacat janin juga bisa menyebabkan stillbirth, kemungkinan ini yang jadi penyebabnya lebih rendah. Stillbirth acapkali disebabkan oleh masalah kesehatan atau masalah kehamilan yang dialami ibu. Beberapa di antaranya adalah:

  • Kelainan pada plasenta, misalnya aliran darah ke janin yang kurang lancar
  • Infeksi pada janin, ibu, atau pada plasenta
  • Komplikasi pada kehamilan atau pada persalinan, seperti persalinan prematur atau abrupsio plasenta (terlepasnya plasenta dari dinding rahim)
  • Masalah pada tali pusat
  • Tekanan darah tinggi atau komplikasi kesehatan lainnya yang dialami ibu

Yang Perlu Dilakukan Setelah Mengalami Keguguran atau Stillbirth

Dokter biasanya tidak akan melakukan tes apapun untuk mengetahui penyebab keguguran pertama karena sebagian besar keguguran pertama disebabkan oleh kelainan kromosom pada janin. Jika Bunda mengalami keguguran berulang (dua kali atau lebih) barulah biasanya serangkaian tes dilakukan untuk mengetahui penyebabnya. Bunda juga bisa proaktif meminta dokter untuk melakukan tes mendalam setelah mengalami keguguran atau stillbirth.


Namun, selain tindakan medis, Bunda juga perlu mencari dukungan emosional. Karena terlepas dari apapun istilahnya, baik keguguran maupun stillbirth dapat meninggalkan luka mendalam. Carilah dukungan emosional dari orang-orang terdekat Bunda. Bunda juga bisa mengikuti berbagai support group yang dipandu ahli untuk mendapatkan dukungan. Jangan pula sungkan untuk mendatangi psikolog atau psikiater jika merasa butuh bantuan profesional ya, Bun.

Continue Reading

Kehamilan

Bunda Hamil? Masih Bolehkah Pelihara Hewan?

mm

Published

on

pelihara kucing saat hamil
Pelihara kucing saat hamil ataupun hewan lainnya aman saja jika Bunda tahu caranya.

Hewan peliharaan adalah bagian dari keluarga. Kehadirannya merupakan pelengkap yang membuat sebuah keluarga kian utuh. Karena itulah, sudah sewajarnya jika kita memperlakukan hewan peliharaan sebagai anggota keluarga. Sayangnya, banyak keluarga yang tak menyadari hal ini yang kemudian dengan mudah menyingkirkan hewan peliharaannya. Persoalan seperti ini tak jarang loh Bun ditemui pada pasangan yang tengah menantikan buah hatinya.

Biasanya, pasangan yang memutuskan untuk tak lagi memelihara hewan ketika menantikan buah hati merasa takut janinnya akan terinfeksi virus atau bakteri dari hewan. Memang, ada beberapa infeksi yang bisa ditularkan oleh hewan kepada ibu hamil yang bisa berbahaya bagi janin, seperti toxoplasma, salmonellosis, atau rabies. Infeksi-infeksi ini bisa menyebabkan cacat kongenital pada janin atau bahkan kematian dalam kandungan. Belum lagi, risiko luka pada bayi yang disebabkan oleh hewan, misalnya bayi tak sengaja tercakar atau tertindih.

Namun sebenarnya, Bunda tak selalu perlu menyingkirkan hewan kesayangan ketika menantikan kehadiran bayi. Selama Bunda paham cara merawat hewan peliharaan dengan baik dan benar, infeksi-infeksi karena bakteri atau parasit dapat dihindari. Pun, jika Bunda mampu mendidik hewan peliharaan dengan baik, mereka juga bisa hidup berdampingan dengan si kecil. Maka dari itu, sebelum terburu-buru menyingkirkan hewan peliharaan, simak yuk cara merawat dan mendidik hewan agar tetap aman ketika hamil.

Anjing

Secara umum, jika anjing Bunda mendapatkan vaksin secara rutin dan diperiksakan secara teratur ke dokter, memelihara anjing saat hamil aman-aman saja. Pastikan pula anjing Bunda sudah terlatih dengan baik untuk berada di dekat manusia ya sehingga ia tak akan membahayakan bayi nantinya. 

Inilah beberapa hal yang bisa Bunda lakukan untuk memastikan anjing kesayangan tak membahayakan:

  • Pastikan anjing Bunda melakukan check-up dan vaksin rutin ke dokter
  • Berhati-hatilah dengan anjing berukuran besar. Walaupun ia bersahabat, bisa jadi ia tak sengaja melompat ke perut Bunda atau menindih bayi ketika si kecil lahir. Karena itu, jika Bunda ingin tidur, lebih baik keluarkan dulu anjing dari kamar. Begitu pun, jangan meninggalkan si kecil berdua dengannya.
  • Daftarkan anjing Bunda untuk mengikuti sesi training jika ia masih sulit diatur
  • Waspadai perubahan perilaku anjing saat si kecil lahir. Sebab, beberapa anjing bisa merasa cemburu jika Bunda memberi perhatian kepada bayi.
  • Pastikan tidak ada kutu pada anjing

Kucing

Sama seperti anjing, pelihara kucing saat hamil adalah hal yang aman untuk dilakukan. Namun, memang benar bahwa Bunda mesti waspada dengan infeksi toxoplasma yang mungkin dibawa oleh kucing. Pasalnya, toxoplasma yang ditularkan melalui kotoran kucing yang termakan oleh Bunda bisa sangat berbahaya bagi janin.

