fbpx
Connect with us

Menyusui

Bunda, Begini Cara Memenuhi Kebutuhan ASI Bayi Baru Lahir

mm

Published

on

Kebutuhan ASI bayi baru lahir dapat dipenuhi dengan cara ini.

Bunda, selamat atas kelahiran si kecil! Kini waktunya memberikan ia ASI eksklusif selama 6 bulan. Tahukah, Bun, perjalanan Bunda dalam memberikan ASI selama 6 bulan ini akan sangat ditentukan oleh pemberian ASI di awal-awal masa kelahiran bayi hingga 5 hari pertama saat tubuh Bunda sedang belajar memproduksi ASI. 

Meski keberhasilan pemberian ASI sangat ditentukan oleh periode 5 hari pertama, bukan berarti dalam 5 hari ini ASI Bunda akan langsung melimpah, ya. Produksi ASI akan menyesuaikan dengan kebutuhan ASI bayi baru lahir. Jadi, tidak perlu langsung stres dan menyerah jika di awal pasca-persalinan ASI Bunda hanya keluar sedikit. Pasalnya, kebutuhan ASI si kecil di awal masa kelahirannya juga baru sedikit kok.

Supaya Bunda tak khawatir dan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan bisa sukses, ketahui dulu yuk jumlah kebutuhan ASI bayi baru lahir, lengkap dengan cara memenuhinya.

Kebutuhan ASI Bayi Baru Lahir

Hari Pertama Kelahiran

Pada 24 jam pertama setelah lahir, perut bayi hanya berukuran sebesar buah cherry. Mungil sekali, kan? Oleh karena itu, kebutuhan ASI-nya pun belum terlalu banyak. Si kecil hanya bisa menampung 5-7 ml ASI atau sekitar 1-1,5 sendok teh tiap menyusu dengan frekuensi menyusu 8-10 kali sehari.

Hari Ketiga Kelahiran

Di hari ketiga, perut bayi sudah berkembang menjadi sebesar kenari dan mampu menampung ASI hingga 22-27 ml per sekali menyusu. Frekuensi menyusunya masih sama, yakni 8-10 kali sehari.

Minggu Pertama Kelahiran

Nah, di minggu ini, ukuran perut bayi sudah bertambah lagi menjadi sebesar aprikot dan mampu menampung ASI sebanyak 45-60 ml per sesi menyusu. Hingga 1 minggu, frekuensi menyusu bayi masih sama ya, Bun, yakni 8-10 kali sehari.

Minggu Kedua Kelahiran

Di minggu kedua, perut bayi sudah bertumbuh menjadi sebesar telur dan mampu menampung ASI sebanyak 80-150 ml per sesi menyusu. Meski demikian, bukan berarti setiap menyusu, bayi PASTI memerlukan jumlah itu. Pada dasarnya kebutuhan ASI setiap bayi berbeda, ya Bun. Frekuensi menyusu dalam sehari pun masih sama.

Cara Memenuhi Kebutuhan ASI Bayi Baru Lahir

Beberapa Jam Setelah Melahirkan

Setelah melahirkan, hal terpenting yang perlu Bunda lakukan untuk memenuhi kebutuhan ASI si kecil adalah melakukan skin to skin contact. Inilah mengapa Bunda disarankan melakukan IMD atau inisiasi menyusui dini. Bunda yang melahirkan secara per vaginam maupun caesar dapat melakukan ini. Saat melakukan IMD, perhatikan pula apakah bayi dapat melekat dengan baik di payudara Bunda? Jika si kecil terlihat mengalami kesulitan, coba konsultasikan dengan dokter atau konselor laktasi ya, Bun, karena bayi baru lahir pun biasanya sudah memiliki insting untuk menyusu.

Hari Pertama Hingga Ketiga Setelah Melahirkan

Bila Bunda masih dirawat di RS atau klinik hingga hari ketiga, usahakan agar si kecil dapat dirawat gabung, ya. Dengan demikian, jika si kecil butuh menyusu, Bunda bisa cepat memenuhinya. Mulut yang bergerak-gerak dan bibir yang mengerucut seperti sedang mengisap sesuatu adalah tanda ia ingin menyusu.

