fbpx
Connect with us

Kehamilan

Ini Bedanya Hamil di Usia 20, 30, dan 40

mm

Published

on

hamil dan usia ibu

Kecenderungan perempuan untuk melahirkan di usia matang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Saat ini lebih banyak perempuan melahirkan di usia 30-an. Adakah risiko atas kehamilan dan kelahiran, di usia ibu yang lebih matang?

Saat bertambah usia, banyak perubahan yang terjadi pada seorang perempuan. Salah satunya adalah penurunan kualitas dan kuantitas sel telur. Inilah mengapa, banyak orang berpendapat bahwa semakin tua seseorang maka kesempatannya untuk hamil pun semakin berkurang.

Selain penurunan kualitas sel telur, ada banyak faktor lain yang menyebabkan kondisi kandungan perempuan usia 20-an berbeda dengan mereka yang hamil di usia 30 atau 40. Lalu, apa saja perbedaan tersebut dan pengaruhnya terhadap kondisi kesehatan calon Ibu maupun janin?

Mari kita simak ulasan tentang pengaruh hamil dan usia Ibu di bawah ini!

Hamil di Usia 20-an

Bunda, secara medis usia 20-30 tahun merupakan saat yang tepat untuk merencanakan kehamilan. Karena pada rentang usia tersebut, kondisi tubuh dan kualitas sel telur sedang dalam masa prima mereka. Risiko keguguran atau melahirkan anak down syndrome pun cenderung kecil di usia ini.

Tidak hanya itu, di usia 20-an, seorang calon Ibu akan lebih mudah melakukan persalinan normal karena otot dan mulut rahim mereka masih lentur. Meskipun begitu, bukan berarti kita tidak boleh waspada terhadap berbagai risiko kehamilan berbahaya. Lakukan pemeriksaan rutin secara berkala ke dokter kandungan tepercaya agar setiap risiko bisa dideteksi dan diatasi sejak dini.

Kondisi Tubuh Bunda:

  • Di usia ini faktor risiko tinggi terhadap berbagai komplikasi kehamilan seperti diabetes gestasional, hipertensi, dan pre-eclampsia masih sangat rendah.
  • Risiko Bunda untuk mengandung anak yang mengalami sindrom Down atau spina bifida juga rendah. (Di usia 25 tahun, risiko Bunda mengandung anak dengan sindrom Down adalah 1 berbanding 1.250. Sementara di usia 35 tahun risikonya menjadi 1 dibanding 378).
  • Ketika bayi lahir, Bunda memiliki lebih banyak energi untuk merawat dan mengikuti perkembangan fisik si kecil.

Kondisi Emosional Bunda: 

  • Di saat ini, Bunda biasanya masih menjadi seorang newbie dalam hal karier dan bisa sangat mungkin banyak teman Bunda belum memiliki anak (beberapa lagi bahkan belum menikah).
  • Bunda mungkin sulit mendapat dukungan dari teman seusia atau seangkatan. Sebab itu, ada baiknya bergabung dengan komunitas ibu hamil. Di sini Bunda bisa berbagi masalah dan saling memberikan solusi.
  • Menyeimbangkan antara karier dan keluarga menjadi tantangan tersendiri. Bunda mungkin mengalami dilema karena tidak dapat memberikan usaha terbaik di pekerjaan yang kini ditekuni.
  • Kehadiran bayi baru bisa menjadi sumber stres untuk sebuah keluarga muda dan baru. Pastikan Bunda menyisihkan waktu untuk ‘me time’ bersama suami.

Hamil di Usia 30-an

Meskipun secara mental kondisi kita cukup matang dan prima, tidak semua organ tubuh bisa sebagus kondisi mental begitu usia menginjak angka 30. Pada usia ini, perempuan diperkirakan akan kehilangan sekitar 1.000 sel telur pada setiap siklus. Kualitas sel telur pun tidak sebagus perempuan berusia 20-an.

