fbpx
Connect with us

Kehamilan

Bunda Hamil? Masih Bolehkah Pelihara Hewan?

mm

Published

on

pelihara kucing saat hamil
Pelihara kucing saat hamil ataupun hewan lainnya aman saja jika Bunda tahu caranya.

Hewan peliharaan adalah bagian dari keluarga. Kehadirannya merupakan pelengkap yang membuat sebuah keluarga kian utuh. Karena itulah, sudah sewajarnya jika kita memperlakukan hewan peliharaan sebagai anggota keluarga. Sayangnya, banyak keluarga yang tak menyadari hal ini yang kemudian dengan mudah menyingkirkan hewan peliharaannya. Persoalan seperti ini tak jarang loh Bun ditemui pada pasangan yang tengah menantikan buah hatinya.

Biasanya, pasangan yang memutuskan untuk tak lagi memelihara hewan ketika menantikan buah hati merasa takut janinnya akan terinfeksi virus atau bakteri dari hewan. Memang, ada beberapa infeksi yang bisa ditularkan oleh hewan kepada ibu hamil yang bisa berbahaya bagi janin, seperti toxoplasma, salmonellosis, atau rabies. Infeksi-infeksi ini bisa menyebabkan cacat kongenital pada janin atau bahkan kematian dalam kandungan. Belum lagi, risiko luka pada bayi yang disebabkan oleh hewan, misalnya bayi tak sengaja tercakar atau tertindih.

Namun sebenarnya, Bunda tak selalu perlu menyingkirkan hewan kesayangan ketika menantikan kehadiran bayi. Selama Bunda paham cara merawat hewan peliharaan dengan baik dan benar, infeksi-infeksi karena bakteri atau parasit dapat dihindari. Pun, jika Bunda mampu mendidik hewan peliharaan dengan baik, mereka juga bisa hidup berdampingan dengan si kecil. Maka dari itu, sebelum terburu-buru menyingkirkan hewan peliharaan, simak yuk cara merawat dan mendidik hewan agar tetap aman ketika hamil.

Anjing

Secara umum, jika anjing Bunda mendapatkan vaksin secara rutin dan diperiksakan secara teratur ke dokter, memelihara anjing saat hamil aman-aman saja. Pastikan pula anjing Bunda sudah terlatih dengan baik untuk berada di dekat manusia ya sehingga ia tak akan membahayakan bayi nantinya. 

Inilah beberapa hal yang bisa Bunda lakukan untuk memastikan anjing kesayangan tak membahayakan:

  • Pastikan anjing Bunda melakukan check-up dan vaksin rutin ke dokter
  • Berhati-hatilah dengan anjing berukuran besar. Walaupun ia bersahabat, bisa jadi ia tak sengaja melompat ke perut Bunda atau menindih bayi ketika si kecil lahir. Karena itu, jika Bunda ingin tidur, lebih baik keluarkan dulu anjing dari kamar. Begitu pun, jangan meninggalkan si kecil berdua dengannya.
  • Daftarkan anjing Bunda untuk mengikuti sesi training jika ia masih sulit diatur
  • Waspadai perubahan perilaku anjing saat si kecil lahir. Sebab, beberapa anjing bisa merasa cemburu jika Bunda memberi perhatian kepada bayi.
  • Pastikan tidak ada kutu pada anjing

Kucing

Sama seperti anjing, pelihara kucing saat hamil adalah hal yang aman untuk dilakukan. Namun, memang benar bahwa Bunda mesti waspada dengan infeksi toxoplasma yang mungkin dibawa oleh kucing. Pasalnya, toxoplasma yang ditularkan melalui kotoran kucing yang termakan oleh Bunda bisa sangat berbahaya bagi janin.

