fbpx
Connect with us

Kehamilan

Mengatasi Kekurangan Zat Besi pada Ibu Hamil

mm

Published

on

kekurangan zat besi

Apakah Anda sedang mencoba untuk hamil, sedang hamil, atau menjalani masa pemulihan pasca persalinan, kandungan zat besi dalam tubuh menjadi hal penting yang perlu terus dipantau oleh tenaga kesehatan. Apalagi, jika Bunda berisiko tinggi mengalami defisiensi anemia zat besi, tipe anemia yang paling sering ditemui.

Apa itu anemia zat besi? Ini adalah kondisi yang disebabkan oleh rendahnya kadar zat besi dalam tubuh. Anemia akan terjadi saat tubuh tidak dapat memproduksi cukup banyak sel darah merah, atau jika sel darah merah dalam tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik. 

Gejala Anemia Zat Besi 

Jika kadar zat besi dalam tubuh rendah, ibu hamil bisa mengalami beberapa gejala dan tanda berikut ini:

  • Cepat lelah 
  • Tangan dan kaki terasa dingin 
  • Pusing
  • Lesu 
  • Nyeri dada
  • Kulit pucat dan kuku rapuh 
  • Denyut jantung tidak beraturan
  • Sakit kepala 
  • Suhu tubuh rendah 
  • Napas pendek

Lantas, apa yang menjadi penyebab utama anemia zat besi? Pada umumnya, asupan zat besi yang kurang menjadi penyebab utama. Hal ini bisa terjadi jika pola makan yang Bunda terapkan tidak cukup menyertakan makanan yang kaya zat besi, terjadinya perdarahan, kondisi kesehatan tertentu seperti penyakit celiac atau Crohn’s yang menyebabkan tubuh sulit menyerap zat besi dari makanan, serta kurangnya suplementasi zat besi. 

Selain itu, anemia zat besi juga lebih sering dialami oleh perempuan daripada lelaki dan cenderung lebih banyak dialami oleh ibu hamil. 

Bagaimana Kehamilan Memicu Anemia Zat Besi?

Ketika hamil, tubuh memerlukan lebih banyak zat besi untuk pertumbuhan sel-sel tubuh yang mendukung perkembangan janin. Kebutuhan ini akan meningkat pada trimester kedua akhir. 

Menurut Dr. Matthew Cantor, dokter obstetri dan kebidanan di Rumah Sakit NewYork-Presbyterian Hudson Valley, AS, anemia zat besi ini terjadi pada ibu hamil karena dua alasan: 

  1. Volume darah ibu hamil meningkat tajam yang menyebabkan kadar zat besi dalam darah menjadi lebih encer 
  2. Perempuan yang mengalami anemia sebelum kehamilan biasanya akan terus mengalami anemia zat besi dan perlu dimonitor secara ketat oleh dokter. 

Ini Peran Penting Zat Besi dalam Kehamilan

Ibu hamil biasanya akan disarankan untuk mengonsumsi suplemen zat besi untuk mencegah terjadinya anemia. Pasalnya, zat besi punya peran yang sangat krusial selama kehamilan. Tubuh memerlukan lebih banyak darah untuk membantu menyuplai plasenta dengan nutrisi yang diperlukannya untuk tumbuh. Selain itu, zat besi juga diperlukan untuk membantu mencegah kondisi kesehatan yang dapat berpengaruh buruk terhadap ibu hamil maupun si kecil dalam kandungan. 

Seperti dinyatakan oleh American College of Obstetricians and Gynecologist (ACOG), ibu hamil disarankan mengonsumsi zat besi dua kali lebih banyak dibanding perempuan yang tidak hamil. Hal ini diperlukan untuk memastikan asupan oksigen ke janin tetap terpenuhi. 

