fbpx
Connect with us

Kesehatan

Mengenal Vaksin Hib, Vaksin Penting untuk Mencegah Infeksi Serius

mm

Published

on

vaksin hib
Vaksin Hib penting untuk mencegah radang selaput otak.

Dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Bunda akan mendapati vaksin Hib sebagai salah satu vaksin yang wajib diberikan untuk bayi. Vaksin ini diberikan agar si kecil terhindar dari infeksi yang disebabkan oleh bakteri Haemophilus influenzae type b. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri ini bisa bermacam-macam, Bun, mulai dari bronkitis hingga radang selaput otak.

Meski dapat pula menyerang orang dewasa yang memiliki daya tahan tubuh lemah, bakteri Hib lebih rentan menyerang bayi berusia 6-12 bulan karena daya tahan tubuh mereka yang belum maksimal. Maka dari itu, penting bagi bayi untuk mendapatkan vaksin Hib sesuai jadwal agar risiko infeksi dapat dihindari. 

Manfaat Vaksin Hib

Tujuan pemberian vaksin adalah merangsang sistem imun tubuh untuk mengenali agen penyakit yang disuntikkan sebagai ancaman. Itulah mengapa tenaga kesehatan akan memastikan kesehatan si kecil sebelum vaksin Hib ini diberikan. Si kecil harus dalam kondisi yang sehat dan bugar saat diberikan vaksin agar sistem imunnya siap. 

Setelah menerima vaksin ini, si kecil diharapkan dapat terhindar dari risiko berat infeksi-infeksi ini.

  • Meningitis. Merupakan radang selaput otak yang dapat menyebabkan anak mengalami kerusakan otak permanen hingga kematian.
  • Pneumonia, yakni radang pada salah satu atau kedua paru-paru.
  • Septic arthritis. Infeksi ini terjadi pada sendi yang bisa menyebabkan nyeri sendi yang hebat pada lutut, pinggul, bahu, dan lengan.
  • Perikarditis, infeksi yang menyerang perikardium atau selaput yang melindungi dan mengelilingi jantung. Infeksi ini bisa menyebabkan rasa sesak berat pada anak.
  • Epiglotitis atau infeksi pada katup laring yang menyebabkan nyeri hebat pada tenggorokan.

Jadwal Pemberian Vaksin Hib

Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, vaksin Hib diberikan sebanyak 3 kali dengan tambahan satu kali booster. Vaksin diberikan dalam bentuk suntikan. Berikut jadwalnya.

  • Vaksin Hib 1 saat anak berusia 2 bulan
  • Vaksin Hib 2 saat anak berusia 3 bulan
  • Vaksin Hib 3 saat anak berusia 4 bulan
  • Booster saat anak berusia 18 bulan

Vaksin Hib tidak boleh diberikan kepada anak yang belum berusia 6 minggu. Pemberian vaksin ini biasanya akan dibarengi dengan pemberian vaksin DPT dan HB. Booster satu kali pada usia 18 bulan bertujuan untuk meningkatkan kembali antibodi anak terhadap paparan bakteri ini. Pasalnya, antibodi yang meningkat setelah pemberian vaksin dapat turun kembali sewaktu-waktu sehingga diperlukan booster untuk meningkatkannya kembali.

Harga Vaksin Hib

Harga vaksin Hib bervariasi tergantung lokasi Bunda mendapatkannya. Karena merupakan vaksin yang diwajibkan pemerintah, harga vaksin Hib disubsidi dan bisa didapatkan secara gratis di puskesmas. Bunda juga bisa mendapatkannya di bidan praktik mandiri (BPM) dengan harga sekitar Rp 150 ribu, sudah termasuk dengan vaksin DPT, HB, dan polio tetes yang diberikan bersamaan. 

Sementara itu, bagi Bunda yang memilih memvaksin si kecil di rumah sakit, harga vaksin bervariasi mulai dari Rp 350 ribu, termasuk vaksin DPT dan HB, tapi belum termasuk biaya dokter.

