fbpx
Connect with us

Pasca

Siklus Mens setelah Melahirkan, Cek Faktanya Berikut Ini!

mm

Published

on

menstruasi setelah melahirkan
Jadwal mens setelah melahirkan tidak teratur? Hormon yang masih berfluktuasi mungkin jadi penyebabnya.

Ada banyak hal menyenangkan (dan tidak menyenangkan) yang terjadi pada tubuh Bunda selama kehamilan. Dari rambut yang lebih tebal, kulit yang lebih berkilau, tubuh yang lebih berisi, sampai ‘kebebasan’ dari siklus mens. Namun setelah persalinan, mungkin Bunda penasaran dengan siklus mens Bunda. Apakah akan berjalan kembali seperti biasa setelah lewat masa nifas? 

Biasanya normal tidaknya siklus menstruasi setelah melahirkan akan bergantung pada apakah Bunda menyusui atau tidak, dan seberapa lama proses menyusui itu berlangsung. Dan seperti halnya kehidupan Bunda setelah melahirkan akan berbeda, begitu pula siklus mens Bunda akan berbeda. 

Kapan Haid saya Akan Datang Kembali?

Jika Bunda tidak menyusui, maka siklus mens Bunda akan kembali sekitar enam sampai delapan minggu setelah melahirkan. Jika Bunda menyusui, siklus mens akan datang lebih lama daripada itu. Bahkan jika Bunda menyusui secara eksklusif, mens mungkin tidak akan datang sepanjang periode menyusui tersebut, atau setidaknya enam bulan. Menyusui secara eksklusif berarti si kecil tidak mengonsumsi hal lain di luar air susu ibu (ASI). 

Jika menstruasi Bunda kembali tak lama setelah nifas dan Bunda menjalani persalinan per vaginam (normal), dokter biasanya tidak menyarankan Bunda untuk menggunakan tampon di mens pertama ini. Mengapa? Tubuh Bunda masih dalam proses penyembuhan, dan tampon berpotensi menimbulkan luka. Walaupun sebenarnya tampon memang tidak terlalu populer di Indonesia.

Apakah mens dapat mempengaruhi produksi ASI? 

Ketika mens datang kembali, Bunda mungkin merasakan beberapa perubahan pada produksi ASI dan reaksi si kecil saat menyusui. Ya, perubahan hormon yang memicu menstruasi juga bisa memengaruhi ASI Bunda. Misalnya, beberapa ibu merasakan produksi ASI berkurang atau bayi tidak terlalu semangat menyusui. Perubahan hormon bisa memengaruhi komposisi dan rasa ASI yang Bunda produksi. Meski demikian, perubahan ini biasanya sangat kecil dan tidak mengurangi kemampuan Bunda untuk menyusui. 

Baca juga: Menstruasi setelah Melahirkan, Apakah Berpengaruh pada Bunda yang Menyusui?

Bagaimana dengan KB?

Menyusui memang dikatakan dapat berperan sebagai penunda keh amilan alami. Namun tidak sedikit ibu yang ‘kebobolan’; hamil di masa menyusui karena tidak menerapkan metode KB. Menurut Association of Reproductive Health Professionals, kurang dari 1 dibanding 100 perempuan bisa hamil meskipun memberikan ASI eksklusif. Meskipun menyusui bisa mengurangi kesuburan, hal ini tidak menjadi jaminan bahwa Bunda dapat mencegah kehamilan 100 persen. Hal ini perlu diperhatikan, apalagi oleh Bunda yang kembali bekerja walaupun masih memberikan ASI. Intensitas pemberian ASI yang berkurang dapat menghilangkan kemampuan KB alami tersebut.

Jika Bunda menyusui dan menstruasi sudah kembali, Anda tidak lagi terproteksi secara alami. Kehamilan bisa saja terjadi. Belum lagi, akan sulit memperhitungkan kapan tubuh Bunda kembali memproduksi telur, yang biasanya terjadi sebelum mens keluar. Jadi, ada kemungkinan Bunda mengalami kehamilan sebelum mens datang. 

