fbpx
Connect with us

Kehamilan

Benarkah Kram Perut saat Hamil Muda itu Wajar?

mm

Published

on

kram perut saat hamil muda

Ketika hamil, kram perut bisa menjadi momok. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan kejadian yang tidak normal, dari keguguran hingga kehamilan ektopik atau hamil di luar kandungan. Akan tetapi, pada beberapa kasus, sebenarnya kram perut saat hamil muda normal terjadi loh, Bun. Mengetahui mengapa kram terjadi, bisa mengurangi kecemasan yang Bunda rasakan.

Kram di awal kehamilan

Ada makhluk hidup yang berkembang di dalam janin. Itu artinya, tubuh Bunda pun akan mengalami perubahan-perubahan serius, bahkan di awal masa kehamilan. Rasa kram ini bisa disebabkan oleh meregangnya ligamen dan otot-otot yang menyokong rahim Bunda yang terus membesar. Ingatlah, sepanjang kehamilan ini ukuran rahim Bunda akan berkembang dari seukuran jeruk ke ukuran semangka. Peregangan otot tersebut, sangat mungkin menimbulkan rasa kram perut. 

Selain itu, beberapa hal umum yang menjadi penyebab kram perut di awal kehamilan adalah:

  • Implantasi: kram bisa menjadi tanda awal kehamilan. Saat telur yang sudah dibuahi mencari tempat untuk tinggal dan tumbuh, di dalam dinding rahim Bunda. Implantasi ini biasanya juga disertai dengan flek atau perdarahan minimal. Seiring bertambahnya usia kehamilan, rasa kram akan hilang, begitu pula flek dan perdarahan. 
  • Nyeri otot: di minggu ke-13 kehamilan, Bunda mungkin akan merasakan nyeri perut yang disebabkan oleh melebarnya ligamen yang menyokong perut. 
  • Gejala sakit perut: perubahan hormon selama kehamilan bisa mengganggu sistem pencernaan, membuat sistem ini berjalan lebih ‘malas’. Hal ini bisa menyebabkan timbulnya gas, kembung, dan sembelit yang tidak nyaman di perut.  
  • Hubungan seksual: semen mengandung banyak prostaglandin, yaitu hormon yang secara alami akan dilepaskan selama persalinan untuk membantu mulut rahim terbuka. Proses ini juga kerap dihubungkan dengan kontraksi, sehingga kram setelah berhubungan seks bukan mustahil dirasakan oleh Bunda. 

Meredakan rasa kram

Kram ini biasanya akan hilang dengan sendirinya, tapi jika tidak, Bunda bisa melakukan beberapa hal untuk mengurangi ketidaknyamanan. Cobalah untuk berbaring atau duduk, jika sebelumnya Bunda sedang berdiri atau berjalan. Jika Bunda sudah dalam kondisi berbaring, coba ganti posisi. Biasanya rasa kram akan perlahan hilang dengan sendirinya. 

Namun jika tidak, coba untuk mandi air hangat dan relaks. Hitung-hitung me time, Bun. Ingat, setelah melahirkan si kecil, kesempatan ini akan lebih sulit Bunda nikmati. Selain itu, Bunda juga bisa mencoba membungkuskan handuk hangat di area yang terasa kram. Pastikan Bunda juga cukup minum air putih ya. 

Jika kram terasa lebih serius

Walaupun kram yang dirasakan ibu hamil umumnya dalam skala ringan-sedang yang tidak perlu dikhawatirkan, pada beberapa kasus kram juga bisa menandakan adanya masalah yang lebih serius. Kram yang terasa sakit bisa menjadi tanda adanya kehamilan ektopik, yaitu kondisi saat telur yang sudah dibuahi berkembang di luar kantung rahim. Kram ini biasanya terasa tajam, seperti ada yang menusuk-nusuk dari dalam perut Bunda. Rasa nyeri akan dirasakan di perut bagian bawah dan biasanya tidak akan mereda jika Bunda berubah posisi. 

