fbpx
Connect with us

Parenting

Cara Membangun Kemampuan Sosial Anak di Tengah Pandemi

mm

Published

on

kemampuan sosial anak
Kemampuan sosial anak bisa dilatih di rumah.

Pandemi sudah berjalan kurang lebih selama setahun. Bersamanya, seruan untuk di rumah saja demi memutus mata rantai Covid-19 terus didengungkan. Diam di rumah saja tentu bagus demi kepentingan bersama. Namun, ada efek samping dari mengisolasi diri yang mungkin luput dari perhatian kita, yakni hilangnya kesempatan anak untuk meningkatkan kemampuan dalam bersosialisasi.

Tahukah, Bun? Anak-anak usia sekolah sedang berada dalam tahap perkembangan penting perihal kemampuan bersosialisasi. Penting bagi mereka untuk belajar membangun pertemanan dan berkomunikasi dengan orang lain. Kondisi pandemi mau tidak mau mengurangi kesempatan anak akan hal ini.

Namun, Bunda tak perlu panik, ya. Ada sejumlah cara alternatif yang bisa Bunda coba di rumah untuk membantu anak membangun kemampuan sosialnya, meski ia tak rutin bertemu teman sebaya.

Ajak Anak Memahami Emosinya

Jangankan anak-anak, kita yang dewasa saja kadang sulit menyampaikan emosi yang kita rasa. Maka dari itu, kita perlu mengajak anak untuk mulai memahami emosinya sedari dini. Dilansir dari Parents.com, salah satu cara supaya anak mau dan mampu untuk menyampaikan emosinya dimulai dari keaktifan orang tua

Di pengujung hari, Bunda atau Ayah bisa menanyakan perasaan si kecil selama seharian. Misalnya dengan pertanyaan, “Apa sih yang kamu rasakan seharian ini?”. Supaya lebih mudah bagi si kecil untuk menyampaikannya, gunakanlah chart yang berisi berbagai emoji dengan ekspresi berbeda-beda. Minta si kecil menunjuk emoji yang paling sesuai dengan perasaannya di hari itu.

Biarkan Ia Mandiri

Sebagai orang tua, kita mungkin akan tergelitik untuk selalu membantu buah hati. Namun, Bun, cobalah sedikit menahan diri. Bila si kecil sedang mengerjakan pekerjaan rumah, menyapu atau memakai baju misalnya, jangan terburu-buru “terjun” untuk menyelesaikan pekerjaannya. Biarkan ia bereksplorasi dan menemukan caranya sendiri. Bunda mungkin gemas melihatnya, tapi bersabarlah. Dengan membiarkan ia mandiri, Bunda dan Ayah sedang membangun kepercayaan dirinya yang akan sangat berguna di kehidupan sosialnya nanti.

Buat Kontak Mata

Pernah dengar nasihat untuk duduk bersimpuh kala berbicara dengan si kecil? Nasihat ini benar loh, Bun. Kuncinya sebenarnya bukan pada duduknya, tapi pada kontak matanya. Ketika duduk bersimpuh di hadapan si kecil, level mata Bunda akan sejajar dengan matanya sehingga kontak mata terjadi.

Saat berbicara dengan anak, jagalah kontak mata ini. Niscaya, mereka akan lebih mendengarkan perkataan Bunda. Tak hanya itu, dengan kebiasaan ini, anak akan sadar bahwa kontak mata adalah kunci terpenting dalam komunikasi. Saat nanti bergaul dengan orang lain, ia akan meniru kebiasaan ini.

Lakukan Permainan yang Melibatkan Keluarga

Saat Bunda dan Ayah telah tuntas menyelesaikan pekerjaan serta si kecil sudah selesai menyelesaikan tugas sekolahnya, luangkanlah waktu untuk family game night. Bunda dan Ayah bisa mengajak si kecil untuk melakukan permainan sederhana, tapi bermakna, misalnya ular tangga, halma, atau ludo. Dengan bermain game, si kecil akan belajar mengikuti peraturan, menghargai orang lain, bahkan belajar bekerja sama.

Beberapa cara itulah yang bisa dilakukan di rumah untuk membantu mengembangkan kemampuan sosial anak. Selamat mencoba ya, Bunda dan Ayah!

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kesehatan

Ini yang Perlu Bunda Ketahui tentang Bayi Prematur

mm

Published

on

Kondisi bayi prematur yang belum berkembang utuh, memerlukan perawatan dan perhatian khusus.

Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum waktunya, atau di bawah usia kehamilan 37 minggu. Wajarnya, di dalam rahim Bunda akan terus berkembang dan menyempurnakan diri, sebagai bekal hidupnya ketika terlahir ke dunia. Akan tetapi, karena terlahir sebelum usia yang seharusnya, kondisi tubuh bayi prematur pun belum sempurna. 