Untuk mencegah kehamilan, Bunda bisa mencari metode KB yang aman dan efektif untuk ibu menyusui. Pilihan KB tanpa hormon seperti IUD atau spiral dan kondom bisa jadi pilihan. Beberapa KB hormonal juga terhitung aman untuk ibu menyusui. Cobalah berkonsultasi dengan dokter kandungan untuk menemukan metode KB yang tepat. 

Apakah mens setelah melahirkan akan berbeda?

Ketika Bunda mengalami mens setelah melahirkan, kemungkinan kondisinya akan berbeda dibanding sebelum hamil. Tubuh Bunda kembali menyesuaikan diri dengan mens. Beberapa perbedaan yang mungkin Bunda rasakan: 

  • Intensitas kram bisa bertambah atau berkurang dari sebelumnya
  • Adanya gumpalan darah kecil 
  • Volume lebih banyak 
  • Ada saatnya aliran mens berhenti, kemudian mulai lagi
  • Nyeri meningkat 
  • Panjang siklus lebih tidak teratur

Mens pertama pasca melahirkan akan terasa berbeda; volume yang lebih banyak dan kram yang lebih intens. Pasalnya ada lebih banyak lapisan rahim yang perlu diluruhkan. Namun jangan khawatir, seiring waktu keluhan ini akan berkurang. 

Mens pertama, ini yang akan Bunda alami

Baik melahirkan secara normal ataupun caesar, Bunda akan mengalami nifas setelah melahirkan. Tubuh Anda meluruhkan darah dan jaringan yang melapisi dinding rahim, yang sempat menjadi perlindungan janin sewaktu hamil. 

Di beberapa minggu pertama, darah yang keluar mungkin akan lebih banyak dan tampak beberapa gumpalan. Namun setelah beberapa minggu, Bunda akan memproduksi lochia. Ini adalah cairan yang dikeluarkan tubuh, berwarna jernih hingga krem sampai merah. 

Lochia ini bisa terus dikeluarkan sampai sekitar enam minggu, sampai siklus mens kembali datang jika Bunda tidak menyusui. Lalu apa yang membedakan lochia dengan darah mens? Ini perbedaannya: 

  • Warna lochia biasanya tidak merah terang, cenderung lebih muda atau putih. Jika Bunda mengeluarkan cairan warna merah terang dari vagina, enam minggu setelah melahirkan, maka bisa jadi itu adalah darah mens. 
  • Jika pendarahan meningkat seiring aktivitas fisik dan berkurang saat beristirahat, maka bisa jadi itu lochia. 
  • Lochia juga cenderung memiliki bau. Lochia biasanya memiliki bau “amis” karena bercampur dengan jaringan dari kehamilan. Berkonsultasilah dengan dokter jika Bunda mencium bau yang kurang sedap. 

Juga jangan berharap jadwal mens akan kembali normal setelah melahirkan. Bisa jadi mens datang dan pergi di masa awal setelah melahirkan. Selama tahun pertama setelah melahirkan, adalah normal jika siklus Bunda mengalami ketidakaturan; dari segi lama mens, jeda antara jadwal mens, dan volume serta intensitas darah yang dikeluarkan. Terutama jika Bunda juga menyusui. 

Menurut Cleveland Clinic, kebanyakan perempuan akan kembali ke siklus mens normal antara 21 sampai 35 hari dengan lama mens antara 2 sampai 7 hari. 