Inilah mengapa, kehamilan di usia 30-35 cenderung lebih rentan terkena risiko keguguran atau melahirkan anak dengan keterbelakangan mental. Untuk mengantisipasi, saat hamil dan usia Ibu cenderung matang, usahakan agar kehamilannya dijaga dengan baik. Asupan gizi dan makanan yang dikonsumsi pun harus dikontrol dan sesuai dengan yang dianjurkan dokter.

Kondisi Tubuh Bunda: 

  • Risiko Bunda untuk mengalami diabetes gestasional dan pre-eclampsia lebih tinggi. Begitu pula kemungkinan memiliki bayi dengan sindrom down ataupun kelainan abnormal lainnya. Di usia 35 tahun, risiko anak lahir dengan kelainan kromoson adalah sekitar 1 dibanding 200. Juga risiko Bunda untuk mengalami keguguran akan meningkat.
  • Jika menjalani penanganan infertilitas, kemungkinan Bunda memiliki bayi kembar akan lebih tinggi dibanding perempuan yang hamil secara alamiah.
  • Kemungkinan Bunda untuk menjalani operasi caesar juga lebih tinggi.

Kondisi Emosinal Bunda:

  • Bila Bunda mengandung anak pertama di usia ini, artinya Bunda sudah berada dalam posisi yang nyaman dalam hal karier maupun keluarga.
  • Biasanya, sudah banyak teman Bunda yang berkeluarga dan memiliki anak. Ini membuat Bunda tidak kesulitan saat menemukan sistem pendukung.
  • Bunda lebih dewasa dan percaya diri, baik ketika memandang diri sendiri maupun sebagai bagian dari komunitas dan keluarga. Hal ini membuat Bunda lebih percaya diri ketika menentukan pilihan untuk Bunda maupun keluarga.

Hamil di Usia 40-an

Saat menginjak angka 40, kemungkinan seorang perempuan untuk bisa hamil semakin kecil. Hampir 50% perempuan usia ini akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan anak. Hal tersebut terjadi karena adanya penurunan kuantitas sekaligus kualitas sel telur.

Kalaupun terjadi kehamilan, ada dua risiko yang harus dihadapi yaitu keguguran atau melahirkan anak dengan gejala down syndrome.

Kondisi Tubuh Bunda: 

  • Jika Bunda mengandung janin kembar, kemungkinan untuk melahirkan anak prematur atau bayi dengan BBLR (berat badan lahir rendah) pun meningkat.
  • Risiko Bunda untuk melahirkan anak dengan kelainan kromosom semakin meningkan.Sebuah penelitian mengungkap, sekitar 1 dari 106 perempuan yang hamil di usia 40 melahirkan bayi dengan cacat fisik atau mental.
  • Berita baiknya? Bila kondisi fisik Bunda sehat dan bugar, menerapkan pola makan yang baik, dan tidak memiliki kondisi kesehatan tertentu seperti diabetes dan hipertensi, risiko komplikasi kehamilan tidaklah lebih tinggi dibanding perempuan yang hamil di usia 20-an dan 30-an.

Kondisi Emosional Bunda: 

  • Di usia ini, biasanya Bunda juga menjadi lebih percaya diri dan bijaksana. Itu artinya, Bunda dapat lebih sabar dan legowo dalam menghadapi bayi baru lahir.
  • Bunda memiliki ekspektasi yang lebih tinggi terhadap diri sendiri dibanding saat Bunda berusia 20-an atau 30-an. Hal ini membuat Bunda cenderung menjadi lebih perfeksionis.
  • Bisa jadi, di usia ini Bunda tidak memiliki teman seumur yang senasib sepenanggungan. Jangan ragu atau risih berteman dengan perempuan yang lebih muda, ya Bunda.

Itulah beberapa perbedaan kondisi kehamilan berdasarkan usia Ibu. Setelah membaca ulasan di atas kita bisa menyimpulkan bahwa hamil dan usia Ibu memiliki kaitan yang erat. Semoga informasi di atas bisa menjadi panduan dan referensi bermanfaat untuk merencanakan kehamilan.