Kondisi ini menyebabkan bayi prematur perlu dirawat di ruang NICU atau Neonatal Intensive Care Unit. Mengetahui kondisi bayi prematur merupakan langkah awal untuk dapat merawat bayi prematur dengan baik. Berikut ini beberapa hal yang perlu Bunda ketahui tentang bayi prematur. 

1. Berat bayi lahir rendah. Semakin matang usia kelahiran bayi, semakin berat pula badannya. Bahkan di usia kehamilan 37 ke atas, janin mulai menumpuk lapisan lemak di kulitnya. Tidak heran jika bayi yang lahir prematur memiliki berat badan yang rendah. Bayi prematur biasanya terlahir dengan berat badan kurang dari 2,5 kg. Seiring usianya, berat badan dan ukurannya juga akan bertambah. 

2. Bayi prematur mungkin akan dirawat di ruang NICU. Jangan panik jika dokter yang menangani si kecil memutuskan untuk merawatnya di NICU. Pahamilah bahwa keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi si kecil dan memahami kebutuhannya. Bunda tetap dapat melakukan bonding dengan si kecil. Tanyakan pada fasilitas kesehatan terkait mengenai apa saja yang bisa Bunda lakukan untuk menjalin komunikasi dengan si kecil. 

3. Di NICU, si kecil mungkin perlu dirawat dalam inkubator dan ‘terikat’ dengan berbagai peralatan medis, Beberapa peralatan itu diperlukan untuk mengatur suhu tubuh dan memonitor tanda vital. Mungkin si kecil juga perlu menggunakan ventilator dan selang makanan yang diperlukan untuk membantunya bernapas dan mengonsumsi makanan. 

4. Bayi prematur masih rentan terhadap kuman. Lahir sebelum matang, menyebabkan bayi prematur memiliki sistem imunitas yang belum berkembang maksimal. Oleh sebab itu, wajib menjaga lingkungannya tetap bersih dan bebas kuman. 

Di NICU, setiap pengunjung wajib mencuci tangannya terlebih dahulu. Penggunaan gaun rumah sakit, masker, dan sarung tangan juga disarankan. Begitu pun ketika si kecil sudah dirawat di rumah, jaga kebiasaan untuk mencuci tangan sebelum memegangnya. Batasi kerabat maupun teman yang berkunjung. Asap rokok juga bisa berbahaya bagi bayi prematur Bunda. 

5. Si kecil memerlukan pemantauan dokter secara rutin. Adalah penting untuk terus menjaga komunikasi dengan dokter anak si kecil dan meng-update perkembangannya. Kunjungan rutin ke dokter tetap perlu dilakukan. Sayangnya, bayi prematur masih rentan tidak hanya terhadap kuman tapi juga terhadap kondisi kesehatan tertentu. Ia pun perlu divaksinasi sesuai jadwal. 

6. Si kecil mungkin mengalami kesulitan menyusui. Selain usus dan paru-parunya yang masih berkembang, si kecil juga masih kesulitan mengisap, menelan dan bernapas secara bersamaan. Padahal, keahlian ini diperlukan untuk memenuhi nutrisinya di luar rahim. Pun, bayi prematur cepat merasa lelah dari kegiatan tersebut. 

Selama di NICU ia memperoleh nutrisi dari infus atau selang yang dimasukkan melalui hidung atau mulutnya. Selang tersebut mengantarkan ASI atau susu formula ke dalam perutnya. 

Ketika si kecil mulai mengisap dari payudara Bunda untuk memperoleh asupan ASI, lakukanlah secara bertahap, yaitu dengan mengkombinasikan menyusui langsung dengan pemberian ASI melalui botol. Akan tetapi, selalu mulai dengan memberikan ASI langsung ya, Bun. Selain itu, beri jarak antar menyusui lebih sering, pasalnya si kecil cenderung menyusu sedikit-sedikit. 

7. Pola tidur bayi prematur berbeda dengan bayi yang lahir sesuai usia. Tidak hanya dalam hal waktu tetapi juga kualitas tidur. Bayi prematur dapat tidur selama 22 jam per hari. Namun karena mereka masih perlu sering menyusu, tidurnya tidak akan terlalu nyenyak. Itu sebabnya mereka akan tampak seperti selalu mengantuk. Bayi prematur baru dapat tidur sepanjang malam di usia 8 atau 9 bulan. 

Itulah tujuh fakta yang perlu Bunda ketahui tentang bayi prematur. Dengan memahami kondisinya. Bunda pun dapat memberikan perawatan yang tepat untuk si kecil. 

