fbpx
Connect with us

Kesehatan

Ini Panduan Perawatan Bayi Baru Lahir di Tengah Pandemi Covid-19

mm

Published

on

Ini panduan perawatan bayi baru lahir di tengah pandemi COVID-19.

Di tengah pandemi Covid-19, banyak kebiasaan maupun prosedur yang perlu disesuaikan dengan aktivitas kita sehari-hari. Tidak saja tata cara persalinan yang aman, penanganan bayi baru lahir juga penting untuk diperhatikan. 

Selain membawa kebahagiaan, kehadiran bayi baru di dalam keluarga tak ayal juga membawa kekhawatiran, khususnya bagi orang tua baru. Layaknya masa perkenalan, banyak hal yang perlu dipelajari dan disesuaikan untuk merawat si bayi. Apalagi, kondisi pandemi Covid-19 membawa banyak perubahan pada kebiasaan menjalani keseharian. Otomatis, orang tua baru harus menyesuaikan diri terhadap dua kondisi. 

Lalu apa yang perlu dilakukan oleh orang tua baru? Adakah tata cara yang perlu disesuaikan? Berikut ini penjelasannya ya, Bun. 

Pertama-tama, pastikan pemberian ASI dilakukan segera

Bayi baru lahir tidak serta merta memiliki daya tahan tubuh. Air susu ibu adalah satu-satunya asupan nutrisi bagi bayi yang juga akan membantu membentuk daya tahan tubuhnya. Itu sebabnya, pemberian ASI eksklusif ini menjadi lebih penting di tengah pandemi COVID-19. Jika Bunda terbukti tidak mengidap Covid, maka Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dapat segera dilakukan setelah si kecil lahir ke dunia. IMD dapat membantu produksi ASI dan juga membangun daya tahan tubuh bayi baru lahir.

Bagaimana jika ibu mengidap Covid-19? Hingga saat ini, penularan virus dari ASI yang diberikan kepada bayi, masih belum terbukti. Sehingga, lembaga kesehatan dunia WHO menyarankan pemberian ASI tetap dilakukan pada ibu menyusui yang mengidap Covid-19. Akan tetapi, beberapa fasilitas kesehatan mungkin akan menerapkan prosedur yang berbeda. Jadi pastikan Bunda sudah paham mengenai prosedur tersebut sebelum memilih fasilitas kesehatan untuk melahirkan. 

Apakah bayi baru lahir perlu dites Covid-19? 

Ibu yang akan melahirkan wajib menjalani pemeriksaan Covid-19. Jika ditemukan bahwa ibu positif, maka bayi yang baru dilahirkan perlu menjalani tes swab. Begitu pula bayi yang baru lahir dari ibu dengan gejala klinis Covid-19, wajib melakukan tes swab. Selain itu, bayi baru lahir dari pasien dan suspek perlu menjalani dua kali tes swab dengan hasil negatif untuk diperbolehkan pulang dari rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang menangani kelahiran tersebut. 

Jika ternyata Bunda tidak mengidap Covid-19, maka penanganan persalinan dan perawatan bayi baru lahir dapat dilakukan dengan prosedur yang sama, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan untuk mengurangi risiko penularan. 

Segera lakukan imunisasi bayi baru lahir 

Selain ASI, daya tahan tubuh bayi juga perlu dibangun dengan imunisasi. Bayi baru lahir perlu mendapatkan imunisasi hepatitis B dan polio. Imunisasi hep-B memberikan kekebalan tubuh yang melindungi si kecil dari penyakit hepatitis B. Imunisasi ini dilakukan segera setelah bayi lahir dan pada saat usia bayi 1-2 bulan untuk dosis kedua, dilanjutkan saat bayi berusia 6-18 bulan untuk dosis ketiga. 

Sementara imunisasi polio diberikan untuk mencegah bayi terkena penyakit polio ya, Bun. Penyakit ini termasuk penyakit berbahaya yang bisa menyebabkan kelumpuhan dan kecacatan. Imunisasi polio diberika sebanyak 4 kali, yakni saat bayi baru lahir, usia 2 bulan, usia 4 bulan, usia 6 bulan, usia 18-24 bulan dan diulang pada saat si kecil berusia 5-6 tahun.