Meski begitu, satu hal yang perlu Bunda tahu adalah tak semua kucing membawa infeksi toxoplasma. Hanya kucing yang memakan daging mentah yang terinfeksi toxoplasmosis yang mampu menularkannya. Jadi, jika selama ini kucing Bunda selalu berada di dalam rumah dan tak pernah mengonsumsi makanan mentah, kucing Bunda cenderung aman dari infeksi toxoplasma. 

Nah, inilah beberapa hal yang bisa Bunda lakukan agar pelihara kucing saat hamil tetap aman:

  • Cuci tangan sesering mungkin, terutama setelah memegang kucing
  • Minta orang lain untuk membersihkan kotak kotoran kucing
  • Jangan berikan daging mentah kepada kucing
  • Jika Bunda terpaksa harus membersihkan kotoran kucing, gunakan sarung tangan karet dan buang sarung tangan setelah digunakan.
  • Bersihkan kotak kotoran setiap hari. Butuh waktu 1 sampai 5 hari bagi parasit toxoplasmosis untuk menjadi infeksi. Segera buang kotoran kucing sebelum berbahaya.
  • Selalu lakukan check up rutin dan vaksin agar pelihara kucing saat hamil tetap aman
  • Lakukan tes darah untuk mengecek apakah Bunda terinfeksi toxoplasma agar dapat ditangani sedari dini

Hamster dan Kelinci

Secara umum, hamster dan kelinci adalah hewan yang aman untuk tetap dipelihara saat hamil. Hanya saja, Bunda perlu berhati-hati dengan lymphocytic choriomeningitis virus (LCMV) yang bisa ditularkan kepada manusia. Virus ini memiliki gejala seperti flu dan umumnya manusia yang tertular dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, dalam taraf yang lebih parah, virus ini bisa menyebabkan meningitis atau mungkin cacat bawaan pada bayi. Untuk menghindarinya, Bunda bisa melakukan hal ini:

  • Segera cuci tangan setelah menyentuh hamster atau kelinci ataupun kandangnya
  • Mintalah orang lain untuk membersihkan kandang hamster atau kelinci
  • Jangan bersihkan kandang di dalam rumah, khususnya dapur. Bersihkanlah kandang di luar ruangan.
  • Jangan mencium hamster atau kelinci atau menggendongnya terlalu dekat dengan wajah.
  • Jauhkan hamster atau kelinci dari dapur atau tempat Bunda menyimpan makanan.

Mempersiapkan Hewan Peliharaan Menyambut Bayi

Sama seperti calon kakak yang perlu dipersiapkan untuk menyambut calon adiknya, hewan peliharaan pun demikian. Mereka juga butuh beradaptasi menyambut anggota keluarga baru di rumah. Jika tidak dilatih, bukan tidak mungkin mereka akan merasa cemburu dan berubah perilaku. 

Inilah beberapa hal yang bisa Bunda lakukan dalam menyiapkan hewan peliharaan untuk menyambut bayi di rumah.

  • Ketika si kecil lahir, hewan peliharaan Bunda yang tadinya bebas keluar masuk kamar kini mungkin akan lebih terbatas. Sebelum bayi lahir, sedikit demi sedikit biasakanlah hewan dengan pagar, tali, atau ruangan lain yang mungkin akan jadi tempat bermain barunya.
  • Bila si kecil sudah lahir, sodorkanlah selimut atau pakaian si kecil dengan bau yang masih menempel kepada anak-anak kaki empat Bunda agar mereka mengenali baunya.
  • Jika hewan peliharaan sudah mulai bersahabat, biarkan mereka satu ruangan dengan si kecil. Tentunya di bawah pengawasan Bunda, ya.
  • Jangan lupa memberi perhatian ekstra kepada hewan peliharaan setibanya Bunda di rumah agar ia tak merasa diabaikan.
  • Bila Bunda membutuhkan bantuan untuk menangani perubahan perilaku hewan peliharaan, jangan segan untuk menghubungi dokter hewan.

Itulah serba-serbi memelihara hewan ketika hamil. Secara umum, memelihara kucing atau hewan lainnya saat hamil adalah hal yang aman. Bunda pun tak perlu menyingkirkan hewan peliharaan ketika menantikan si buah hati. 

