fbpx
Connect with us

Kehamilan

Bagaimana dan Kapan Seharusnya Melakukan Tes Kehamilan?

mm

Published

on

Waktu yang tepat untuk tes kehamilan
Waktu yang tepat untuk tes kehamilan mempengaruhi akurasi tes.

Melakukan tes kehamilan dapat dilakukan secara mandiri dengan alat bernama testpack. Hal ini bisa Bunda lakukan dengan mudah di rumah masing-masing. Hanya saja, tes kehamilan dengan testpack tidak selalu memberikan hasil yang akurat loh!

Alat tes kehamilan memang dirancang untuk mengetahui apakah urin Bunda mengandung hormon HCG (human chorionic gonadotropin). Hormon HCG akan meningkat jika proses implantasi terjadi, yaitu saat sel telur yang sudah dibuahi menempel di dinding rahim. Lalu, kapan waktu yang tepat untuk tes kehamilan agar hormon HCG bisa dikenali oleh testpack?

Waktu yang Tepat untuk Melakukan Tes Kehamilan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, hormon HCG akan meningkat setelah proses implantasi terjadi. Nah, proses ini biasanya berlangsung enam hari setelah fertilisasi. Jadi, untuk melakukan tes kehamilan, ada baiknya Bunda menunggu hingga enam hari setelah berhubungan intim.

Dalam sehari, waktu terbaik untuk melakukan tes kehamilan adalah saat buang air kecil di pagi hari. Di saat-saat inilah hormon HCG dalam urin Bunda lebih tinggi dibandingkan biasanya sehingga kehamilan bisa terdeteksi lebih akurat.

Bagaimana Melakukannya dengan Tepat?

Secara umum, mengecek kehamilan dengan testpack sangatlah mudah. Bunda hanya perlu mencelupkan testpack ke dalam urin yang sudah ditampung. Selanjutnya, tunggu hingga beberapa menit untuk melihat hasilnya.

Perhatikan Penggunaan Tiap Brand

Untuk detailnya, Bunda mesti melihat cara penggunaan di balik kemasan testpack dengan cermat. Pasalnya, berbeda merek, berbeda pula syarat penggunannya. Misalnya, satu merek menganjurkan Bunda untuk menunggu hingga 4-5 menit setelah waktu pengetesan, tetapi bisa jadi ada merek lain yang menyarankan rentang waktu berbeda. Perhatikan betul rentang waktu ini ya, Bun. Pasalnya, jika Bunda melewati rentang waktu ini, hasil tes kehamilan bisa jadi tidak akurat karena muncul garis evaporasi (garis penguapan air seni) hingga hasil tes kehamilan seolah-olah positif.

Tiap brand juga memiliki sensitivitas yang berbeda loh. Ada brand testpack yang baru bisa dipakai untuk mengecek kehamilan setelah Bunda mengalami telat haid, tetapi ada pula brand yang bisa lebih cepat digunakan daripada itu.

Walau akhirnya nanti Bunda sudah mengetahui status kehamilan berdasarkan pengecekan testpack tadi, Bunda juga perlu memastikannya kembali setelah haid dipastikan terlambat. Jika Bunda sudah melakukan pengecekan kembali dan hasilnya tetap positif, jangan lupa periksakan ke dokter ya.

Selain itu, Bunda juga dapat memastikannya dengan beberapa gejala berikut ini. Jika beberapa gejala ini Bunda rasa, maka besar kemungkinan Bunda memang sedang dalam masa kehamilan.

Kram Perut

Jika sedang dalam masa kehamilan apalagi hamil muda, Bunda pasti merasakan kram perut ringan. Kondisi ini terjadi karena rahim Bunda sedang mengalami perkembangan lho.

Flek atau Bercak Darah

Berbeda dengan bercak darah saat haid, bercak darah ini warnanya lebih pucat dan jumlahnya lebih sedikit. Bercak darah ini disebut dengan bercak implantasi yang umumnya terjadi selama 2-3 hari di awal kehamilan loh, Bun.

Payudara Terasa Nyeri dan Membesar

Perubahan bentuk payudara ini biasanya dipengaruhi oleh produksi hormon estrogen dan progesteron yang lebih banyak di awal kehamilan.

Perubahan Fisik

Saat sedang hamil muda, Bunda akan merasakan perubahan dalam diri, mulai dari mual, mudah lelah, tidak nafsu makan, perubahan suasana hati (mood swing), serta lebih sering buang air kecil.