Perhatikan dan terapkan prosedur pemberian vaksin yang aman ya, Bun. Bunda dapat melakukan imunisasi di Puskesmas jika memang fasilitas kesehatan tersebut memisahkan pemberian layanan kesehatan ibu dan anak dengan pasien Covid-19 atau umum. Jika tidak, Bunda juga bisa membawa si kecil ke praktik bidan mandiri yang menyediakan imunisasi. Ada baiknya tidak menunda pemberian imunisasi untuk memastikan si kecil memiliki daya tahan tubuh yang kuat, yang penting dimiliki khususnya di masa pandemi seperti ini. 

Jaga kontak bayi dengan orang atau dunia luar

Saat pandemi seperti sekarang ini, tempat paling aman bagi bayi baru lahir adalah di dalam rumah. Bagaimana jika ada yang akan menjenguk? Meski tradisi ini lazim dilakukan, bayi bisa saja terpapar virus corona dari penjenguk yang tidak bergejala. Ada baiknya ayah dan bunda dengan tegas menolak permintaan tersebut. Menghindari kontak merupakan salah satu cara paling efektif untuk menjaga bayi dari paparan virus corona. 

Anjurkan kerabat untuk menjenguk bayi secara virtual melalui video call yang bisa dilakukan secara personal ataupun kelompok. Untuk tidak mengurangi kesan, kado atau bingkisan makanan juga bisa dikirim melalui kurir. Aman dan tetap berkesan, kan? 

Pastikan ketersediaan kebutuhan dasar dan dukungan moral

Pastikan kebutuhan dasar bayi seperti popok, tisu basah, dan juga perlengkapan mandi dan sanitasinya. Sediakan dalam jumlah yang cukup banyak, namun tidak berlebihan, agar ayah dan bunda tidak perlu sering-sering keluar rumah untuk membelinya. Jika memungkinkan, beli kebutuhan tersebut di toko online. 

Jika ayah dan bunda tinggal berdua saja di dalam rumah, mungkin kehadiran bayi baru bisa membuat orang tua kewalahan. Kehadiran kerabat atau asisten rumah tangga mungkin bisa membantu meringankan beban. Akan tetapi, pastikan siapa pun yang memegang si kecil, terjaga kebersihannya dan dapat Bunda percaya ya. 

Itulah beberapa saran perawatan bayi baru lahir di tengah pandemi Covid-19. Selama masa ini, orang tua memang perlu menerapkan kehati-hatian ekstra untuk menjaga kesehatan keluarga. Akan tetapi, dengan tetap patuh pada protokol, risiko penularan bisa ditekan serendah mungkin. Jadi, tetap waspada ya, Bunda.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kesehatan

Imunisasi Rutin di Masa Pandemi? Begini Rekomendasinya

mm

Published

on

imunisasi di masa pandemi
Imunisasi di masa pandemi tetap dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Dikutip dari penjelasan WHO, imunisasi adalah langkah penting bagi kesehatan masyarakat, khususnya untuk menangkal penyakit-penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga menyampaikan bahwa imunisasi dapat menyelamatkan kita dari berbagai penyakit berbahaya, seperti cacar, tuberkulosis, atau tetanus. Karena itulah, penting bagi kita untuk melakukan imunisasi secara rutin. Tidak hanya anak-anak loh, Bun, yang disarankan melakukan imunisasi secara rutin, orang dewasa khususnya ibu hamil pun demikian.

Lantas, bagaimana pemberian imunisasi dilakukan di masa pandemi Covid-19 seperti ini? Bukankah kita diimbau untuk tidak terlalu sering pergi ke fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit, klinik, atau puskesmas, karena merupakan tempat penyebaran virus? Tahukah, Bun? Saking pentingnya, imunisasi tetap disarankan untuk diberikan selama masa pandemi ini demi kesehatan bersama, loh.

Lalu, bagaimana Bunda dan si kecil bisa mendapatkan imunisasi rutin dan tetap aman dari virus di lain sisi? Ini jawabannya.

Rekomendasi Imunisasi di Masa Pandemi

Imunisasi rutin, seperti vaksin hepatitis B untuk anak atau vaksin tetanus bagi ibu hamil, tidak disarankan untuk ditunda walau masa pandemi Covid-19. Ini demi menghindari risiko infeksi saat jeda waktu pemberian vaksin. Namun, kala Bunda memutuskan untuk pergi ke fasilitas kesehatan demi mendapatkan pelayanan imunisasi, perhatikan hal-hal berikut ini, ya.

