fbpx
Connect with us

Menyusui

Menstruasi Setelah Melahirkan, Apakah Berpengaruh Pada Bunda yang Sedang Menyusui?

Menstruasi saat menyusui aman bagi bayi nggak, ya? Untuk tahu informasi selengkapnya mengenai menstruasi saat menyusui, simak artikel ini yuk, Bun!

mm

Published

on

Menstruasi Saat Menyusui
Menstruasi saat menyusui aman bagi bayi nggak, ya? Untuk tahu informasi selengkapnya mengenai menstruasi saat menyusui, simak artikel ini yuk, Bun!

Setelah melahirkan, Bunda akan kembali mengalami masa menstruasi. Tak dapat dipungkiri, kehadiran menstruasi ini mungkin akan berbarengan dengan masa menyusui. Namun, proses menyusui itu sendiri bisa menunda  menstruasi Bunda. Nah, Bunda, inilah hubungan menstruasi dengan menyusui dan sebaliknya.

Kapan Menstruasi Setelah Melahirkan Akan Terjadi?

Dokter Olivia, Sp.OG menjelaskan bahwa ibu yang baru melahirkan  akan kembali mengalami masa haid secara berangsur-angsur sekitar beberapa minggu sampai beberapa bulan setelah melahirkan. “Setelah melahirkan, tubuh akan berangsur-angsur normal, termasuk kondisi hormonal,” ucap dr. Olivia.

Sel telur yang terdapat dalam tubuh mulai dapat tumbuh kembali 40 hari setelah melahirkan. Saat itulah siklus menstruasi dapat berjalan kembali. Akan tetapi, pada beberapa wanita yang memberikan ASI eksklusif, proses pertumbuhan sel telur ini akan sedikit terhambat karena kadar hormon yang tinggi.

“Karena kadar hormon menyusui tinggi, siklus menstruasi dapat terhambat dan Bunda akan terlambat mendapatkan haid,” ucap dr. Olivia.

Lama pertumbuhan sel telurnya pun bervariasi, yaitu 6 bulan sampai 1 tahun. Kondisi ini juga disebut sebagai kondisi amenorea laktasi. Amenorea laktasi sendiri kerap dimanfaatkan sebagai salah satu metode dalam merencanakan kehamilan. Pasalnya, pada kondisi amenorea laktasi, ovulasi akan terhambat sehingga tidak terjadi kehamilan.  

Bisakah Menyusui saat Menstruasi?

Ketika menstruasi telah kembali seperti biasa, bukan berarti Bunda harus menyapih si kecil. Menyusui  dalam keadaan menstruasi sangatlah aman dan tidak berbahaya, baik bagi Bunda maupun bagi si kecil.

Hanya saja, apabila Bunda telah mengetahui kapan akan mengalami menstruasi, sebaiknya persiapkan diri dengan asupan makanan bergizi. Jadi, ketika menstruasi datang, ASI tetap berkualitas dan tidak terlalu terpengaruh oleh kondisi hormonal yang berubah.

Pendarahan Setelah Melahirkan Apakah Bisa Disebut sebagai Menstruasi?

Setelah melahirkan, biasanya ibu akan mengalami pendarahan selama beberapa hari. Lantas, apakah ini yang disebut dengan menstruasi? “Empat puluh hari setelah persalinan dinamakan dengan masa nifas. Jadi, darah yang keluar pada masa itu adalah darah nifas,” tutur dr. Olivia. Warna dan volume darah nifas juga bisa berubah seiring berjalannya waktu loh, Bun. Seminggu pertama biasanya warna darah masih merah dan jumlahnya lebih banyak. Lama-kelamaan akan warna darah akan berubah menjadi kekuningan, volumenya berkurang, hingga benar-benar berhenti.

Apakah ASI Akan Keluar Lebih Sedikit Saat Ibu Sedang Menstruasi?