Itulah informasi mengenai waktu yang tepat untuk tes kehamilan serta cara tepat untuk melakukannya. Apabila Bunda ingin mengetahui informasi menarik lainnya mengenai masa kehamilan, Bunda bisa mengikuti Ibu Sehati di Facebook dan Instagram

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. tanyatugas.com

    October 22, 2019 at 4:54 pm

    Hi pemilk blog
    artikel yang telah admin bikin benar-benar bagus mengenai mens ini, aku berharap semoga orang yang sudah membaca
    menerima ilmu baru sesudah melihat tulisan ini
    jangan pernah berhenti bikin postingan ya dan juga tetap pertahankan kualitas artikel agan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kehamilan

Adakah Gerakan Fisik Tertentu yang Bisa Menyebabkan Keguguran?

mm

Published

on

gerakan yang menyebabkan keguguran
Ada beberapa gerakan yang dinilai menyebabkan keguguran. Benarkah?

Bagi Bunda yang tengah hamil muda, pasti sering mendengar nasihat dari orang-orang terdekat untuk mengurangi aktivitas. Beberapa yang paling sering adalah saran untuk tidak naik-turun tangga, jongkok, atau mengangkat benda-benda berat karena dikhawatirkan dapat menyebabkan keguguran. Hmm, benarkah demikian?

Penyebab Keguguran

Keguguran jarang sekali disebabkan oleh aktivitas yang dilakukan oleh ibu. Lazimnya, keguguran terjadi karena sedari awal kehamilan telah berisiko. Diabetes, penyakit tiroid, lupus, serta penyakit autoimun adalah beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko keguguran. Cedera berat yang disebabkan oleh kecelakaan mobil atau motor juga bisa jadi penyebabnya. Pun, dikutip dari WebMD, 60% keguguran terjadi karena kejanggalan dalam DNA janin, entah karena kelebihan atau kekurangan kromosom.

Bagaimana dengan Berolahraga?

Jika sebelum hamil Bunda sudah aktif berolahraga, perlukah berhenti untuk sementara waktu? Tidak ya, Bun. Para ahli justru menyarankan Bunda untuk berolahraga saat hamil agar tubuh tetap bugar. Mungkin, intensitasnya saja yang perlu diperhatikan. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang menangani Bunda ya mengenai intensitas dan frekuensi berolahraga selama kehamilan.

Yang perlu Bunda tahu, olahraga tidak lantas menyebabkan keguguran. Olahraga mungkin menyebabkan kontraksi rahim, tapi tidak sampai menyebabkan keguguran atau komplikasi kehamilan. Dilansir dari Verywell Family, sebuah studi metaanalisis yang meninjau 100 studi terkait hubungan aktivitas fisik dengan kehamilan menemukan kurang dari 1% saja efek samping olahraga terhadap kehamilan. 

Studi terbaru juga menunjukkan bahwa olahraga yang dilakukan selama kehamilan tidak meningkatkan risiko keguguran. Malahan, olahraga yang dilakukan secara tepat dapat bermanfaat bagi kehamilan.

Namun, bagi Bunda yang sebelumnya pernah mengalami keguguran atau kesulitan mengalami kehamilan, kehati-hatian tetap diperlukan, ya. Menurut studi yang dilakukan oleh peneliti dari University of Massachusetts Amherst, olahraga dengan intensitas tinggi pada ibu hamil yang memiliki riwayat keguguran berhubungan dengan risiko keguguran pada usia kehamilan muda. Namun, hubungan antara olahraga intensitas tinggi dan risiko keguguran tidak ditemukan pada ibu yang belum pernah mengalami keguguran sebelumnya.

Lalu, Bagaimana dengan Jongkok?

Selain berolahraga, jongkok dan aktivitas mengangkat benda berat adalah dua gerakan yang kerap dikhawatirkan menyebabkan keguguran. Sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari University of Washington menunjukkan bahwa jongkok dapat meningkatkan risiko keguguran.

Namun, yang perlu dicatat, gerakan jongkok yang dimaksud dalam penelitian ini adalah gerakan jongkok yang dilakukan berulang-ulang kali dalam sehari. Pasalnya, penelitian ini dilakukan pada pekerja industri tekstil yang tengah hamil, yang memang diharuskan berjongkok berkali-kali dalam rangka memenuhi pekerjaan.

