Ada berbagai metode sleep training yang bisa diterapkan untuk bayi
Apakah si kecil terus terbangun di tengah malam hanya untuk ditenangkan kembali menuju tidurnya? Hmm, jika saat ini ia telah menginjak usia 4 bulan, ini mungkin waktu yang tepat bagi Bunda untuk melakukan sleep training. Apa itu?
Sleep training adalah pengajaran yang dilakukan kepada bayi agar ia bisa tertidur sendiri tanpa bantuan orang lain. Setelah melakukan sleep training, bayi diharapkan dapat tertidur sendiri di kasurnya tanpa perlu diayun atau ditepuk-tepuk oleh orang lain. Melalui sleep training, si kecil juga diharapkan mampu terlelap kembali dengan sendirinya ketika ia terbangun di tengah malam.
Bunda dapat memulai sleep training sejak bayi berusia 4 hingga 6 bulan. Pasalnya, di usia inilah biasanya bayi mengalami perubahan jadwal tidur. Jadwal tidur yang tadinya teratur bisa berubah dan bahkan mengganggu aktivitas ayah dan bunda. Sehingga bayi membutuhkan sleep training agar mampu menenangkan dirinya sendiri saat terbangun dari tidur. Pun di usia ini biasanya bayi belum mengenal kursi goyang atau dot, sehingga lebih mudah beradaptasi dengan kebiasaan baru yang diterapkan melalui sleep training ini.
Nah, apa saja metode sleep training yang bisa Bunda coba terapkan? Yuk, cek di sini.
Metode cry it out bisa dibilang adalah metode paling “tega” di antara metode sleep training yang lain. Sebab, dalam metode ini, Bunda diharapkan untuk membiarkan si kecil menangis di tempatnya hingga tertidur sendiri. Pastikan saja kalau sebelumnya si kecil diantar ke tempat tidur dalam keadaan perut yang kenyang dan lingkungan sekeliling tempat tidur cukup aman.
Dengan metode ini, biasanya bayi sudah bisa tertidur dengan sendirinya tanpa menangis setelah 3 sampai 4 hari. Tahukah, Bun? Metode ini biasanya justru terasa lebih sulit untuk orang tua daripada untuk bayi. Karena Bunda pasti tidak tega kan mendengar dia menangis? Belum lagi jika Bunda masih tinggal dengan orang tua atau mertua, ada kemungkinan mereka merasa terganggu dengan suara tangis bayi. Akan tetapi dalam metode CIO ini, konsistensi adalah kunci.
Jika Bunda tidak nyaman meninggalkan si kecil begitu saja seperti metode cry it out, Bunda bisa mencoba metode satu ini. Bila dalam metode CIO Bunda benar-benar meninggalkan bayi setelah menaruhnya di tempat tidur, tidak demikian dengan metode Ferber. Bunda masih diperkenankan untuk mengecek si kecil secara berkala di tempat tidurnya.
Langkah awal metode ini adalah meletakkan si kecil di tempat tidur setelah tiba waktu tidurnya. Setelah itu, tinggalkan bayi sendirian. Kemudian, tunggu selama beberapa menit untuk mengeceknya kembali. Saat mengecek si kecil, jangan angkat ia dari tempat tidurnya ya, Bun. Bunda boleh mengelusnya, tapi jangan sampai mengangkatnya apalagi menina-bobokannya. Si kecil tidak akan belajar tidur secara mandiri jika Bunda melakukan ini.
Semakin lama, perpanjang interval ketidakhadiran Bunda dalam satu malam. Misalnya, jika sebelumnya Bunda akan mengecek kembali selang 3 menit, tingkatkan jadi 5 menit. Terus tingkatkan intervalnya perlahan-lahan hingga menyentuh 10 atau 15 menit. Pertahankan interval ini hingga si kecil tertidur. Dibandingkan dengan metode CIO, metode ini mungkin tidak akan terlalu berat untuk Bunda. Namun, memang membutuhkan waktu hitungan minggu untuk berhasil.
Metode satu ini mungkin akan jauh lebih nyaman bagi Bunda maupun si kecil. Namun, seperti metode Ferber, metode ini butuh waktu yang lama untuk berhasil dibandingkan dengan metode CIO. Jadi, chair method mungkin tak akan cocok untuk Bunda yang menginginkan hasil cepat.
Bagaimana cara kerjanya?
Setelah memasuki waktu tidur si kecil dan memastikan ia kenyang, taruh bayi di tempat tidurnya. Bunda bisa mengambil kursi lalu duduk di samping tempat tidur si kecil. Jika si kecil menangis, Bunda bisa menenangkannya dengan cara menepuk-nepuknya. Namun, jangan berinteraksi terlalu lama ya. Saat si kecil sudah tertidur, Bunda bisa meninggalkan ruang tidurnya.
Bila penerapan metode ini sudah berlalu selama 3 hari, perlebar jarak duduk Bunda: dari yang sebelumnya berada persis di samping tempat tidur si kecil menjadi di antara tempat tidur dan pintu. Lama-kelamaan, Bunda bisa sama sekali tidak berada dalam ruangan saat menunggu si kecil tertidur.
Kekurangan metode ini adalah terkadang chair method justru membuat si kecil lebih rewel. Pasalnya, ia tertidur dengan kondisi Bunda ada di dalam kamar yang sama dengannya, tetapi terbangun tanpa Bunda di sisinya. Ini bisa membuat si kecil marah saat terbangun. Jadi, tetap kenali karakter buah hati Bunda, ya. Bila metode ini justru membuatnya semakin rewel di pagi hari, lebih baik coba metode yang lain.
Metode ini hampir sama dengan metode Ferber. Hanya saja, metode ini tidak mensyaratkan interval waktu untuk menenangkan si kecil. Setelah Bunda meletakkan si kecil di tempat tidur, tunggu apakah ia menangis. Jika ia menangis, tunggulah beberapa saat dan lihat apakah ia bisa tertidur dengan sendirinya. Bila tidak, angkat dan tenangkan ia. Setelah tenang, taruh kembali di tempat tidur. Ulangi pola ini hingga si kecil bisa tertidur pulas sepanjang malam.
Metode ini mungkin cocok bagi Bunda yang tidak tegaan. Namun, metode ini mensyaratkan kesabaran karena keberhasilannya sangat lama.
Itulah beberapa metode sleep training yang bisa Bunda coba. Pilihlah yang paling cocok dengan karakter Bunda dan si kecil. Semangat, Bun!
Bunda mungkin ingat beberapa waktu lalu Chrissy Teigen, istri dari penulis lagu dan penyanyi John…
Pandemi Covid-19 berdampak pada kita semua. Namun, tahukah, Bunda, bahwa pandemi ini memiliki konsekuensi tersendiri…
Neonatal intensive care unit atau biasa disingkat NICU adalah ruang perawatan intensif bagi bayi yang…
Tidak ada seorang ibu atau ayah yang ingin melahirkan bayi prematur. Akan tetapi, beberapa orangtua…
Vaksinasi Covid-19 terus digencarkan pemerintah untuk mencapai kekebalan komunitas atau herd immunity. Di tengah program…
Masa nifas atau postpartum kerap menjadi masa yang sulit bagi ibu baru. Adaptasi, rasa sakit…