fbpx
Connect with us

Kesehatan

Bunda, Ini Cara Merawat Bayi Prematur yang Tepat

mm

Published

on

cara merawat bayi prematur
Bagaimana cara merawat bayi prematur yang tepat?

Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Jika Bunda mengalami persalinan prematur, maka si kecil akan dirawat di NICU atau Neonatal Intensive Care Unit. Pasalnya bayi yang terlahir prematur memiliki kondisi tubuh yang tidak sebaik bayi yang lahir di atas usia 37 minggu. 

Karena belum berkembang secara maksimal, bayi prematur memiliki risiko gangguan kesehatan dibanding bayi yang lahir cukup bulan. Bayi prematur belum memiliki cukup simpanan lemak pada tubuhnya sehingga lebih rentan terhadap ketidakstabilan suhu. Ia juga juga bisa mengalami kesulitan makan, berisiko memiliki gula darah rendah, lebih mudah lelah, rentan terhadap infeksi dan kesulitan bernapas. 

Ada saatnya setelah dirawat di NICU, dokter akan memperbolehkan si kecil pulang untuk dirawat di rumah. Jangan khawatir, dengan perawatan yang tepat si kecil akan bertumbuh dengan baik. 

Berikut ini cara merawat bayi prematur di rumah. 

  • Belajar cara memakaikan bedong. Dekapan kain bedong yang terlilit di badan si kecil memberikan kenyamanan baginya. Pada kenyataannya, si kecil memang seharusnya masih berada di dalam rahim yang nyaman. Belajar memasangkan bedong dari bidan atau perawat yang ada di rumah sakit dan berlatihlah sampai bisa melakukannya dengan cepat. Bedong juga membantu si kecil tidur lebih nyenyak. 
  • Tak perlu merasa kasihan untuk membangunkannya saat jadwal menyusui. Pasalnya bayi prematur cenderung tertidur sepanjang hari, bahkan melewati jadwal menyusuinya. Padahal asupan makanan sangat diperlukan untuk membuatnya lebih kuat. Bahkan saat menyusui, bisa saja si kecil jatuh tertidur. Jika ini yang terjadi, coba untuk mengganti posisinya, membuatnya bersendawa, menyanyikan lagu yang berirama ceria, atau menggosok keningnya dengan handuk yang dingin. 
  • Tetapkan aturan berkunjung. Kehadiran anggota keluarga baru tentu disambut dengan gembira oleh seluruh keluarga. Namun kondisi bayi prematur yang masih rentan membuat waktu dan jumlah orang berkunjung perlu dibatasi. Bunda juga perlu mengingatkan agar si kecil tidak digendong-gendong dari satu tangan ke tangan yang lain. Pastikan juga setiap anggota atau kerabat yang berkunjung tidak sedang batuk-pilek, untuk menghindari tertular. Apalagi di masa pandemi ini, sebaiknya tunggu si kecil hingga sudah lebih kuat dan cukup umur untuk menerima tamu. Dengan catatan, prosedur kesehatan harus tetap dijalankan.
  • Dapatkan dukungan yang Bunda perlukan. Bunda bisa bertanya-tanya kepada orang tua yang pernah merawat bayi prematur. Misalnya, orang tua yang Bunda kenal dari rumah sakit dan anaknya sama-sama dirawat di NICU. Bunda juga bisa berkonsultasi dengan bidan. Jika ternyata Bunda merasakan adanya gejala depresi pascapersalinan, segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan bantuan medis. Gejolak hormon setelah persalinan merupakan hal yang normal, namun jika dikombinasikan dengan kurangnya waktu tidur dan kecemasan kala merawat bayi prematur, beban mental tentu terasa lebih berat. 

Menjadi orangtua baru memang memerlukan komitmen, namun jika si kecil terlahir prematur, diperlukan komitmen lebih. Jangan lupa untuk memberi waktu bagi diri sendiri untuk sekadar beristirahat. Minta bantuan dengan cucian yang menumpuk, jangan merasa bersalah karena lebih memilih tidur siang daripada mencuci piring. 