Nah, untuk gerakan mengangkat benda berat pun demikian. Mengangkat benda berat tidak lantas menyebabkan keguguran. Peningkatan risiko keguguran sebanyak 3 kali lipat baru akan terjadi jika Bunda mengangkat beban lebih dari 10 kg setidaknya sebanyak 50 kali dalam seminggu. Jadi, jika frekuensinya rendah dan benda yang diangkat tidak terlalu berat, masih aman ya, Bun. Namun, Bunda tetap perlu berhati-hati. 

Bunda, itulah ulasan mengenai gerakan yang dapat menyebabkan keguguran. Pada dasarnya, jarang sekali keguguran disebabkan oleh aktivitas yang bumil lakukan. Keguguran lebih banyak terjadi karena kelainan pada kromosom janin dan faktor risiko lainnya. 

Referensi

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2863132/

https://www.sciencedaily.com/releases/2020/05/200526161115.htm

https://www.verywellfamily.com/does-exercise-cause-miscarriages-and-pregnancy-loss-2371373

https://www.webmd.com/baby/features/4-myths-about-miscarriages#2

Continue Reading

Kehamilan

Begini Kondisi Rahim setelah Mengalami Keguguran Tanpa Kuretase

mm

Published

on

kondisi rahim setelah keguguran tanpa kuret
Tidak semua kasus keguguran membutuhkan prosedur kuretase.

Keguguran adalah kejadian kehilangan janin pada usia kehamilan di bawah 20 minggu. Biasanya keguguran dialami oleh ibu hamil pada tiga bulan pertama kehamilan. Penyebabnya bisa bermacam-macam dan kadang tidak selalu berada di bawah kendali kita.

Banyak ibu yang tidak menyadari bahwa ia tengah mengalami keguguran. Beberapa hanya mengira keguguran yang ia alami sebagai perdarahan biasa. Memang, tanda awal keguguran dan tanda awal kehamilan tidak jauh berbeda. Keduanya dimulai dengan munculnya flek darah. Namun, pada keguguran, flek darah akan berubah menjadi perdarahan berat dan kadang dibarengi dengan gumpalan darah besar. Jika pembalut yang Bunda kenakan penuh dibanjiri darah dalam kurun waktu kurang dari satu jam, segera ke rumah sakit, ya.

Apakah Semua Keguguran Membutuhkan Tindakan Kuretase?

Tidak semua kejadian keguguran membutuhkan tindakan kuretase. Normalnya, setelah mengalami keguguran, tubuh akan mengeluarkan jaringan janin yang tertinggal dalam rahim dengan sendirinya. Namun, kemungkinan jaringan janin keluar dengan sendirinya lebih besar pada ibu yang mengalami keguguran sebelum mencapai usia kehamilan 10 minggu. 

Setelah 10 minggu, potensi keguguran yang tidak komplet atau “incomplete miscarriage” akan lebih besar. Incomplete miscarriage adalah kondisi ketika tubuh tidak mampu mengeluarkan jaringan sehingga tindakan kuret pun dibutuhkan. Tanda adanya jaringan yang masih tertinggal dalam tubuh sebagai berikut:

  • Sakit punggung
  • Kram perut
  • Perdarahan vagina
  • Hilangnya tanda kehamilan, seperti morning sickness

Setelah mengalami keguguran, Bunda akan diberikan pilihan untuk mengosongkan rahim dari jaringan janin. Pilihan pertama adalah expectant management di mana Bunda diminta menunggu agar jaringan keluar dengan sendirinya. Lamanya bisa memakan waktu 3-4 minggu. 

Bila dalam rentang waktu itu jaringan tidak keluar, tindakan lanjutan dibutuhkan. Entah itu dengan pemberian obat atau kuretase. Dua opsi ini biasanya diserahkan kepada Bunda, kecuali Bunda memiliki komplikasi atau mengalami kondisi darurat maka kuret akan lebih direkomendasikan.

Ini yang Akan Bunda Alami Jika Tidak Melakukan Kuretase

Jika seluruh jaringan janin telah keluar dengan sendirinya, tentu tidak ada masalah bagi Bunda. Tubuh termasuk rahim akan segera pulih dalam beberapa minggu. Namun, bagi Bunda yang mengalami incomplete miscarriage dan tidak melakukan kuretase, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. 