Continue Reading

Nutrisi

Ini Makanan yang Tepat untuk Bayi Baru Lahir hingga Berusia 2 Tahun

mm

Published

on

makanan bayi 2 tahun
Cari tahu makanan bayi yang tepat hingga usianya 2 tahun.

Hai, Bunda! Selamat ya untuk kelahiran si kecil. Bagaimana rasanya mengurus bayi, Bun? Pasti menyenangkan sekaligus chaotic ya. Hihi.

Menyambut kelahiran buah hati, Bunda mungkin bertanya-tanya apa makanan yang tepat untuknya. Apalagi, 2 tahun pertama kehidupan si kecil adalah masa krusial yang akan menentukan perkembangannya di tahap kehidupan selanjutnya. Si kecil pun membutuhkan makanan yang tepat untuk melalui masa ini dengan baik dan agar terhindar dari stunting.

Bila Bunda masih merasa bingung perihal asupan yang tepat bagi bayi hingga ia berusia 2 tahun, yuk ikuti panduan ini.

Bayi Baru Lahir hingga Usia 6 Bulan

Setelah bayi lahir, makanan yang paling tepat untuknya adalah ASI. Bunda pasti pernah mendengar tentang ASI eksklusif selama 6 bulan, bukan? ASI eksklusif berarti selama 6 bulan pertama kehidupan bayi, Bunda hanya memberikan ASI, tanpa makanan pendamping apapun. Tidak pula dengan air putih.

Oh ya, sesaat setelah melahirkan, Bunda disarankan melakukan inisiasi menyusui dini atau IMD selama paling tidak 30 menit hingga 1 jam. IMD sangat menentukan keberhasilan ASI eksklusif. Pun, dengan melakukan IMD, si kecil bisa mendapatkan kolostrum yang sangat bermanfaat untuk tubuhnya.

Bayi Usia 6 Bulan hingga 8 Bulan

Di usia 6 bulan, Bunda sudah bisa memperkenalkan si kecil dengan makanan atau lazim disebut dengan makanan pendamping ASI (MPASI). Mengapa disebut makanan pendamping? Karena pada masa ini, ASI tetaplah menjadi makanan utama bayi. Hanya saja, kandungan nutrisi pada ASI, terutama zat besi, sudah tidak cukup lagi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian bayi. Nutrisi yang kurang ini perlu dilengkapi lewat makanan.

Pada usia ini, bayi setidaknya diberikan makan besar sebanyak 3 kali dan camilan sebanyak 2 kali dengan ASI tetap sebagai makanan utama. Tekstur makanan yang pas untuk usia ini adalah saring atau lumat. 

Untuk makan besar bayi, buatlah makanan yang terdiri dari unsur karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur, dan lemak tambahan (bisa dari mentega, keju, atau minyak zaitun ekstra murni). Untuk camilan, Bunda bisa memberikan puree buah. Takaran makanan bayi bervariasi, mulai dari 2 sendok makan hingga setengah mangkuk sekali makan.

Namun, sebelum memberikan bayi makan, perhatikan tanda ini ya, Bun. Inilah beberapa hal yang menandakan bayi Bunda sudah siap makan.

  • Beratnya sudah 2 kali dari berat lahir
  • Bayi sudah dapat mengontrol gerakan kepala dan lehernya
  • Sudah dapat duduk dengan bantuan
  • Bayi dapat memberikan tanda bahwa ia sudah kenyang, misalnya dengan menjauhkan kepala dari sendok atau dengan menutup mulutnya
  • Ia sudah menunjukkan ketertarikan pada makanan saat orang lain makan di sekitarnya

Bayi Usia 8 hingga 12 Bulan

Di usia ini, tekstur MPASI yang tadinya lumat sudah bisa diubah menjadi cincang halus atau kasar. Bunda juga sudah bisa memperkenalkan finger food pada bayi. Tanda bayi siap melahap makanannya sendiri tanpa perlu disuapi adalah ia sudah tertarik untuk memegang makanan atau sendok. Tetap ingat aturan MPASI yang dilengkapi karbo, protein hewani, protein nabati, dan sayur ya, Bun. Di usia ini, berikan ASI 3-4 kali sehari.

Usia 1 hingga 2 Tahun

Di usia ini, si kecil sudah mulai bisa diperkenalkan dengan makanan bertekstur sama dengan yang kita makan. Makan besar sebanyak 3-4 kali sehari dengan camilan 1-2 kali. Bunda juga tetap bisa memberikan ASI kepada si kecil jika ia memintanya. WHO sendiri menyarankan pemberian ASI hingga anak berusia 2 tahun. Pastikan nutrisi anak cukup dengan memberikan berbagai variasi makanan bayi usia 2 tahun yang terdiri dari unsur karbo, protein, sayur, dan buah.