Dokter Olivia menyebutkan bahwa pasokan susu selama menstruasi akan lebih rendah daripada biasanya. Namun, ini hanya terjadi sementara waktu. Setelah melewati masa menstruasi, persediaan ASI akan kembali seperti semula.

Selama menstruasi, Bunda juga dapat meningkatkan pasokan ASI secara alami dengan beberapa cara berikut ini.

  • Konsumsi teh herbal
  • Makan makanan yang kaya akan zat besi, seperti daging merah, sayuran hijau dan makanan super penghasil susu, seperti oatmeal, almond, dan adas.
  • Saat menyusui dan menstruasi, perbanyaklah minum air. Soalnya, Bunda yang sedang dalam menyusui memerlukan banyak cairan.

Bila semua hal itu sudah dilakukan, Bunda tidak perlu cemas lagi ketika menstruasi datang saat menyusui. Apabila masih menemukan hal yang aneh atau di luar batas kendali Bunda, cobalah berbicara dengan dokter atau konselor laktasi.

Untuk tahu informasi lebih banyak seputar kehamilan, persalinan, menyusui, dan pengasuhan, Bunda bisa ikuti Instagram dan Facebook Ibu Sehati. Like dan follow supaya tidak ketinggalan kabar terbaru, ya. Semoga bermanfaat.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Menyusui

Produksi ASI Berkurang? Coba Lakukan Teknik Power Pumping!

mm

Published

on

power pumping teknik
Agar ASI melimpah, Bunda bisa mencoba teknik power pumping

Bunda pasti sudah pernah dengar kan saran pemberian ASI eksklusif dari WHO maupun Kementerian Kesehatan Indonesia? Yap, menurut WHO, selama 6 bulan pertama kehidupannya, si kecil cukup diberikan ASI sebagai asupan sehari-hari. 

Asupan ASI tanpa tambahan apapun seperti susu formula sudah sangat cukup bagi pertumbuhan si kecil, Bun. Gizi yang terdapat dalam ASI tidak hanya membuat si kecil bertumbuh dengan baik, tapi juga membentuk imunitasnya.

Hanya saja, memang, produksi ASI pada payudara ibu kadang mengalami fase naik dan turun. Dan wajar bila Bunda merasa khawatir karena hal ini. Meski begitu, jangan terburu-buru memberi susu formula ya, Bun. Ada satu teknik yang bisa Bunda coba untuk segera meningkatkan kembali produksi ASI, yakni teknik power pumping.

Apa Itu Power Pumping?

Ide dasar teknik power pumping adalah meniru aktivitas menyusu bayi saat mengalami growth spurt. Ketika growth spurt, bayi akan menyusu lebih sering dengan jarak antarwaktu menyusu yang lebih singkat. Misalnya, jika biasanya si kecil menyusu setiap 3 jam, ia akan menyusu setiap 30 menit atau 1 jam sekali. 

Dengan pola menyusu seperti ini, produksi ASI akan lebih banyak karena turut mengikuti kebutuhan si kecil. Nah, teknik power pumping yang notabene mengikuti pola menyusu saat growth spurt diharapkan memberi hasil yang sama.

Bagaimana Melakukan Power Pumping?

Untuk memperoleh hasil terbaik dari teknik power pumping, pilih waktu satu jam di pagi atau malam hari sebagai pengganti waktu memompa ASI reguler. Kemudian, ikuti langkah ini.

Power Pumping dengan Dua Pompa

  • Pompa kedua payudara secara bersamaan selama 20 menit.
  • Kemudian, istirahat selama 10 menit. Jangan memompa sama sekali selama sesi ini.
  • Setelah istirahat, pompa kembali kedua payudara selama 10 menit.
  • Istirahat kembali selama 10 menit. Jangan memompa sama sekali.
  • Pompa kembali selama 10 menit.
  • Total waktu memompa adalah 60 menit.

