fbpx
Connect with us

Menyusui

Jenis Benjolan di Payudara pada Ibu Menyusui

mm

Published

on

benjolan payudara
Selama menyusui, benjolan payudara bisa terjadi.

Tidak hanya ukuran payudara yang akan berubah selama Bunda menyusui si kecil, benjolan payudara saat menyusui pun kerap terjadi. Perubahan ini sesungguhnya wajar terjadi karena kelenjar payudara yang memproduksi air susu ibu ukurannya akan membesar selama masa menyusui. 

Akan tetapi, ada kalanya benjolan tak mau pergi walau Bunda sudah menyusui si kecil. Bahkan bisa jadi benjolan menetap selama beberapa hari. Saat ini terjadi, Bunda mungkin merasa tidak nyaman. Payudara terasa kencang dan berat, proses menyusui pun terhambat. Apakah hal ini wajar? 

Tenang saja Bun, kebanyakan benjolan payudara bukanlah kondisi serius yang biasanya akan hilang dalam beberapa hari. Meski demikian, waspada tetaplah perlu. Pasalnya pada beberapa kasus, benjolan ini bersifat berbahaya bahkan bisa menjadi tanda adanya kanker payudara. Itu sebabnya, Bunda perlu segera menemui dokter jika benjolan tak kunjung hilang meski lewat dari seminggu. 

Yuk Bun, cek benjolan payudara yang mungkin terjadi saat Bunda menyusui dan bagaimana cara mengatasinya.  

Jenis benjolan payudara pada ibu menyusui

Berikut ini adalah beberapa jenis benjolan payudara yang biasa dialami perempuan, terutama ibu menyusui. 

Saluran susu tersumbat 

Jika Bunda melihat titik-titik putih di bagian areola payudara dan merasakan payudara tidak mengeluarkan ASI selancar biasanya, maka mungkin Bunda mengalami sumbatan pada saluran ASI. Kondisi ini bisa terjadi jika saluran susu tidak mengalami pengosongan total lewat cara menyusui. Misalnya jika bayi tidak terlalu banyak menyusu, atau produksi ASI lebih banyak dibanding jumlah ASI yang diisap oleh si kecil. Selain itu, saluran bisa ASI bisa jadi tersumbat jika posisi menyusui kurang optimal dan bayi tidak menyusu secara sering dan teratur. 

Jika mengalami sumbatan pada saluran payudara, Bunda akan merasa payudara penuh, hangat, berat dan keras. Payudara pun terasa nyeri dengan gumpalan yang dapat teraba. Meski penuh, ASI tidak keluar sama sekali atau hanya keluar sedikit saat diperah. Tanda lainnya adalah si kecil merasa rewel saat disusui karena ASI tidak keluar. 

Untuk mengatasinya, Bunda bisa mengompres payudara dengan handuk atau waslap yang sudah direndam air hangat. Bunda juga bisa mengisi cangkir dengan air hangat, kemudian tempelkan cangkir tersebut pada benjolan payudara. Sambil menempelkan cangkir tersebut Bunda bisa melakukan gerakan memijat atau menekan. Cara ini dapat melancarkan saluran yang tersumbat. 

Setelah kompres hangat diterapkan, biasanya payudara akan terasa lebih lemas. Saat itulah Bunda bisa segera memerah payudara menggunakan pompa atau secara manual untuk mengeluarkan ASI yang tersumbat. Selain memerah, Bunda juga bisa memberikan payudara pada si kecil untuk diisap. 

Saat memerah atau menyusui, coba sedikit bungkukkan punggung agar payudara menggantung. Posisi ini membantu menarik ASI keluar. Mungkin ASI yang tersumbat tidak akan langsung keluar dengan sekali kompres, Bunda bisa mengulang-ulang prosesnya sampai payudara terasa enteng dan lemas. 

Biasanya Bunda akan menemukan tekstur ASI yang lebih kental keluar saat memerah payudara secara manual. Ya, tekstur kental itulah yang menahan ASI keluar dengan lancar. 

Mastitis 

Pada mastitis, benjolan payudara terasa panas dan merah. Biasanya mastitis juga disertai demam hingga 38 derajat Celcius. 