Bila tidak melakukan kuret, Bunda akan diberi pengobatan prostaglandin. Opsi ini bisa dipilih jika Bunda tidak memiliki komplikasi ya. Dengan pengobatan prostaglandin, proses pengeluaran sisa jaringan akan terjadi seperti keguguran alami. Namun, karena diberi obat, pengeluaran jaringan akan terjadi lebih cepat. Efeknya, Bunda akan mengalami kram perut yang lebih hebat serta perdarahan.

Opsi pengobatan ini umumnya aman bagi mayoritas perempuan. Namun, karena ada risiko perdarahan dan kram berat, Bunda harus senantiasa dalam pengawasan dokter. Selalu berkonsultasilah dengan dokter yang menangani Bunda mengenai efek pengobatan yang dialami. Jangan bepergian ke manapun hingga pengobatan benar-benar selesai karena Bunda mungkin akan merasakan sakit yang luar biasa. Berbaringlah saat kram atau rasa sakit datang. Pengosongan rahim menggunakan obat memakan waktu 24-48 jam.

Kapan Bisa Kembali Beraktivitas Normal?

Setelah jaringan janin dikeluarkan dari tubuh, dokter mungkin akan melakukan USG abdominal untuk memastikan rahim telah benar-benar kosong. Jika rahim telah benar-benar kosong, Bunda mungkin masih akan diminta menunggu hingga 2 minggu untuk dapat melakukan hubungan seks secara aman atau menggunakan tampon. Selama kurun waktu ini, Bunda tidak diperkenankan memasukkan apapun ke dalam vagina untuk menghindari infeksi.

Itulah kira-kira yang akan Bunda alami jika memilih untuk tidak melakukan kuret setelah keguguran. Apapun pilihan Bunda, pastikan ada orang terdekat untuk mendampingi karena keguguran bukanlah peristiwa ringan untuk dihadapi sendiri. Semoga lekas pulih, Bun!

Continue Reading

Kehamilan

9 Kebiasaan Sederhana ini Bisa Mencegah Keguguran

mm

Published

on

aktivitas yang menyebabkan keguguran

Tahukah, Bunda? Ternyata ada sekitar 15% ibu hamil yang mengalami keguguran. Sayangnya angka ini merupakan asumsi yang dipastikan terlalu rendah. Pasalnya, banyak keguguran di masa awal kehamilan tidak disadari oleh ibu hamil. Kebanyakan kejadian keguguran di masa awal kehamilan ini disebabkan oleh ketidaknormalan kromosom. 

Selain kelainan kromosom, penyebab lain keguguran adalah usia ibu yang sudah lanjut, obesitas, dan masalah medis kronis seperti diabetes, masalah tiroid dan hipertensi. Semua penyebab tadi bisa jadi memang sulit dikontrol. Diabetes dan hipertensi merupakan masalah kesehatan yang kerap kali diperoleh dari garis keturunan. Namun ada beberapa hal yang bisa Bunda lakukan untuk mengurangi kemungkinan mengalami keguguran maupun kematian janin atau stillbirth. Dengan menerapkan beberapa kebiasaan ini selama hamil, risiko keguguran dapat dikontrol, selain juga menjaga kehamilan yang sehat. 

1. Cuci tangan

Ada beberapa infeksi yang bisa menyebabkan keguguran maupun kematian janin. Salah satu hal yang paling mudah dilakukan untuk mencegah infeksi adalah dengan menerapkan kebiasaan cuci tangan dan jaga jarak dengan orang yang sakit. Apalagi di musim pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. 

Cuci tangan selama setidaknya 20 detik menggunakan sabun dan air hangat atau mengalir. Selalu cuci tangan ketika: 

  • Sebelum dan sesudah makan 
  • Setelah menggunakan toilet
  • Setelah bepergian ke tempat ramai 
  • Setelah berhubungan dengan orang yang sakit 
  • Setelah menyentuh benda yang banyak disentuh orang lain seperti uang, pegangan pintu, keranjang belanja, dll. 

2. Berhenti merokok

Sudah banyak diketahui bahwa merokok bisa menimbulkan masalah kesehatan serius. Kebiasaan merokok meningkatkan risiko kanker, penyakit paru-paru, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan stroke. Perempuan yang merokok lebih berisiko mengalami kemandulan dan/atau keguguran, janin yang terhambat pertumbuhannya, persalinan prematur, atau bayi yang lahir dengan berat rendah (BBLR).