Power Pumping dengan Satu Pompa

  • Pompa payudara kiri selama 10 menit lalu payudara kanan selama 10 menit.
  • Istirahat selama 5 menit.
  • Pompa kembali payudara kiri selama 10 menit dan payudara kanan selama 10 menit.
  • Istirahat selama 5 menit.
  • Terakhir, pompa lagi payudara kiri dan kanan masing-masing 10 menit.
  • Total waktu memompa adalah 70 menit.

Lakukan pola memompa seperti di atas selama dua hari hingga seminggu sebelum kembali ke pola memompa biasanya. Umumnya, para ibu merasakan efek power pumping setelah melakukan teknik ini selama dua hari. Sebelum, selama, dan setelah melakukan sesi power pumping, pijatlah payudara untuk mendapatkan hasil optimal.

Bunda pun bisa melakukan power pumping sembari menyaksikan series favorit atau mendengarkan musik kesukaan. Anggap sesi ini sebagai me time Bunda agar lebih fun dijalani. Jangan lupa juga untuk perbanyak konsumsi air putih ya.

Siapa yang Tak Boleh Melakukan Power Pumping?

Power pumping dilakukan oleh ibu yang sedang menurun produksi ASI-nya agar banyak kembali. Teknik ini juga bisa dilakukan oleh ibu bekerja yang mengalami penurunan produksi ASI karena berkurang waktunya untuk direct breastfeeding. Bila Bunda tidak mengalami keduanya dan produksi ASI Bunda baik-baik saja, maka power pumping tidak perlu dilakukan ya, Bun. 

Power pumping pada ibu dengan produksi ASI yang normal berpotensi menyebabkan oversupply ASI. Ketika oversupply, Bunda dapat mengalami pembengkakan payudara atau breast engorgement yang terasa menyakitkan dan membuat si kecil jadi sulit menyusu. 

Pun, bagi Bunda yang bayinya sedang mengalami growth spurt, power pumping tak diperlukan lagi. Isapan bayi jauh lebih efektif daripada power pumping dalam menstimulasi produksi ASI.
Setelah tahu manfaat dan cara melakukan power pumping, apakah Bunda tertarik untuk mencobanya? Jika ya, ingatlah untuk tetap merasa fun ya. Sebab, ibu yang bahagia adalah kunci utama produksi ASI yang melimpah.

Continue Reading

Air Susu Ibu

Ini yang Dapat Memengaruhi Rasa ASI Bunda

mm

Published

on

rasa asi

Bunda pernah penasaran nggak sih dengan rasa ASI yang Bunda produksi? Secara umum, rasa air susu ibu cenderung manis dan sedikit gurih. Meski demikian, seperti pada umumnya kita menerima rasa, setiap orang memiliki selera tersendiri. Dan seperti makanan lainnya, air susu ibu bisa diterima dengan rasa yang berbeda-beda oleh setiap orang. 

Rasa manis dan gurih Air Susu Ibu 

Pernah bertanya-tanya kenapa rasa air susu ibu cenderung manis? Ya, ASI mengandung laktosa susu. Memang, laktosa bukanlah tipe gula yang paling manis. Ada banyak jenis laktosa lain dengan kadar manis yang lebih tinggi dari ASI. Laktosa merupakan salah satu kandungan utama dalam air susu ibu, sehingga memberi rasa manis dalam susu ini.

Selain laktosa, ASI juga mengandung lemak. Kandungan lemak dalam susu ini memberi rasa gurih. Kandungan lemak ini akan muncul di produksi ASI bagian akhir (hindmilk), sementara awalnya ASI yang mengalir dari payudara Bunda mengandung lebih sedikit lemak (foremilk). 

Apa yang memengaruhi rasa ASI?

Selain rasa manis dan gurih, rasa air susu ibu juga dipengaruhi rasa makanan yang Bunda konsumsi setiap hari. Ketika Bunda mengonsumsi pola makan bergizi seimbang yang padat dengan sayur-sayuran dan buah-buahan, si kecil juga akan ‘mencicipi’ makanan sehat ini. 