Namun, jika Bunda memang sangat terpaksa berhenti memelihara hewan ketika memiliki bayi, pastikan Bunda mencarikan adopter yang mampu menyayangi mereka ya. Jangan telantarkan hewan peliharaan di jalan. Karena seperti kita, mereka pun butuh rumah dan keluarga.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kehamilan

Mengatasi Kekurangan Zat Besi pada Ibu Hamil

mm

Published

on

kekurangan zat besi

Apakah Anda sedang mencoba untuk hamil, sedang hamil, atau menjalani masa pemulihan pasca persalinan, kandungan zat besi dalam tubuh menjadi hal penting yang perlu terus dipantau oleh tenaga kesehatan. Apalagi, jika Bunda berisiko tinggi mengalami defisiensi anemia zat besi, tipe anemia yang paling sering ditemui.

Apa itu anemia zat besi? Ini adalah kondisi yang disebabkan oleh rendahnya kadar zat besi dalam tubuh. Anemia akan terjadi saat tubuh tidak dapat memproduksi cukup banyak sel darah merah, atau jika sel darah merah dalam tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik. 

Gejala Anemia Zat Besi 

Jika kadar zat besi dalam tubuh rendah, ibu hamil bisa mengalami beberapa gejala dan tanda berikut ini:

  • Cepat lelah 
  • Tangan dan kaki terasa dingin 
  • Pusing
  • Lesu 
  • Nyeri dada
  • Kulit pucat dan kuku rapuh 
  • Denyut jantung tidak beraturan
  • Sakit kepala 
  • Suhu tubuh rendah 
  • Napas pendek

Lantas, apa yang menjadi penyebab utama anemia zat besi? Pada umumnya, asupan zat besi yang kurang menjadi penyebab utama. Hal ini bisa terjadi jika pola makan yang Bunda terapkan tidak cukup menyertakan makanan yang kaya zat besi, terjadinya perdarahan, kondisi kesehatan tertentu seperti penyakit celiac atau Crohn’s yang menyebabkan tubuh sulit menyerap zat besi dari makanan, serta kurangnya suplementasi zat besi. 

Selain itu, anemia zat besi juga lebih sering dialami oleh perempuan daripada lelaki dan cenderung lebih banyak dialami oleh ibu hamil. 

Bagaimana Kehamilan Memicu Anemia Zat Besi?

Ketika hamil, tubuh memerlukan lebih banyak zat besi untuk pertumbuhan sel-sel tubuh yang mendukung perkembangan janin. Kebutuhan ini akan meningkat pada trimester kedua akhir. 

Menurut Dr. Matthew Cantor, dokter obstetri dan kebidanan di Rumah Sakit NewYork-Presbyterian Hudson Valley, AS, anemia zat besi ini terjadi pada ibu hamil karena dua alasan: 

  1. Volume darah ibu hamil meningkat tajam yang menyebabkan kadar zat besi dalam darah menjadi lebih encer 
  2. Perempuan yang mengalami anemia sebelum kehamilan biasanya akan terus mengalami anemia zat besi dan perlu dimonitor secara ketat oleh dokter. 

Ini Peran Penting Zat Besi dalam Kehamilan

Ibu hamil biasanya akan disarankan untuk mengonsumsi suplemen zat besi untuk mencegah terjadinya anemia. Pasalnya, zat besi punya peran yang sangat krusial selama kehamilan. Tubuh memerlukan lebih banyak darah untuk membantu menyuplai plasenta dengan nutrisi yang diperlukannya untuk tumbuh. Selain itu, zat besi juga diperlukan untuk membantu mencegah kondisi kesehatan yang dapat berpengaruh buruk terhadap ibu hamil maupun si kecil dalam kandungan. 