Untuk panduan seputar kehamilan, Bunda bisa mengunduh aplikasi Ibu Sehati di Apple Store atau Google Play. Jangan lupa juga untuk follow dan like akun Facebook ataupun Instagram Sehati.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kehamilan

Vitamin Ibu Hamil dari Bidan, Apa Saja Fungsinya?

mm

Published

on

Vitamin ibu hamil dari bidan
Ada setidaknya 4 jenis vitamin ibu hamil dari bidan yang akan Bunda terima setelah pemeriksaan kehamilan.

Asupan nutrisi berkualitas merupakan kunci perkembangan janin dalam kandungan ibu hamil. Sebab itulah, Bunda disarankan untuk menjaga pola makan yang sehat dan bergizi, untuk memenuhi semua kebutuhan nutrisi selama hamil. 

Akan tetapi, tidak semua nutrisi tersebut dapat dipenuhi dari makanan yang Bunda konsumsi. Apalagi ada beberapa jenis nutrisi yang perlu dipastikan kecukupannya, demi memastikan kehamilan yang sehat dan nyaman. Sebut saja zat besi yang sangat diperlukan ibu hamil untuk memastikan janin bertumbuh optimal. 

Lalu apa saja vitamin ibu hamil dari bidan dan apa saja fungsinya? Disimak yuk, Bun. 

Suplemen Zat Besi

Tahukah, Bunda? Kekurangan zat besi selama hamil bisa berakibat fatal bagi Bunda dan janin. Pasalnya zat besi memiliki peran yang sangat penting selama proses kehamilan. Adalah zat besi yang memastikan suplai oksigen dan nutrisi ke janin berjalan lancar. Baik oksigen maupun nutrisi penting bagi tumbuh kembang janin. 

Oleh sebab itu, kekurangan zat besi diketahui dapat menghambat pertumbuhan janin dan juga meningkatkan risiko perdarahan saat persalinan pada ibu. Lebih lanjut, kekurangan zat besi ini bisa menimbulkan kerugian jangka panjang bagi janin. Bayi yang selama dalam kandungan kekurangan asupan nutrisi dan oksigen dapat mengalami apa yang disebut stunting intrauterine yang sangat potensial berlanjut menjadi stunting dalam perkembangan usianya. 

Kebutuhan zat besi pada ibu hamil adalah sekitar 800 mg per hari. Dikutip dari situs Kementerian Kesehatan Indonesia, 300 mg dari kebutuhan tersebut adalah untuk janin dan 500 mg diperlukan untuk menambah massa hemoglobin maternal. Sayangnya, kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi hanya dengan konsumsi makanan sehari-hari. 

Suplementasi yang diberikan oleh bidan dalam bentuk tablet tambah darah (TTD) mengandung 200 mg ferro sulfat atau setara dengan 60 mg besi elemental. Bidan akan merekomendasikan ibu hamil untuk mengonsumsi TTD sebanyak 10 butir setiap bulannya. 

Asam folat

Nutrisi yang satu ini punya peran yang tak kalah krusial dalam kehamilan Bunda. Asam folat diketahui dapat mencegah terjadinya cacat janin, terutama cacat pada sistem saraf bayi. Cacat bayi ini dapat berkembang saat janin masih berusia 28 hari, yakni di saat banyak ibu belum menyadari kehamilannya. 

Mengingat perannya yang penting, asam folat juga disarankan untuk dikonsumsi oleh ibu yang sedang mempersiapkan kehamilan. Tentunya hal ini dapat mencegah cacat sistem saraf berkembang saat ibu tidak menyadarinya. 

Kebutuhan asam folat pada ibu hamil adalah berkisar antara 400-800 mikrogram per hari sampai usia kehamilan mencapai 3 bulan. Selain dari konsumsi makanan yang tinggi asam folat, suplementasi juga sangat diperlukan. Hal ini memastikan ibu tidak kekurangan asam folat, terutama di trimester pertama kehamilan. Apalagi di saat ini banyak ibu mengalami kesulitan menjaga pola makan sehat dikarenakan gangguan pola makan atau ngidam.

