fbpx
Connect with us

Pasca

12 Jam Pasca Melahirkan, Ini Panduannya

mm

Published

on

pasca melahirkan

Setelah berada di perut Bunda selama kurang lebih 38 minggu, si kecil akan lahir ke dunia. Di tengah kebahagiaan yang akan Bunda rasakan nanti setelah kelahirannya, mungkin terselip perasaan gugup dan bingung tentang bagaimana caranya menjalankan peran sebagai ibu baru. 

Tak perlu pusing dulu, mari fokus pada 12 jam pertama setelah kelahiran bayi. Sebab, waktu ini adalah waktu-waktu krusial untuk membentuk ikatan dengan si kecil sembari Bunda memulihkan diri. Jika saat ini Bunda sama sekali belum terbayangkan bagaimana kondisi 12 jam pertama pasca melahirkan nanti, ini kami berikan panduannya.

1-2 Jam Pertama

Bayi yang lahir dengan sehat dan tanpa indikasi abnormal akan langsung diposisikan di lengan Bunda. Inilah momen ajaib di mana Bunda pertama kali menyentuh kulitnya. Sembari Bunda menimangnya, tenaga kesehatan akan memotong tali pusat bayi begitu berhenti berdetak. Bunda pun mesti bersiap untuk mengejan sekali lagi untuk mengeluarkan plasenta. Beberapa ibu yang mengalami sobek perineum juga akan menerima jahitan di fase ini.

Bila Bunda ingin memberikan inisiasi menyusu dini, inilah saatnya. Awalnya, si kecil mungkin hanya akan menyundul-nyundul payudara. Setelah beberapa menit, baru ia akan menemukan cara mengisap payudara Bunda. Pada menit ke-1, 5, dan 10, nakes akan memeriksa skor apgar si kecil sebagai indikator kesehatannya.

2-3 Jam Pertama

Inilah waktunya mengisi bensin! Setelah proses persalinan yang panjang dan melelahkan, Bunda pasti butuh mengisi energi kembali. Dan inilah waktunya menyantap makanan dan menghidrasi diri kembali. Di waktu ini, jika Bunda tak ada keluhan, Bunda juga akan dipindahkan ke ruang perawatan. 

3-4 Jam Pasca Melahirkan

Selain merasa lapar dan haus, Bunda pasti merasa gerah dan lengket pasca melahirkan. Di waktu ini, Bunda sudah bisa membersihkan diri jika sebelumnya tidak diberikan epidural. Bila masih merasa gemetar atau pusing, mintalah bidan atau pasangan untuk mendampingi. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Bunda juga bisa menggunakan bra khusus menyusu agar lebih nyaman saat meng-ASIhi si kecil. Jangan lupa gunakan pembalut khusus nifas untuk menyerap darah. Jika perlu, gunakan underpad sebagai alas di tempat tidur.

5-6 Jam Pasca Melahirkan

Di waktu ini, mungkin Bunda mulai merasa butuh buang air kecil. Urinasi pertama setelah melahirkan, apalagi jika Bunda mendapatkan jahitan, pasti akan meninggalkan rasa nyeri. Untuk mengurangi hal ini, siramkanlah air hangat ke bagian perineum selama buang air kecil.

8 Jam Pasca Melahirkan

Jika bayi Bunda terbangun, tandanya ia lapar. Susuilah sebisa mungkin karena ASI Bunda masih kaya akan kolostrum yang bermanfaat untuk imunitasnya. Pastikan mulut bayi menangkup seluruh areola sebagai tanda pelekatan yang baik. Bila ASI Bunda belum keluar pada waktu ini, jangan panik dan lantas beralih ke susu formula. Beberapa ibu memang baru keluar ASI-nya pada hari kedua atau ketiga. Bayi sendiri bisa bertahan hingga 48 jam setelah dilahirkan tanpa asupan ASI.

9 Jam setelah Melahirkan

Ada beberapa orang yang memilih untuk menjenguk di faskes. Di waktu ini, tamu biasanya mulai berdatangan. Namun, di masa pandemi ini, lebih baik membatasi jumlah tamu ya, Bun. Berilah pengertian kepada kerabat. Untuk hal satu ini, bekerja samalah dengan pasangan dan keluarga dekat untuk memberikan pemahaman.