Bunda, itulah rincian makanan yang tepat untuk bayi baru lahir hingga berusia 2 tahun. Memenuhinya pasti penuh perjuangan, tapi jangan menyerah ya, Bun!

Continue Reading

Kesehatan

Bunda, Ini Cara Merawat Bayi Prematur yang Tepat

mm

Published

on

cara merawat bayi prematur
Bagaimana cara merawat bayi prematur yang tepat?

Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Jika Bunda mengalami persalinan prematur, maka si kecil akan dirawat di NICU atau Neonatal Intensive Care Unit. Pasalnya bayi yang terlahir prematur memiliki kondisi tubuh yang tidak sebaik bayi yang lahir di atas usia 37 minggu. 

Karena belum berkembang secara maksimal, bayi prematur memiliki risiko gangguan kesehatan dibanding bayi yang lahir cukup bulan. Bayi prematur belum memiliki cukup simpanan lemak pada tubuhnya sehingga lebih rentan terhadap ketidakstabilan suhu. Ia juga juga bisa mengalami kesulitan makan, berisiko memiliki gula darah rendah, lebih mudah lelah, rentan terhadap infeksi dan kesulitan bernapas. 

Ada saatnya setelah dirawat di NICU, dokter akan memperbolehkan si kecil pulang untuk dirawat di rumah. Jangan khawatir, dengan perawatan yang tepat si kecil akan bertumbuh dengan baik. 

Berikut ini cara merawat bayi prematur di rumah. 

  • Belajar cara memakaikan bedong. Dekapan kain bedong yang terlilit di badan si kecil memberikan kenyamanan baginya. Pada kenyataannya, si kecil memang seharusnya masih berada di dalam rahim yang nyaman. Belajar memasangkan bedong dari bidan atau perawat yang ada di rumah sakit dan berlatihlah sampai bisa melakukannya dengan cepat. Bedong juga membantu si kecil tidur lebih nyenyak. 
  • Tak perlu merasa kasihan untuk membangunkannya saat jadwal menyusui. Pasalnya bayi prematur cenderung tertidur sepanjang hari, bahkan melewati jadwal menyusuinya. Padahal asupan makanan sangat diperlukan untuk membuatnya lebih kuat. Bahkan saat menyusui, bisa saja si kecil jatuh tertidur. Jika ini yang terjadi, coba untuk mengganti posisinya, membuatnya bersendawa, menyanyikan lagu yang berirama ceria, atau menggosok keningnya dengan handuk yang dingin. 
  • Tetapkan aturan berkunjung. Kehadiran anggota keluarga baru tentu disambut dengan gembira oleh seluruh keluarga. Namun kondisi bayi prematur yang masih rentan membuat waktu dan jumlah orang berkunjung perlu dibatasi. Bunda juga perlu mengingatkan agar si kecil tidak digendong-gendong dari satu tangan ke tangan yang lain. Pastikan juga setiap anggota atau kerabat yang berkunjung tidak sedang batuk-pilek, untuk menghindari tertular. Apalagi di masa pandemi ini, sebaiknya tunggu si kecil hingga sudah lebih kuat dan cukup umur untuk menerima tamu. Dengan catatan, prosedur kesehatan harus tetap dijalankan.
  • Dapatkan dukungan yang Bunda perlukan. Bunda bisa bertanya-tanya kepada orang tua yang pernah merawat bayi prematur. Misalnya, orang tua yang Bunda kenal dari rumah sakit dan anaknya sama-sama dirawat di NICU. Bunda juga bisa berkonsultasi dengan bidan. Jika ternyata Bunda merasakan adanya gejala depresi pascapersalinan, segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan bantuan medis. Gejolak hormon setelah persalinan merupakan hal yang normal, namun jika dikombinasikan dengan kurangnya waktu tidur dan kecemasan kala merawat bayi prematur, beban mental tentu terasa lebih berat. 

Menjadi orangtua baru memang memerlukan komitmen, namun jika si kecil terlahir prematur, diperlukan komitmen lebih. Jangan lupa untuk memberi waktu bagi diri sendiri untuk sekadar beristirahat. Minta bantuan dengan cucian yang menumpuk, jangan merasa bersalah karena lebih memilih tidur siang daripada mencuci piring. 

Dua bulan pertama mungkin Bunda akan merasa seperti kehilangan kontrol, akan tetapi pada akhirnya Anda akan terbiasa dengan peran sebagai orangtua bayi prematur. Tak perlu khawatir, di masa batita nanti dia akan mengejar ketertinggalannya, kok.

Continue Reading

Trending