Dua bulan pertama mungkin Bunda akan merasa seperti kehilangan kontrol, akan tetapi pada akhirnya Anda akan terbiasa dengan peran sebagai orangtua bayi prematur. Tak perlu khawatir, di masa batita nanti dia akan mengejar ketertinggalannya, kok.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kesehatan

Ini yang Perlu Bunda Ketahui tentang Bayi Prematur

mm

Published

on

Kondisi bayi prematur yang belum berkembang utuh, memerlukan perawatan dan perhatian khusus.

Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum waktunya, atau di bawah usia kehamilan 37 minggu. Wajarnya, di dalam rahim Bunda akan terus berkembang dan menyempurnakan diri, sebagai bekal hidupnya ketika terlahir ke dunia. Akan tetapi, karena terlahir sebelum usia yang seharusnya, kondisi tubuh bayi prematur pun belum sempurna. 

Kondisi ini menyebabkan bayi prematur perlu dirawat di ruang NICU atau Neonatal Intensive Care Unit. Mengetahui kondisi bayi prematur merupakan langkah awal untuk dapat merawat bayi prematur dengan baik. Berikut ini beberapa hal yang perlu Bunda ketahui tentang bayi prematur. 

1. Berat bayi lahir rendah. Semakin matang usia kelahiran bayi, semakin berat pula badannya. Bahkan di usia kehamilan 37 ke atas, janin mulai menumpuk lapisan lemak di kulitnya. Tidak heran jika bayi yang lahir prematur memiliki berat badan yang rendah. Bayi prematur biasanya terlahir dengan berat badan kurang dari 2,5 kg. Seiring usianya, berat badan dan ukurannya juga akan bertambah. 

2. Bayi prematur mungkin akan dirawat di ruang NICU. Jangan panik jika dokter yang menangani si kecil memutuskan untuk merawatnya di NICU. Pahamilah bahwa keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi si kecil dan memahami kebutuhannya. Bunda tetap dapat melakukan bonding dengan si kecil. Tanyakan pada fasilitas kesehatan terkait mengenai apa saja yang bisa Bunda lakukan untuk menjalin komunikasi dengan si kecil. 

3. Di NICU, si kecil mungkin perlu dirawat dalam inkubator dan ‘terikat’ dengan berbagai peralatan medis, Beberapa peralatan itu diperlukan untuk mengatur suhu tubuh dan memonitor tanda vital. Mungkin si kecil juga perlu menggunakan ventilator dan selang makanan yang diperlukan untuk membantunya bernapas dan mengonsumsi makanan. 

4. Bayi prematur masih rentan terhadap kuman. Lahir sebelum matang, menyebabkan bayi prematur memiliki sistem imunitas yang belum berkembang maksimal. Oleh sebab itu, wajib menjaga lingkungannya tetap bersih dan bebas kuman. 

Di NICU, setiap pengunjung wajib mencuci tangannya terlebih dahulu. Penggunaan gaun rumah sakit, masker, dan sarung tangan juga disarankan. Begitu pun ketika si kecil sudah dirawat di rumah, jaga kebiasaan untuk mencuci tangan sebelum memegangnya. Batasi kerabat maupun teman yang berkunjung. Asap rokok juga bisa berbahaya bagi bayi prematur Bunda. 

5. Si kecil memerlukan pemantauan dokter secara rutin. Adalah penting untuk terus menjaga komunikasi dengan dokter anak si kecil dan meng-update perkembangannya. Kunjungan rutin ke dokter tetap perlu dilakukan. Sayangnya, bayi prematur masih rentan tidak hanya terhadap kuman tapi juga terhadap kondisi kesehatan tertentu. Ia pun perlu divaksinasi sesuai jadwal. 

6. Si kecil mungkin mengalami kesulitan menyusui. Selain usus dan paru-parunya yang masih berkembang, si kecil juga masih kesulitan mengisap, menelan dan bernapas secara bersamaan. Padahal, keahlian ini diperlukan untuk memenuhi nutrisinya di luar rahim. Pun, bayi prematur cepat merasa lelah dari kegiatan tersebut. 

Selama di NICU ia memperoleh nutrisi dari infus atau selang yang dimasukkan melalui hidung atau mulutnya. Selang tersebut mengantarkan ASI atau susu formula ke dalam perutnya. 