Efek Samping

Jika si kecil mendapatkan vaksin Hib dalam kondisi sehat, jarang sekali ada efek samping serius yang dihadapi. Efek samping ringan yang mungkin terjadi setelah mendapatkan vaksin ini adalah demam serta rasa pegal dan kemerahan pada bagian tubuh yang disuntik. Untuk mengatasi efek samping ini, Bunda bisa melakukan hal-hal berikut:

  • Sesampainya di rumah, segera kompres bagian tubuh yang disuntik dengan air hangat. Ini bertujuan untuk meminimalisasi bengkak dan kemerahan.
  • Bila demam, kompres dahi, lipatan leher, lipatan paha, dan lipatan ketiak anak dengan air hangat.
  • Tenaga kesehatan juga mungkin meresepkan obat penurun panas untuk meredakan demam. 
  • Perbanyak asupan cairan si kecil dengan menyusuinya lebih sering.

Jika terjadi reaksi alergi berat, seperti sesak napas, bengkak pada wajah, gatal-gatal, dan atau demam si kecil tidak turun setelah 3 hari, segera periksakan ke dokter anak.

Bunda, itulah serba-serbi vaksin Hib yang perlu diketahui. Ingatlah untuk memberikan vaksin sesuai jadwal agar si kecil tumbuh jadi anak yang sehat dan bugar.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kesehatan

Bunda, Ini Cara Merawat Bayi Prematur yang Tepat

mm

Published

on

cara merawat bayi prematur
Bagaimana cara merawat bayi prematur yang tepat?

Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Jika Bunda mengalami persalinan prematur, maka si kecil akan dirawat di NICU atau Neonatal Intensive Care Unit. Pasalnya bayi yang terlahir prematur memiliki kondisi tubuh yang tidak sebaik bayi yang lahir di atas usia 37 minggu. 

Karena belum berkembang secara maksimal, bayi prematur memiliki risiko gangguan kesehatan dibanding bayi yang lahir cukup bulan. Bayi prematur belum memiliki cukup simpanan lemak pada tubuhnya sehingga lebih rentan terhadap ketidakstabilan suhu. Ia juga juga bisa mengalami kesulitan makan, berisiko memiliki gula darah rendah, lebih mudah lelah, rentan terhadap infeksi dan kesulitan bernapas. 

Ada saatnya setelah dirawat di NICU, dokter akan memperbolehkan si kecil pulang untuk dirawat di rumah. Jangan khawatir, dengan perawatan yang tepat si kecil akan bertumbuh dengan baik. 

Berikut ini cara merawat bayi prematur di rumah. 

  • Belajar cara memakaikan bedong. Dekapan kain bedong yang terlilit di badan si kecil memberikan kenyamanan baginya. Pada kenyataannya, si kecil memang seharusnya masih berada di dalam rahim yang nyaman. Belajar memasangkan bedong dari bidan atau perawat yang ada di rumah sakit dan berlatihlah sampai bisa melakukannya dengan cepat. Bedong juga membantu si kecil tidur lebih nyenyak. 
  • Tak perlu merasa kasihan untuk membangunkannya saat jadwal menyusui. Pasalnya bayi prematur cenderung tertidur sepanjang hari, bahkan melewati jadwal menyusuinya. Padahal asupan makanan sangat diperlukan untuk membuatnya lebih kuat. Bahkan saat menyusui, bisa saja si kecil jatuh tertidur. Jika ini yang terjadi, coba untuk mengganti posisinya, membuatnya bersendawa, menyanyikan lagu yang berirama ceria, atau menggosok keningnya dengan handuk yang dingin. 
  • Tetapkan aturan berkunjung. Kehadiran anggota keluarga baru tentu disambut dengan gembira oleh seluruh keluarga. Namun kondisi bayi prematur yang masih rentan membuat waktu dan jumlah orang berkunjung perlu dibatasi. Bunda juga perlu mengingatkan agar si kecil tidak digendong-gendong dari satu tangan ke tangan yang lain. Pastikan juga setiap anggota atau kerabat yang berkunjung tidak sedang batuk-pilek, untuk menghindari tertular. Apalagi di masa pandemi ini, sebaiknya tunggu si kecil hingga sudah lebih kuat dan cukup umur untuk menerima tamu. Dengan catatan, prosedur kesehatan harus tetap dijalankan.
  • Dapatkan dukungan yang Bunda perlukan. Bunda bisa bertanya-tanya kepada orang tua yang pernah merawat bayi prematur. Misalnya, orang tua yang Bunda kenal dari rumah sakit dan anaknya sama-sama dirawat di NICU. Bunda juga bisa berkonsultasi dengan bidan. Jika ternyata Bunda merasakan adanya gejala depresi pascapersalinan, segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan bantuan medis. Gejolak hormon setelah persalinan merupakan hal yang normal, namun jika dikombinasikan dengan kurangnya waktu tidur dan kecemasan kala merawat bayi prematur, beban mental tentu terasa lebih berat. 