Di waktu-waktu ini, perbanyak pula skin to skin contact. Dan yang terpenting, hindari pemberian dot. Entah dalam bentuk empeng/pacifier ataupun botol. Ini dapat membuat bayi bingung puting nantinya dan sulit melekat dengan tepat di payudara Bunda. Bila kondisi Bunda tak memungkinkan untuk secara langsung memberikan ASI dari payudara, gunakanlah cup feeder atau sendok teh.

Hari Ketiga Hingga Kelima Setelah Melahirkan

Di masa ini, ASI yang tadinya baru keluar sedikit kini mulai melimpah. Jadi, jangan terserang panik jika pada hari pertama atau kedua setelah melahirkan ASI Bunda baru keluar sedikit ya. Keluarnya ASI pada hari ketiga sampai kelima setelah melahirkan bisa tiba-tiba membanjir, tapi seringnya bertambah banyak secara bertahap.

Susuilah si kecil lebih sering untuk menghindari penumpukan ASI di payudara. Pasalnya, jika ASI dibiarkan menumpuk di payudara, Bunda bisa mengalami pembengkakan yang pastinya membuat tidak nyaman. Bila si kecil lebih banyak tidur, Bunda bisa mengeluarkan ASI dengan cara memompanya untuk disuapkan ke si kecil nanti dengan sendok atau cup feeder. Jika payudara mulai terasa kencang dan tidak nyaman, kompreslah dengan air dingin.

Hari Kelima Hingga Hari Ketujuh Setelah Melahirkan

Setelah hampir seminggu, wajarnya Bunda sudah menemukan irama menyusui yang pas. Di masa ini, penting bagi Bunda untuk dapat mengenali tanda bayi perlu menyusu. Tandanya tak selalu tangisan loh, Bun. Bibir mengerucut saja seperti mengemut sesuatu adalah tanda ia butuh minum.

Hingga masa ini, biasanya bayi akan menyusu sebanyak 10 kali dalam waktu 24 jam. Kapan saja jadwalnya? Ikuti saja kemauan si kecil, Bun. Karena berbeda bayi, berbeda pula kebiasaannya. Ada bayi yang meminta makan beberapa kali dalam waktu singkat lalu terlelap selama beberapa jam, ada pula yang secara konsisten meminta makan setiap beberapa jam sekali. Pokoknya, percaya saja padanya.

Seminggu Setelah Melahirkan dan Seterusnya

Setelah satu minggu berlalu, yang terpenting untuk memenuhi kebutuhan ASI si kecil adalah dengan sebisa mungkin menghabiskan banyak waktu dengannya. Pasalnya, si kecil akan ingin berlama-lama berada di dekat Bunda. Jangan terobsesi mengerjakan segalanya sendiri. 

Manfaatkanlah bantuan yang bisa diberikan oleh orang lain, entah dari pasangan, orang tua, keluarga, atau pun kerabat, untuk mengurus rumah agar Bunda dapat menghabiskan waktu lebih lama dengan si kecil. Waktu yang Bunda habiskan bersamanya, tidak hanya meningkatkan produksi ASI tapi juga mempererat ikatan antara Anda berdua. Percayalah, saat masa menyusui itu telah berlalu, Bunda akan mengenangnya dengan manis. Selamat menyusui ya, Bunda!

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Menyusui

Jenis Benjolan di Payudara pada Ibu Menyusui

mm

Published

on

benjolan payudara
Selama menyusui, benjolan payudara bisa terjadi.

Tidak hanya ukuran payudara yang akan berubah selama Bunda menyusui si kecil, benjolan payudara saat menyusui pun kerap terjadi. Perubahan ini sesungguhnya wajar terjadi karena kelenjar payudara yang memproduksi air susu ibu ukurannya akan membesar selama masa menyusui. 

Akan tetapi, ada kalanya benjolan tak mau pergi walau Bunda sudah menyusui si kecil. Bahkan bisa jadi benjolan menetap selama beberapa hari. Saat ini terjadi, Bunda mungkin merasa tidak nyaman. Payudara terasa kencang dan berat, proses menyusui pun terhambat. Apakah hal ini wajar? 

Tenang saja Bun, kebanyakan benjolan payudara bukanlah kondisi serius yang biasanya akan hilang dalam beberapa hari. Meski demikian, waspada tetaplah perlu. Pasalnya pada beberapa kasus, benjolan ini bersifat berbahaya bahkan bisa menjadi tanda adanya kanker payudara. Itu sebabnya, Bunda perlu segera menemui dokter jika benjolan tak kunjung hilang meski lewat dari seminggu. 