Apa gejala pasca persalinan yang perlu diperhatikan

Sebaiknya Bunda menghubungi dokter jika mengalami gejala berikut ini: 

  • Harus berganti pembalut setiap satu jam 
  • Perdarahan yang disertai dengan rasa nyeri yang datang tiba-tiba 
  • Demam yang datang tiba-tiba 
  • Pendarahan yang berlangsung terus-menerus selama lebih dari 7 hari 
  • Gumpalan darah berukuran besar, lebih besar dari bola tenis
  • Nyeri kepala
  • Kesulitan bernapas
  • Rasa nyeri saat buang air kecil 
  • Disertai bau yang tidak sedap

Setiap mengalami ketidakwajaran, ada baiknya Bunda segera memeriksakan diri ke dokter. Pasalnya, perdarahan pasca persalinan bisa berisiko fatal bahkan mengancam nyawa Bunda. Cek juga gejala pasca persalinan lain yang perlu Bunda waspadai

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pasca

Eklampsia Postpartum, Mengintai di Kala Bunda Lengah

mm

Published

on

eklampsia post partum
Eklampsia juga bisa terjadi di masa nifas ibu. Waspada karena dapat mengancam nyawa.

Mendengar kata preeklampsia ataupun eklampsia, seringkali kita mengasosiasikannya dengan kejadian pada ibu hamil. Akan tetapi, eklampsia juga dapat menyerang Bunda setelah melahirkan, loh. Meski lebih jarang terjadi, kondisi ini sama berbahayanya dan perlu ditangani dengan cepat.

Apa itu eklampsia postpartum dan bagaimana gejalanya?

Pre eklampsia postpartum adalah kondisi kesehatan serius yang terjadi setelah Bunda melahirkan si kecil. Kondisi ini ditandai dengan tekanan darah tinggi dan kenaikan kadar protein di urin. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa menyebabkan eklampsia atau kejang, sindrom HELLP dan masalah kesehatan lainnya.  

Sindrom HELLP merupakan beberapa atau rangkaian kejadian yang dapat mengancam kehamilan. HELLP adalah singkatan dari hemolisis (kerusakan atau hancurnya sel darah merah yang tugasnya mengangkut oksigen ke seluruh tubuh), elevated liver enzymes (meningkatkan kadar enzim yang dihasilkan organ hati) dan low platelets count atau rendahnya kadar keping darah (trombosit) yang membantu proses pembekuan darah. 

Dilansir dari situs What to Expect, beberapa peneliti memprediksi bahwa 4 sampai 6 persen perempuan yang mengidap preeklampsia dan eklampsia didiagnosa mengalami preeklamsia maupun eklampsia pada masa nifas

Jika Bunda mengidap preeklampsia selama kehamilan, kemungkinan untuk mengalami kondisi ini memang lebih tinggi jika dibanding perempuan yang tidak mengidap preeklampsia. Akan tetapi, Bunda yang tidak memiliki tekanan darah tinggi selama hamil juga berisiko mengalami eklampsia atau preeklampsia postpartum. 

Lalu, seperti apakah gejala preeklampsia postpartum? Gejalanya mirip dengan preeklampsia pada kehamilan, yaitu salah dua dari beberapa gejala di bawah ini:

  • Tekanan darah tinggi (140/90 mmHg atau lebih tinggi)
  • Terdapat protein dalam urin yang kadarnya di atas normal (proteinuria) 
  • Sakit kepala berat
  • Gangguan penglihatan, pandangan menjadi buram atau kabur, sensitif terhadap cahaya dan bahkan kebutaan sesaat 
  • Sakit perut bagian atas  (terutama di bawah tulang iga yang terletak di sebelah kanan-atas perut) 
  • Mual atau muntah
  • Napas pendek atau sesak 
  • Volume urin berkurang atau jarang buang air kecil 
  • Bengkak pada kaki 

Apa yang akan terjadi jika Bunda mengidap preeklampsia postpartum?

Bunda yang mengalami preeklampsia postpartum lebih berisiko mengalami komplikasi dibanding mereka yang mengidap preeklampsia di masa kehamilannya. Selain itu, risiko komplikasi untuk menjadi lebih serius, juga tinggi. Oleh sebab itu, penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter Bunda jika mengalami gejala-gejala yang sudah disebutkan di atas. 