Menjadi orangtua baru memang memerlukan komitmen, namun jika si kecil terlahir prematur, diperlukan komitmen lebih. Jangan lupa untuk memberi waktu bagi diri sendiri untuk sekadar beristirahat. Minta bantuan dengan cucian yang menumpuk, jangan merasa bersalah karena lebih memilih tidur siang daripada mencuci piring. 

Dua bulan pertama mungkin Bunda akan merasa seperti kehilangan kontrol, akan tetapi pada akhirnya Anda akan terbiasa dengan peran sebagai orangtua bayi prematur. Tak perlu khawatir, di masa batita nanti dia akan mengejar ketertinggalannya, kok.

Continue Reading

Kesehatan

Daftar Vaksin Anak Hingga Usia 1 Tahun Berdasarkan Rekomendasi IDAI

mm

Published

on

vaksin anak 1 tahun
Hingga anak berusia 1 tahun, ada beragam vaksin yang direkomendasikan IDAI.

Vaksin adalah hal penting yang harus diberikan kepada anak. Dengan pemberian vaksin sesuai jadwal, Bunda sudah membantu si kecil terhindar dari penyakit berbahaya. Atau, kalaupun terpapar, tidak sampai parah dampaknya.

Sejauh ini, ada sejumlah vaksin yang diwajibkan oleh pemerintah hingga anak berusia 1 tahun, yakni polio, DPT, Hib, hepatitis B, dan campak. Pemberiannya pun disubsidi oleh pemerintah sehingga bisa didapatkan secara gratis di puskesmas terdekat atau di tempat praktik bidan dengan biaya terjangkau. 

Namun, di samping vaksin-vaksin yang disebutkan tadi, ada vaksin lain yang direkomendasikan oleh IDAI untuk diberikan kepada anak hingga usianya 1 tahun. Rekomendasi vaksin ini pun baru saja diterbitkan pada akhir 2020 lalu yang artinya relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Yuk, kita simak Bun vaksin apa saja yang direkomendasikan untuk anak hingga usianya 1 tahun!

Vaksinasi untuk Bayi Baru Lahir

Sesaat setelah bayi lahir, ada dua vaksin yang harus diberikan, yakni:

  • Hepatitis B 1
  • OPV-0 (polio oral)

Dua vaksin ini biasanya langsung diberikan oleh tenaga kesehatan tanpa diminta. Namun, jika ingin memastikannya, Bunda bisa mengonfirmasinya ketika diizinkan untuk pulang.

Vaksinasi untuk Anak Usia 1 Bulan

Pada usia 1 bulan, ada 1 vaksin yang mesti diberikan kepada si kecil, yakni:

  • BCG

Vaksin satu ini berguna untuk mencegah si kecil terkena penyakit tuberkulosis. Oh ya, jika saat baru lahir adik bayi belum diberikan OPV-0, usia 1 bulan ini adalah waktu yang tepat untuk memberikannya, Bun. Karena BCG dan OPV termasuk dalam daftar vaksin yang diwajibkan oleh pemerintah, Bunda bisa mendapatkannya di puskesmas terdekat.

Vaksinasi untuk Anak Usia 2 Bulan

Nah, di usia 2 bulan, vaksin yang diberikan kepada si kecil mulai bervariasi, Bun. Ini daftarnya:

  • DPT Combo 1 (DPT-Hepatitis B-Hib)
  • OPV-1
  • PCV-1 (mencegah penyakit yang ditimbulkan bakteri pneumokokus)
  • Rotavirus-1 (mencegah diare)

Untuk vaksin rotavirus, ada dua pilihan ya, Bun, yakni rotavirus monovalen atau pentavalen. Rotavirus monovalen diberikan dalam dua dosis, dimulai dari usia 6 minggu dan harus selesai pada usia 24 minggu dengan interval minimal 4 minggu antarvaksin. Sementara itu, 3 rotavirus pentavalen diberikan dalam tiga dosis, dimulai dari usia 6 minggu dan harus selesai pada umur 32 minggu. PCV dan rotavirus tidak termasuk dalam vaksin yang disubsidi oleh pemerintah sehingga Bunda hanya bisa mendapatkannya di rumah sakit.

