fbpx
Connect with us

Kehamilan

Cara Menghitung Berat Badan Janin yang Normal

mm

Published

on

menghitung berat badan janin

Ketika hamil dan menjalani pemeriksaan rutin di bidan atau dokter kandungan, salah satu yang dilihat untuk menilai perkembangan janin adalah berat badan dan ukurannya. Mengetahui berat badan janin dapat membantu tenaga kesehatan untuk mendeteksi dini kemungkinan adanya pertumbuhan berat janin yang tidak normal.  

Bagi tenaga kesehatan yang memeriksa kehamilan Bunda, berat badan janin sangat besar hubungannya dengan meningkatnya komplikasi selama masa persalinan dan nifas. Dengan mengetahui berat janin, penolong persalinan dapat memutuskan rencana persalinan apakah akan dilakukan secara spontan pervaginam atau tidak. 

Biasanya berat badan janin dapat diketahui melalui pemeriksaan ultrasonografi atau USG. Namun sebelum alat tersebut ditemukan, dokter atau bidan memperkirakan berat badan janin dengan cara manual melalui perhitungan atau rumus tertentu. Bagaimana caranya? 

Rumus Johnson

Rumus ini masih kerap digunakan bidan untuk memperkirakan berat badan janin. Sebelum menggunakan rumus ini, perlu dilakukan pengukuran tinggi fundus untuk mengetahui tinggi fundus uteri (TFU) atau puncak rahim. Pengukuran TFU dilakukan menggunakan alat ukur bernama methelin, dari titik nol di atas simfisis pubis sampai ke ujung tertinggi fundus uteri. 

Menentukan taksiran berat badan janin berdasarkan TFU merupakan pemeriksaan sederhana yang mudah dilakukan di fasilitas kesehatan yang belum memiliki fasilitas USG. 

Rumus Johnson adalah sebagai berikut: 

TBJ = (TFU – N) x 155 11 

Keterangan: 

TBJ = Taksiran Berat Janin 

TFU = Tinggi Fundus Uteri 

N = 13 bila kepala belum masuk PAP, 12 bila kepala masih berada di atas spina ischiadika, 11 bila kepala berada di bawah spina ischiadika

Rumus Risanto

Rumus ini ditemukan oleh Risanto Siswosudarmo dan diformulasikan berdasarkan penelitian yang dilakukannya pada populasi masyarakat Indonesia. Akan tetapi, rumus ini tidak digunakan secara luas oleh tenaga kesehatan.

Rumus Risanto adalah sebagai berikut: 

TBJ = 127.6 x TFU – 931,5

Keterangan: 

TBJ = Taksiran Berat Janin 

TFU = Tinggi Fundus Uteri

Formula Dare

Pada tahun 1990, Dare et al mengajukan formula untuk menghitung taksiran berat badan janin yang lebih mudah. Cara yang dipakai adalah dengan mengukur lingkar perut ibu dalam centimeter kemudian dikalikan dengan ukuran fundus uteri dalam centimeter. 

Formula Dare adalah sebagai berikut: 

TBJ = TFU x LP 13

Cara ini dianggap lebih mudah dan memiliki kemungkinan bias yang lebih sedikit dibandingkan metode lain, sehingga lebih banyak digunakan oleh berbagai kalangan. Formula ini juga dianggap memiliki nilai prediktif yang baik untuk bayi berat lahir rendah (BBLR). 

Ketahui Berat Badan Janin Normal sesuai Usia Kehamilan 

Berat janin akan berkembang terus dari minggu ke minggu. Sampai usia kehamilan 20 minggu, biasanya berat janin akan mencapai 250 gram. Memasuki usia kehamilan 20 minggu hingga 28 minggu, berat janin akan bertambah sampai 1,8 kg. Pertumbuhan berat janin akan menjadi lebih cepat di trimester ketiga, saat organ-organ tubuh janin sudah lengkap dan ia mulai menimbun lemak. Di trimester ketiga, sekitar usia 36 minggu, berat badan janin akan mencapai 2,5kg. 