10 Jam setelah Melahirkan

Inilah waktunya si kecil dicek kesehatannya oleh bidan atau dokter anak. Tenaga kesehatan akan memeriksanya secara lengkap dan mungkin akan menanyakan rupa kotoran pada popoknya. 

11 Jam setelah Melahirkan

Di jam ini, bidan masih akan mengobservasi interaksi Bunda dan si kecil. Apakah segalanya berjalan dengan lancar? Bila Bunda memilih untuk melakukan rawat gabung, Bunda dan Ayah dapat menikmati malam pertama bersama si kecil sebagai keluarga. Atau, jika merasa lelah sekali dan membutuhkan waktu tidur tanpa diganggu, mintalah kepada bidan atau perawat untuk memindahkan si kecil ke ruang perawatan bayi untuk sementara waktu.

12 Jam Setelah Melahirkan

Pada waktu ini, Bunda masih membutuhkan istirahat. Jika si kecil tertidur, inilah saatnya bagi Bunda untuk melanjutkan tidur pula. Batasi kunjungan tamu, tutup tirai tempat tidur, dan jauhkan ponsel. Beristirahatlah seoptimal mungkin.

Bagi Bunda yang menjalani persalinan caesar, di waktu ini Bunda mungkin akan diminta untuk bangkit dari tempat tidur untuk melancarkan sirkulasi darah. Tentunya jika Bunda sudah tak merasa ngantuk dan pusing. Bunda belum diperbolehkan untuk mandi, tapi sebagai gantinya, bidan atau perawat akan membersihkan tubuh Bunda di atas tempat tidur. Jika memang belum sanggup untuk menggendong bayi, mintalah bantuan bidan atau perawat untuk memosisikan si kecil di dada Bunda. 

Bunda, itulah kurang lebih yang akan terjadi dalam kurun waktu 12 jam pasca melahirkan. Pengalaman satu ibu dengan ibu lainnya mungkin akan sedikit berbeda. Yang pasti, tetap nikmati prosesnya ya, agar bahagia dan ASI berlimpah. Semangat!

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pasca

Nyeri Perut Pasca Melahirkan, Ini Penyebabnya

mm

Published

on

nyeri perut setelah melahirkan

Masa pasca melahirkan, terutama di enam minggu pertama, adalah masa yang unik dan bisa dibilang rentan bagi ibu yang baru melahirkan. Pasalnya, di masa ini tubuh akan mengalami pemulihan untuk kembali ke kondisi sebelum melahirkan. Pertama, tentu saja tubuh Bunda akan mengalami kelelahan yang luar biasa setelah proses melahirkan, baik per vaginam maupun secara caesar. Selain itu, gejala yang paling sering dirasakan adalah sakit atau nyeri perut. 

Berikut ini beberapa jenis nyeri perut yang biasa dialami Bunda setelah melahirkan, apa penyebabnya, dan bagaimana mengatasinya. 

Nyeri perut akibat kontraksi rahim

Nyeri perut bagian bawah yang dialami setelah melahirkan, biasanya disebabkan oleh rahim yang berkontraksi. Loh, kok masih kontraksi? Iya, Bun… setelah melahirkan rahim masih akan berkontraksi untuk mengerut dan kembali ke ukuran normalnya. Saat ini terjadi, wajar jika Bunda merasakan kram perut. 

Kram yang dirasakan karena kontraksi rahim ini sama seperti kram menstruasi. Biasanya kadar nyeri akan terasa lebih intens pada minggu pertama setelah melahirkan. Akan tetapi, ukuran rahim akan mengecil dalam proses yang berlangsung selama enam minggu. Selama itu pula rasa nyeri bisa Bunda alami. Selain itu, nyeri akibat kontraksi ini akan semakin terasa ketika Bunda menyusui. Ya, proses menyusui akan merangsang hormon oksitosin, hormon yang memicu rahim untuk mengecil. 