Banyak ahli percaya, ketika si kecil tumbuh semakin besar dan mulai mengonsumsi makanan padat, ia akan lebih siap menerima makanan yang sudah dicicipinya melalui ASI. 

Selain makanan, hal ini juga memengaruhi rasa ASI

Perubahan rasa ASI juga bisa terjadi karena beberapa hal di bawah ini. Reaksi bayi terhadap rasa ASI yang berbeda juga akan bervariasi, ada yang menerimanya dengan baik, ada pula yang cenderung menyusui lebih sedikit, bahkan mogok menyusui.

Hormon

Perubahan tingkat hormon dalam tubuh, utamanya menjelang usai masa nifas, bisa mempengaruhi rasa air susu ibu loh, Bun. Tapi jangan salah kira, menyusui dapat tetap dilakukan ketika Bunda sedang menstruasi, kok. Begitu pula ketika Bunda hamil lagi, menyusui masih dimungkinkan asal Bunda tidak mengalami penyulit. 

Olahraga 

Meningkatnya asam laktat dan produksi keringat di kulit payudara yang timbul akibat olahraga berat bisa mengubah rasa ASI. Selama si kecil tidak masalah dengan perubahan rasa ini, olahraga bisa tetap dilakukan ya Bun. Tetapi jika si kecil terganggu, cobalah untuk berolahraga ringan-sedang saja. Selain itu coba lap keringat pada payudara Bunda sebelum mulai menyusui. 

Obat-obatan

Beberapa obat-obatan bisa mengubah rasa air susu Bunda. Jika Bunda baru mengonsumsi obat baru dan melihat si kecil tidak menyusui selahap biasanya, bisa jadi obat tersebut penyebabnya. Konsultasikan hal ini dengan dokter ya, Bun. 

Merokok

Penelitian menunjukkan bahwa air susu yang diproduksi seseorang setelah merokok akan mengandung rasa dan bau dari rokok tersebut. Jika Bunda merokok, sebaiknya lakukan setelah menyusui si kecil dan cobalah untuk tidak merokok setidaknya dua jam sebelum menyusui kembali.  

Alkohol 

Minum alkohol juga diketahui dapat memengaruhi rasa air susu ibu. Diperlukan waktu dua jam bagi alkohol yang dikonsumsi untuk keluar dari tubuh. Jika memang Bunda sulit untuk meninggalkan konsumsi alkohol, cobalah untuk menunggu setidaknya dua jam untuk menyusui atau memerah ASI. 

ASI Beku 

ASI perah atau ASIP beku yang dilumerkan bisa terasa dan berbau seperti sabun. Tak perlu khawatir, ASI yang dicairkan ini masih aman diberikan kepada si kecil. Hanya saja, mungkin ia tidak akan terlalu suka dengan rasa dan baunya. 

Mastitis

Mastitis adalah kondisi infeksi pada payudara yang dapat menyebabkan air susu memiliki rasa yang asin. Jika Bunda mengalami kondisi ini, tetaplah menyusui. Meski demikian, si kecil mungkin akan menolak menyusu pada sisi payudara yang mengalami infeksi. Ketika mengalami mastitis, Bunda perlu mengonsumsi antibiotik untuk mengatasinya. Sebab itu, sebaiknya konsultasi dengan dokter untuk penanganan yang tuntas. 

Produk perawatan tubuh

Lotion, krim, sabun, parfum, minyak aromaterapi, atau salep yang diaplikasikan di area payudara juga bisa memengaruhi rasa asi ya, Bun. Jika mengenakan salah satu dari produk tersebut, pastikan Bunda membersihkan area kulit di sekitar payudara sebelum menyusui si kecil. 