Setelah mengetahui cara menghitung taksiran berat janin, Bunda dapat membandingkannya dengan tabel pertumbuhan berat badan normal yang tertera pada tabel di bawah ini:

Perlu diingat bahwa kondisi ibu dan janin tidaklah sama satu dengan yang lainnya. Mungkin pertumbuhan janin tidak selalu sesuai dengan tabel di atas. Tenaga kesehatan, baik dokter kandungan maupun bidan yang akan menentukan apakah berat janin dalam kandungan Bunda tergolong normal atau di bawah/atas normal.

Akan tetapi, dengan mengetahui berat badan janin berada di atas atau di bawah normal, tenaga kesehatan dapat meminta Bunda untuk mengatur pola makan untuk memastikan berat badan janin tidak jauh dari angka ideal. 

Itulah beberapa rumus yang dapat digunakan untuk menentukan berat janin. Meski demikian, pemeriksaan USG dapat Bunda lakukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kehamilan

Memahami Perubahan pada Tubuh setelah Keguguran

mm

Published

on

efek keguguran
Efek keguguran tak hanya pada psikis, tapi juga fisik

Bunda mungkin ingat beberapa waktu lalu Chrissy Teigen, istri dari penulis lagu dan penyanyi John Legend, sempat berbagi cerita pengalamannya melalui keguguran via Instagram maupun Twitter. Dari kisahnya, kita jadi memahami bahwa keguguran bukanlah pengalaman yang mudah untuk dilalui, baik secara psikis maupun fisik. Efek keguguran pada fisik ibu bahkan bisa bertahan hingga berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.

Bila Bunda adalah salah satu yang baru saja melalui momen berat itu, artikel ini mungkin bisa membantu Bunda memahami perubahan apa saja yang terjadi dan apa yang harus dilakukan karenanya.

Perubahan Fisik setelah Mengalami Keguguran

Di Indonesia, perempuan pekerja yang mengalami keguguran berhak mendapatkan cuti selama 1,5 bulan lamanya. Pemberian waktu istirahat ini bukan tanpa alasan. Selain kondisi emosional yang butuh waktu untuk pulih, kondisi fisik Bunda setelah mengalami keguguran pun akan terasa sangat berbeda.

Dilansir dari Parents.com, semakin lama Bunda mengalami kehamilan sebelum akhirnya keguguran, semakin banyak pula efek keguguran yang akan dirasakan tubuh. Hal paling mungkin yang Bunda rasakan adalah perubahan pada payudara dan kenaikan berat badan. 

Jika Bunda mengalami kematian janin dalam kandungan atau intrauterine fetal death (IUFD) di mana usia kandungan sudah di atas 20 minggu, Bunda mungkin sudah merasakan penuh pada payudara karena ASI sudah mulai dipersiapkan. ASI yang semestinya diperuntukkan bagi bayi, kini tetap tinggal dalam payudara dan bisa menimbulkan rasa sakit.

Tak hanya itu, hal lainnya yang mungkin Bunda alami adalah timbulnya selulit, sakit pada perut, rambut rontok, hingga rasa sakit pada vagina. Rasa sakit pada vagina ini umumnya dirasakan oleh para bunda yang mendapatkan episiotomi (jahitan pada perineum) ketika proses mengeluarkan janin. 

Bunda juga akan merasakan kram perut karena rahim yang berkontraksi untuk mengeluarkan sisa darah. Perdarahan yang lebih banyak dari menstruasi pun akan terjadi. Gumpalan darah pun mungkin akan turut keluar. Bagi Bunda yang sebelumnya pernah melahirkan, rasanya tidak akan jauh berbeda dengan masa nifas. 

Efek keguguran pada tubuh ini bisa bertahan selama beberapa hari bahkan minggu tergantung lamanya kehamilan sebelum mengalami keguguran. Perdarahan yang dialami oleh perempuan saat keguguran di usia 6 minggu biasanya akan lebih sedikit dan singkat dibanding perdarahan pada keguguran di usia 16 minggu.