Infeksi pada payudara bisa terjadi jika ada bakteri yang masuk melalui saluran ASI melalui celah pada puting. Bakteri tersebut bisa berasal dari mulut bayi atau kotoran pada bra. Jika kondisi kekebalan tubuh Bunda baik, mastitis tidak akan terjadi, sebab daya tahan tubuh akan mencegah bakteri berkembang biak. Bunda yang mengidap penyakit seperti diabetes, penyakit kronis, AIDS, atau gangguan kekebalan tubuh lain, umumnya lebih rentan mengalami mastitis. 

Karena terjadi infeksi bakteri, untuk mengatasinya diperlukan obat-obatan antibiotik. Jadi, Bunda bisa segera berkonsultasi ke dokter untuk mendapat penanganan yang tepat ya. 

Kista

Benjolan bulat atau oval yang tidak berbahaya dan mengandung cairan. Terasa keras dan halus saat diraba dan biasanya akan berpindah-pindah posisinya di dalam payudara. Kista biasanya tidak menimbulkan masalah. Akan tetapi beberapa jenis kista perlu diangkat dengan cara bedah. Kista juga tidak akan memengaruhi produksi ASI dan proses menyusui. Untuk amannya, Bunda bisa memeriksakan benjolan tersebut ke fasilitas kesehatan terdekat ya. 

Payudara Fibrokistik 

Adalah adanya benjolan pada payudara diikuti perubahan tekstur payudara dan rasa nyeri payudara yang disebabkan oleh perubahan hormon selama siklus menstruasi yang memengaruhi jaringan payudara. Biasanya kondisi ini akan terasa lebih mengganggu beberapa hari sebelum menstruasi. Kondisi ini tidak memicu kanker dan juga tidak memengaruhi proses menyusui maupun produksi ASI. 

Lipoma

Benjolan payudara ini juga tidak bersifat kanker. Lipoma adalah jaringan lemak di dalam payudara yang tumbuh secara perlahan. Benjolan ini cenderung lunak dan tidak menyebabkan sakit. 

Hematoma

Hematoma adalah gumpalan darah di bawah jaringan kulit payudara yang disebabkan oleh benturan atau bedah. Ukurannya bisa kecil atau besar. Biasanya Anda akan merasakan sensasi nyeri di sekitar benjolan, bisa juga berwarna merah dan bengkak. Jika gumpalan darah tersebut berada dekat permukaan kulit, akan terlihat memar. 

Kanker payudara

Dari sekian banyak kasus benjolan pada payudara, hanya sebagian kecilnya disebabkan oleh kanker payudara. Benjolan akibat kanker payudara biasanya keras dan tidak terasa nyeri. Jika diraba, Bunda akan sulit menemukan pinggir atau tepiannya. Selain itu, benjolan akan terasa seperti tertambat jaringan payudara di sekitarnya, menyebabkan benjolan ini sulit bergerak di dalam jaringan payudara. Jika Bunda merasakan gejala ini, jangan menunda untuk memeriksakannya ke fasilitas kesehatan terdekat ya, Bun. 


Itulah penjelasan mengenai benjolan pada payudara yang bisa terjadi pada ibu menyusui. Semoga penjelasan di atas dapat memberi sedikit gambaran mengenai benjolan payudara yang Bunda rasakan. Jika benjolan tidak juga mereka lebih dari seminggu, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter ya, Bun.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Air Susu Ibu

Ini yang Dapat Memengaruhi Rasa ASI Bunda

mm

Published

on

rasa asi

Bunda pernah penasaran nggak sih dengan rasa ASI yang Bunda produksi? Secara umum, rasa air susu ibu cenderung manis dan sedikit gurih. Meski demikian, seperti pada umumnya kita menerima rasa, setiap orang memiliki selera tersendiri. Dan seperti makanan lainnya, air susu ibu bisa diterima dengan rasa yang berbeda-beda oleh setiap orang. 

Rasa manis dan gurih Air Susu Ibu 

Pernah bertanya-tanya kenapa rasa air susu ibu cenderung manis? Ya, ASI mengandung laktosa susu. Memang, laktosa bukanlah tipe gula yang paling manis. Ada banyak jenis laktosa lain dengan kadar manis yang lebih tinggi dari ASI. Laktosa merupakan salah satu kandungan utama dalam air susu ibu, sehingga memberi rasa manis dalam susu ini.