Yuk Bun, cek benjolan payudara yang mungkin terjadi saat Bunda menyusui dan bagaimana cara mengatasinya.  

Jenis benjolan payudara pada ibu menyusui

Berikut ini adalah beberapa jenis benjolan payudara yang biasa dialami perempuan, terutama ibu menyusui. 

Saluran susu tersumbat 

Jika Bunda melihat titik-titik putih di bagian areola payudara dan merasakan payudara tidak mengeluarkan ASI selancar biasanya, maka mungkin Bunda mengalami sumbatan pada saluran ASI. Kondisi ini bisa terjadi jika saluran susu tidak mengalami pengosongan total lewat cara menyusui. Misalnya jika bayi tidak terlalu banyak menyusu, atau produksi ASI lebih banyak dibanding jumlah ASI yang diisap oleh si kecil. Selain itu, saluran bisa ASI bisa jadi tersumbat jika posisi menyusui kurang optimal dan bayi tidak menyusu secara sering dan teratur. 

Jika mengalami sumbatan pada saluran payudara, Bunda akan merasa payudara penuh, hangat, berat dan keras. Payudara pun terasa nyeri dengan gumpalan yang dapat teraba. Meski penuh, ASI tidak keluar sama sekali atau hanya keluar sedikit saat diperah. Tanda lainnya adalah si kecil merasa rewel saat disusui karena ASI tidak keluar. 

Untuk mengatasinya, Bunda bisa mengompres payudara dengan handuk atau waslap yang sudah direndam air hangat. Bunda juga bisa mengisi cangkir dengan air hangat, kemudian tempelkan cangkir tersebut pada benjolan payudara. Sambil menempelkan cangkir tersebut Bunda bisa melakukan gerakan memijat atau menekan. Cara ini dapat melancarkan saluran yang tersumbat. 

Setelah kompres hangat diterapkan, biasanya payudara akan terasa lebih lemas. Saat itulah Bunda bisa segera memerah payudara menggunakan pompa atau secara manual untuk mengeluarkan ASI yang tersumbat. Selain memerah, Bunda juga bisa memberikan payudara pada si kecil untuk diisap. 

Saat memerah atau menyusui, coba sedikit bungkukkan punggung agar payudara menggantung. Posisi ini membantu menarik ASI keluar. Mungkin ASI yang tersumbat tidak akan langsung keluar dengan sekali kompres, Bunda bisa mengulang-ulang prosesnya sampai payudara terasa enteng dan lemas. 

Biasanya Bunda akan menemukan tekstur ASI yang lebih kental keluar saat memerah payudara secara manual. Ya, tekstur kental itulah yang menahan ASI keluar dengan lancar. 

Mastitis 

Pada mastitis, benjolan payudara terasa panas dan merah. Biasanya mastitis juga disertai demam hingga 38 derajat Celcius. 

Infeksi pada payudara bisa terjadi jika ada bakteri yang masuk melalui saluran ASI melalui celah pada puting. Bakteri tersebut bisa berasal dari mulut bayi atau kotoran pada bra. Jika kondisi kekebalan tubuh Bunda baik, mastitis tidak akan terjadi, sebab daya tahan tubuh akan mencegah bakteri berkembang biak. Bunda yang mengidap penyakit seperti diabetes, penyakit kronis, AIDS, atau gangguan kekebalan tubuh lain, umumnya lebih rentan mengalami mastitis. 

Karena terjadi infeksi bakteri, untuk mengatasinya diperlukan obat-obatan antibiotik. Jadi, Bunda bisa segera berkonsultasi ke dokter untuk mendapat penanganan yang tepat ya. 

Kista

Benjolan bulat atau oval yang tidak berbahaya dan mengandung cairan. Terasa keras dan halus saat diraba dan biasanya akan berpindah-pindah posisinya di dalam payudara. Kista biasanya tidak menimbulkan masalah. Akan tetapi beberapa jenis kista perlu diangkat dengan cara bedah. Kista juga tidak akan memengaruhi produksi ASI dan proses menyusui. Untuk amannya, Bunda bisa memeriksakan benjolan tersebut ke fasilitas kesehatan terdekat ya. 