Cara mengatasinya:

Rasa nyeri ini sulit untuk dihindari, dan sebenarnya perannya penting untuk mengembalikan kondisi tubuh–terutama rahim–Bunda ke kondisi semula. Akan tetapi, Bunda dapat sedikit meredam rasa nyeri ini dengan mengompres perut menggunakan botol atau kain hangat. Jika dokter menyetujui, Bunda juga dapat mengonsumsi obat pereda nyeri yang dijual bebas seperti obat golongan ibuprofen.

Nyeri perut akibat sembelit

Sakit perut setelah melahirkan juga bisa disebabkan oleh sembelit atau konstipasi. Ada beberapa kemungkinan penyebab konstipasi atau kesulitan buang air besar setelah melahirkan. Mencari penyebabnya akan memudahkan Bunda dalam mengatasi rasa kurang nyaman di perut ini. 

Beberapa hal yang bisa jadi penyebab sembelit setelah melahirkan di antaranya: 

  • Pola makan yang tidak banyak mengandung serat 
  • Perubahan hormon
  • Stres
  • Kurang aktivitas tubuh setelah melahirkan 
  • Sobek atau luka di perineum (area di antara anus dan vagina) yang disebabkan oleh proses persalinan 
  • Wasir (wajar dialami selama kehamilan dan setelah melahirkan) 
  • Rasa nyeri di jahitan episiotomi

Konsumsi obat-obatan juga bisa jadi biang keladi sembelit loh, Bunda. Misalnya anestesi atau obat bius yang digunakan untuk mengatasi rasa nyeri selama atau pasca persalinan. Beberapa jenis suplemen vitamin, seperti zat besi, juga bisa menjadi penyebab dan yang memperparah sembelit. 

Cara mengatasinya

Mengkonsumsi makanan kaya serat (misalnya buah-buahan, sayur-sayuran, kacang-kacangan, polong-polongan dan gandum utuh) dan minum banyak cairan selama kehamilan dan masa pasca persalinan adalah hal penting untuk mencegah sembelit. Konsumsi cukup serat dan tetap terhidrasi adalah dua hal yang bisa mengurangi ketidaknyamanan akibat sembelit. Selain itu, olahraga ringan juga bisa membantu loh, Bun. 

Namun sebelum mulai berolahraga, pastikan Bunda sudah berkonsultasi dengan dokter atau bidan yang sudah menyatakan bahwa Bunda sudah dapat melakukan aktivitas olahraga. Kesiapan ini juga akan dipengaruhi oleh cara Bunda melahirkan, apakah per vaginam atau caesar, serta seberapa aktifnya Bunda sebelum melahirkan. Mulailah dengan berjalan jarak pendek. Bunda bisa membawa si kecil di stroller atau gendongan kemudian berjalan-jalan kecil di luar rumah sambil menghirup udara segar. 

Jika Bunda mengalami wasir, mandi dengan air hangat akan membantu mengatasi rasa nyeri yang dirasakan. Bunda juga dapat mengatasi rasa nyeri pada vagina atau daerah anus dengan obat pereda nyeri. Lagi-lagi, silakan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengonsumsi obat ya, Bun.

Luka caesar 

Wajar jika Bunda merasakan sakit perut setelah operasi caesar. Rasa nyeri ini timbul dari luka jahitan, baik di perut bagian luar maupun bagian dalam yang sedang menjalani proses penyembuhan. Bunda juga bisa mengalami rasa ngilu di sekitar luka, terutama dua hari pertama setelah melahirkan.

Cara mengatasinya

Hal terbaik yang bisa Bunda lakukan setelah melahirkan caesar adalah memastikan diri mendapat cukup istirahat dan mencegah tekanan ataupun tarikan otot perut. Jangan mengangkat benda berat, yang melebihi berat si kecil. 

Pastikan luka jahitan pulih sempurna. Mintalah bantuan suami, kerabat atau teman untuk membantu tugas-tugas yang sulit dikerjakan sendiri. Jika perlu, sewa jasa asisten rumah tangga atau baby sitter untuk membantu Bunda merawat bayi dan menyelesaikan tugas rumah. Dengan begitu, Bunda dapat memulihkan diri dengan lebih cepat. 