Rasa nyeri yang tajam dan intens juga bisa menandakan keguguran, namun biasanya kondisi ini juga disertai dengan pendarahan yang cukup serius. Dokter Anda perlu melihat situasinya secara menyeluruh untuk dapat menyimpulkan penyebab kram. Misalnya dengan melakukan pemeriksaan fisik, ultrasound (USG), dan pemeriksaan darah untuk menegakkan diagnosa. 

Kapan harus menghubungi dokter?

Bukan berarti Bunda harus menghubungi dokter atau bidan setiap kali merasakan nyeri atau kram perut saat hamil muda, ya Bunda. Meski demikian, agar Bunda merasa lebih nyaman dan tenang, tidak ada salahnya berkonsultasi ke dokter, terutama jika merasakan hal berikut ini:

  • Kram yang terasa mirip kontraksi dan berlangsung secara teratur: Jika Bunda mengalami nyeri kram selama enam kali atau lebih dalam satu jam, bisa jadi Bunda mengalami persalinan prematur. Segera hubungi dokter atau bidan ya, Bun. 
  • Kepala pusing dan terasa berputar, atau perdarahan: Di awal masa kehamilan, kombinasi dari gejala-gejala tersebut bisa menjadi tanda keguguran atau kehamilan ektopik, terutama jika nyeri yang dirasakan berasal dari satu sisi perut. 
  • Nyeri punggung: kondisi ini memang kerap dirasakan ibu hamil, namun jika nyeri punggung terasa amat parah disertai mual, muntah, dan atau demam, atau buang air seni terasa nyeri, maka ini adalah gejala penyakit serius seperti infeksi usus buntu, batu ginjal, atau penyakit kantung kemih. 

Segera hubungi dokter atau bidan jika mengalami kondisi seperti di atas ya, Bun. 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kehamilan

Mengatasi Kekurangan Zat Besi pada Ibu Hamil

mm

Published

on

kekurangan zat besi

Apakah Anda sedang mencoba untuk hamil, sedang hamil, atau menjalani masa pemulihan pasca persalinan, kandungan zat besi dalam tubuh menjadi hal penting yang perlu terus dipantau oleh tenaga kesehatan. Apalagi, jika Bunda berisiko tinggi mengalami defisiensi anemia zat besi, tipe anemia yang paling sering ditemui.

Apa itu anemia zat besi? Ini adalah kondisi yang disebabkan oleh rendahnya kadar zat besi dalam tubuh. Anemia akan terjadi saat tubuh tidak dapat memproduksi cukup banyak sel darah merah, atau jika sel darah merah dalam tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik. 

Gejala Anemia Zat Besi 

Jika kadar zat besi dalam tubuh rendah, ibu hamil bisa mengalami beberapa gejala dan tanda berikut ini:

  • Cepat lelah 
  • Tangan dan kaki terasa dingin 
  • Pusing
  • Lesu 
  • Nyeri dada
  • Kulit pucat dan kuku rapuh 
  • Denyut jantung tidak beraturan
  • Sakit kepala 
  • Suhu tubuh rendah 
  • Napas pendek

Lantas, apa yang menjadi penyebab utama anemia zat besi? Pada umumnya, asupan zat besi yang kurang menjadi penyebab utama. Hal ini bisa terjadi jika pola makan yang Bunda terapkan tidak cukup menyertakan makanan yang kaya zat besi, terjadinya perdarahan, kondisi kesehatan tertentu seperti penyakit celiac atau Crohn’s yang menyebabkan tubuh sulit menyerap zat besi dari makanan, serta kurangnya suplementasi zat besi. 

Selain itu, anemia zat besi juga lebih sering dialami oleh perempuan daripada lelaki dan cenderung lebih banyak dialami oleh ibu hamil. 

Bagaimana Kehamilan Memicu Anemia Zat Besi?

Ketika hamil, tubuh memerlukan lebih banyak zat besi untuk pertumbuhan sel-sel tubuh yang mendukung perkembangan janin. Kebutuhan ini akan meningkat pada trimester kedua akhir. 