Payudara Fibrokistik 

Adalah adanya benjolan pada payudara diikuti perubahan tekstur payudara dan rasa nyeri payudara yang disebabkan oleh perubahan hormon selama siklus menstruasi yang memengaruhi jaringan payudara. Biasanya kondisi ini akan terasa lebih mengganggu beberapa hari sebelum menstruasi. Kondisi ini tidak memicu kanker dan juga tidak memengaruhi proses menyusui maupun produksi ASI. 

Lipoma

Benjolan payudara ini juga tidak bersifat kanker. Lipoma adalah jaringan lemak di dalam payudara yang tumbuh secara perlahan. Benjolan ini cenderung lunak dan tidak menyebabkan sakit. 

Hematoma

Hematoma adalah gumpalan darah di bawah jaringan kulit payudara yang disebabkan oleh benturan atau bedah. Ukurannya bisa kecil atau besar. Biasanya Anda akan merasakan sensasi nyeri di sekitar benjolan, bisa juga berwarna merah dan bengkak. Jika gumpalan darah tersebut berada dekat permukaan kulit, akan terlihat memar. 

Kanker payudara

Dari sekian banyak kasus benjolan pada payudara, hanya sebagian kecilnya disebabkan oleh kanker payudara. Benjolan akibat kanker payudara biasanya keras dan tidak terasa nyeri. Jika diraba, Bunda akan sulit menemukan pinggir atau tepiannya. Selain itu, benjolan akan terasa seperti tertambat jaringan payudara di sekitarnya, menyebabkan benjolan ini sulit bergerak di dalam jaringan payudara. Jika Bunda merasakan gejala ini, jangan menunda untuk memeriksakannya ke fasilitas kesehatan terdekat ya, Bun. 


Itulah penjelasan mengenai benjolan pada payudara yang bisa terjadi pada ibu menyusui. Semoga penjelasan di atas dapat memberi sedikit gambaran mengenai benjolan payudara yang Bunda rasakan. Jika benjolan tidak juga mereka lebih dari seminggu, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter ya, Bun.

Continue Reading

Air Susu Ibu

Inisiasi Menyusui Dini: 1 Jam Pertama Penentu Kesuksesan Menyusui

mm

Published

on

inisiasi menyusui dini
Inisiasi menyusui dini di satu jam pertama menentukan kesuksesan menyusui.

Air susu ibu atau ASI adalah makanan yang sangat penting bagi bayi baru lahir. Di dalamnya, terdapat banyak kandungan nutrisi yang sangat dibutuhkan bayi. Itulah mengapa, WHO menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan bayi. Artinya, dari usia 0-6 bulan, bayi hanya mengonsumsi ASI tanpa dikombinasi dengan makanan apapun. Ini akan memberinya gizi dan imun yang cukup. 

Namun, tahukah Bunda? Selain pemberian ASI, ada hal lain yang dapat menentukan kecukupan nutrisi si kecil. Kita mengenalnya dengan IMD atau inisiasi menyusui dini.

Inisiasi menyusui dini adalah pemberian ASI dari ibu ke bayi pada kurun waktu satu jam pertama setelah persalinan. Proses menyusuinya diberikan langsung dari ibu ke bayi, bukan dengan bantuan botol atau cup feeder ya, Bun. Yuk, cari tahu mengapa inisiasi menyusui dini penting untuk diberikan.

Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan Kolostrum

Tahukah, Bunda? Kampanye IMD ini sangat didukung oleh WHO, loh. Bukan tanpa sebab, susu yang keluar dari payudara Bunda pada satu jam pertama setelah kelahiran bayi rupanya adalah kolostrum atau “first milk”  yang disebut-sebut sebagai makanan sempurna bagi bayi baru lahir.  

Tak hanya nutrisi, kolostrum juga dapat membentuk imun bagi bayi. Tekstur kolostrum ini berbeda dengan ASI loh, Bun. Kolostrum biasanya lebih lebih kental dan berwarna kuning keemasan.

Disebutkan WHO, konsumsi kolostrum pada satu jam pertama kelahirannya berpotensi membuat bayi akan terus menyusu sehingga malnutrisi bisa dihindari. Ada setidaknya 170 juta anak yang memiliki berat badan di bawah standar di seluruh dunia dan 3 juta di antaranya tewas tiap tahunnya. Angka yang cukup fantastis ya, Bun? Namun, tahukah, Bunda? Menurut sebuah studi yang diterbitkan oleh jurnal Pediatrics, 41% bayi yang meninggal dunia di bulan pertama kehidupannya seharusnya bisa diselamatkan dengan pemberian kolostrum di satu jam pertama kelahiran. 