Selain laktosa, ASI juga mengandung lemak. Kandungan lemak dalam susu ini memberi rasa gurih. Kandungan lemak ini akan muncul di produksi ASI bagian akhir (hindmilk), sementara awalnya ASI yang mengalir dari payudara Bunda mengandung lebih sedikit lemak (foremilk). 

Apa yang memengaruhi rasa ASI?

Selain rasa manis dan gurih, rasa air susu ibu juga dipengaruhi rasa makanan yang Bunda konsumsi setiap hari. Ketika Bunda mengonsumsi pola makan bergizi seimbang yang padat dengan sayur-sayuran dan buah-buahan, si kecil juga akan ‘mencicipi’ makanan sehat ini. 

Banyak ahli percaya, ketika si kecil tumbuh semakin besar dan mulai mengonsumsi makanan padat, ia akan lebih siap menerima makanan yang sudah dicicipinya melalui ASI. 

Selain makanan, hal ini juga memengaruhi rasa ASI

Perubahan rasa ASI juga bisa terjadi karena beberapa hal di bawah ini. Reaksi bayi terhadap rasa ASI yang berbeda juga akan bervariasi, ada yang menerimanya dengan baik, ada pula yang cenderung menyusui lebih sedikit, bahkan mogok menyusui.

Hormon

Perubahan tingkat hormon dalam tubuh, utamanya menjelang usai masa nifas, bisa mempengaruhi rasa air susu ibu loh, Bun. Tapi jangan salah kira, menyusui dapat tetap dilakukan ketika Bunda sedang menstruasi, kok. Begitu pula ketika Bunda hamil lagi, menyusui masih dimungkinkan asal Bunda tidak mengalami penyulit. 

Olahraga 

Meningkatnya asam laktat dan produksi keringat di kulit payudara yang timbul akibat olahraga berat bisa mengubah rasa ASI. Selama si kecil tidak masalah dengan perubahan rasa ini, olahraga bisa tetap dilakukan ya Bun. Tetapi jika si kecil terganggu, cobalah untuk berolahraga ringan-sedang saja. Selain itu coba lap keringat pada payudara Bunda sebelum mulai menyusui. 

Obat-obatan

Beberapa obat-obatan bisa mengubah rasa air susu Bunda. Jika Bunda baru mengonsumsi obat baru dan melihat si kecil tidak menyusui selahap biasanya, bisa jadi obat tersebut penyebabnya. Konsultasikan hal ini dengan dokter ya, Bun. 

Merokok

Penelitian menunjukkan bahwa air susu yang diproduksi seseorang setelah merokok akan mengandung rasa dan bau dari rokok tersebut. Jika Bunda merokok, sebaiknya lakukan setelah menyusui si kecil dan cobalah untuk tidak merokok setidaknya dua jam sebelum menyusui kembali.  

Alkohol 

Minum alkohol juga diketahui dapat memengaruhi rasa air susu ibu. Diperlukan waktu dua jam bagi alkohol yang dikonsumsi untuk keluar dari tubuh. Jika memang Bunda sulit untuk meninggalkan konsumsi alkohol, cobalah untuk menunggu setidaknya dua jam untuk menyusui atau memerah ASI. 

ASI Beku 

ASI perah atau ASIP beku yang dilumerkan bisa terasa dan berbau seperti sabun. Tak perlu khawatir, ASI yang dicairkan ini masih aman diberikan kepada si kecil. Hanya saja, mungkin ia tidak akan terlalu suka dengan rasa dan baunya. 

Mastitis

Mastitis adalah kondisi infeksi pada payudara yang dapat menyebabkan air susu memiliki rasa yang asin. Jika Bunda mengalami kondisi ini, tetaplah menyusui. Meski demikian, si kecil mungkin akan menolak menyusu pada sisi payudara yang mengalami infeksi. Ketika mengalami mastitis, Bunda perlu mengonsumsi antibiotik untuk mengatasinya. Sebab itu, sebaiknya konsultasi dengan dokter untuk penanganan yang tuntas. 

Produk perawatan tubuh

Lotion, krim, sabun, parfum, minyak aromaterapi, atau salep yang diaplikasikan di area payudara juga bisa memengaruhi rasa asi ya, Bun. Jika mengenakan salah satu dari produk tersebut, pastikan Bunda membersihkan area kulit di sekitar payudara sebelum menyusui si kecil. 