Hal yang Perlu Diperhatikan

  • Pilih fasilitas kesehatan dengan cermat. Pastikan fasilitas kesehatan yang Bunda tuju memiliki ruang pemeriksaan maupun ruang tunggu yang luas dengan sirkulasi udara yang baik.
  • Perhatikan apakah fasilitas kesehatan terjaga kebersihannya dan senantiasa membersihkan ruang pemeriksaan dengan cairan desinfektan sebelum dan sesudah pemeriksaan.
  • Pastikan fasilitas kesehatan yang Bunda tuju menyediakan area cuci tangan, lengkap dengan sabun dan air mengalir.
  • Selalu jaga jarak dengan pasien lain sejauh 1-2 meter. Fasilitas kesehatan yang baik biasanya telah memberikan tanda pada kursi tunggu agar pasien terjaga jaraknya. Patuhi tanda ini ya, Bun.
  • Pada H-1 jadwal pemberian imunisasi, hubungilah fasilitas kesehatan yang Bunda tuju. Tanyakan apakah faskes membatasi jumlah pasien dalam sehari dan pastikan apakah Bunda bisa masuk ke dalam kuota. Pasalnya, di masa pandemi seperti ini, beberapa fasilitas kesehatan kerap membatasi jumlah pasien untuk menghindari kerumunan.
  • Pastikan tubuh Bunda atau si kecil sehat saat hendak diberikan imunisasi. Pun, pastikan Bunda atau si kecil tidak memiliki riwayat kontak erat dengan pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Ini demi melindungi diri Bunda dari efek samping imunisasi dan demi melindungi tenaga kesehatan yang akan memberikan imunisasi pada Bunda.
  • Bagi ibu hamil, jika vaksin yang disarankan seperti tetanus tertunda pemberiannya karena fasilitas kesehatan tutup atau terbatas, segera lakukan di kunjungan berikutnya.
  • Jangan lupa menggunakan masker dan selalu membersihkan tangan sebelum dan sesudah memasuki fasilitas kesehatan.

Peran Bunda dalam Imunisasi Si Kecil di Masa Pandemi

Nah, jika Bunda pergi ke fasilitas kesehatan untuk memberikan imunisasi bagi si kecil, ada beberapa hal lainnya yang perlu Bunda perhatikan demi kesehatan dan keselamatan Bunda sebagai pengantar maupun si kecil sebagai penerima vaksin. Ini dia, Bun.

  • Pastikan si kecil dalam keadaan sehat saat hendak diimunisasi dan tidak memiliki riwayat kontak erat dengan pasien kasus konfirmasi maupun kasus suspek Covid-19. Jika si kecil memiliki riwayat ini atau ada riwayat demam, flu, dan batuk, laporkan kepada tenaga kesehatan. Konsultasikan mengenai kemungkinan jadwal pengganti imunisasi.
  • Gunakan masker kain yang bersih saat Bunda mengantar si kecil ke faskes. Anak di bawah usia 2 tahun tidak perlu menggunakan masker agar tak kesulitan bernapas. Pastikan saja Bunda menjaga jarak dengan orang lain selama berada di faskes.
  • Sesampainya di faskes, segera cuci tangan.
  • Setelah imunisasi diberikan, tunggu selama 30 menit sebelum pulang. Duduk di area yang memiliki sirkulasi udara baik dan tetap menjaga jarak. Jangan berjalan-jalan ke wilayah lain faskes selama menunggu untuk menghindari virus. Jika dalam waktu 30 menit anak tidak menunjukkan alergi ataupun reaksi lainnya yang berbahaya, segeralah pulang.
  • Sesampainya di rumah, bersihkan diri dan si kecil. Ganti seluruh pakaian yang Bunda kenakan ke faskes. Begitu pula dengan si kecil. Ganti pakaian, bedong, kain gendongan, ataupun selimut yang digunakan ke faskes. 
  • Hubungi segera petugas kesehatan jika terdapat keluhan setelah imunisasi.

Bunda, itulah rekomendasi imunisasi di masa pandemi. Bila ingin lebih aman, Bunda bisa memanfaatkan pelayanan imunisasi drive-thru yang kini telah disediakan oleh beberapa fasilitas kesehatan. 