Vaksinasi untuk Anak Usia 3 Bulan

Pada usia 3 bulan, waktunya mengulang vaksin DPT kombo, Bun, dan tentunya OPV yang ke-2. Kedua vaksin ini bisa didapatkan di puskesmas, ya.

Vaksinasi untuk Anak Usia 4 Bulan

Vaksin pada usia 4 bulan hampir sama dengan vaksin pada usia 2 Bulan. Hanya saja, ditambah dengan vaksin IPV (polio suntik). Berikut daftarnya.

  • DPT Combo 3 (DPT-Hepatitis B-Hib)
  • OPV-3
  • IPV-1
  • PCV-2
  • Rotavirus-2 

Bagi Bunda yang memilih vaksin rotavirus monovalen, pemberian vaksin rotavirus tuntas di usia ini, ya.

Vaksinasi untuk Anak Usia 6 Bulan

Pada usia 6 bulan, ini daftar vaksin yang direkomendasikan untuk diberikan.

  • IPV-2
  • PCV-3
  • Rotavirus-3 (bagi Bunda yang memilih vaksin pentavalen)
  • Influenza

Ketiga vaksin di atas tidak disubsidi oleh pemerintah sehingga hanya bisa didapatkan di rumah sakit ya, Bun.

Vaksinasi untuk Anak Usia 9 Bulan

Setelah pemberian vaksin di usia 6 bulan, si kecil baru akan diberi vaksin lagi pada usia 9 bulan. Berikut daftar rekomendasinya.

  • MR (campak)
  • Japanese encephalitis (JE)

Dari kedua vaksin di atas, hanya vaksin MR atau campaklah yang disubsidi oleh pemerintah. Vaksin JE bisa Bunda dapatkan di rumah sakit. Oh ya, vaksin ini diperlukan untuk mencegah infeksi radang otak yang disebabkan oleh virus JE.

Vaksinasi untuk Anak Usia 12 Bulan

Nah, akhirnya si kecil sampai juga di usia 1 tahun. Di usianya yang sudah menginjak 12 bulan ini, berikut rekomendasi vaksin yang bisa diberikan.

  • PCV-4 (booster)
  • Varisela-1 (mencegah cacar air)
  • Hepatitis A-1

Seluruhnya tidak disubsidi oleh pemerintah ya, Bun, sehingga hanya bisa didapatkan di rumah sakit.

Itulah rekomendasi vaksin dari IDAI hingga anak berusia 1 tahun. Biasanya, rekomendasi diberikan dengan melihat prevalensi atau jumlah kasus kejadian di suatu wilayah. Bila memang prevalensinya tinggi, maka vaksin akan disarankan untuk diberikan. 

Tentu akan lebih baik jika Bunda bisa memberikan seluruh rekomendasi vaksin di atas kepada si kecil. Namun, silakan konsultasikan lebih lanjut dengan dokter spesialis anak agar sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Continue Reading

Kesehatan

Perawatan Tali Pusat Bayi Baru Lahir, Ini Caranya

mm

Published

on

perawatan tali pusat
Perawatan tali pusat yang benar dapat mencegah infeksi tali pusat.

Tali pusat bayi adalah “selang” yang membawa makanan dan oksigen dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya. Selain membawa kedua hal penting tersebut, tali pusat juga bertanggung jawab membawa sisa pencernaan dari janin, yang nantinya akan dibuang melalui sistem pencernaan Bunda. 

Setelah si kecil terlahir, dokter akan menjepit tali pusat tersebut dengan klem dan kemudian mengguntingnya. Meski merupakan bagian dari tubuh bayi, sesungguhnya tali pusat ini tidak memiliki saraf. Sehingga ketika dipotong, baik ibu maupun si kecil tidak akan merasa sakit. 

Ketika bayi baru lahir, tali pusatnya akan tampak kekuningan dan mengilap. Saat mengering, warna tali pusat akan berubah menjadi cokelat atau abu-abu, beberapa bayi bahkan memiliki tali pusat berwarna keunguan atau biru. 

Tali pusat yang mengering kemudian akan copot dengan sendirinya. Peristiwa lepasnya tali pusat ini biasanya terjadi di hari ke-10 sampai 14 hari setelah bayi lahir. Tapi, pada beberapa bayi bisa saja lebih lama dari perkiraan tersebut. 