Menurut Dr. Cantor, zat besi sangat penting perannya dalam kehamilan, karena hal berikut ini: 

  • Mengatasi anemia sebelum persalinan dapat mengkompensasi hilangnya darah selama proses persalinan normal. 
  • Kondisi anemia sebelum persalinan meningkatkan kemungkinan ibu hamil memerlukan transfusi darah. 
  • Lebih jauh lagi, ada keterkaitan antara anemia dan berat bayi lahir rendah, persalinan prematur, preeklampsia, dan angka kematian ibu hamil dan bayi baru lahir. Persalinan prematur maupun berat bayi lahir rendah meningkatkan risiko terjadinya masalah perkembangan selama masa kanak-kanaknya. 
  • Anemia dapat menimbulkan kesulitan saat menyusui dan juga dikaitkan dengan depresi pascapersalinan

Mengatasi Anemia Zat Besi sebelum Kehamilan

Jika anemia terdiagnosa sebelum kehamilan, penting bagi tenaga kesehatan untuk mencari tahu tipe anemia yang Bunda alami. Tenaga kesehatan yang menangani Bunda dapat melakukan beberapa pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya. Bisa jadi anemia ini disebabkan oleh kekurangan asam folat atau vitamin B12, serta mutasi sel darah merah atau thalassemia. 

Darah menstruasi yang deras juga bisa menjadi penyebab kekurangan zat besi yang kerap dialami oleh perempuan dalam usia produktif yang tidak hamil. Penanganan anemia sebelum kehamilan sama saja dengan saat hamil, yaitu dengan memperbaiki pola makan dan suplementasi zat besi. 

Mengatasi Anemia Zat Besi saat Hamil

Dokter akan melakukan pemeriksaan anemia di awal masa kehamilan dan kemudian diulangi di trimester kedua dan ketiga. 

Mendorong pola makan yang kaya kandungan zat besi bisa membantu mengatasi masalah. Akan tetapi, jenis sumber zat besi juga mempengaruhi penyerapannya. Misalnya saja, zat besi yang bersumber dari tanaman seperti sayuran hijau, kerang, kacang-kacangan, biji-bijian maupun polong-polongan kurang dapat diserap dengan baik. Disarankan untuk mengonsumsi zat besi dari makanan yang berasal dari hewan, misalnya daging merah, daging unggas dan ikan. Untuk membantu penyerapan zat besi, ibu hamil juga disarankan untuk mengonsumsi makanan sumber zat besi bersama makanan yang tinggi kandungan vitamin C. 

Mengingat pentingnya peran zat besi selama kehamilan, suplementasi zat besi merupakan hal yang wajib dilakukan. Suplemen zat besi ini bisa dikonsumsi setiap hari atau dua hari sekali. Dalam setiap kapsul suplemen terkandung 27 miligram zat besi, atau setara jumlah yang disarankan selama masa kehamilan. 

Jika kekurangan zat besi dialami selama trimester kedua kehamilan, dokter juga akan memberikan suplemen zat besi secara oral. Untuk membantu penyerapan zat besi dalam suplemen, sebaiknya dikonsumsi dalam keadaan perut kosong bersama jus jeruk. Sementara jika terdeteksi pada trimester ketiga, dan ditemukan kondisi anemia tidak membaik, bisa saja dokter menyarankan untuk suplementasi zat besi melalui infus. 

Anemia Zat Besi Pasca Persalinan

Setelah persalinan dan selama dua minggu sampai dua bulan pertama pascapersalinan, biasanya gejala anemia akan berkurang. Kejadian anemia memang mengalami penurunan setelah persalinan karena proses menyusui membuat perempuan tidak mengalami menstruasi. 

Meski demikian, beberapa perempuan masih mengalami anemia zat besi setelah persalinan. Hal ini biasanya disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi selama kehamilan dan banyaknya darah yang hilang saat proses melahirkan. Anemia yang terjadi pasca persalinan ini bisa meningkatkan gejala yang berkaitan dengan kecemasan, stres, dan depresi. Hal ini juga mengurangi keeratan ikatan antara ibu dan anak. 

Maka dari itu, suplemen tetap penting diberikan kepada ibu yang baru melahirkan. Suplementasi ini membantu mendukung proses menyusui dan mengurangi risiko depresi pasca persalinan pada ibu. 

Demikian penjelasan mengenai risiko anemia sebelum dan selama kehamilan, serta pasca persalinan, juga cara mengatasinya. Dengan mencegah anemia zat besi, Bunda juga menjaga kesehatan janin dan diri sendiri. Sepele, tapi penting artinya. Jadi, jangan sampai melewatkan pemeriksaan ini ya, Bunda. 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kehamilan

Begini Kondisi Rahim setelah Mengalami Keguguran Tanpa Kuretase

mm

Published

on

kondisi rahim setelah keguguran tanpa kuret
Tidak semua kasus keguguran membutuhkan prosedur kuretase.