Menurut Dr. Matthew Cantor, dokter obstetri dan kebidanan di Rumah Sakit NewYork-Presbyterian Hudson Valley, AS, anemia zat besi ini terjadi pada ibu hamil karena dua alasan: 

  1. Volume darah ibu hamil meningkat tajam yang menyebabkan kadar zat besi dalam darah menjadi lebih encer 
  2. Perempuan yang mengalami anemia sebelum kehamilan biasanya akan terus mengalami anemia zat besi dan perlu dimonitor secara ketat oleh dokter. 

Ini Peran Penting Zat Besi dalam Kehamilan

Ibu hamil biasanya akan disarankan untuk mengonsumsi suplemen zat besi untuk mencegah terjadinya anemia. Pasalnya, zat besi punya peran yang sangat krusial selama kehamilan. Tubuh memerlukan lebih banyak darah untuk membantu menyuplai plasenta dengan nutrisi yang diperlukannya untuk tumbuh. Selain itu, zat besi juga diperlukan untuk membantu mencegah kondisi kesehatan yang dapat berpengaruh buruk terhadap ibu hamil maupun si kecil dalam kandungan. 

Seperti dinyatakan oleh American College of Obstetricians and Gynecologist (ACOG), ibu hamil disarankan mengonsumsi zat besi dua kali lebih banyak dibanding perempuan yang tidak hamil. Hal ini diperlukan untuk memastikan asupan oksigen ke janin tetap terpenuhi. 

Menurut Dr. Cantor, zat besi sangat penting perannya dalam kehamilan, karena hal berikut ini: 

  • Mengatasi anemia sebelum persalinan dapat mengkompensasi hilangnya darah selama proses persalinan normal. 
  • Kondisi anemia sebelum persalinan meningkatkan kemungkinan ibu hamil memerlukan transfusi darah. 
  • Lebih jauh lagi, ada keterkaitan antara anemia dan berat bayi lahir rendah, persalinan prematur, preeklampsia, dan angka kematian ibu hamil dan bayi baru lahir. Persalinan prematur maupun berat bayi lahir rendah meningkatkan risiko terjadinya masalah perkembangan selama masa kanak-kanaknya. 
  • Anemia dapat menimbulkan kesulitan saat menyusui dan juga dikaitkan dengan depresi pascapersalinan

Mengatasi Anemia Zat Besi sebelum Kehamilan

Jika anemia terdiagnosa sebelum kehamilan, penting bagi tenaga kesehatan untuk mencari tahu tipe anemia yang Bunda alami. Tenaga kesehatan yang menangani Bunda dapat melakukan beberapa pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya. Bisa jadi anemia ini disebabkan oleh kekurangan asam folat atau vitamin B12, serta mutasi sel darah merah atau thalassemia. 

Darah menstruasi yang deras juga bisa menjadi penyebab kekurangan zat besi yang kerap dialami oleh perempuan dalam usia produktif yang tidak hamil. Penanganan anemia sebelum kehamilan sama saja dengan saat hamil, yaitu dengan memperbaiki pola makan dan suplementasi zat besi. 

Mengatasi Anemia Zat Besi saat Hamil

Dokter akan melakukan pemeriksaan anemia di awal masa kehamilan dan kemudian diulangi di trimester kedua dan ketiga. 

Mendorong pola makan yang kaya kandungan zat besi bisa membantu mengatasi masalah. Akan tetapi, jenis sumber zat besi juga mempengaruhi penyerapannya. Misalnya saja, zat besi yang bersumber dari tanaman seperti sayuran hijau, kerang, kacang-kacangan, biji-bijian maupun polong-polongan kurang dapat diserap dengan baik. Disarankan untuk mengonsumsi zat besi dari makanan yang berasal dari hewan, misalnya daging merah, daging unggas dan ikan. Untuk membantu penyerapan zat besi, ibu hamil juga disarankan untuk mengonsumsi makanan sumber zat besi bersama makanan yang tinggi kandungan vitamin C. 