Ketika si kecil mulai mengisap dari payudara Bunda untuk memperoleh asupan ASI, lakukanlah secara bertahap, yaitu dengan mengkombinasikan menyusui langsung dengan pemberian ASI melalui botol. Akan tetapi, selalu mulai dengan memberikan ASI langsung ya, Bun. Selain itu, beri jarak antar menyusui lebih sering, pasalnya si kecil cenderung menyusu sedikit-sedikit. 

7. Pola tidur bayi prematur berbeda dengan bayi yang lahir sesuai usia. Tidak hanya dalam hal waktu tetapi juga kualitas tidur. Bayi prematur dapat tidur selama 22 jam per hari. Namun karena mereka masih perlu sering menyusu, tidurnya tidak akan terlalu nyenyak. Itu sebabnya mereka akan tampak seperti selalu mengantuk. Bayi prematur baru dapat tidur sepanjang malam di usia 8 atau 9 bulan. 

Itulah tujuh fakta yang perlu Bunda ketahui tentang bayi prematur. Dengan memahami kondisinya. Bunda pun dapat memberikan perawatan yang tepat untuk si kecil. 

Continue Reading

Kesehatan

Daftar Vaksin Anak Hingga Usia 1 Tahun Berdasarkan Rekomendasi IDAI

mm

Published

on

vaksin anak 1 tahun
Hingga anak berusia 1 tahun, ada beragam vaksin yang direkomendasikan IDAI.

Vaksin adalah hal penting yang harus diberikan kepada anak. Dengan pemberian vaksin sesuai jadwal, Bunda sudah membantu si kecil terhindar dari penyakit berbahaya. Atau, kalaupun terpapar, tidak sampai parah dampaknya.

Sejauh ini, ada sejumlah vaksin yang diwajibkan oleh pemerintah hingga anak berusia 1 tahun, yakni polio, DPT, Hib, hepatitis B, dan campak. Pemberiannya pun disubsidi oleh pemerintah sehingga bisa didapatkan secara gratis di puskesmas terdekat atau di tempat praktik bidan dengan biaya terjangkau. 

Namun, di samping vaksin-vaksin yang disebutkan tadi, ada vaksin lain yang direkomendasikan oleh IDAI untuk diberikan kepada anak hingga usianya 1 tahun. Rekomendasi vaksin ini pun baru saja diterbitkan pada akhir 2020 lalu yang artinya relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Yuk, kita simak Bun vaksin apa saja yang direkomendasikan untuk anak hingga usianya 1 tahun!

Vaksinasi untuk Bayi Baru Lahir

Sesaat setelah bayi lahir, ada dua vaksin yang harus diberikan, yakni:

  • Hepatitis B 1
  • OPV-0 (polio oral)

Dua vaksin ini biasanya langsung diberikan oleh tenaga kesehatan tanpa diminta. Namun, jika ingin memastikannya, Bunda bisa mengonfirmasinya ketika diizinkan untuk pulang.

Vaksinasi untuk Anak Usia 1 Bulan

Pada usia 1 bulan, ada 1 vaksin yang mesti diberikan kepada si kecil, yakni:

  • BCG

Vaksin satu ini berguna untuk mencegah si kecil terkena penyakit tuberkulosis. Oh ya, jika saat baru lahir adik bayi belum diberikan OPV-0, usia 1 bulan ini adalah waktu yang tepat untuk memberikannya, Bun. Karena BCG dan OPV termasuk dalam daftar vaksin yang diwajibkan oleh pemerintah, Bunda bisa mendapatkannya di puskesmas terdekat.

Vaksinasi untuk Anak Usia 2 Bulan

Nah, di usia 2 bulan, vaksin yang diberikan kepada si kecil mulai bervariasi, Bun. Ini daftarnya:

  • DPT Combo 1 (DPT-Hepatitis B-Hib)
  • OPV-1
  • PCV-1 (mencegah penyakit yang ditimbulkan bakteri pneumokokus)
  • Rotavirus-1 (mencegah diare)

Untuk vaksin rotavirus, ada dua pilihan ya, Bun, yakni rotavirus monovalen atau pentavalen. Rotavirus monovalen diberikan dalam dua dosis, dimulai dari usia 6 minggu dan harus selesai pada usia 24 minggu dengan interval minimal 4 minggu antarvaksin. Sementara itu, 3 rotavirus pentavalen diberikan dalam tiga dosis, dimulai dari usia 6 minggu dan harus selesai pada umur 32 minggu. PCV dan rotavirus tidak termasuk dalam vaksin yang disubsidi oleh pemerintah sehingga Bunda hanya bisa mendapatkannya di rumah sakit.