Keguguran adalah kejadian kehilangan janin pada usia kehamilan di bawah 20 minggu. Biasanya keguguran dialami oleh ibu hamil pada tiga bulan pertama kehamilan. Penyebabnya bisa bermacam-macam dan kadang tidak selalu berada di bawah kendali kita.

Banyak ibu yang tidak menyadari bahwa ia tengah mengalami keguguran. Beberapa hanya mengira keguguran yang ia alami sebagai perdarahan biasa. Memang, tanda awal keguguran dan tanda awal kehamilan tidak jauh berbeda. Keduanya dimulai dengan munculnya flek darah. Namun, pada keguguran, flek darah akan berubah menjadi perdarahan berat dan kadang dibarengi dengan gumpalan darah besar. Jika pembalut yang Bunda kenakan penuh dibanjiri darah dalam kurun waktu kurang dari satu jam, segera ke rumah sakit, ya.

Apakah Semua Keguguran Membutuhkan Tindakan Kuretase?

Tidak semua kejadian keguguran membutuhkan tindakan kuretase. Normalnya, setelah mengalami keguguran, tubuh akan mengeluarkan jaringan janin yang tertinggal dalam rahim dengan sendirinya. Namun, kemungkinan jaringan janin keluar dengan sendirinya lebih besar pada ibu yang mengalami keguguran sebelum mencapai usia kehamilan 10 minggu. 

Setelah 10 minggu, potensi keguguran yang tidak komplet atau “incomplete miscarriage” akan lebih besar. Incomplete miscarriage adalah kondisi ketika tubuh tidak mampu mengeluarkan jaringan sehingga tindakan kuret pun dibutuhkan. Tanda adanya jaringan yang masih tertinggal dalam tubuh sebagai berikut:

  • Sakit punggung
  • Kram perut
  • Perdarahan vagina
  • Hilangnya tanda kehamilan, seperti morning sickness

Setelah mengalami keguguran, Bunda akan diberikan pilihan untuk mengosongkan rahim dari jaringan janin. Pilihan pertama adalah expectant management di mana Bunda diminta menunggu agar jaringan keluar dengan sendirinya. Lamanya bisa memakan waktu 3-4 minggu. 

Bila dalam rentang waktu itu jaringan tidak keluar, tindakan lanjutan dibutuhkan. Entah itu dengan pemberian obat atau kuretase. Dua opsi ini biasanya diserahkan kepada Bunda, kecuali Bunda memiliki komplikasi atau mengalami kondisi darurat maka kuret akan lebih direkomendasikan.

Ini yang Akan Bunda Alami Jika Tidak Melakukan Kuretase

Jika seluruh jaringan janin telah keluar dengan sendirinya, tentu tidak ada masalah bagi Bunda. Tubuh termasuk rahim akan segera pulih dalam beberapa minggu. Namun, bagi Bunda yang mengalami incomplete miscarriage dan tidak melakukan kuretase, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. 

Bila tidak melakukan kuret, Bunda akan diberi pengobatan prostaglandin. Opsi ini bisa dipilih jika Bunda tidak memiliki komplikasi ya. Dengan pengobatan prostaglandin, proses pengeluaran sisa jaringan akan terjadi seperti keguguran alami. Namun, karena diberi obat, pengeluaran jaringan akan terjadi lebih cepat. Efeknya, Bunda akan mengalami kram perut yang lebih hebat serta perdarahan.

Opsi pengobatan ini umumnya aman bagi mayoritas perempuan. Namun, karena ada risiko perdarahan dan kram berat, Bunda harus senantiasa dalam pengawasan dokter. Selalu berkonsultasilah dengan dokter yang menangani Bunda mengenai efek pengobatan yang dialami. Jangan bepergian ke manapun hingga pengobatan benar-benar selesai karena Bunda mungkin akan merasakan sakit yang luar biasa. Berbaringlah saat kram atau rasa sakit datang. Pengosongan rahim menggunakan obat memakan waktu 24-48 jam.

Kapan Bisa Kembali Beraktivitas Normal?

Setelah jaringan janin dikeluarkan dari tubuh, dokter mungkin akan melakukan USG abdominal untuk memastikan rahim telah benar-benar kosong. Jika rahim telah benar-benar kosong, Bunda mungkin masih akan diminta menunggu hingga 2 minggu untuk dapat melakukan hubungan seks secara aman atau menggunakan tampon. Selama kurun waktu ini, Bunda tidak diperkenankan memasukkan apapun ke dalam vagina untuk menghindari infeksi.