Kondisi Emosional yang Dialami

Selain perubahan fisik, perubahan emosional tak dapat dinafikan. Rasa bingung, sedih, bahkan bersalah, campur baur jadi satu. Dan rasa duka ini mungkin diperparah dengan kondisi hormon yang berubah tiba-tiba. Saat keguguran terjadi, hormon estrogen dan progesteron turun drastis. Hormon hCG pun pelan-pelan menurun hingga nol. Kondisi emosional yang sudah tak stabil akan bertambah buruk karena hal ini.

Bagaimana Menyelesaikannya?

Kondisi fisik yang melelahkan ditambah dengan kondisi emosional yang masih berduka mungkin membuat Bunda ingin menyendiri dan menjauh dari kehidupan sosial. Its okay, take your time. Namun, jika dirasa Bunda tak dapat menyelesaikannya sendiri, cobalah ungkapkan perasaan kepada orang terdekat yang membuat Bunda nyaman. Entah itu pasangan, orang tua, atau sahabat. 

Tak perlu pula merasa bersalah jika Bunda ingin menerima bantuan sebanyak mungkin. Kondisi fisik yang belum sepenuhnya prima mungkin akan membuat Bunda kesulitan mengerjakan pekerjaan rumah. Jika sahabat ataupun saudara menawarkan bantuan, terimalah selama Bunda merasa nyaman.
Jika bercerita dengan orang terdekat belum juga mendamaikan hati Bunda, Bunda bisa meminta bantuan profesional, seperti terapis, psikolog, ataupun psikiater. Bergabung dalam support group pun terkadang bisa membantu. Namun, pastikan support group yang Bunda ikuti diampu oleh seorang tenaga ahli, ya.

Continue Reading

Kehamilan

Pertanyaan seputar Vaksin Covid-19 untuk Ibu Hamil dan Menyusui

mm

Published

on

vaksin covid untuk ibu hamil
Apakah vaksin Covid-19 bagi ibu hamil atau menyusui benar aman dan efektif?

Vaksinasi Covid-19 terus digencarkan pemerintah untuk mencapai kekebalan komunitas atau herd immunity. Di tengah program yang terus bergulir, banyak juga pertanyaan terkait keamanan dan efektivitas vaksin, salah satunya untuk ibu hamil dan menyusui. 

Berikut ini Ibu Sehati merangkumkan beberapa pertanyaan yang kerap muncul mengenai kaitan vaksin Covid-19 dengan ibu hamil dan menyusui. Yuk, disimak. 

Bagaimana cara kerja vaksin Covid-19?

Tujuan vaksin adalah agar penerima dapat memiliki kekebalan terhadap suatu penyakit. Untuk Covid-19 itu sendiri, yang menjadi penyebabnya adalah virus SARS CoV-2. Melalui vaksinasi tubuh kita berkenalan dengan virus tersebut. Setelah dikenali, diharapkan tubuh dapat membangun sistem kekebalan untuk melawan virus tersebut. Mereka yang belum menerima vaksin, tubuhnya tidak mengenali virus dan tidak tahu cara melawannya. Itu sebabnya, mereka yang tidak menerima vaksin, dapat jatuh sakit karena tubuh tidak memiliki bekal untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh virus. 

Akan tetapi, kekebalan tubuh itu tidak datang secara serta-merta. Diperlukan waktu bagi vaksin untuk dapat bekerja maksimal. Vaksin SInovac yang digunakan di Indonesia, misalnya, diperlukan dua kali suntikan dengan jarak antara 28 hingga 40 hari. 

Apakah janin bisa mengidap Covid-19 jika ibu hamil menerima vaksin Covid-19?

Melalui vaksinasi Covid-19, bayi dalam kandungan ibu tidak akan terpapar virus. Virus Covid-19 itu sendiri terbuat dari satu protein yang tidak akan bereplikasi di dalam tubuh manusia. Selain tidak menyebabkan seorang yang divaksin menjadi positif Covid-19, begitupun janin dalam perut ibu hamil. 

Apakah vaksin Covid-19 aman untuk ibu hamil dan menyusui?