Vaksinasi untuk Anak Usia 3 Bulan

Pada usia 3 bulan, waktunya mengulang vaksin DPT kombo, Bun, dan tentunya OPV yang ke-2. Kedua vaksin ini bisa didapatkan di puskesmas, ya.

Vaksinasi untuk Anak Usia 4 Bulan

Vaksin pada usia 4 bulan hampir sama dengan vaksin pada usia 2 Bulan. Hanya saja, ditambah dengan vaksin IPV (polio suntik). Berikut daftarnya.

  • DPT Combo 3 (DPT-Hepatitis B-Hib)
  • OPV-3
  • IPV-1
  • PCV-2
  • Rotavirus-2 

Bagi Bunda yang memilih vaksin rotavirus monovalen, pemberian vaksin rotavirus tuntas di usia ini, ya.

Vaksinasi untuk Anak Usia 6 Bulan

Pada usia 6 bulan, ini daftar vaksin yang direkomendasikan untuk diberikan.

  • IPV-2
  • PCV-3
  • Rotavirus-3 (bagi Bunda yang memilih vaksin pentavalen)
  • Influenza

Ketiga vaksin di atas tidak disubsidi oleh pemerintah sehingga hanya bisa didapatkan di rumah sakit ya, Bun.

Vaksinasi untuk Anak Usia 9 Bulan

Setelah pemberian vaksin di usia 6 bulan, si kecil baru akan diberi vaksin lagi pada usia 9 bulan. Berikut daftar rekomendasinya.

  • MR (campak)
  • Japanese encephalitis (JE)

Dari kedua vaksin di atas, hanya vaksin MR atau campaklah yang disubsidi oleh pemerintah. Vaksin JE bisa Bunda dapatkan di rumah sakit. Oh ya, vaksin ini diperlukan untuk mencegah infeksi radang otak yang disebabkan oleh virus JE.

Vaksinasi untuk Anak Usia 12 Bulan

Nah, akhirnya si kecil sampai juga di usia 1 tahun. Di usianya yang sudah menginjak 12 bulan ini, berikut rekomendasi vaksin yang bisa diberikan.

  • PCV-4 (booster)
  • Varisela-1 (mencegah cacar air)
  • Hepatitis A-1

Seluruhnya tidak disubsidi oleh pemerintah ya, Bun, sehingga hanya bisa didapatkan di rumah sakit.

Itulah rekomendasi vaksin dari IDAI hingga anak berusia 1 tahun. Biasanya, rekomendasi diberikan dengan melihat prevalensi atau jumlah kasus kejadian di suatu wilayah. Bila memang prevalensinya tinggi, maka vaksin akan disarankan untuk diberikan. 

Tentu akan lebih baik jika Bunda bisa memberikan seluruh rekomendasi vaksin di atas kepada si kecil. Namun, silakan konsultasikan lebih lanjut dengan dokter spesialis anak agar sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Continue Reading

Kesehatan

Mengenal Vaksin Hib, Vaksin Penting untuk Mencegah Infeksi Serius

mm

Published

on

vaksin hib
Vaksin Hib penting untuk mencegah radang selaput otak.

Dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Bunda akan mendapati vaksin Hib sebagai salah satu vaksin yang wajib diberikan untuk bayi. Vaksin ini diberikan agar si kecil terhindar dari infeksi yang disebabkan oleh bakteri Haemophilus influenzae type b. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri ini bisa bermacam-macam, Bun, mulai dari bronkitis hingga radang selaput otak.

Meski dapat pula menyerang orang dewasa yang memiliki daya tahan tubuh lemah, bakteri Hib lebih rentan menyerang bayi berusia 6-12 bulan karena daya tahan tubuh mereka yang belum maksimal. Maka dari itu, penting bagi bayi untuk mendapatkan vaksin Hib sesuai jadwal agar risiko infeksi dapat dihindari. 