Seperti dinyatakan oleh American College of Obstetricians and Gynecologist (ACOG), ibu hamil disarankan mengonsumsi zat besi dua kali lebih banyak dibanding perempuan yang tidak hamil. Hal ini diperlukan untuk memastikan asupan oksigen ke janin tetap terpenuhi. 

Menurut Dr. Cantor, zat besi sangat penting perannya dalam kehamilan, karena hal berikut ini: 

  • Mengatasi anemia sebelum persalinan dapat mengkompensasi hilangnya darah selama proses persalinan normal. 
  • Kondisi anemia sebelum persalinan meningkatkan kemungkinan ibu hamil memerlukan transfusi darah. 
  • Lebih jauh lagi, ada keterkaitan antara anemia dan berat bayi lahir rendah, persalinan prematur, preeklampsia, dan angka kematian ibu hamil dan bayi baru lahir. Persalinan prematur maupun berat bayi lahir rendah meningkatkan risiko terjadinya masalah perkembangan selama masa kanak-kanaknya. 
  • Anemia dapat menimbulkan kesulitan saat menyusui dan juga dikaitkan dengan depresi pascapersalinan

Mengatasi Anemia Zat Besi sebelum Kehamilan

Jika anemia terdiagnosa sebelum kehamilan, penting bagi tenaga kesehatan untuk mencari tahu tipe anemia yang Bunda alami. Tenaga kesehatan yang menangani Bunda dapat melakukan beberapa pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya. Bisa jadi anemia ini disebabkan oleh kekurangan asam folat atau vitamin B12, serta mutasi sel darah merah atau thalassemia. 

Darah menstruasi yang deras juga bisa menjadi penyebab kekurangan zat besi yang kerap dialami oleh perempuan dalam usia produktif yang tidak hamil. Penanganan anemia sebelum kehamilan sama saja dengan saat hamil, yaitu dengan memperbaiki pola makan dan suplementasi zat besi. 

Mengatasi Anemia Zat Besi saat Hamil

Dokter akan melakukan pemeriksaan anemia di awal masa kehamilan dan kemudian diulangi di trimester kedua dan ketiga. 

Mendorong pola makan yang kaya kandungan zat besi bisa membantu mengatasi masalah. Akan tetapi, jenis sumber zat besi juga mempengaruhi penyerapannya. Misalnya saja, zat besi yang bersumber dari tanaman seperti sayuran hijau, kerang, kacang-kacangan, biji-bijian maupun polong-polongan kurang dapat diserap dengan baik. Disarankan untuk mengonsumsi zat besi dari makanan yang berasal dari hewan, misalnya daging merah, daging unggas dan ikan. Untuk membantu penyerapan zat besi, ibu hamil juga disarankan untuk mengonsumsi makanan sumber zat besi bersama makanan yang tinggi kandungan vitamin C. 

Mengingat pentingnya peran zat besi selama kehamilan, suplementasi zat besi merupakan hal yang wajib dilakukan. Suplemen zat besi ini bisa dikonsumsi setiap hari atau dua hari sekali. Dalam setiap kapsul suplemen terkandung 27 miligram zat besi, atau setara jumlah yang disarankan selama masa kehamilan. 

Jika kekurangan zat besi dialami selama trimester kedua kehamilan, dokter juga akan memberikan suplemen zat besi secara oral. Untuk membantu penyerapan zat besi dalam suplemen, sebaiknya dikonsumsi dalam keadaan perut kosong bersama jus jeruk. Sementara jika terdeteksi pada trimester ketiga, dan ditemukan kondisi anemia tidak membaik, bisa saja dokter menyarankan untuk suplementasi zat besi melalui infus. 

Anemia Zat Besi Pasca Persalinan

Setelah persalinan dan selama dua minggu sampai dua bulan pertama pascapersalinan, biasanya gejala anemia akan berkurang. Kejadian anemia memang mengalami penurunan setelah persalinan karena proses menyusui membuat perempuan tidak mengalami menstruasi. 