Mengingat pentingnya peran zat besi selama kehamilan, suplementasi zat besi merupakan hal yang wajib dilakukan. Suplemen zat besi ini bisa dikonsumsi setiap hari atau dua hari sekali. Dalam setiap kapsul suplemen terkandung 27 miligram zat besi, atau setara jumlah yang disarankan selama masa kehamilan. 

Jika kekurangan zat besi dialami selama trimester kedua kehamilan, dokter juga akan memberikan suplemen zat besi secara oral. Untuk membantu penyerapan zat besi dalam suplemen, sebaiknya dikonsumsi dalam keadaan perut kosong bersama jus jeruk. Sementara jika terdeteksi pada trimester ketiga, dan ditemukan kondisi anemia tidak membaik, bisa saja dokter menyarankan untuk suplementasi zat besi melalui infus. 

Anemia Zat Besi Pasca Persalinan

Setelah persalinan dan selama dua minggu sampai dua bulan pertama pascapersalinan, biasanya gejala anemia akan berkurang. Kejadian anemia memang mengalami penurunan setelah persalinan karena proses menyusui membuat perempuan tidak mengalami menstruasi. 

Meski demikian, beberapa perempuan masih mengalami anemia zat besi setelah persalinan. Hal ini biasanya disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi selama kehamilan dan banyaknya darah yang hilang saat proses melahirkan. Anemia yang terjadi pasca persalinan ini bisa meningkatkan gejala yang berkaitan dengan kecemasan, stres, dan depresi. Hal ini juga mengurangi keeratan ikatan antara ibu dan anak. 

Maka dari itu, suplemen tetap penting diberikan kepada ibu yang baru melahirkan. Suplementasi ini membantu mendukung proses menyusui dan mengurangi risiko depresi pasca persalinan pada ibu. 

Demikian penjelasan mengenai risiko anemia sebelum dan selama kehamilan, serta pasca persalinan, juga cara mengatasinya. Dengan mencegah anemia zat besi, Bunda juga menjaga kesehatan janin dan diri sendiri. Sepele, tapi penting artinya. Jadi, jangan sampai melewatkan pemeriksaan ini ya, Bunda. 

Continue Reading

Kehamilan

Cara Menghitung Berat Badan Janin yang Normal

mm

Published

on

menghitung berat badan janin

Ketika hamil dan menjalani pemeriksaan rutin di bidan atau dokter kandungan, salah satu yang dilihat untuk menilai perkembangan janin adalah berat badan dan ukurannya. Mengetahui berat badan janin dapat membantu tenaga kesehatan untuk mendeteksi dini kemungkinan adanya pertumbuhan berat janin yang tidak normal.  

Bagi tenaga kesehatan yang memeriksa kehamilan Bunda, berat badan janin sangat besar hubungannya dengan meningkatnya komplikasi selama masa persalinan dan nifas. Dengan mengetahui berat janin, penolong persalinan dapat memutuskan rencana persalinan apakah akan dilakukan secara spontan pervaginam atau tidak. 

Biasanya berat badan janin dapat diketahui melalui pemeriksaan ultrasonografi atau USG. Namun sebelum alat tersebut ditemukan, dokter atau bidan memperkirakan berat badan janin dengan cara manual melalui perhitungan atau rumus tertentu. Bagaimana caranya? 

Rumus Johnson

Rumus ini masih kerap digunakan bidan untuk memperkirakan berat badan janin. Sebelum menggunakan rumus ini, perlu dilakukan pengukuran tinggi fundus untuk mengetahui tinggi fundus uteri (TFU) atau puncak rahim. Pengukuran TFU dilakukan menggunakan alat ukur bernama methelin, dari titik nol di atas simfisis pubis sampai ke ujung tertinggi fundus uteri. 

Menentukan taksiran berat badan janin berdasarkan TFU merupakan pemeriksaan sederhana yang mudah dilakukan di fasilitas kesehatan yang belum memiliki fasilitas USG. 