Itulah kira-kira yang akan Bunda alami jika memilih untuk tidak melakukan kuret setelah keguguran. Apapun pilihan Bunda, pastikan ada orang terdekat untuk mendampingi karena keguguran bukanlah peristiwa ringan untuk dihadapi sendiri. Semoga lekas pulih, Bun!

Continue Reading

Kehamilan

9 Kebiasaan Sederhana ini Bisa Mencegah Keguguran

mm

Published

on

aktivitas yang menyebabkan keguguran

Tahukah, Bunda? Ternyata ada sekitar 15% ibu hamil yang mengalami keguguran. Sayangnya angka ini merupakan asumsi yang dipastikan terlalu rendah. Pasalnya, banyak keguguran di masa awal kehamilan tidak disadari oleh ibu hamil. Kebanyakan kejadian keguguran di masa awal kehamilan ini disebabkan oleh ketidaknormalan kromosom. 

Selain kelainan kromosom, penyebab lain keguguran adalah usia ibu yang sudah lanjut, obesitas, dan masalah medis kronis seperti diabetes, masalah tiroid dan hipertensi. Semua penyebab tadi bisa jadi memang sulit dikontrol. Diabetes dan hipertensi merupakan masalah kesehatan yang kerap kali diperoleh dari garis keturunan. Namun ada beberapa hal yang bisa Bunda lakukan untuk mengurangi kemungkinan mengalami keguguran maupun kematian janin atau stillbirth. Dengan menerapkan beberapa kebiasaan ini selama hamil, risiko keguguran dapat dikontrol, selain juga menjaga kehamilan yang sehat. 

1. Cuci tangan

Ada beberapa infeksi yang bisa menyebabkan keguguran maupun kematian janin. Salah satu hal yang paling mudah dilakukan untuk mencegah infeksi adalah dengan menerapkan kebiasaan cuci tangan dan jaga jarak dengan orang yang sakit. Apalagi di musim pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. 

Cuci tangan selama setidaknya 20 detik menggunakan sabun dan air hangat atau mengalir. Selalu cuci tangan ketika: 

  • Sebelum dan sesudah makan 
  • Setelah menggunakan toilet
  • Setelah bepergian ke tempat ramai 
  • Setelah berhubungan dengan orang yang sakit 
  • Setelah menyentuh benda yang banyak disentuh orang lain seperti uang, pegangan pintu, keranjang belanja, dll. 

2. Berhenti merokok

Sudah banyak diketahui bahwa merokok bisa menimbulkan masalah kesehatan serius. Kebiasaan merokok meningkatkan risiko kanker, penyakit paru-paru, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan stroke. Perempuan yang merokok lebih berisiko mengalami kemandulan dan/atau keguguran, janin yang terhambat pertumbuhannya, persalinan prematur, atau bayi yang lahir dengan berat rendah (BBLR).

Bayi yang lahir dari ibu perokok memiliki risiko lebih tinggi mengalami kematian. Berhenti merokok tidak hanya menyelamatkan nyawa bayi yang dilahirkan, tetapi juga memastikan Bunda tetap ada di sisi si kecil hingga ia bertumbuh dewasa. 

3. Berhati-hati di dapur

Penyakit yang berasal dari makanan seperti listeria kerap dikaitkan dengan meningkatnya risiko keguguran. Begitu pula parasit seperti toksoplasma gondii yang dapat masuk dari makanan yang dikonsumsi. Meskipun ibu hamil selalu disarankan untuk menghindari konsumsi makanan mentah atau keju yang dipasteurisasi, hal ini tidak cukup. Pasalnya bakteri jahat ini juga bisa datang dari makanan lain, jika tidak menerapkan prinsip pengolahan makanan yang sehat di dapur.

Terapkan hal berikut ini di dapur: 

  • Cuci tangan sebelum dan sesudah mengolah makanan mentah, terutama daging-dagingan 
  • Masak daging, ikan dan telur sesuai suhu yang disarankan. 
  • Segera masukkan makanan sisa ke dalam kulkas
  • Segera olah atau simpan dalam freezer daging atau ikan dalam waktu satu atau dua hari setelah dibeli
  • Cuci bersih sayur dan buah-buahan.