Satu hal lagi yang perlu Bunda tahu. Inisiasi menyusui dini rupanya tak hanya bermanfaat bagi bayi, tapi juga bermanfaat bagi Bunda. Seperti dilansir dari medicalnewstoday.com, pemberian kolostrum kepada bayi di satu jam pertama setelah persalinan dapat meningkatkan produksi ASI. Senang kan, Bun?

Dampak IMD terhadap Kondisi Psikologis Bayi

Selain karena kolostrum, IMD juga penting karena saat melakukan ini Bunda akan secara otomatis melakukan skin to skin contact dengan bayi. Menurut WHO, skin to skin contact ketika bayi baru lahir mampu meningkatkan kemungkinan suksesnya ASI eksklusif, paling tidak dalam kurun waktu 1-6 bulan. Bayi yang melakukan skin to skin contact dengan ibunya setelah persalinan juga terbukti lebih jarang menangis dan lebih sering berinteraksi dengan ibunya, loh.

Mengapa demikian? Menurut Ketua International Lactation Consultant Association (ILCA), Rebecca Mannel, bayi yang baru lahir berada dalam kondisi tenang dan siap untuk belajar hal baru. Bayi pun siap mengeksplorasi lingkungan dengan kelima inderanya. Ketika Bunda memeluknya di kondisi ini, ia akan mempelajari wajah serta suara Bunda. Ia juga akan mengasosiasikan suara dengan wajah Bunda. Nalurinya pun akan bekerja untuk menemukan payudara Bunda hingga ia merasakan susu yang keluar dari payudara.

Selain itu, Mannel juga mengungkapkan bahwa bayi yang melakukan skin to skin contact dengan ibunya sesaat setelah persalinan akan tetap merasa hangat. Tahu kan Bun kalau suhu ruangan sekitar 2 hingga 3 derajat lebih rendah daripada suhu rahim sehingga bayi kerap merasa kedinginan saat dilahirkan? Nah, dengan melakukan kontak kulit ke kulit, Bunda akan membantunya tetap merasa hangat. Ia pun jadi lebih mampu meregulasi jantung, pernapasan, serta tidak terlalu merasa kesakitan. Efeknya, bayi akan lebih tenang dan jarang menangis.

Itulah, Bun, beberapa hal penting terkait IMD. Agar bisa melakukan IMD setelah persalinan, komunikasikan ini dengan fasilitas kesehatan Bunda, ya. Masukkan dalam birth plan agar dokter atau bidan tahu yang Bunda inginkan selama persalinan. Good luck!

Continue Reading

Air Susu Ibu

Fakta Menyusui di Tengah Pandemi Covid-19

mm

Published

on

ibu menyusui positif covid
Bagaimana cara aman menyusui bagi ibu yang terinfeksi covid?

Pandemi Covid-19 telah mengubah banyak hal, tidak saja dari segi kesehatan tetapi juga kehidupan sosial. Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah pemberian ASI pada ibu yang positif terinfeksi Covid-19. Meski belum banyak informasi yang berhasil disimpulkan karena terhitung baru, pertanyaan pun bermunculan. Apakah ibu menyusui dapat menularkan virus ke anak yang disusuinya? Lalu apakah ibu tetap dapat menyusui langsung? Simak jawaban yang diambil dari panduan World Health Organization di bawah ini. 

Apakah covid-19 dapat ditularkan melalui Air Susu Ibu? 

Hingga saat ini tidak ada bukti yang memperlihatkan adanya virus pada ASI ibu yang positif Covid-19. Berdasarkan hal itu, para ahli pun sependapat bahwa Covid-19 tidak dapat ditularkan melalui air susu ibu yang dikonsumsi langsung dari ibu yang positif mengidap Covid-19  atau dari ASI perah ibu tersebut. Meski demikian, penelitian terus dilakukan untuk menemukan lebih banyak informasi seputar hal ini. 

Jika ibu yang mengidap covid-19 melahirkan, apakah dapat menerapkan Inisiasi Menyusui Dini? 

Ibu yang positif covid-19 tetap dapat melakukan inisiasi menyusui dini dengan melakukan kontak kulit-ke-kulit yang dilakukan segera setelah anak lahir. Ibu juga tetap dapat melakukan perawatan metode kanguru untuk meningkatkan suhu tubuh neonatus dan fungsi fisiologis lain. Memiliki banyak manfaat, di antaranya mengurangi kematian neonatus, IMD tetap disarankan bahkan pada ibu yang positif covid-19 sekalipun. 