Untuk memastikan kualitas ASI, terutama asi perah, tidak masalah jika Bunda mencicipi air susu sendiri. Pencicipan ini juga bisa dilakukan oleh suami atau anggota keluarga lain, namun pastikan mereka mencoba di wadah terpisah dari yang akan digunakan untuk memberi ASI ke si kecil, ya.

Continue Reading

Menyusui

Bunda, Begini Cara Memenuhi Kebutuhan ASI Bayi Baru Lahir

mm

Published

on

Kebutuhan ASI bayi baru lahir dapat dipenuhi dengan cara ini.

Bunda, selamat atas kelahiran si kecil! Kini waktunya memberikan ia ASI eksklusif selama 6 bulan. Tahukah, Bun, perjalanan Bunda dalam memberikan ASI selama 6 bulan ini akan sangat ditentukan oleh pemberian ASI di awal-awal masa kelahiran bayi hingga 5 hari pertama saat tubuh Bunda sedang belajar memproduksi ASI. 

Meski keberhasilan pemberian ASI sangat ditentukan oleh periode 5 hari pertama, bukan berarti dalam 5 hari ini ASI Bunda akan langsung melimpah, ya. Produksi ASI akan menyesuaikan dengan kebutuhan ASI bayi baru lahir. Jadi, tidak perlu langsung stres dan menyerah jika di awal pasca-persalinan ASI Bunda hanya keluar sedikit. Pasalnya, kebutuhan ASI si kecil di awal masa kelahirannya juga baru sedikit kok.

Supaya Bunda tak khawatir dan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan bisa sukses, ketahui dulu yuk jumlah kebutuhan ASI bayi baru lahir, lengkap dengan cara memenuhinya.

Kebutuhan ASI Bayi Baru Lahir

Hari Pertama Kelahiran

Pada 24 jam pertama setelah lahir, perut bayi hanya berukuran sebesar buah cherry. Mungil sekali, kan? Oleh karena itu, kebutuhan ASI-nya pun belum terlalu banyak. Si kecil hanya bisa menampung 5-7 ml ASI atau sekitar 1-1,5 sendok teh tiap menyusu dengan frekuensi menyusu 8-10 kali sehari.

Hari Ketiga Kelahiran

Di hari ketiga, perut bayi sudah berkembang menjadi sebesar kenari dan mampu menampung ASI hingga 22-27 ml per sekali menyusu. Frekuensi menyusunya masih sama, yakni 8-10 kali sehari.

Minggu Pertama Kelahiran

Nah, di minggu ini, ukuran perut bayi sudah bertambah lagi menjadi sebesar aprikot dan mampu menampung ASI sebanyak 45-60 ml per sesi menyusu. Hingga 1 minggu, frekuensi menyusu bayi masih sama ya, Bun, yakni 8-10 kali sehari.

Minggu Kedua Kelahiran

Di minggu kedua, perut bayi sudah bertumbuh menjadi sebesar telur dan mampu menampung ASI sebanyak 80-150 ml per sesi menyusu. Meski demikian, bukan berarti setiap menyusu, bayi PASTI memerlukan jumlah itu. Pada dasarnya kebutuhan ASI setiap bayi berbeda, ya Bun. Frekuensi menyusu dalam sehari pun masih sama.

Cara Memenuhi Kebutuhan ASI Bayi Baru Lahir

Beberapa Jam Setelah Melahirkan

Setelah melahirkan, hal terpenting yang perlu Bunda lakukan untuk memenuhi kebutuhan ASI si kecil adalah melakukan skin to skin contact. Inilah mengapa Bunda disarankan melakukan IMD atau inisiasi menyusui dini. Bunda yang melahirkan secara per vaginam maupun caesar dapat melakukan ini. Saat melakukan IMD, perhatikan pula apakah bayi dapat melekat dengan baik di payudara Bunda? Jika si kecil terlihat mengalami kesulitan, coba konsultasikan dengan dokter atau konselor laktasi ya, Bun, karena bayi baru lahir pun biasanya sudah memiliki insting untuk menyusu.

Hari Pertama Hingga Ketiga Setelah Melahirkan

Bila Bunda masih dirawat di RS atau klinik hingga hari ketiga, usahakan agar si kecil dapat dirawat gabung, ya. Dengan demikian, jika si kecil butuh menyusu, Bunda bisa cepat memenuhinya. Mulut yang bergerak-gerak dan bibir yang mengerucut seperti sedang mengisap sesuatu adalah tanda ia ingin menyusu.