Dalam situasi darurat, uji klinis vaksin tidak akan melibatkan ibu hamil. Itu sebabnya, hingga sekarang tidak ada angka efikasi maupun keamanan vaksin bagi ibu hamil. Dari semua vaksin Covid-19 yang beredar saat ini pun tidak ada yang melibatkan ibu menyusui dalam uji klinisnya. 

Namun, vaksin dari jenis mRNA yang tidak diaktifkan, sehingga tidak dapat bereplikasi dibandingkan vaksin lain dengan jenis yang sama seperti vaksin tetanus, difteri maupun influenza. Sehingga, secara umum vaksin jenis ini aman dan dapat memberikan perlindungan pasif untuk janin, serta tidak menyebabkan keguguran maupun kelainan kongenital. 

Namun demikian, sejumlah badan dunia, organisasi profesi, lembaga kesehatan nasional maupun internasional seperti World Health Organisation (WHO) dan Persatuan Obstetri dan Ginekolog Indonesia (POGI) belum merekomendasikan vaksinasi Covid-19 untuk ibu hamil. Sebaliknya, vaksinasi bagi ibu menyusui diperbolehkan sepanjang tidak ada kontraindikasi. 

Apakah perlu berhenti menyusui setelah divaksin?

Bayi akan mendapatkan segudang manfaat dari air susu ibu. Manfaat ASI bagi tumbuh kembang bayi begitu berlimpah, termasuk di dalamnya antibodi. Itu sebabnya, Bunda tidak perlu berhenti menyusui setelah menerima vaksin Covid-19. Bahkan bayi dapat menerima manfaat vaksin dari ASI Bunda. 

Saya berencana menjalankan program hamil, apakah boleh divaksin?

Jika Bunda berencana menjalankan program kehamilan, sebaiknya tunda terlebih dahulu sampai mendapatkan vaksin Covid-19. Bunda dapat menjalankan program hamil paling lama 4 minggu setelah divaksin untuk menghindari Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)

Saya tengah melaksanakan vaksinasi lain, apakah dapat menerima vaksin Covid-19?

Tergantung vaksinasi apa yang sedang dilaksanakan. Jika dari vaksinasi tersebut diharapkan angkat titer antibodi tinggi dalam waktu yang cepat, maka vaksinasi tersebut perlu diselesaikan terlebih dahulu. Sementara untuk pemberian vaksin yang bersifat booster atau penguat, dapat ditunda.  

Apakah vaksin Covid-19 dapat menyebabkan kemandulan?

Tidak ada bukti bahwa vaksin Covid-19 menyebabkan kemandulan. Kabar ini sempat beredar Desember tahun lalu. Dikatakan bahwa kandungan yang ada pada vaksin bisa menyerang protein yang diperlukan untuk perkembangan plasenta. Akan tetapi, direktur WHO menepis kabar tersebut. Menurut situs Healthline, protein vaksin Covid-19 merupakan struktur yang sama sekali berbeda dari protein yang ada di plasenta. Sehingga, keduanya tidak berhubungan. 

Continue Reading

Kehamilan

Depresi Pasca Persalinan, Lebih Rentan saat Pandemi Covid-19?

mm

Published

on

depresi pasca persalinan

Masa nifas atau postpartum kerap menjadi masa yang sulit bagi ibu baru. Adaptasi, rasa sakit pasca-melahirkan, lelah mengurus bayi, kurang tidur, puting lecet; semua itu berpotensi membuat ibu baru merasa kewalahan. Belum lagi, jika dukungan sosial tak cukup baik, rasa lelah dan stres mungkin meningkat berkali lipat.

Sayangnya, masa pandemi seperti ini menambah buruk kondisi yang sudah sulit bagi seorang ibu baru. Isolasi, pembatasan mobilitas, tak bisa dengan mudah bertemu kerabat dekat, hingga kekhawatiran tertular virus mematikan telah membuat segalanya jadi lebih buruk. Dilansir dari whattoexpect.com, sebuah studi menunjukkan bahwa depresi pascapersalinan atau postpartum depression (PPD) dan postpartum anxiety (PPA) meningkat selama pandemi Covid-19.

Apa Itu PPD dan PPA?