Apa yang terjadi jika preeklampsia tidak segera ditangani? Komplikasi yang bisa terjadi adalah sebagai berikut: 

  • Eklampsia post partum, kondisi medis serius yang menyebabkan kejang dan rusaknya organ tubuh. Bahkan sekitar 1 dari 3 kasus eklampsia terjadi setelah ia melahirkan. Lebih dari setengahnya mengalami kejang 48 jam setelah persalinan
  • Pembengkakan paru-paru, atau menumpuknya cairan di paru-paru.
  • Sindrom HELLP. 
  • Stroke, terhambatnya aliran darah ke otak. 

Preeklampsia yang dialami setelah persalinan dapat berkembang menjadi eklampsia post partum dengan cepat. Sebab itu, kondisi ini harus segera dideteksi dan ditangani untuk mencegah terjadinya komplikasi. Dokter akan menangani preeklampsia postpartum dengan memberi obat untuk menurunkan tekanan darah dan juga memberi magnesium sulfat yang dapat membantu mencegah kejang.

Untuk mendeteksi preeklampsia postpartum secara dini, pemeriksaan masa nifas jangan dilewatkan ya Bun. Dengan secara rutin melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan seperti cek tekanan darah rutin, kondisi ini dapat diketahui lebih dini.

Continue Reading

Pasca

Tanya Jawab seputar Masa Subur setelah Melahirkan

mm

Published

on

masa subur setelah melahirkan

Perencanaan kehamilan merupakan hal penting untuk memastikan kesehatan ibu. Program KB yang menjaga jarak antar kehamilan setidaknya dua tahun tentunya ditentukan berdasarkan alasan kesehatan. Untuk mengatur jarak kehamilan, Bunda perlu tahu kapan masa subur setelah melahirkan?

Berikut ini beberapa pertanyaan seputar masa subur setelah melahirkan dan jawaban yang kami kompilasikan dari berbagai sumber. 

Kapan secepatnya ibu dapat hamil lagi setelah melahirkan?

Ibu dapat hamil lagi segera setelah masa ovulasi pertama Bunda, yaitu setelah menstruasi pertama. Menstruasi pertama setelah melahirkan pada setiap ibu bisa berbeda-beda. Ada yang langsung mengalaminya setelah masa nifas usai, antara empat minggu sampai 40 hari setelah melahirkan. Jika Bunda menyusui secara eksklusif, maka menstruasi pertama biasanya akan datang lebih lama. 

Apakah kehamilan dapat terjadi sebelum menstruasi postpartum pertama? 

Ya bisa saja kehamilan terjadi sebelum menstruasi pertama. Beberapa perempuan mengalami apa yang dinamakan menstruasi pertama yang steril. Dalam kata lain, mereka tidak mengalami ovulasi pada siklus pertama menstruasi tersebut. Beberapa perempuan lagi mengalami ovulasi sebelum mens dan inilah yang kerap tidak disadari yang akhirnya menyebabkan kehamilan. 

Nah, kita tidak tahu yang mana yang akan datang terlebih dahulu, mens atau ovulasi. Sebab itulah, menggunakan kontrasepsi ketika berhubungan setelah melahirkan, merupakan hal yang penting. 

Seberapa besar kemungkinan saya hamil setelah melahirkan?

Kondisi ibu setelah melahirkan bisa berbeda-beda. Beberapa cepat kembali pulih, beberapa perlu melewati proses panjang untuk mengembalikan kondisi tubuh seperti semula (walaupun tidak mungkin 100 persen sama). Umumnya, setelah masa nifas usai, berakhir sudah masa penantian. Artinya, setelah itu Bunda dapat berhubungan intim dengan suami. Akan tetapi, dokter atau bidan yang menangani Bunda lah yang tahu persis apakah Bunda sudah aman untuk berhubungan. 

Bagi ibu yang menyusui, mens postpartum pertama baru akan datang paling cepat 3 bulan setelah melahirkan. Lebih banyak lagi yang baru mengalami mens postpartum pertama 9 bulan setelah melahirkan. 

Jika Bunda tidak menggunakan kontrasepsi, akan sangat sulit untuk memastikan kemungkinan untuk hamil. Sebab, setiap tubuh perempuan berbeda dan menstruasi postpartum pertama bukanlah sesuatu yang dapat diprediksi dengan pasti. 