Rumus Johnson adalah sebagai berikut: 

TBJ = (TFU – N) x 155 11 

Keterangan: 

TBJ = Taksiran Berat Janin 

TFU = Tinggi Fundus Uteri 

N = 13 bila kepala belum masuk PAP, 12 bila kepala masih berada di atas spina ischiadika, 11 bila kepala berada di bawah spina ischiadika

Rumus Risanto

Rumus ini ditemukan oleh Risanto Siswosudarmo dan diformulasikan berdasarkan penelitian yang dilakukannya pada populasi masyarakat Indonesia. Akan tetapi, rumus ini tidak digunakan secara luas oleh tenaga kesehatan.

Rumus Risanto adalah sebagai berikut: 

TBJ = 127.6 x TFU – 931,5

Keterangan: 

TBJ = Taksiran Berat Janin 

TFU = Tinggi Fundus Uteri

Formula Dare

Pada tahun 1990, Dare et al mengajukan formula untuk menghitung taksiran berat badan janin yang lebih mudah. Cara yang dipakai adalah dengan mengukur lingkar perut ibu dalam centimeter kemudian dikalikan dengan ukuran fundus uteri dalam centimeter. 

Formula Dare adalah sebagai berikut: 

TBJ = TFU x LP 13

Cara ini dianggap lebih mudah dan memiliki kemungkinan bias yang lebih sedikit dibandingkan metode lain, sehingga lebih banyak digunakan oleh berbagai kalangan. Formula ini juga dianggap memiliki nilai prediktif yang baik untuk bayi berat lahir rendah (BBLR). 

Ketahui Berat Badan Janin Normal sesuai Usia Kehamilan 

Berat janin akan berkembang terus dari minggu ke minggu. Sampai usia kehamilan 20 minggu, biasanya berat janin akan mencapai 250 gram. Memasuki usia kehamilan 20 minggu hingga 28 minggu, berat janin akan bertambah sampai 1,8 kg. Pertumbuhan berat janin akan menjadi lebih cepat di trimester ketiga, saat organ-organ tubuh janin sudah lengkap dan ia mulai menimbun lemak. Di trimester ketiga, sekitar usia 36 minggu, berat badan janin akan mencapai 2,5kg. 

Setelah mengetahui cara menghitung taksiran berat janin, Bunda dapat membandingkannya dengan tabel pertumbuhan berat badan normal yang tertera pada tabel di bawah ini:

Perlu diingat bahwa kondisi ibu dan janin tidaklah sama satu dengan yang lainnya. Mungkin pertumbuhan janin tidak selalu sesuai dengan tabel di atas. Tenaga kesehatan, baik dokter kandungan maupun bidan yang akan menentukan apakah berat janin dalam kandungan Bunda tergolong normal atau di bawah/atas normal.

Akan tetapi, dengan mengetahui berat badan janin berada di atas atau di bawah normal, tenaga kesehatan dapat meminta Bunda untuk mengatur pola makan untuk memastikan berat badan janin tidak jauh dari angka ideal. 

Itulah beberapa rumus yang dapat digunakan untuk menentukan berat janin. Meski demikian, pemeriksaan USG dapat Bunda lakukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat.

Continue Reading

Kehamilan

Hal yang Perlu Bunda Lakukan di Trimester Pertama untuk Kehamilan yang Nyaman

mm

Published

on

trimester pertama kehamilan

Saat tahu positif hamil dan memasuki trimester pertama, apa yang Bunda rasakan? Senang? Antusias? Panik? Rasanya semua baur jadi satu ya, Bun. Di trimester pertama kehamilan, memang sangat wajar Bunda merasakan ini semua, apalagi jika ini kebetulan juga merupakan kehamilan pertama saat Bunda belum punya pengalaman terdahulu. 

Positifnya, Bunda mungkin akan lebih rajin mempersiapkan diri untuk mendapatkan kehamilan yang sehat dan prima. Eits, tapi jika berlebihan, yang ada Bunda justru kewalahan loh menyerap berbagai informasi. Untuk menghindari hal ini, simak yuk apa saja sih yang sebenarnya perlu dilakukan di trimester pertama kehamilan agar terasa nyaman.