Untuk memastikan kualitas ASI, terutama asi perah, tidak masalah jika Bunda mencicipi air susu sendiri. Pencicipan ini juga bisa dilakukan oleh suami atau anggota keluarga lain, namun pastikan mereka mencoba di wadah terpisah dari yang akan digunakan untuk memberi ASI ke si kecil, ya.

Continue Reading

Menyusui

Bunda, Begini Cara Memenuhi Kebutuhan ASI Bayi Baru Lahir

mm

Published

on

Kebutuhan ASI bayi baru lahir dapat dipenuhi dengan cara ini.

Bunda, selamat atas kelahiran si kecil! Kini waktunya memberikan ia ASI eksklusif selama 6 bulan. Tahukah, Bun, perjalanan Bunda dalam memberikan ASI selama 6 bulan ini akan sangat ditentukan oleh pemberian ASI di awal-awal masa kelahiran bayi hingga 5 hari pertama saat tubuh Bunda sedang belajar memproduksi ASI. 

Meski keberhasilan pemberian ASI sangat ditentukan oleh periode 5 hari pertama, bukan berarti dalam 5 hari ini ASI Bunda akan langsung melimpah, ya. Produksi ASI akan menyesuaikan dengan kebutuhan ASI bayi baru lahir. Jadi, tidak perlu langsung stres dan menyerah jika di awal pasca-persalinan ASI Bunda hanya keluar sedikit. Pasalnya, kebutuhan ASI si kecil di awal masa kelahirannya juga baru sedikit kok.

Supaya Bunda tak khawatir dan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan bisa sukses, ketahui dulu yuk jumlah kebutuhan ASI bayi baru lahir, lengkap dengan cara memenuhinya.

Kebutuhan ASI Bayi Baru Lahir

Hari Pertama Kelahiran

Pada 24 jam pertama setelah lahir, perut bayi hanya berukuran sebesar buah cherry. Mungil sekali, kan? Oleh karena itu, kebutuhan ASI-nya pun belum terlalu banyak. Si kecil hanya bisa menampung 5-7 ml ASI atau sekitar 1-1,5 sendok teh tiap menyusu dengan frekuensi menyusu 8-10 kali sehari.

Hari Ketiga Kelahiran

Di hari ketiga, perut bayi sudah berkembang menjadi sebesar kenari dan mampu menampung ASI hingga 22-27 ml per sekali menyusu. Frekuensi menyusunya masih sama, yakni 8-10 kali sehari.

Minggu Pertama Kelahiran

Nah, di minggu ini, ukuran perut bayi sudah bertambah lagi menjadi sebesar aprikot dan mampu menampung ASI sebanyak 45-60 ml per sesi menyusu. Hingga 1 minggu, frekuensi menyusu bayi masih sama ya, Bun, yakni 8-10 kali sehari.

Minggu Kedua Kelahiran

Di minggu kedua, perut bayi sudah bertumbuh menjadi sebesar telur dan mampu menampung ASI sebanyak 80-150 ml per sesi menyusu. Meski demikian, bukan berarti setiap menyusu, bayi PASTI memerlukan jumlah itu. Pada dasarnya kebutuhan ASI setiap bayi berbeda, ya Bun. Frekuensi menyusu dalam sehari pun masih sama.

Cara Memenuhi Kebutuhan ASI Bayi Baru Lahir

Beberapa Jam Setelah Melahirkan

Setelah melahirkan, hal terpenting yang perlu Bunda lakukan untuk memenuhi kebutuhan ASI si kecil adalah melakukan skin to skin contact. Inilah mengapa Bunda disarankan melakukan IMD atau inisiasi menyusui dini. Bunda yang melahirkan secara per vaginam maupun caesar dapat melakukan ini. Saat melakukan IMD, perhatikan pula apakah bayi dapat melekat dengan baik di payudara Bunda? Jika si kecil terlihat mengalami kesulitan, coba konsultasikan dengan dokter atau konselor laktasi ya, Bun, karena bayi baru lahir pun biasanya sudah memiliki insting untuk menyusu.