4. Vaksin flu

Meski sempat ada kabar yang mengatakan bahwa vaksin flu dapat menyebabkan keguguran, penelitian yang dilakukan memperlihatkan tidak adanya risiko keguguran setelah vaksin. Vaksin flu disarankan bagi ibu hamil untuk dilakukan, di trimester berapa pun. Pasalnya beberapa strain flu dapat berisiko dan bahkan lebih fatal bagi ibu hamil dibandingkan populasi kebanyakan. Selain itu, demam tinggi yang kerap menjadi salah satu gejala flu juga dihubungkan dengan cacat tabung saraf. 

5. Menurunkan berat badan sebelum hamil

Seperti halnya merokok, obesitas juga dikaitkan dengan banyak masalah kesehatan–dari meningkatnya risiko penyakit jantung, diabetes, dan beberapa tipe kanker, hingga komplikasi kehamilan seperti kelahiran prematur, preeklamsia, diabetes gestasional, dan semua tipe keguguran. 

Meski kaitan antara obesitas dan keguguran belum dapat dipahami secara pasti, beberapa penelitian yang dilakukan di berbagai belahan dunia, menemukan hasil yang sama yaitu perempuan obesitas memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami keguguran ataupun stillbirth

6. Konsumsi pola makan sehat

Pola makan sehat tidak hanya berlaku bagi Bunda yang ingin menurunkan berat badan. Penelitian memperlihatkan hasil bahwa pola makan yang tinggi kandungan buah-buahan, sayur-sayuran, dan gandum utuh dapat menurunkan risiko komplikasi kehamilan

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Stanford ditemukan bahwa perempuan memiliki risiko 50% lebih kecil untuk mengalami anencephaly (cacat pada tengkorak dan otak) ketika mengonsumsi makanan sehat. Pola makan sehat juga dikaitkan dengan kontrol berat badan dan kontrol gula darah yang optimal bagi perempuan yang mengidap diabetes. 

7. Melakukan pemeriksaan kehamilan

Pemeriksaan kehamilan merupakan hal yang penting dilakukan secepat mungkin. Pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter kandungan ataupun bidan bisa menemukan masalah kesehatan atau komplikasi kehamilan lebih dini sehingga keguguran dapat dicegah. 

8. Konsumsi obat secara rutin

Masalah kesehatan kronis seperti lupus, diabetes, dan tekanan darah tinggi, semuanya dikaitkan dengan meningkatnya risiko keguguran. Jika Bunda memang mengidap penyakit kronis, demi menjalani kehamilan yang sehat dan terkontrol, pastikan konsumsi obat/pengobatan tetap berjalan rutin. 

9. Terapkan seks aman

Yup, ada baiknya menerapkan hubungan seks yang aman untuk mencegah Bunda tertular penyakit seksual. Penyakit seperti chlamydia atau sipilis berpotensi menyebabkan keguguran, stillbirth, kematian bayi baru lahir, kemandulan dan kehamilan ektopik

Continue Reading

Kehamilan

Warna Keputihan saat Hamil bisa Berubah-ubah, Kenapa?

mm

Published

on

warna keputihan saat hamil

Selain perubahan yang terlihat secara jelas di depan mata, kehamilan juga membawa berbagai perubahan yang tidak terlihat nyata. Salah satunya adalah warna cairan vagina atau keputihan yang terjadi selama Bunda hamil. 

Pada dasarnya, cairan vagina atau keputihan tersebut adalah hal yang wajar. Cairan kental tersebut juga dikenal sebagai lendir leher rahim yang diproduksi oleh kelenjar yang terletak di dekat leher rahim itu sendiri. 

Lendir atau cairan keputihan ini memegang peranan penting dalam sistem reproduksi perempuan. Di siklus menstruasi, tepatnya di masa infertil, tekstur cairan ini menjadi lebih tebal dan lengket untuk mencegah terjadinya infeksi saat hamil. Mendekati waktu ovulasi, cairan keputihan menjadi lebih encer dan banyak jumlahnya. Tekstur seperti ini memudahkan sperma untuk berenang dan sampai di tujuan akhirnya. 