Di waktu-waktu ini, perbanyak pula skin to skin contact. Dan yang terpenting, hindari pemberian dot. Entah dalam bentuk empeng/pacifier ataupun botol. Ini dapat membuat bayi bingung puting nantinya dan sulit melekat dengan tepat di payudara Bunda. Bila kondisi Bunda tak memungkinkan untuk secara langsung memberikan ASI dari payudara, gunakanlah cup feeder atau sendok teh.

Hari Ketiga Hingga Kelima Setelah Melahirkan

Di masa ini, ASI yang tadinya baru keluar sedikit kini mulai melimpah. Jadi, jangan terserang panik jika pada hari pertama atau kedua setelah melahirkan ASI Bunda baru keluar sedikit ya. Keluarnya ASI pada hari ketiga sampai kelima setelah melahirkan bisa tiba-tiba membanjir, tapi seringnya bertambah banyak secara bertahap.

Susuilah si kecil lebih sering untuk menghindari penumpukan ASI di payudara. Pasalnya, jika ASI dibiarkan menumpuk di payudara, Bunda bisa mengalami pembengkakan yang pastinya membuat tidak nyaman. Bila si kecil lebih banyak tidur, Bunda bisa mengeluarkan ASI dengan cara memompanya untuk disuapkan ke si kecil nanti dengan sendok atau cup feeder. Jika payudara mulai terasa kencang dan tidak nyaman, kompreslah dengan air dingin.

Hari Kelima Hingga Hari Ketujuh Setelah Melahirkan

Setelah hampir seminggu, wajarnya Bunda sudah menemukan irama menyusui yang pas. Di masa ini, penting bagi Bunda untuk dapat mengenali tanda bayi perlu menyusu. Tandanya tak selalu tangisan loh, Bun. Bibir mengerucut saja seperti mengemut sesuatu adalah tanda ia butuh minum.

Hingga masa ini, biasanya bayi akan menyusu sebanyak 10 kali dalam waktu 24 jam. Kapan saja jadwalnya? Ikuti saja kemauan si kecil, Bun. Karena berbeda bayi, berbeda pula kebiasaannya. Ada bayi yang meminta makan beberapa kali dalam waktu singkat lalu terlelap selama beberapa jam, ada pula yang secara konsisten meminta makan setiap beberapa jam sekali. Pokoknya, percaya saja padanya.

Seminggu Setelah Melahirkan dan Seterusnya

Setelah satu minggu berlalu, yang terpenting untuk memenuhi kebutuhan ASI si kecil adalah dengan sebisa mungkin menghabiskan banyak waktu dengannya. Pasalnya, si kecil akan ingin berlama-lama berada di dekat Bunda. Jangan terobsesi mengerjakan segalanya sendiri. 

Manfaatkanlah bantuan yang bisa diberikan oleh orang lain, entah dari pasangan, orang tua, keluarga, atau pun kerabat, untuk mengurus rumah agar Bunda dapat menghabiskan waktu lebih lama dengan si kecil. Waktu yang Bunda habiskan bersamanya, tidak hanya meningkatkan produksi ASI tapi juga mempererat ikatan antara Anda berdua. Percayalah, saat masa menyusui itu telah berlalu, Bunda akan mengenangnya dengan manis. Selamat menyusui ya, Bunda!

Continue Reading

Air Susu Ibu

Inisiasi Menyusui Dini: 1 Jam Pertama Penentu Kesuksesan Menyusui

mm

Published

on

inisiasi menyusui dini
Inisiasi menyusui dini di satu jam pertama menentukan kesuksesan menyusui.

Air susu ibu atau ASI adalah makanan yang sangat penting bagi bayi baru lahir. Di dalamnya, terdapat banyak kandungan nutrisi yang sangat dibutuhkan bayi. Itulah mengapa, WHO menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan bayi. Artinya, dari usia 0-6 bulan, bayi hanya mengonsumsi ASI tanpa dikombinasi dengan makanan apapun. Ini akan memberinya gizi dan imun yang cukup. 

Namun, tahukah Bunda? Selain pemberian ASI, ada hal lain yang dapat menentukan kecukupan nutrisi si kecil. Kita mengenalnya dengan IMD atau inisiasi menyusui dini.