Meski demikian, beberapa perempuan masih mengalami anemia zat besi setelah persalinan. Hal ini biasanya disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi selama kehamilan dan banyaknya darah yang hilang saat proses melahirkan. Anemia yang terjadi pasca persalinan ini bisa meningkatkan gejala yang berkaitan dengan kecemasan, stres, dan depresi. Hal ini juga mengurangi keeratan ikatan antara ibu dan anak. 

Maka dari itu, suplemen tetap penting diberikan kepada ibu yang baru melahirkan. Suplementasi ini membantu mendukung proses menyusui dan mengurangi risiko depresi pasca persalinan pada ibu. 

Demikian penjelasan mengenai risiko anemia sebelum dan selama kehamilan, serta pasca persalinan, juga cara mengatasinya. Dengan mencegah anemia zat besi, Bunda juga menjaga kesehatan janin dan diri sendiri. Sepele, tapi penting artinya. Jadi, jangan sampai melewatkan pemeriksaan ini ya, Bunda. 

Continue Reading

Kehamilan

Benarkah Kram Perut saat Hamil Muda itu Wajar?

mm

Published

on

kram perut saat hamil muda

Ketika hamil, kram perut bisa menjadi momok. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan kejadian yang tidak normal, dari keguguran hingga kehamilan ektopik atau hamil di luar kandungan. Akan tetapi, pada beberapa kasus, sebenarnya kram perut saat hamil muda normal terjadi loh, Bun. Mengetahui mengapa kram terjadi, bisa mengurangi kecemasan yang Bunda rasakan.

Kram di awal kehamilan

Ada makhluk hidup yang berkembang di dalam janin. Itu artinya, tubuh Bunda pun akan mengalami perubahan-perubahan serius, bahkan di awal masa kehamilan. Rasa kram ini bisa disebabkan oleh meregangnya ligamen dan otot-otot yang menyokong rahim Bunda yang terus membesar. Ingatlah, sepanjang kehamilan ini ukuran rahim Bunda akan berkembang dari seukuran jeruk ke ukuran semangka. Peregangan otot tersebut, sangat mungkin menimbulkan rasa kram perut. 

Selain itu, beberapa hal umum yang menjadi penyebab kram perut di awal kehamilan adalah:

  • Implantasi: kram bisa menjadi tanda awal kehamilan. Saat telur yang sudah dibuahi mencari tempat untuk tinggal dan tumbuh, di dalam dinding rahim Bunda. Implantasi ini biasanya juga disertai dengan flek atau perdarahan minimal. Seiring bertambahnya usia kehamilan, rasa kram akan hilang, begitu pula flek dan perdarahan. 
  • Nyeri otot: di minggu ke-13 kehamilan, Bunda mungkin akan merasakan nyeri perut yang disebabkan oleh melebarnya ligamen yang menyokong perut. 
  • Gejala sakit perut: perubahan hormon selama kehamilan bisa mengganggu sistem pencernaan, membuat sistem ini berjalan lebih ‘malas’. Hal ini bisa menyebabkan timbulnya gas, kembung, dan sembelit yang tidak nyaman di perut.  
  • Hubungan seksual: semen mengandung banyak prostaglandin, yaitu hormon yang secara alami akan dilepaskan selama persalinan untuk membantu mulut rahim terbuka. Proses ini juga kerap dihubungkan dengan kontraksi, sehingga kram setelah berhubungan seks bukan mustahil dirasakan oleh Bunda. 

Meredakan rasa kram

Kram ini biasanya akan hilang dengan sendirinya, tapi jika tidak, Bunda bisa melakukan beberapa hal untuk mengurangi ketidaknyamanan. Cobalah untuk berbaring atau duduk, jika sebelumnya Bunda sedang berdiri atau berjalan. Jika Bunda sudah dalam kondisi berbaring, coba ganti posisi. Biasanya rasa kram akan perlahan hilang dengan sendirinya. 