Meski begitu, satu hal yang perlu Bunda tahu adalah tak semua kucing membawa infeksi toxoplasma. Hanya kucing yang memakan daging mentah yang terinfeksi toxoplasmosis yang mampu menularkannya. Jadi, jika selama ini kucing Bunda selalu berada di dalam rumah dan tak pernah mengonsumsi makanan mentah, kucing Bunda cenderung aman dari infeksi toxoplasma. 

Nah, inilah beberapa hal yang bisa Bunda lakukan agar pelihara kucing saat hamil tetap aman:

  • Cuci tangan sesering mungkin, terutama setelah memegang kucing
  • Minta orang lain untuk membersihkan kotak kotoran kucing
  • Jangan berikan daging mentah kepada kucing
  • Jika Bunda terpaksa harus membersihkan kotoran kucing, gunakan sarung tangan karet dan buang sarung tangan setelah digunakan.
  • Bersihkan kotak kotoran setiap hari. Butuh waktu 1 sampai 5 hari bagi parasit toxoplasmosis untuk menjadi infeksi. Segera buang kotoran kucing sebelum berbahaya.
  • Selalu lakukan check up rutin dan vaksin agar pelihara kucing saat hamil tetap aman
  • Lakukan tes darah untuk mengecek apakah Bunda terinfeksi toxoplasma agar dapat ditangani sedari dini

Hamster dan Kelinci

Secara umum, hamster dan kelinci adalah hewan yang aman untuk tetap dipelihara saat hamil. Hanya saja, Bunda perlu berhati-hati dengan lymphocytic choriomeningitis virus (LCMV) yang bisa ditularkan kepada manusia. Virus ini memiliki gejala seperti flu dan umumnya manusia yang tertular dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, dalam taraf yang lebih parah, virus ini bisa menyebabkan meningitis atau mungkin cacat bawaan pada bayi. Untuk menghindarinya, Bunda bisa melakukan hal ini:

  • Segera cuci tangan setelah menyentuh hamster atau kelinci ataupun kandangnya
  • Mintalah orang lain untuk membersihkan kandang hamster atau kelinci
  • Jangan bersihkan kandang di dalam rumah, khususnya dapur. Bersihkanlah kandang di luar ruangan.
  • Jangan mencium hamster atau kelinci atau menggendongnya terlalu dekat dengan wajah.
  • Jauhkan hamster atau kelinci dari dapur atau tempat Bunda menyimpan makanan.

Mempersiapkan Hewan Peliharaan Menyambut Bayi

Sama seperti calon kakak yang perlu dipersiapkan untuk menyambut calon adiknya, hewan peliharaan pun demikian. Mereka juga butuh beradaptasi menyambut anggota keluarga baru di rumah. Jika tidak dilatih, bukan tidak mungkin mereka akan merasa cemburu dan berubah perilaku. 

Inilah beberapa hal yang bisa Bunda lakukan dalam menyiapkan hewan peliharaan untuk menyambut bayi di rumah.

  • Ketika si kecil lahir, hewan peliharaan Bunda yang tadinya bebas keluar masuk kamar kini mungkin akan lebih terbatas. Sebelum bayi lahir, sedikit demi sedikit biasakanlah hewan dengan pagar, tali, atau ruangan lain yang mungkin akan jadi tempat bermain barunya.
  • Bila si kecil sudah lahir, sodorkanlah selimut atau pakaian si kecil dengan bau yang masih menempel kepada anak-anak kaki empat Bunda agar mereka mengenali baunya.
  • Jika hewan peliharaan sudah mulai bersahabat, biarkan mereka satu ruangan dengan si kecil. Tentunya di bawah pengawasan Bunda, ya.
  • Jangan lupa memberi perhatian ekstra kepada hewan peliharaan setibanya Bunda di rumah agar ia tak merasa diabaikan.
  • Bila Bunda membutuhkan bantuan untuk menangani perubahan perilaku hewan peliharaan, jangan segan untuk menghubungi dokter hewan.

Itulah serba-serbi memelihara hewan ketika hamil. Secara umum, memelihara kucing atau hewan lainnya saat hamil adalah hal yang aman. Bunda pun tak perlu menyingkirkan hewan peliharaan ketika menantikan si buah hati. 

Namun, jika Bunda memang sangat terpaksa berhenti memelihara hewan ketika memiliki bayi, pastikan Bunda mencarikan adopter yang mampu menyayangi mereka ya. Jangan telantarkan hewan peliharaan di jalan. Karena seperti kita, mereka pun butuh rumah dan keluarga.

Continue Reading

Trending