Apakah menstruasi tidak akan terjadi jika saya menyusui?

Menyusui disebut sebagai kontrasepsi alami, meski pada kenyataannya tidak selalu demikian. Ada beberapa syarat yang memungkinkan menyusui sebagai cara menunda kehamilan, yaitu perlu memenuhi tiga faktor ini: 

  • Bunda menyusui bayi selama enam bulan pertama hidupnya. Setelah usia 6 bulan biasanya Bunda tidak menyusui sesering itu, sehingga ovulasi lebih mungkin terjadi. 
  • Bunda harus menyusui secara eksklusif atau hampir eksklusif. Artinya Bunda tidak memberikan minuman lain selain ASI kepada si kecil. 
  • Bunda belum menstruasi setelah melahirkan. 

Berapa lama sebaiknya saya menunggu untuk kehamilan selanjutnya? 

Sebaiknya Bunda dan suami menunggu setidaknya satu tahun, atau idealnya 18 bulan, sebelum mengandung kembali. Jarak yang cukup ini memastikan tubuh Bunda telah pulih sempurna setelah melahirkan dan juga si kecil mendapat kebutuhan nutrisi yang diperlukannya dari ASI. 

Beberapa risiko yang bisa terjadi akibat jarak kehamilan yang terlalu dekat adalah bayi lahir prematur atau dengan berat lahir rendah, lebih sering terjadi jika jarak kehamilan kurang dari enam bulan). Selain itu, anak yang terlahir akan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengidap asma, pertumbuhan yang tidak optimal, serta gangguan pendengaran dan penglihatan di kemudian hari. 

Disebutkan situs What to Expect, penyebab komplikasi tersebut memang belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, ditilik-tilik bahwa penyebabnya bisa jadi berasal dari sisa-sisa peradangan dalam rahim dari kehamilan sebelumnya dan karena tubuh belum sepenuhnya terisi dengan vitamin dan nutrisi yang diperlukan untuk kehamilan berikutnya. 

Pun, banyak bayi terlahir dari kehamilan yang jaraknya dekat dalam kondisi sehat walafiat. 

Intinya, sebaiknya Bunda berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan kapan sebaiknya Anda dan suami dapat merencanakan kehamilan berikutnya. Sementara itu, demi keamanan, gunakan kontrasepsi segera setelah aktif berhubungan seksual kembali, meskipun Bunda menyusui. 

Referensi: https://www.whattoexpect.com/pregnancy/pregnancy-health/how-soon-can-you-get-pregnant-after-giving-birth/

https://www.gooddoctor.co.id/hamil-sehat/kehamilan/masa-subur-setelah-melahirkan/

Continue Reading

Pasca

Mengenal Padsicle: Manfaat, Cara Membuat, dan Cara Menggunakan

mm

Published

on

padsicle adalah
Cara membuat padsicle sendiri.

Proses melahirkan memang tidak sama pada setiap orang. Namun bagaimanapun, setiap persalinan merupakan proses yang berat bagi tubuh perempuan. Ada begitu banyak perubahan yang terjadi, bahkan setelah persalinan usai. Kadar hormon yang masih tinggi, vagina yang masih terasa nyeri, payudara bengkak, uterus yang masih berkontraksi, harus dihadapi sambil mengurus si jabang bayi. 

Sebab itu, segala benda yang dapat membantu mengatasi ketidaknyamanan merupakan sebuah berkah tak terkira bagi ibu baru melahirkan. Salah satu ketidaknyamanan yang perlu dihadapi itu adalah nyeri vagina, khususnya yang disebabkan oleh proses melahirkan per vaginam. 

Berbagai upaya pun dilakukan untuk meredam kadar nyeri yang dirasakan di area tersebut. Duduk di bantal misalnya, dikatakan dapat mengurangi rasa “nyut-nyutan” di area vagina. Sementara, ada juga yang lebih kreatif dengan membuat apa yang dinamakan “padsicle”. Apa itu padsicle dan bagaimana membuatnya sendiri? 