Suplementasi asam folat yang dianjurkan adalah 400 mikrogram per hari. Akan tetapi dosis ini perlu disesuaikan dengan kebutuhan individual ibu hamil. Pada kondisi hamil kembar misalnya, dosis perlu ditingkatkan. Begitu pula pada ibu hamil yang pernah mengandung anak dengan kondisi cacat tulang belakang atau penyakit jantung bawaan. Bidan akan memperhatikan risiko tersebut dan memberikan dosis yang sesuai untuk Bunda. 

Kalsium

Ketika hamil, Bunda perlu mengasup kalsium setidaknya 1.000 mg per hari. Meningkatnya kebutuhan kalsium selama kehamilan diperlukan untuk mendukung kesehatan tulang dan gigi Bunda serta janin. Kalsium juga diperlukan dalam perkembangan organ jantung, saraf, dan otot si kecil dalam kandungan. 

Tidak hanya itu, kalsium juga memiliki peran penting dalam mengurangi risiko tekanan darah tinggi atau hipertensi dan preeklampsia pada ibu hamil. Konsumsi makanan tinggi kalsium bisa membantu memenuhi kebutuhan kalsium selama hamil. Misalnya susu rendah lemak, keju, yogurt, sayuran hijau, kacang-kacangan atau produk olahannya seperti kacang, tahu dan susu kedelai atau susu almond. 

Untuk memastikan tercukupinya asupan kalsium, terutama pada ibu hamil yang mengalami kesulitan memenuhinya dari asupan makanan sehari-hari, suplementasi pun diperlukan. Bidan akan memberikan kalsium tambahan dalam jumlah yang sesuai dengan kondisi masing-masing ibu.

Vitamin D

Vitamin ini diketahui memiliki peran penting dalam metabolisme tulang. Selain diproduksi oleh tubuh secara alami ketika terpapar sinar matahari, vitamin D juga ditemukan dalam ikan, telur, dan produk fortifikasi.

Kekurangan vitamin D pada ibu hamil, bisa meningkatkan risiko preeklampsia, diabetes gestasional, persalinan prematur, dan kondisi lain yang berhubungan dengan perkembangan jaringan. Sehingga, suplementasi vitamin D dapat membantu ibu hamil dalam menurunkan risiko preeklampsia, berat badan lahir rendah dan persalinan prematur

Suplementasi vitamin D pada ibu hamil sebaiknya dilakukan berdasarkan kondisi spesifik. Untuk itu, konsumsi suplemen vitamin D jika memang disarankan oleh tenaga kesehatan dalam porsi yang dianjurkan. 

Itulah beberapa vitamin ibu hamil dari bidan yang biasanya dianjurkan untuk dikonsumsi. Ada baiknya Bunda berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan suplementasi yang memang sesuai dengan kondisi kesehatan Bunda, ya.

Continue Reading

Kehamilan

Diare saat Hamil, Apa Risikonya bagi Bunda?

mm

Published

on

diare saat hamil
Diare saat hamil bisa terjadi karena beberapa hal ini, Bun.

Masalah pencernaan maupun sakit perut bukanlah hal yang tidak mungkin terjadi saat hamil. Dari sembelit sampai mual (apalagi ini, Bun), sangat lumrah dialami ibu hamil. Akan tetapi jika yang terjadi adalah diare, bisa jadi Bunda akan lebih panik. Ya, diare bukanlah hal yang wajar terjadi dan bahkan perlu dihindari ketika ibu hamil. 

Diare saat hamil muda kerap dianggap sebagai salah satu tanda kehamilan. Memang sih, perubahan hormon yang dialami Bunda di masa hamil muda ini bisa saja memicu masalah pencernaan yang berujung dengan diare. Namun, payudara yang terasa nyeri, kelelahan, dan mual, lebih sering terjadi dibanding diare. 

Sementara, diare saat hamil tua bisa jadi pertanda persalinan sudah dekat. Beberapa ibu hamil mengalami diare, heartburn, atau mual dan muntah tepat sebelum melahirkan. Tentu saja, ada banyak alasan mengapa ibu hamil bisa mengalami diare dan kondisi ini bisa terjadi kapan saja, bukan hanya di awal atau akhir masa kehamilan. 