Manfaat Vaksin Hib

Tujuan pemberian vaksin adalah merangsang sistem imun tubuh untuk mengenali agen penyakit yang disuntikkan sebagai ancaman. Itulah mengapa tenaga kesehatan akan memastikan kesehatan si kecil sebelum vaksin Hib ini diberikan. Si kecil harus dalam kondisi yang sehat dan bugar saat diberikan vaksin agar sistem imunnya siap. 

Setelah menerima vaksin ini, si kecil diharapkan dapat terhindar dari risiko berat infeksi-infeksi ini.

  • Meningitis. Merupakan radang selaput otak yang dapat menyebabkan anak mengalami kerusakan otak permanen hingga kematian.
  • Pneumonia, yakni radang pada salah satu atau kedua paru-paru.
  • Septic arthritis. Infeksi ini terjadi pada sendi yang bisa menyebabkan nyeri sendi yang hebat pada lutut, pinggul, bahu, dan lengan.
  • Perikarditis, infeksi yang menyerang perikardium atau selaput yang melindungi dan mengelilingi jantung. Infeksi ini bisa menyebabkan rasa sesak berat pada anak.
  • Epiglotitis atau infeksi pada katup laring yang menyebabkan nyeri hebat pada tenggorokan.

Jadwal Pemberian Vaksin Hib

Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, vaksin Hib diberikan sebanyak 3 kali dengan tambahan satu kali booster. Vaksin diberikan dalam bentuk suntikan. Berikut jadwalnya.

  • Vaksin Hib 1 saat anak berusia 2 bulan
  • Vaksin Hib 2 saat anak berusia 3 bulan
  • Vaksin Hib 3 saat anak berusia 4 bulan
  • Booster saat anak berusia 18 bulan

Vaksin Hib tidak boleh diberikan kepada anak yang belum berusia 6 minggu. Pemberian vaksin ini biasanya akan dibarengi dengan pemberian vaksin DPT dan HB. Booster satu kali pada usia 18 bulan bertujuan untuk meningkatkan kembali antibodi anak terhadap paparan bakteri ini. Pasalnya, antibodi yang meningkat setelah pemberian vaksin dapat turun kembali sewaktu-waktu sehingga diperlukan booster untuk meningkatkannya kembali.

Harga Vaksin Hib

Harga vaksin Hib bervariasi tergantung lokasi Bunda mendapatkannya. Karena merupakan vaksin yang diwajibkan pemerintah, harga vaksin Hib disubsidi dan bisa didapatkan secara gratis di puskesmas. Bunda juga bisa mendapatkannya di bidan praktik mandiri (BPM) dengan harga sekitar Rp 150 ribu, sudah termasuk dengan vaksin DPT, HB, dan polio tetes yang diberikan bersamaan. 

Sementara itu, bagi Bunda yang memilih memvaksin si kecil di rumah sakit, harga vaksin bervariasi mulai dari Rp 350 ribu, termasuk vaksin DPT dan HB, tapi belum termasuk biaya dokter.

Efek Samping

Jika si kecil mendapatkan vaksin Hib dalam kondisi sehat, jarang sekali ada efek samping serius yang dihadapi. Efek samping ringan yang mungkin terjadi setelah mendapatkan vaksin ini adalah demam serta rasa pegal dan kemerahan pada bagian tubuh yang disuntik. Untuk mengatasi efek samping ini, Bunda bisa melakukan hal-hal berikut:

  • Sesampainya di rumah, segera kompres bagian tubuh yang disuntik dengan air hangat. Ini bertujuan untuk meminimalisasi bengkak dan kemerahan.
  • Bila demam, kompres dahi, lipatan leher, lipatan paha, dan lipatan ketiak anak dengan air hangat.
  • Tenaga kesehatan juga mungkin meresepkan obat penurun panas untuk meredakan demam. 
  • Perbanyak asupan cairan si kecil dengan menyusuinya lebih sering.

Jika terjadi reaksi alergi berat, seperti sesak napas, bengkak pada wajah, gatal-gatal, dan atau demam si kecil tidak turun setelah 3 hari, segera periksakan ke dokter anak.

Bunda, itulah serba-serbi vaksin Hib yang perlu diketahui. Ingatlah untuk memberikan vaksin sesuai jadwal agar si kecil tumbuh jadi anak yang sehat dan bugar.

Continue Reading

Trending