Namun jika tidak, coba untuk mandi air hangat dan relaks. Hitung-hitung me time, Bun. Ingat, setelah melahirkan si kecil, kesempatan ini akan lebih sulit Bunda nikmati. Selain itu, Bunda juga bisa mencoba membungkuskan handuk hangat di area yang terasa kram. Pastikan Bunda juga cukup minum air putih ya. 

Jika kram terasa lebih serius

Walaupun kram yang dirasakan ibu hamil umumnya dalam skala ringan-sedang yang tidak perlu dikhawatirkan, pada beberapa kasus kram juga bisa menandakan adanya masalah yang lebih serius. Kram yang terasa sakit bisa menjadi tanda adanya kehamilan ektopik, yaitu kondisi saat telur yang sudah dibuahi berkembang di luar kantung rahim. Kram ini biasanya terasa tajam, seperti ada yang menusuk-nusuk dari dalam perut Bunda. Rasa nyeri akan dirasakan di perut bagian bawah dan biasanya tidak akan mereda jika Bunda berubah posisi. 

Rasa nyeri yang tajam dan intens juga bisa menandakan keguguran, namun biasanya kondisi ini juga disertai dengan pendarahan yang cukup serius. Dokter Anda perlu melihat situasinya secara menyeluruh untuk dapat menyimpulkan penyebab kram. Misalnya dengan melakukan pemeriksaan fisik, ultrasound (USG), dan pemeriksaan darah untuk menegakkan diagnosa. 

Kapan harus menghubungi dokter?

Bukan berarti Bunda harus menghubungi dokter atau bidan setiap kali merasakan nyeri atau kram perut saat hamil muda, ya Bunda. Meski demikian, agar Bunda merasa lebih nyaman dan tenang, tidak ada salahnya berkonsultasi ke dokter, terutama jika merasakan hal berikut ini:

  • Kram yang terasa mirip kontraksi dan berlangsung secara teratur: Jika Bunda mengalami nyeri kram selama enam kali atau lebih dalam satu jam, bisa jadi Bunda mengalami persalinan prematur. Segera hubungi dokter atau bidan ya, Bun. 
  • Kepala pusing dan terasa berputar, atau perdarahan: Di awal masa kehamilan, kombinasi dari gejala-gejala tersebut bisa menjadi tanda keguguran atau kehamilan ektopik, terutama jika nyeri yang dirasakan berasal dari satu sisi perut. 
  • Nyeri punggung: kondisi ini memang kerap dirasakan ibu hamil, namun jika nyeri punggung terasa amat parah disertai mual, muntah, dan atau demam, atau buang air seni terasa nyeri, maka ini adalah gejala penyakit serius seperti infeksi usus buntu, batu ginjal, atau penyakit kantung kemih. 

Segera hubungi dokter atau bidan jika mengalami kondisi seperti di atas ya, Bun. 

Continue Reading

Kehamilan

Cara Menghitung Berat Badan Janin yang Normal

mm

Published

on

menghitung berat badan janin

Ketika hamil dan menjalani pemeriksaan rutin di bidan atau dokter kandungan, salah satu yang dilihat untuk menilai perkembangan janin adalah berat badan dan ukurannya. Mengetahui berat badan janin dapat membantu tenaga kesehatan untuk mendeteksi dini kemungkinan adanya pertumbuhan berat janin yang tidak normal.  

Bagi tenaga kesehatan yang memeriksa kehamilan Bunda, berat badan janin sangat besar hubungannya dengan meningkatnya komplikasi selama masa persalinan dan nifas. Dengan mengetahui berat janin, penolong persalinan dapat memutuskan rencana persalinan apakah akan dilakukan secara spontan pervaginam atau tidak. 

Biasanya berat badan janin dapat diketahui melalui pemeriksaan ultrasonografi atau USG. Namun sebelum alat tersebut ditemukan, dokter atau bidan memperkirakan berat badan janin dengan cara manual melalui perhitungan atau rumus tertentu. Bagaimana caranya? 