Apakah ibu yang positif tetap disarankan untuk menyusui anaknya?

Penularan virus corona melalui ASI dan menyusui belum terbukti, sehingga ibu tetap disarankan untuk menyusui. Untuk memastikan tidak terjadi penularan dari ibu ke anak, tetap terapkan langkah-langkah kebersihan serta mengenakan masker kain atau medis jika tersedia. Masker dapat mengurangi kemungkinan tersebarnya droplet virus dari ibu ke bayi. 

Berikut ini langkah yang bisa dilakukan ibu untuk mencegah penularan kepada bayinya: 

  • Mencuci tangan dengan sabun dan air atau hand sanitizer berbasis alkohol sesering mungkin, terutama sebelum menyentuh bayinya
  • Mengenakan masker medis saat menyusui, dengan memperhatikan hal berikut: 
    • Segera ganti masker jika sudah terasa lembap
    • Segera buang maske ke tempat sampah tertutup setelah digunakan
    • Tidak menggunakan ulang masker yang sudah dipakai
    • Tidak menyentuh bagian depan masker dan lepaskan masker dengan memegang talinya
  • Gunakan tisu untuk menutup mulut saat bersin atau batuk, lalu segera buang tisu ke tempat sampah tertutup dan mencuci tangan menggunakan hand sanitizer atau sabun dan air
  • Bersihkan area permukaan di ruangan ibu menggunakan desinfektan. Lakukan pembersihan ini secara rutin.

Apakah ibu menyusui yang positif Covid-19 perlu mencuci payudaranya sebelum menyusui langsung atau sebelum memerah ASI?

Sebenarnya tidak perlu. Akan tetapi, jika ibu baru saja batuk di atas payudara yang dalam kondisi terbuka, maka payudara tersebut perlu dibersihkan dengan air sabun hangat setidaknya selama 20 detik, sebelum menyusui. Intinya, ibu perlu memastikan payudara dalam kondisi bersih dari droplet sebelum menyusui si kecil atau memerah ASI. 

Jika ibu yang positif Covid-19 tidak dapat menyusui, bolehkah bayi diberi susu formula? 

Sebaiknya ASI tetap diberikan. Alternatif terbaik untuk pemberian asupan bagi bayi baru lahir atau yang masih kecil adalah: 

  • ASI perah
    • Ibu dapat memerah ASI secara manual menggunakan tangan atau dengan pompa mesin. Pilihan mengenai cara memerah sepenuhnya bergantung pada pilihan ibu dengan mempertimbangkan ketersediaan peralatan, biaya, dan kondisi lingkungan. Memerah ASI juga bermanfaat untuk mempertahankan produksi ASI. Dengan demikian ibu dapat langsung menyusui si kecil saat ia pulih. 
    • Sebelum memberikan ASI perah, ibu atau siapa pun yang membantu, harus mencuci tangannya. Begitupun sebelum menyentuh alat pompa atau botol. Pastikan perlengkapan menyusui dan alat perah selalu disterilisasi setelah digunakan. 
    • ASI perah sebaiknya diberikan dalam cangkir dengan sendok yang sudah bersih. Cangkir dan sendok lebih direkomendasikan karena mudah dibersihkan ketimbang botol dan dot. 
    • Pastikan ASI perah diberikan oleh orang yang sehat.
  • Donor ASI
    • Jika ibu tidak mungkin memerah ASI, maka ASI donor dapat diberikan kepada bayi sementara ibu menjalani pengobatan dan pemulihan 

Bila ASI perah atau ASI donor tidak tersedia atau tidak layak, maka dapat dipertimbangkan untuk ibu susu. Jika tidak ada juga, barulah formula bisa dipertimbangkan dengan memastikan kelayakan, persiapan yang benar, aman dan berkelanjutan.

Menyusui tidak saja memberikan asupan nutrisi yang penting bagi bayi, terutama bayi baru lahir, tapi juga sebuah proses yang membangun kedekatan antara ibu dan bayi. Hingga saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa ASI dapat menularkan virus, sehingga menyusui tetap dapat dilakukan. Selamat menyusui!

Continue Reading

Trending