Perawatan tali pusat bayi 

Selama masih menempel pada pusarnya, maka ada beberapa langkah perawatan yang perlu dilakukan. Dalam melakukan perawatan tersebut, perhatikan hal-hal berikut ini: 

  • Hati-hati. Jangan menyentuh langsung atau menarik tali pusat. 
  • Jaga tali pusat tetap bersih dan kering. Sebab itu, hindari merendam bayi dalam bak ketika memandikan bayi baru lahir.  Lebih baik lap-lap tubuh bayi dengan busa bersabun, bilas dengan lap basah, dan kemudian keringkan dengan handuk mandi. 
  • Jangan melepas tali pusat bayi secara paksa. Pada akhirnya, tali pusat akan terlepas dengan sendirinya. Hindari membersihkan pangkal tali pusat dengan kapas beralkohol, ya Bun. 
  • Lipat popok sehingga bagian pinggangnya tidak mengenai atau menggesek tali pusat. 

Jika tali pusat si kecil tanpa sengaja terkena kotoran BAB-nya, bersihkan secara perlahan dengan sabun dan air. Selain itu, selalu cek tali pusat si kecil untuk melihat ada atau tidaknya infeksi. Segera periksa atau hubungi dokter jika Bunda melihat hal ini: 

  • Darah di ujung tali pusat 
  • Cairan berwarna putih kekuningan yang agak kental 
  • Bengkak atau kemerahan pada tali pusat 
  • Bayi menangis atau menolak ketika Bunda menyentuh salah satu bagian tali pusat.  

Jika si kecil terlahir dengan berat badan rendah (di bawah 2,5 kg) atau lahir prematur atau memiliki masalah kesehatan lain, ada kemungkinan ia lebih rentan mengalami infeksi. Ada baiknya lebih awas menjaga kesehatannya dan memperhatikan adanya tanda-tanda di atas ya, Bun. 

Setelah tali pusat bayi puput 

Ketika hal ini terjadi, jangan panik saat Bunda melihat ada beberapa tetes darah pada popoknya. Hal ini wajar terjadi. Namun, jika jumlah noda darah tersebut cukup banyak dan mengkhawatirkan, jangan ragu untuk segera membuat janji dengan dokter. 

Sebaliknya, tali pusat yang tidak kunjung puput juga bisa membuat Bunda khawatir. Jika dalam waktu lebih dari tiga minggu tali pusatnya tidak juga puput, sabar ya Bun. Tetap jaga area tali pusat bersih dan kering dan pastikan tidak tertutup bagian dari popok. Namun jika lebih dari 6 minggu belum lepas juga, ditambah ada gejala demam atau infeksi, periksakan ke dokter. 

Begitu tali pusatnya puput, tetap jaga area pusar bayi kering dan bersih. Mungkin saja Bunda melihat ada cairan berwarna kuning dan lengket keluar dari sini. Hal tersebut wajar dan kadang terjadi setelah tali pusat bayi lepas. 

Komplikasi tali pusat

Meski jarang terjadi, beberapa kondisi kesehatan dapat muncul akibat komplikasi tali pusat bayi, seperti: 

  • Omphalitis: Kondisi ini terjadi jika area sekitar pangkal tali pusat terinfeksi. Gejala yang timbul adalah bayi merasa resah, mengalami demam, area sekitar pangkal tali pusat menjadi lembek serta mengalami pendarahan atau ada cairan keluar dari pusar. 
  • Hernia tali pusat: Kondisi ini ditandai dengan terlihatnya sebagian usus di lingkaran pusar. Bukan kondisi serius dan biasanya akan membaik saat si kecil berusia 2 tahun. 
  • Umbilical granuloma: Adalah benjolan kecil berwarna pink kemerahan yang tidak lepas saat tali pusat puput. Benjolan ini tidak menyebabkan rasa sakit. Jika merasa terganggu dengan kehadirannya, dokter anak bisa menghilangkan benjolan dengan jahitan atau tindakan bedah minor. 

Itulah panduan perawatan tali pusat bayi baru lahir yang perlu Bunda ketahui. Perawatan bisa dilakukan bersama ayah di rumah. Jika mengalami kesulitan, jangan khawatir, selalu ada bidan yang bisa membantu Bunda. 

Continue Reading

Trending