Rumus Johnson

Rumus ini masih kerap digunakan bidan untuk memperkirakan berat badan janin. Sebelum menggunakan rumus ini, perlu dilakukan pengukuran tinggi fundus untuk mengetahui tinggi fundus uteri (TFU) atau puncak rahim. Pengukuran TFU dilakukan menggunakan alat ukur bernama methelin, dari titik nol di atas simfisis pubis sampai ke ujung tertinggi fundus uteri. 

Menentukan taksiran berat badan janin berdasarkan TFU merupakan pemeriksaan sederhana yang mudah dilakukan di fasilitas kesehatan yang belum memiliki fasilitas USG. 

Rumus Johnson adalah sebagai berikut: 

TBJ = (TFU – N) x 155 11 

Keterangan: 

TBJ = Taksiran Berat Janin 

TFU = Tinggi Fundus Uteri 

N = 13 bila kepala belum masuk PAP, 12 bila kepala masih berada di atas spina ischiadika, 11 bila kepala berada di bawah spina ischiadika

Rumus Risanto

Rumus ini ditemukan oleh Risanto Siswosudarmo dan diformulasikan berdasarkan penelitian yang dilakukannya pada populasi masyarakat Indonesia. Akan tetapi, rumus ini tidak digunakan secara luas oleh tenaga kesehatan.

Rumus Risanto adalah sebagai berikut: 

TBJ = 127.6 x TFU – 931,5

Keterangan: 

TBJ = Taksiran Berat Janin 

TFU = Tinggi Fundus Uteri

Formula Dare

Pada tahun 1990, Dare et al mengajukan formula untuk menghitung taksiran berat badan janin yang lebih mudah. Cara yang dipakai adalah dengan mengukur lingkar perut ibu dalam centimeter kemudian dikalikan dengan ukuran fundus uteri dalam centimeter. 

Formula Dare adalah sebagai berikut: 

TBJ = TFU x LP 13

Cara ini dianggap lebih mudah dan memiliki kemungkinan bias yang lebih sedikit dibandingkan metode lain, sehingga lebih banyak digunakan oleh berbagai kalangan. Formula ini juga dianggap memiliki nilai prediktif yang baik untuk bayi berat lahir rendah (BBLR). 

Ketahui Berat Badan Janin Normal sesuai Usia Kehamilan 

Berat janin akan berkembang terus dari minggu ke minggu. Sampai usia kehamilan 20 minggu, biasanya berat janin akan mencapai 250 gram. Memasuki usia kehamilan 20 minggu hingga 28 minggu, berat janin akan bertambah sampai 1,8 kg. Pertumbuhan berat janin akan menjadi lebih cepat di trimester ketiga, saat organ-organ tubuh janin sudah lengkap dan ia mulai menimbun lemak. Di trimester ketiga, sekitar usia 36 minggu, berat badan janin akan mencapai 2,5kg. 

Setelah mengetahui cara menghitung taksiran berat janin, Bunda dapat membandingkannya dengan tabel pertumbuhan berat badan normal yang tertera pada tabel di bawah ini:

Perlu diingat bahwa kondisi ibu dan janin tidaklah sama satu dengan yang lainnya. Mungkin pertumbuhan janin tidak selalu sesuai dengan tabel di atas. Tenaga kesehatan, baik dokter kandungan maupun bidan yang akan menentukan apakah berat janin dalam kandungan Bunda tergolong normal atau di bawah/atas normal.

Akan tetapi, dengan mengetahui berat badan janin berada di atas atau di bawah normal, tenaga kesehatan dapat meminta Bunda untuk mengatur pola makan untuk memastikan berat badan janin tidak jauh dari angka ideal. 

Itulah beberapa rumus yang dapat digunakan untuk menentukan berat janin. Meski demikian, pemeriksaan USG dapat Bunda lakukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat.

Continue Reading

Trending