Bunda mungkin akrab dengan istilah baby blues, rasa sedih yang kerap melanda ibu baru selama 2 minggu pertama setelah melahirkan. Biasanya, baby blues disebabkan oleh perubahan hormon drastis karena usainya kehamilan. Jika rasa sedih dan cemas bertahan selama lebih dari 2 minggu, berhati-hatilah! Bisa jadi itu adalah sinyal PPD dan PPA.

PPD bisa muncul kapan saja. Tidak selalu terjadi setelah melahirkan. Hingga anak berusia 1 tahun, depresi yang muncul dalam rentang waktu itu bisa dikategorikan sebagai PPD. Ibu dengan PPD mungkin merasakan kelelahan yang teramat sangat dan kewalahan. Ibu lain mungkin merasakan gejala yang berbeda seperti sulitnya membangun hubungan dengan anak serta adanya perasaan konsisten untuk menyakiti buah hati.

Sementara itu, PPA adalah rasa khawatir berlebihan akan keselamatan dan keamanan bayi. Kecemasan dan kekhawatiran ini hadir secara konsisten disertai dengan gejala fisik seperti pusing dan mual.

Pandemi Covid-19 Membuat Ibu Lebih Rentan terhadap PPD dan PPA

Dikutip dari whattoexpect.com, 1 dari 8 ibu menderita PPD dalam kondisi sebelum pandemi. Studi terkini menunjukkan bahwa dalam kondisi pandemi, angka kemungkinannya bisa lebih besar dari ini. 

Sebuah studi yang dilakukan pada Mei hingga Agustus 2020 menemukan bahwa 36% atau 1 dari 3 wanita hamil dan ibu baru mengidap depresi. Prevalensi ini meningkat dari yang sebelumnya hanya sekitar 10% saja.

Apa yang kira-kira membuatnya jadi lebih buruk? Pandemi mengubah hidup kita. Dari yang sebelumnya bisa bebas keluar rumah, menjadi harus membatasi diri. Kalaupun akhirnya pergi ke luar rumah, ada beberapa proteksi yang mesti dilakukan dan tidak benar-benar bebas. Pulang dari beraktivitas di luar rumah pun kita kerap dilanda kecemasan apakah akan tertular covid.

Di samping itu, pandemi memisahkan kita dari orang-orang terdekat. Karena pandemi, bisa jadi seorang ibu baru terkendala mendapatkan dukungan dari orang tuanya atau kerabatnya karena terpisah kota atau pulau. Yang mana, kita tahu bahwa mobilitas antarkota apalagi antarpulau benar-benar dibatasi akhir-akhir ini.

Yang terakhir adalah kekhawatiran bayi akan terjangkit virus Covid-19. Di masa normal saja, bayi sudah menjadi golongan rentan terserang virus dan penyakit, apalagi sekarang? Kecemasan ibu pasti akan berlipat.

Menangani PPD dan PPA di Tengah Pandemi

Penanganan PPD dan PPA di tengah pandemi agak berbeda dengan saat kondisi normal. Di beberapa rumah sakit, layanan psikolog dan psikiater mungkin belum dibuka. Sebagai gantinya, beberapa klinik membuka layanan konsultasi daring melalui platform digital seperti zoom. Ini untuk menghindari risiko penularan Covid-19.

Jika Bunda ragu untuk pergi ke psikolog atau psikiater, mungkin Bunda bisa menceritakan keluhan yang dirasa terlebih dulu kepada obgyn atau bidan saat kontrol rutin setelah melahirkan. Obgyn atau bidan mungkin akan memberikan kuesioner untuk diisi sebagai skrining awal depresi. Bila Bunda dideteksi rentan terhadap depresi, barulah obgyn ataupun bidan akan merujuk Bunda ke terapis profesional.

Ancaman PPD dan PPA selama pandemi tidak bisa diremehkan. Kondisi yang berubah membuat adaptasi sebagai ibu baru jadi lebih sulit. Jika Bunda merasa kewalahan, stres, ataupun tertekan, segera ceritakan pada orang terdekat maupun tenaga profesional.

Continue Reading

Trending