Terbuka pada Segala Jenis Emosi

Berita kehamilan tidak semata soal perasaan bahagia. Bersamanya mungkin juga datang rasa gelisah, panik, takut, dan khawatir. Dan inilah yang perlu Bunda terima dengan jujur dan terbuka. Tak perlu merasa bersalah jika di awal kehamilan merasa takut dan khawatir, ini wajar kok mengingat kehamilan dan kehadiran seorang anak adalah perubahan besar dalam hidup. 

Bunda pun mesti menghargai pasangan jika ternyata apa yang Bunda rasakan tidak selaras dengan apa yang ia rasakan. Yang penting, komunikasikan dengan pasangan agar bisa dihadapi bersama-sama. Untuk membantu diri sendiri mencurahkan berbagai macam emosi, cobalah untuk membuat jurnal kehamilan untuk mencatat setiap perubahan fisik dan perasaan yang Bunda alami dari hari ke hari.

Temui Tenaga Kesehatan

Walau kehamilan telah dikonfirmasi melalui testpack, memeriksakan diri ke tenaga kesehatan tetap diperlukan. Bunda bisa menemui bidan sebagai langkah awal lalu ke dokter spesialis kandungan untuk melakukan USG. Pemeriksaan USG di trimester pertama kehamilan sangat diperlukan untuk mengonfirmasi usia kehamilan dan untuk memastikan kehamilan terjadi di dalam kandungan. Pasalnya, jika kehamilan terjadi di luar kandungan atau secara medis disebut sebagai kehamilan ektopik, tindakan segera diperlukan agar tidak membahayakan Bunda.

Konsumsi Makanan Bernutrisi

Saat ini, Bunda makan untuk berdua, tapi bukan berarti porsinya harus selalu dikali dua ya. Rata-rata, ibu hamil di trimester pertama hanya membutuhkan ekstra 300 kalori atau kira-kira setengah piring saja. Jadi, jangan kalap ya, Bun! Selain memperhatikan jumlah asupan, Bunda juga harus mulai memikirkan jenis asupannya. Pilihlah makanan yang kaya akan protein dan asam folat untuk pertumbuhan janin. Bunda juga mesti menghindari makanan mentah, seperti daging dan telur, untuk menghindari masuknya virus toksoplasma atau bakteri salmonella yang berbahaya bagi janin. Hindari pula produk susu yang tidak dipasteurisasi, ya.

Belajar Cara Menangani Sindrom Trimester Pertama

Banyak ibu hamil yang merasakan morning sickness di trimester pertama, meski ada juga yang tidak. Jika tidak ditangani, morning sickness bisa mengganggu aktivitas. Beberapa hal yang bisa Bunda lakukan untuk mengurangi intensitas mual dan muntah sepanjang trimester adalah dengan mengonsumsi biskuit asin atau permen mint kala mual menyergap. Teh hangat dengan perasan lemon juga membantu. Bila mual dan muntah terus berlanjut hingga Bunda merasa lemas dan tak bertenaga, coba periksakan diri ke dokter atau bidan, ya. Jangan sampai Bunda menderita hiperemesis gravidarum yang berbahaya bagi janin.

Tidur yang Cukup

Rasa letih dan lelah kerap melanda ibu hamil di trimester pertama selain mual dan muntah. Karena itu, usahakan untuk tidur yang cukup di malam hari, yakni sekitar 8 jam. Bila tidur di malam hari tidak cukup, usahakan untuk tidur siang sesaat saja. Bagi ibu bekerja, waktu istirahat siang bisa dimanfaatkan untuk tidur siang sekitar 15 menit. Oh ya, Bun, olahraga juga bisa membantu Bunda untuk memiliki lebih banyak energi, loh. Jadi, usahakan untuk tetap berolahraga selama trimester pertama ini, ya. Bunda bisa jalan kaki atau berenang sebagai alternatif olahraga yang aman untuk bumil.

Bun, itulah beberapa hal yang bisa Bunda lakukan di trimester pertama agar mendapatkan kehamilan yang nyaman. Selamat mencoba!

Continue Reading

Trending