Padsicle adalah

Kata padsicle (gabungan dari kata “pad” atau pembalut dan Popsicle atau es loli) memang terdengar asing di telinga. Pasalnya, ini bukanlah sebuah produk atau merek yang umum dan bisa Bunda beli di toko. Akan tetapi, fungsinya untuk meredam nyeri pasca melahirkan, bisa membuat benda ini jadi sahabat yang bisa Bunda andalkan. 

Pada dasarnya, padsicle adalah pembalut pasca melahirkan (ukurannya lebih besar dan lebih panjang dari pembalut menstruasi) yang sudah didinginkan di dalam freezer. Setelah dingin, pembalut itu kemudian digunakan sebagai pelapis celana dalam untuk meredam dan memicu penyembuhan setelah melahirkan

Tidak hanya meredam nyeri vagina, pembalut ini juga bisa mengurangi bengkak, lebam, dan ketidaknyamanan yang biasanya disebabkan oleh wasir atau jahitan perineum (area antara lubang vagina dan dubur). Yang lebih menyenangkannya lagi, Bunda bisa membuat padsicle sendiri di rumah. 

Bunda bisa mulai membuatnya di minggu perkiraan kelahiran, sebagai cadangan. Akan tetapi tidak ada salahnya juga jika Bunda baru membuatnya setelah pulang dari fasilitas kesehatan tempat Bunda melahirkan. Pasalnya, padsicle ini sangat mudah dibuat. Pastikan saja padsicle sudah didinginkan dalam freezer selama setidaknya dua jam untuk memastikannya sudah dingin dan siap digunakan. 

Membuat padsicle sendiri 

Nah, sekarang setelah Bunda tahu kegunaannya, ini cara menggunakannya. Berikut ini benda-benda yang Bunda perlukan, beberapa di antaranya mungkin sudah ada di rumah. 

Bahan yang diperlukan: 

  • Aluminum foil 
  • Pembalut pasca melahirkan 
  • Witch hazel tanpa kandungan alkohol
  • Gel lidah buaya alami 
  • Minyak esensial lavender

Cara membuatnya: 

  1. Pertama-tama hamparkan selembar aluminium foil di atas meja. Pastikan luasnya cukup untuk menutupi pembalut. 
  2. Buka bungkus pembalut dan letakkan di atas aluminium foil. Bagian belakang pembalut akan melekat pada lembaran foil aluminium. Lepaskan kertas pelindung perekat pada pembalut. 
  3. Balurkan gel lidah buaya di permukaan pembalut menggunakan sendok. Lidah buaya memiliki manfaat anti peradangan dan peredam nyeri. 
  4. Dengan tangan yang bersih, gosok-gosok lidah buaya ke seluruh permukaan pembalut, hingga terserap. Jangan terlalu banyak menggunakan gel lidah buaya karena justru bisa mengurangi kemampuan pembalut menyerap darah nifas. 
  5. Semprotkan witch hazel ke permukaan pembalut. Bahan ini bisa membantu mengurangi bengkak, rasa nyeri dan lebam, sekaligus meredam gatal dan peradangan yang dikaitkan dengan wasir. 
  6. Jika tidak ada witch hazel, Bunda bisa menggunakan minyak esensial lavender. Teteskan 1 sampai 2 tetes minyak esensial lavender ke permukaan pembalut. Lavender juga bersifat anti-peradangan dan dapat meredam stres. 
  7. Setelah itu, tutup atau bungkus pembalut dengan foil aluminium, kemudian simpan dalam freezer selama setidaknya dua jam. 

Bunda bisa membuat beberapa padsicle sekaligus sebagai stok setelah melahirkan nanti. Selain menggunakan pembalut sekali pakai, Bunda juga bisa membuat padsicle dari pembalut kain. Akan tetapi, jika darah nifas yang keluar cukup banyak, pastikan Bunda mengganti pembalut kain lebih sering. Pasalnya, pembalut kain tidak mampu menyerap sebanyak pembalut sekali pakai. 

Continue Reading

Trending