Kapan harus menghubungi dokter?

Jika rasa sakit perut setelah melahirkan yang Bunda rasakan sangat intens, tetap, atau tidak mereda meski telah mengatasi dengan cara-cara yang direkomendasikan di atas, kunjungi dokter untuk berkonsultasi. Tanda-tanda ini bisa mengindikasikan adanya komplikasi seperti infeksi dan wasir. 

Gejala setelah melahirkan yang memerlukan penanganan medis segera di antaranya: 

  • Perdarahan dalam jumlah yang banyak dan berwarna merah cerah
  • Demam 
  • Mual dan atau demam 
  • Rasa sakit yang sangat parah, menetap, atau menjadi lebih parah 
  • Kulit di sekitar jahitan caesar atau perineum yang tegang, kemerahan dan bengkak
  • Cairan vagina atau dubur yang tidak normal 
  • Sakit kepala
  • Nyeri dada dan sesak

Masa pasca persalinan adalah masa pemulihan dan penyesuaian. Meski mendapatkan bantuan dan dukungan, bukanlah masa yang mudah dijalani, baik secara fisik maupun emosional. Coba untuk lebih proaktif dalam menangani gejala yang dirasakan dan utamakan istirahat, dari apapun juga, ya Bun.

Continue Reading

Pasca

Seks setelah Melahirkan, Ini Faktanya

mm

Published

on

seks setelah melahirkan
Bagaimana menghadapi seks setelah melahirkan? Ini tipsnya.

Menyebut seks, bisa jadi perasaan Bunda bergejolak, apalagi seks setelah melahirkan. Meski masa nifas sudah dilalui, Bunda mungkin merasa belum siap. 

Namun pertama-tama, sebelum kembali melakukan hubungan seks, pemeriksaan setelah masa nifas diperlukan untuk menentukan apakah semua organ yang berhubungan dengan seks sudah siap. Misalnya, apakah jahitan sudah sembuh? Jika ya, maka Bunda sudah siap melakukan hubungan seks yang melibatkan penetrasi. Anda dan pasangan juga dapat segera berdiskusi mengenai metode KB yang akan digunakan. 

Baca juga: Setelah Melahirkan, Berapa Lama Masa Nifas Berlangsung?

Tapi benarkah Bunda sudah siap?

Seringkali indikasi fisik–luka yang sudah sembuh dan lewatnya masa nifas–tidak menentukan telah siap atau tidaknya Anda kembali beraksi di atas ranjang. Khususnya melakukan hubungan seks yang melibatkan penetrasi. 

Faktanya setelah melahirkan, melakukan dan membangkitkan kegiatan dan gairah  seksual, bisa menjadi sebuah perjuangan. Dalam sebuah studi yang dilakukan BMC Pregnancy and Childbirth yang melibatkan 832 ibu yang melahirkan anak pertama, 47 persen melaporkan turunnya minat terhadap aktivitas seksual. Sementara 43 persennya mengalami vagina yang kering, dan 38 persen di antaranya mengalami nyeri saat penetrasi hingga 6 bulan setelah melahirkan. 

Jadi, jika Anda merasa tidak memiliki gairah seksual yang sama seperti sebelum melahirkan, Bunda tidak sendirian. 

Baca juga: Mengapa Bunda Perlu Menunda Berhubungan Intim setelah Melahirkan

Tubuh Bunda telah melalui banyak hal

Terlepas dari teori, tubuh dan kondisi psikis setiap ibu berbeda. Ada yang melalui proses pemulihan dengan cepat dan mulus, namun ada juga yang melaluinya dengan penuh perjuangan. Ibu yang melahirkan secara caesar biasanya melalui masa pemulihan yang lebih lama dibanding yang melahirkan secara per vaginam. Begitu pula soal kondisi psikis. Permasalahan ini tak hanya dipengaruhi oleh kondisi dan dukungan lingkungan tetapi juga kondisi hormonal. 

Bagaimanapun, tubuh Bunda telah melalui banyak perubahan selama kehamilan dan pasca persalinan. Tubuh Bunda telah melalui serangkaian proses yang mengagumkan, demi menghidupi janin di dalam tubuh. Dan perubahan itu, tidaklah mudah dilalui. 