Puskesmas Keliling

Pemerintah sendiri menyediakan layanan puskesmas keliling untuk memudahkan pemberian imunisasi. Imunisasi lewat puskesmas keliling tentu lebih aman karena biasanya dilakukan di tempat terbuka dan luas serta menjangkau pasien dalam wilayah yang lebih terbatas. Hanya saja, Bunda memang harus rajin-rajin mengecek jadwalnya dengan menghubungi puskesmas setempat untuk tahu kapan puskesmas keliling akan menyambangi wilayah Bunda. Tetap semangat untuk melakukan imunisasi di masa pandemi ini, Bun.

Continue Reading

Kesehatan

Bayi Kuning Apa Penyebabnya? Apakah Berbahaya?

mm

Published

on

bayi kuning
Bayi kuning hanya persoalan fisiologis saja.

Jaundice atau ikterus seperti disebutkan dalam situs IDAI.or.id, adalah pewarnaan kuning yang tampak pada sklera (bagian putih mata) dan kulit yang disebabkan oleh penumpukan bilirubin. Bilirubin adalah produk dari pemecahan sel darah merah normal dan inilah yang membuat warna kuning pada bayi ikterus. Bilirubin terdapat direk dan indirek. Kondisi ini, menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) terjadi pada 60 persen bayi lahir cukup bulan dan 80 persen bayi prematur pada minggu pertama setelah lahir.

Ikterus biasanya muncul pada wajah dan kemudian mulai turun ke bagian tubuh seperti dada, perut, lengan, dan kaki. Pada bayi dengan kulit yang lebih gelap, ikterus akan lebih sulit untuk dideteksi. Jika diduga mengalami ikterus, dokter akan melakukan pemeriksaan darah untuk mengukur kadar bilirubin dalam darah.

Apa Penyebabnya?

Penyebab bayi tampak kuning adalah adanya penumpukan bilirubin. Selama dalam kandungan, bilirubin bayi akan dikeluarkan oleh plasenta ibu. Namun, setelah bayi dilahirkan maka ia harus melakukan pengeluaran bilirubin oleh tubuh sang bayi. Selain itu, bayi baru lahir memiliki jumlah sel darah merah yang lebih banyak. Pemecahan sel darah merah akan menghasilkan bilirubin. 

Organ liver bayi juga belum cukup matang untuk metabolisme bilirubin dari aliran darah. 

Bayi baru lahir menghasilkan lebih banyak bilirubin karena produksi yang lebih banyak dan pemecahan yang lebih cepat dari sel darah merah di beberapa hari pertama kehidupannya. 

Ada Sejumlah Penyebab Ikterus pada Bayi.

Kuning terkait pemberian ASI 

Penyebabnya karena meningkatnya bilirubin indirek. Kuning akibat pemberian ASI dapat dibedakan menjadi breasfeeding jaundice dan breastmilk jaundice.

Breasfeeding jaundice

Pada breasfeeding jaundice, kuning pada bayi terjadi pada sekitar hari kedua atau ketiga. Penyebabnya karena kurangnya asupan nutrisi yang diterima bayi. Hal ini terkait produksi ASI yang biasanya masih sedikit di awal-awal kelahiran bayi. Seharusnya, bilirubin terikat oleh nutrisi yang masuk ke usus, lalu dikeluarkan di tinja. Namun, karena asupannya kurang, bilirubin menjadi diserap kembali ke darah. Akibatnya, terjadi penumpukan bilirubin dan bayi tampak kuning. 

Pada kondisi tersebut, sebaiknya bayi baru lahir disusui sebanyak 8-12 kali sehari. Perlu diperhatikan agar posisi dan pelekatan bayi ke payudara sudah tepat. Disarankan menyusui bayi minimal 15 menit sampai payudara tersebut terasa kosong. Pantau asupan ASI yang cukup dengan memastikan frekuensi pipis bayi minimal 6x sehari.  

Breastmilk Jaundice

Pada kasus ini, terdapat hasil metabolisme enzim yang dikandung oleh ibu-ibu tertentu saja. Akibatnya, bilirubin indirect meningkat pada 4-7 hari pertama, berlangsung lebih lama sampai 3-12 minggu dan tidak ditemukan penyebab lain yang membuat bayi kuning. Semua bayi yang disusui oleh ibu tertentu ini biasanya akan timbul kuning. Oleh karena itu, riwayat anak sebelumnya juga perlu ditanyakan. Untuk kepastian diagnosis, akan dilakukan evaluasi oleh dokter anak. 