Hari Pertama Hingga Ketiga Setelah Melahirkan

Bila Bunda masih dirawat di RS atau klinik hingga hari ketiga, usahakan agar si kecil dapat dirawat gabung, ya. Dengan demikian, jika si kecil butuh menyusu, Bunda bisa cepat memenuhinya. Mulut yang bergerak-gerak dan bibir yang mengerucut seperti sedang mengisap sesuatu adalah tanda ia ingin menyusu.

Di waktu-waktu ini, perbanyak pula skin to skin contact. Dan yang terpenting, hindari pemberian dot. Entah dalam bentuk empeng/pacifier ataupun botol. Ini dapat membuat bayi bingung puting nantinya dan sulit melekat dengan tepat di payudara Bunda. Bila kondisi Bunda tak memungkinkan untuk secara langsung memberikan ASI dari payudara, gunakanlah cup feeder atau sendok teh.

Hari Ketiga Hingga Kelima Setelah Melahirkan

Di masa ini, ASI yang tadinya baru keluar sedikit kini mulai melimpah. Jadi, jangan terserang panik jika pada hari pertama atau kedua setelah melahirkan ASI Bunda baru keluar sedikit ya. Keluarnya ASI pada hari ketiga sampai kelima setelah melahirkan bisa tiba-tiba membanjir, tapi seringnya bertambah banyak secara bertahap.

Susuilah si kecil lebih sering untuk menghindari penumpukan ASI di payudara. Pasalnya, jika ASI dibiarkan menumpuk di payudara, Bunda bisa mengalami pembengkakan yang pastinya membuat tidak nyaman. Bila si kecil lebih banyak tidur, Bunda bisa mengeluarkan ASI dengan cara memompanya untuk disuapkan ke si kecil nanti dengan sendok atau cup feeder. Jika payudara mulai terasa kencang dan tidak nyaman, kompreslah dengan air dingin.

Hari Kelima Hingga Hari Ketujuh Setelah Melahirkan

Setelah hampir seminggu, wajarnya Bunda sudah menemukan irama menyusui yang pas. Di masa ini, penting bagi Bunda untuk dapat mengenali tanda bayi perlu menyusu. Tandanya tak selalu tangisan loh, Bun. Bibir mengerucut saja seperti mengemut sesuatu adalah tanda ia butuh minum.

Hingga masa ini, biasanya bayi akan menyusu sebanyak 10 kali dalam waktu 24 jam. Kapan saja jadwalnya? Ikuti saja kemauan si kecil, Bun. Karena berbeda bayi, berbeda pula kebiasaannya. Ada bayi yang meminta makan beberapa kali dalam waktu singkat lalu terlelap selama beberapa jam, ada pula yang secara konsisten meminta makan setiap beberapa jam sekali. Pokoknya, percaya saja padanya.

Seminggu Setelah Melahirkan dan Seterusnya

Setelah satu minggu berlalu, yang terpenting untuk memenuhi kebutuhan ASI si kecil adalah dengan sebisa mungkin menghabiskan banyak waktu dengannya. Pasalnya, si kecil akan ingin berlama-lama berada di dekat Bunda. Jangan terobsesi mengerjakan segalanya sendiri. 

Manfaatkanlah bantuan yang bisa diberikan oleh orang lain, entah dari pasangan, orang tua, keluarga, atau pun kerabat, untuk mengurus rumah agar Bunda dapat menghabiskan waktu lebih lama dengan si kecil. Waktu yang Bunda habiskan bersamanya, tidak hanya meningkatkan produksi ASI tapi juga mempererat ikatan antara Anda berdua. Percayalah, saat masa menyusui itu telah berlalu, Bunda akan mengenangnya dengan manis. Selamat menyusui ya, Bunda!

Continue Reading

Trending