Bayi yang lahir dari ibu perokok memiliki risiko lebih tinggi mengalami kematian. Berhenti merokok tidak hanya menyelamatkan nyawa bayi yang dilahirkan, tetapi juga memastikan Bunda tetap ada di sisi si kecil hingga ia bertumbuh dewasa. 

3. Berhati-hati di dapur

Penyakit yang berasal dari makanan seperti listeria kerap dikaitkan dengan meningkatnya risiko keguguran. Begitu pula parasit seperti toksoplasma gondii yang dapat masuk dari makanan yang dikonsumsi. Meskipun ibu hamil selalu disarankan untuk menghindari konsumsi makanan mentah atau keju yang dipasteurisasi, hal ini tidak cukup. Pasalnya bakteri jahat ini juga bisa datang dari makanan lain, jika tidak menerapkan prinsip pengolahan makanan yang sehat di dapur.

Terapkan hal berikut ini di dapur: 

  • Cuci tangan sebelum dan sesudah mengolah makanan mentah, terutama daging-dagingan 
  • Masak daging, ikan dan telur sesuai suhu yang disarankan. 
  • Segera masukkan makanan sisa ke dalam kulkas
  • Segera olah atau simpan dalam freezer daging atau ikan dalam waktu satu atau dua hari setelah dibeli
  • Cuci bersih sayur dan buah-buahan.

4. Vaksin flu

Meski sempat ada kabar yang mengatakan bahwa vaksin flu dapat menyebabkan keguguran, penelitian yang dilakukan memperlihatkan tidak adanya risiko keguguran setelah vaksin. Vaksin flu disarankan bagi ibu hamil untuk dilakukan, di trimester berapa pun. Pasalnya beberapa strain flu dapat berisiko dan bahkan lebih fatal bagi ibu hamil dibandingkan populasi kebanyakan. Selain itu, demam tinggi yang kerap menjadi salah satu gejala flu juga dihubungkan dengan cacat tabung saraf. 

5. Menurunkan berat badan sebelum hamil

Seperti halnya merokok, obesitas juga dikaitkan dengan banyak masalah kesehatan–dari meningkatnya risiko penyakit jantung, diabetes, dan beberapa tipe kanker, hingga komplikasi kehamilan seperti kelahiran prematur, preeklamsia, diabetes gestasional, dan semua tipe keguguran. 

Meski kaitan antara obesitas dan keguguran belum dapat dipahami secara pasti, beberapa penelitian yang dilakukan di berbagai belahan dunia, menemukan hasil yang sama yaitu perempuan obesitas memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami keguguran ataupun stillbirth

6. Konsumsi pola makan sehat

Pola makan sehat tidak hanya berlaku bagi Bunda yang ingin menurunkan berat badan. Penelitian memperlihatkan hasil bahwa pola makan yang tinggi kandungan buah-buahan, sayur-sayuran, dan gandum utuh dapat menurunkan risiko komplikasi kehamilan

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Stanford ditemukan bahwa perempuan memiliki risiko 50% lebih kecil untuk mengalami anencephaly (cacat pada tengkorak dan otak) ketika mengonsumsi makanan sehat. Pola makan sehat juga dikaitkan dengan kontrol berat badan dan kontrol gula darah yang optimal bagi perempuan yang mengidap diabetes. 

7. Melakukan pemeriksaan kehamilan

Pemeriksaan kehamilan merupakan hal yang penting dilakukan secepat mungkin. Pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter kandungan ataupun bidan bisa menemukan masalah kesehatan atau komplikasi kehamilan lebih dini sehingga keguguran dapat dicegah. 

8. Konsumsi obat secara rutin

Masalah kesehatan kronis seperti lupus, diabetes, dan tekanan darah tinggi, semuanya dikaitkan dengan meningkatnya risiko keguguran. Jika Bunda memang mengidap penyakit kronis, demi menjalani kehamilan yang sehat dan terkontrol, pastikan konsumsi obat/pengobatan tetap berjalan rutin. 

9. Terapkan seks aman

Yup, ada baiknya menerapkan hubungan seks yang aman untuk mencegah Bunda tertular penyakit seksual. Penyakit seperti chlamydia atau sipilis berpotensi menyebabkan keguguran, stillbirth, kematian bayi baru lahir, kemandulan dan kehamilan ektopik

Continue Reading

Trending