Merasa area celana dalam menjadi lebih basah menjelang menstruasi? Perubahan ini disebabkan oleh aliran darah yang lebih deras ke area vagina, kenaikan kadar estrogen, dan leher rahim yang bersiap menghadapi menstruasi. Mengamati perubahan cairan keputihan ini dapat membantu mengenali kondisi tubuh saat sedang subur-suburnya atau sebaliknya. 

Cairan Keputihan Berubah selama Kehamilan 

Seperti perubahan cairan keputihan sesuai siklus menstruasi, perubahan ini juga terjadi selama Bunda hamil. Saat hamil, tubuh Bunda akan mengeluarkan cairan keputihan berwarna putih atau bening, dengan atau tanpa bau. Cairan keputihan ini dikenal sebagai leukorrhea. Istilah leukorrhea ini lebih sering dikaitkan meskipun sebenarnya juga dapat dialami oleh perempuan yang tidak hamil. 

Selama kehamilan, produksi leukorrhea akan meningkat karena naiknya kadar hormon estrogen dalam tubuh yang mengalir ke area vagina. Meski demikian, peningkatan ini tidak terlalu kentara sampai setidaknya usia kehamilan 8 minggu.

Di trimester pertama kehamilan, cairan vagina akan meningkatkan sebagai upaya menghilangkan sel-sel yang mati dan bakteri dari rahim dan vagina untuk membantu mengurangi risiko infeksi. Jumlah cairan keputihan yang dialami akan meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan. Jadi selama cairan keputihan saat hamil tidak berbau dan berwarna, hal itu tidak perlu dikhawatirkan.

Seiring waktu, cairan keputihan juga membantu membentuk mucus plug, yaitu kumpulan lendir pelindung janin yang berada di saluran leher rahim. Cairan ini menutup lubang di leher rahim untuk mencegah infeksi masuk ke rahim dan membahayakan bayi.

Warna Keputihan Cokelat atau Pink saat Hamil

Warna keputihan saat hamil bisa berubah menjadi cokelat atau pink muda. Keputihan ini bisa terlihat seperti garis atau bercak berwarna pada celana dalam atau kertas tisu saat mengusap area vagina. Jika terlihat seperti perdarahan tipis, bisa jadi itu vlek darah. Biasanya, keputihan berwarna cokelat atau pink ini tidak menandakan adanya masalah. Penyebabnya bisa jadi adalah beberapa hal ini: 

  • Implantasi: beberapa perempuan (tapi tidak semua) melihat adanya keputihan berwarna cokelat atau pink di awal-awal masa kehamilan, beberapa hari setelah jadwal mens yang seharusnya datang. Jika demikian halnya, maka ini merupakan tanda implantasi atau menempelnya sel telur yang sudah dibuahi di dinding rahim, yang biasanya terjadi 10 hari setelah pembuahan. 
  • Hubungan intim atau pemeriksaan dalam: cairan keputihan saat hamil yang berwarna cokelat atau pink juga bisa terjadi setelah berhubungan intim atau pemeriksaan dalam. Hal ini terjadi karena leher rahim dan vagina sangat mudah teriritasi selama kehamilan, akibat banyaknya aliran darah yang menuju ke sana. 
  • Latihan atau olahraga berat: latihan fisik yang berat bisa menyebabkan cairan keputihan berwarna pink atau cokelat dan bisa terjadi di trimester awal, tengah maupun akhir kehamilan. Jika ini terjadi, tandanya Bunda perlu menurunkan intensitas olahraga, ya. 
  • Tanda awal persalinan: jika cairan keputihan yang keluar dan vagina berwarna cokelat atau pink dan terjadi menjelang waktu persalinan, maka ini sangat mungkin merupakan tanda persalinan sudah dekat. Pada saat itu leher rahim akan melebar sehingga mucus plug akan terlepas dari dinding leher rahim dan keluar dalam bentuk gumpalan-gumpalan kecil. 

Itulah beberapa hal yang bisa jadi penyebab warna keputihan saat hamil berubah-ubah. Akan tetapi, cairan keputihan juga bisa jadi penanda adanya infeksi loh, Bun. Yaitu jika warna keputihan saat hamil kuning, hijau, atau keabu-abuan. Selain itu juga berbau dan teksturnya berbuih atau bergumpal seperti yogurt. Jika ini yang terjadi, sebaiknya Bunda segera memeriksakan diri ke dokter kandungan ya. 

Continue Reading

Trending