Ketika hal ini dikaitkan dengan hubungan dengan suami di atas ranjang, Bunda mungkin akan mengalami keraguan. “Semua tidak akan sama seperti saat sebelum hamil,” begitu mungkin pikir Bunda. Pada kenyataannya, kehidupan dan tubuh Bunda memang berbeda. Dan itu wajar. Mulai dari nol, dan hapus bayangan yang membuat hubungan seks menjadi canggung. 

Fungsi seksual dan hasrat seksual adalah dua hal yang berbeda

Meski kondisi fisik sudah memungkinkan Bunda untuk kembali aktif secara seksual, bisa jadi hasrat seksual belumlah kembali normal. Jangan panik dulu. Hal itu sangat normal. 

Kondisi emosi Bunda setelah melahirkan dipengaruhi oleh banyak hal, lelah fisik dan mental dalam proses melahirkan, hormon yang belum seimbang, luka tubuh yang belum sembuh benar, kurang tidur, belum lagi penyesuaian dengan kehadiran si kecil di dunia. Ditambah lagi, jika Bunda menyusui. Vagina yang kering juga bisa menjadi masalah. Begitu pun kenyataan bahwa payudara Bunda, yang tadinya merupakan sumber rangsangan, sekarang memiliki fungsi lain. Semua hal ini cenderung berdampak secara emosional. 

Mempersiapkan tubuh (dan hati) untuk seks pasca melahirkan

Jika Bunda merasa sulit untuk kembali berhubungan seks setelah melahirkan, ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan. Pertama, lubrikan atau pelumas vagina, penting dipersiapkan. Produksi cairan vagina setelah melahirkan akan berkurang karena menurunnya kadar hormon estrogen dalam tubuh. 

Baca juga: Kapan Bunda Boleh Berolahraga setelah Melahirkan?

Selain itu, konsumsi cukup cairan akan menjaga tubuh terhidrasi dan membantu mengatasi vagina yang kering. Namun jika hubungan seksual masih terasa menyakitkan, jangan dipaksakan. Disini penting sekali untuk Bunda berkomunikasi dengan pasangan. Bunda tetap dapat mengusahakan hubungan yang intim dengan melakukan hal lain.

Tak ada salahnya terus berusaha, agar Bunda dapat menemukan taktik yang nyaman bagi tubuh Bunda. Jika misalnya penetrasi seks sulit dilakukan, cobalah bereksperimen dengan hal lain, yang dirasa dapat merangsang hasrat seksual Bunda dan membuat Anda nyaman. 

Ingatlah untuk tetap relaks dan menikmati prosesnya. Mungkin gairah seks Bunda tidak akan kembali secepat Anda (atau suami) mengharapkannya, akan tetapi usaha tidak akan menghianati hasil. Komunikasi harus tetap dilakukan untuk kenyamanan berdua.

Selamat mencoba. 

Continue Reading

Pasca

Bagaimana Mengetahui Jahitan Kering Pasca Melahirkan Normal?

mm

Published

on

cara mengetahui jahitan bersalin sudah kering
Berkonsultasi dengan nakes adalah salah satu cara mengetahui jahitan bersalin sudah kering.

Bunda mungkin pernah mendengar istilah perineum kala membaca-baca informasi seputar persalinan. Bila belum tahu, perineum adalah area di antara vagina dan anus yang terdiri dari kulit dan otot. Saat persalinan, perineum diharapkan meregang cukup lebar untuk mengeluarkan janin. 

Namun, seringkali, khususnya pada ibu yang melahirkan pervaginam untuk pertama kali, perineum tidak cukup elastis untuk meregang hingga akhirnya sobek. Kadang, Bunda juga membutuhkan tindakan episiotomi atau penyobekan perineum secara sengaja yang dilakukan oleh bidan atau dokter. Ini hanya akan dilakukan jika bayi butuh dikeluarkan secara cepat, misalnya karena detak jantungnya sudah melemah, atau nakes membutuhkan bantuan alat forcep untuk mengeluarkan bayi. 