Lahir prematur 

Bayi yang lahir prematur bisa mengalami kuning. Hal ini terjadi karena karena bayi prematur, yang lahir sebelum waktunya atau sebelum usia kehamilan 37 minggu, tidak bisa mengolah bilirubin secepat bayi yang lahir cukup bulan. Organ liver bayi juga masih belum sempurna untuk melakukan metabolisme bilirubin. 

Selain itu, bayi prematur dapat mengalami refleks hisap yang belum baik. Akibatnya, bila bayi prematur menyusu lebih sedikit, maka dapat terjadi kurangnya asupan. Hal tersebut akan mengganggu pengeluaran bilirubin dari usus. 

Ketidakcocokan golongan darah 

Bayi yang memiliki golongan darah yang berbeda dengan Bunda bisa mengalami ikterus. Ini karena tubuh ibu membuat antibodi yang menyerang sel darah merah bayi. Hal ini terjadi ketika ibu memiliki golongan darah O dan golongan darah bayi adalah A atau B. Kondisi ini disebut inkompatibilitas golongan darah. 

Kemungkinan lainnya adalah faktor rhesus atau protein yang terdapat pada sel darah merah. Umumnya, kita dari benua Asia memiliki rhesus positif dan dari ras kaukasia  memiliki rhesus negatif. Bila rhesus ibu adalah negatif, sedangkan bayi memiliki rhesus positif maka bayi berkemungkinan mengalami ikterus. Kondisi ini disebut inkompatibilitas rhesus.

Mengalami atresia bilier

Apabila bayi mengalami ikterus berkepanjangan, lebih dari dua minggu, perlu dicurigai terdapat kelainan anatomi di organ liver. Atresia bilier adalah keadaan yang disebabkan adanya sumbatan pada saluran empedu, yaitu saluran yang mengalirkan empedu dari hati ke usus. Akibatnya, terjadi penumpukan bilirubin direct dan pasien menjadi tampak kuning. Sebaiknya segera konsultasi ke dokter anak agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. 

Apa komplikasinya?

Seringkali, meningkatnya kadar bilirubin tidak menimbulkan gangguan kesehatan serius. Meski begitu, ada komplikasi yang perlu diwaspadai dan perlu konsultasi ke dokter anak agar diperiksa lebih detail. 

Kernicterus 

Ini adalah sindrom yang terjadi bila penumpukan bilirubin indirek menyebabkan kerusakan permanen pada otak. Sel otak menjadi rusak dan bayi dapat mengalami kejang sampai menimbulkan kematian. Selain itu, bilirubin direk yang banyak di organ liver akan merusak sel dan menjadi sirosis (liver yang mengkerut). 

Bagaimana penanganannya?

Untuk ikterus fisiologis, disarankan bayi baru lahir disusui sebanyak 8-12 kali sehari. Perlu diperhatikan agar posisi dan pelekatan bayi ke payudara sudah tepat. Disarankan menyusui bayi minimal 15 menit sampai payudara tersebut terasa kosong. Pantau asupan ASI yang cukup dengan memastikan frekuensi pipis bayi minimal 6x sehari. Bayi yang lebih sering menyusu diharapkan akan lebih sering buang air besar sehingga akan mengeluarkan bilirubinnya.

Namun, bila warna kuning semakin meluas hingga ke dada dan perut, segera berobat ke dokter, dan akan dilakukan pemeriksaan kadar bilirubin bayi. Bila kadar  bilirubin bayi melebihi batas yang disarankan, maka akan dilakukan phototherapy atau terapi sinar untuk menurunkan kadar bilirubin. 

Nah, Bun, itulah informasi mengenai penyebab bayi kuning. Semoga bermanfaat dan untuk mendapat info menarik lainnya seputar kesehatan ibu dan anak, Bunda dapat download aplikasi Sehati di Play Store atau App Store.

Continue Reading

Kesehatan

Kolik pada Bayi, Mengapa Bisa Terjadi?