Inisiasi menyusui dini adalah pemberian ASI dari ibu ke bayi pada kurun waktu satu jam pertama setelah persalinan. Proses menyusuinya diberikan langsung dari ibu ke bayi, bukan dengan bantuan botol atau cup feeder ya, Bun. Yuk, cari tahu mengapa inisiasi menyusui dini penting untuk diberikan.

Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan Kolostrum

Tahukah, Bunda? Kampanye IMD ini sangat didukung oleh WHO, loh. Bukan tanpa sebab, susu yang keluar dari payudara Bunda pada satu jam pertama setelah kelahiran bayi rupanya adalah kolostrum atau “first milk”  yang disebut-sebut sebagai makanan sempurna bagi bayi baru lahir.  

Tak hanya nutrisi, kolostrum juga dapat membentuk imun bagi bayi. Tekstur kolostrum ini berbeda dengan ASI loh, Bun. Kolostrum biasanya lebih lebih kental dan berwarna kuning keemasan.

Disebutkan WHO, konsumsi kolostrum pada satu jam pertama kelahirannya berpotensi membuat bayi akan terus menyusu sehingga malnutrisi bisa dihindari. Ada setidaknya 170 juta anak yang memiliki berat badan di bawah standar di seluruh dunia dan 3 juta di antaranya tewas tiap tahunnya. Angka yang cukup fantastis ya, Bun? Namun, tahukah, Bunda? Menurut sebuah studi yang diterbitkan oleh jurnal Pediatrics, 41% bayi yang meninggal dunia di bulan pertama kehidupannya seharusnya bisa diselamatkan dengan pemberian kolostrum di satu jam pertama kelahiran. 

Satu hal lagi yang perlu Bunda tahu. Inisiasi menyusui dini rupanya tak hanya bermanfaat bagi bayi, tapi juga bermanfaat bagi Bunda. Seperti dilansir dari medicalnewstoday.com, pemberian kolostrum kepada bayi di satu jam pertama setelah persalinan dapat meningkatkan produksi ASI. Senang kan, Bun?

Dampak IMD terhadap Kondisi Psikologis Bayi

Selain karena kolostrum, IMD juga penting karena saat melakukan ini Bunda akan secara otomatis melakukan skin to skin contact dengan bayi. Menurut WHO, skin to skin contact ketika bayi baru lahir mampu meningkatkan kemungkinan suksesnya ASI eksklusif, paling tidak dalam kurun waktu 1-6 bulan. Bayi yang melakukan skin to skin contact dengan ibunya setelah persalinan juga terbukti lebih jarang menangis dan lebih sering berinteraksi dengan ibunya, loh.

Mengapa demikian? Menurut Ketua International Lactation Consultant Association (ILCA), Rebecca Mannel, bayi yang baru lahir berada dalam kondisi tenang dan siap untuk belajar hal baru. Bayi pun siap mengeksplorasi lingkungan dengan kelima inderanya. Ketika Bunda memeluknya di kondisi ini, ia akan mempelajari wajah serta suara Bunda. Ia juga akan mengasosiasikan suara dengan wajah Bunda. Nalurinya pun akan bekerja untuk menemukan payudara Bunda hingga ia merasakan susu yang keluar dari payudara.

Selain itu, Mannel juga mengungkapkan bahwa bayi yang melakukan skin to skin contact dengan ibunya sesaat setelah persalinan akan tetap merasa hangat. Tahu kan Bun kalau suhu ruangan sekitar 2 hingga 3 derajat lebih rendah daripada suhu rahim sehingga bayi kerap merasa kedinginan saat dilahirkan? Nah, dengan melakukan kontak kulit ke kulit, Bunda akan membantunya tetap merasa hangat. Ia pun jadi lebih mampu meregulasi jantung, pernapasan, serta tidak terlalu merasa kesakitan. Efeknya, bayi akan lebih tenang dan jarang menangis.

Itulah, Bun, beberapa hal penting terkait IMD. Agar bisa melakukan IMD setelah persalinan, komunikasikan ini dengan fasilitas kesehatan Bunda, ya. Masukkan dalam birth plan agar dokter atau bidan tahu yang Bunda inginkan selama persalinan. Good luck!

Continue Reading

Trending