Nah, untuk mengatasi sobekan ini, biasanya Bunda akan membutuhkan jahitan pada perineum. Jadi, jika orang-orang membicarakan jahitan setelah persalinan pervaginam, maka yang dimaksud adalah jahitan pada perineum ya, Bun.

Bagaimana Jahitan Dilakukan?

Setelah bayi berhasil dilahirkan, biasanya nakes akan langsung memeriksa kondisi perineum Bunda. Jika dibutuhkan, bidan atau dokter akan langsung menjahit perineum tanpa perlu memindahkan Bunda ke ruang lain. Sebelum memulai penjahitan, Bunda akan diberikan bius lokal agar tidak merasakan sakit. Waktu penjahitan kurang lebih adalah 15 – 30  menit tergantung seberapa lebar sobekan pada perineum.

Bila sobekan perineum Bunda dinilai derajat berat, maka Bunda akan dipindahkan ke ruang operasi dan diberikan anestesi spinal atau epidural. Dengan demikian, Bunda akan mengalami mati rasa mulai dari area pinggang ke bawah, tapi tetap terjaga.

Oh ya, jika sobekan perineum sangat kecil, Bunda bisa memilih untuk tidak mendapatkan jahitan. Meski begitu, keputusan ini tetap harus dikonsultasikan dengan nakes ya. Pun, belum diketahui apakah perineum yang tidak dijahit setelah sobek dapat mengganggu kenyamanan seks ke depannya. 

Bagaimana Cara Mengetahui Jahitan Bersalin Sudah Kering?

Jahitan pada perineum biasanya akan sembuh dengan mudah. Dalam kurun waktu dua minggu hingga satu bulan, benang jahitan biasanya telah lenyap dan menyatu dengan kulit. Namun, ini bisa berbeda-beda tergantung derajat sobekan ya, Bun.

Untuk cara mengetahui jahitan bersalin sudah kering atau belum, Bunda hanya bisa memastikannya dengan berkonsultasi pada dokter atau bidan. Ini bisa Bunda lakukan saat kunjungan nifas seminggu setelah melahirkan. Atau, bila Bunda ingin mengecek sendiri di rumah, gunakanlah cermin yang dihadapkan pada area vagina. Dengan demikian, Bunda dapat melihat apakah luka pada perineum semakin membaik penyembuhannya atau tidak.

Oh ya, Bunda juga bisa berkunjung lebih cepat ke dokter atau bidan di luar kunjungan nifas pertama jika mengalami gejala-gejala pada jahitan berikut ini:

  • Rasa nyeri tidak berkurang atau justru bertambah
  • Vagina mengeluarkan cairan berbau tidak sedap
  • Perdarahan yang tidak kunjung berhenti dari luka perineum
  • Pembengkakan yang tidak wajar di vagina dan sekitarnya
  • Mengalami demam tinggi.

Mempercepat Penyembuhan Jahitan

Agar jahitan pada perineum cepat kering atau sembuh, ada beberapa hal yang bisa Bunda lakukan loh di rumah. Inilah beberapa di antaranya.

  • Jaga perineum tetap bersih dengan mandi paling tidak sehari sekali, dianjurkan setelah buang air besar. Setelahnya, jaga perineum tetap kering dengan menepuknya secara lembut dengan handuk bersih.
  • Ganti sanitary pad secara berkala untuk menjaga perineum tetap kering.
  • Biarkan luka jahitan terpapar udara. Bunda bisa menggunakan kain setelah melahirkan.
  • Makan makanan bergizi karena penyembuhan luka perlu nutrisi Bunda yang baik
  • Makan makanan tinggi serat dan minum banyak air agar terhindar dari konstipasi. Konstipasi akan membuat Bunda mengejan saat buang air besar yang akhirnya berdampak buruk pada jahitan.
  • Tunda berhubungan seks hingga luka benar-benar pulih.

Bunda, itulah beberapa hal tentang jahitan persalinan yang perlu diketahui. Ingat untuk selalu berkonsultasi dengan dokter atau bidan untuk memastikan kondisi jahitan. Semoga cepat pulih ya, Bun.

Continue Reading

Trending