Kolik pada bayi ditandai dengan tangisan hingga berjam-jam. Mengapa kolik bisa terjadi? Simak di sini yuk Bun jawabannya.

mm

Published

on

kolik pada bayi
Kolik pada bayi ditandai dengan tangisan hingga berjam-jam. Mengapa kolik bisa terjadi? Simak di sini yuk Bun jawabannya.

Bunda, sudah tahu istilah kolik? Kolik merupakan sebuah kondisi ketika si kecil terus menangis tanpa sebab dalam waktu yang lama. Namun, kolik ini termasuk hal normal loh, Bun, dan tidak berdampak buruk dalam jangka waktu yang panjang. Lantas, mengapa bayi mengalami kolik?

Mengapa Bayi Mengalami Kolik?

Dokter Karina Kaltha, Sp.A. menjelaskan bahwa kolik pada si kecil dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor. Namun, pada umumnya, bayi dapat mengalami kolik pada usia 2 minggu sampai 4 bulan.

Untuk saat ini, alasan pasti bayi terserang kolik masih belum diketahui, Bun. Namun, umumnya kolik pada si kecil terjadi akibat adanya gangguan pencernaan pada tubuh, seperti usus yang sensitif termasuk di dalamnya produksi gas dalam saluran cerna.

Tanda Bayi Mengalami Kolik

Salah satu gejala kolik adalah bayi Bunda akan menangis dan sulit ditenangkan. Bunda barangkali sudah mencoba mencari penyebab tangisnya, misalnya apakah ada ruam atau gatal di tubuh, apakah bayi mengalami demam, apakah popoknya basah, apakah bayi lapar, apakah udara terlalu panas atau dingin, tetapi si kecil tetap menangis.

“Salah satu gejala kolik adalah bayi dapat menangis dan sulit ditenangkan, kaki dan tangan terangkat ke perut, serta wajah bayi menjadi kemerahan. Lazimnya bayi menangis menjelang malam atau saat mau tidur,” tutur dr. Kaltha.

Pemicu Kolik

Pemicu kolik pada bayi bisa bermacam-macam loh, Bun. Dokter Kaltha menjelaskan bahwa kolik dapat terjadi karena berbagai kondisi, misalnya alergi susu sapi, intoleransi laktosa, asam lambung sehingga terjadi refluks, waktu menyusui yang kurang optimal, hingga  hubungan batin yang kurang terjalin antara ibu dan bayi. Kelahiran prematur serta sistem saraf yang belum berkembang dengan baik juga bisa berkaitan dengan kolik.

Lalu, Bagaimana Cara Mengatasinya?

Sebelum beralih ke cara mengatasi kolik, pastikan tidak ada demam ataupun penyebab tangis lain yang menyertai ya, Bun. Langkah pertama untuk menenangkannya adalah dengan menggendongnya sembari diayun ataupun dinyanyikan lagu.

Bila Bunda curiga tangisan bayi disebabkan oleh alergi dan terdapat riwayat alergi di keluarga, Bunda dapat menghindari konsumsi susu sapi dan olahannya, seperti keju, roti, mentega, dan yoghurt. Kemudian, lihat apakah ada perbaikan pada kondisi bayi. Bunda juga dianjurkan untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan untuk mengurangi kolik bayi.

Bunda juga dapat melakukan beberapa hal agar si kecil yang mengalami kolik tenang:

  • Lakukan pijatan kecil pada perut bayi dengan lembut.
  • Gendong dan peluk si kecil selama ia menangis. Hal ini akan membuat dirinya lebih tenang, Bun.
  • Bunda juga dapat mengantisipasi kolik, loh. Caranya adalah dengan memandikan si kecil dengan air hangat karena air hangat dapat membuat tubuh menjadi lebih segar dan tenang.
  • Bantu redakan tangisnya dengan bersenandung atau bernyanyi, Bun.  

Apabila cara yang Bunda lakukan masih belum bisa membuat si kecil tenang, ada obat-obatan yang dapat diberikan untuk menangani kolik si kecil loh, Bun. Namun, penggunaan obat ini harus atas anjuran dokter ya, Bun.  

Yang paling penting, Bunda jangan sampai panik. Pasalnya, kolik pada bayi akan berkurang setelah usianya di atas empat bulan. Namun, bila masih merasa khawatir, Bunda dapat membawa bayi berobat ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut.

Continue Reading

Trending