Penyebab diare saat hamil 

Diare saat hamil dapat timbul dari berbagai kondisi yang sangat beragam, dari perubahan hormon, perubahan pola makan, sampai virus perut. Beberapa hal ini bisa jadi pemicu diare saat hamil: 

  • Perubahan tubuh: Selama kehamilan, tubuh dan kadar hormon Bunda akan mengalami perubahan. Hal-hal ini akan memengaruhi perut dan sistem pencernaan, yang bisa memicu mual dan muntah, sembelit saat hamil, atau diare. 
  • Pola makan: Menerapkan pola makan sehat selama hamil bisa jadi merupakan tantangan. Apalagi saat hamil muda, banyak ibu hamil mengalami perubahan cita rasa alias ngidam. Tentu saja hal ini memengaruhi pola makan. Yang tadinya tidak suka pedas, bisa jadi malah mengidamkan makanan pedas dan sarat bumbu saat hamil muda. Perubahan pola makan ini juga bisa memengaruhi sistem pencernaan yang berujung dengan diare. 
  • Suplemen kehamilan: Untuk membantu janin yang sedang berkembang, tenaga kesehatan akan menyarankan konsumsi suplemen. Bukan tidak mungkin beberapa merek suplemen ini memicu sembelit atau sebaliknya, diare. Jika ini penyebabnya, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan agar dapat segera merekomendasikan gantinya ya, Bun. 

Diare juga bisa disebabkan oleh hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan kehamilan, misalnya:

  • Keracunan makanan
  • Masalah kesehatan seperti penyakit Cohn’s, celiac atau hipertiroid
  • Infeksi virus atau bakteri 
  • Pengobatan tertentu, misalnya antibiotik
  • Melakukan perjalanan

Apakah diare saat hamil berbahaya? 

Ada berbagai kadar diare, dari yang ringan sampai serius. Hilangnya cairan tubuh bisa memicu dehidrasi, yang sangat berbahaya buat ibu hamil. Agar diare tidak berujung pada masalah yang serius, pastikan Bunda mengonsumsi banyak cairan baik dari air putih maupun cairan lain. 

Waspadai jika ada tanda atau gejala dehidrasi seperti di bawah ini ya, Bun: 

  • Mulut kering 
  • Kepala pusing dan berputar-putar, atau merasa seperti ingin pingsan 
  • Sakit kepala 
  • Jarang buang air kecil 
  • Urin berbau menyengat 
  • Warna urin kuning gelap atau oranye

Meskipun seringkali tertangani, diare juga bisa menandakan adanya infeksi atau menyebabkan dehidrasi. Segera berkonsultasi dengan dokter jika Bunda mengalami diare selama lebih dari dua hari, mengalami kontraksi, Bunda merasakan gerakan bayi tidak sesering biasanya, melihat dan merasakan ada tanda dehidrasi, mengalami gejala lain seperti demam atau muntah, melihat ada noda darah di toilet, merasakan nyeri di perut bawah, atau jika diare menjadi lebih parah. 

Apakah diare menyebabkan keguguran?

Ketika mengalami diare, wajar jika Bunda merasa khawatir atau takut hal ini akan memengaruhi kehamilan. Bahkan mungkin ada juga yang berpikir bahwa hal ini merupakan gejala keguguran. Akan tetapi, diare bukanlah penyebab keguguran yang umum. 

Diare bisa dialami siapa saja, termasuk ibu hamil. Dan ibu hamil yang mengalami diare dapat tetap menjalani kehamilan yang sehat. Namun jika kekhawatiran tersebut tetap ada, tidak ada salahnya untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan untuk memeriksa kondisi kehamilan dan janin. 

Sementara itu, ada baiknya potensi penyebab diare kita hindari ya, Bun. Misalnya dengan mengonsumsi makanan yang matang, tidak jajan sembarangan, serta selalu mencuci tangan sebelum makan.

Continue Reading

Kehamilan

Makan Makanan Pedas saat Hamil, Amankah?

mm

Published

on

makan pedas saat hamil
Makan pedas saat hamil bisa merugikan Bunda.

Makan pedas memang asyik, terutama jika mual datang saat hamil. Kala morning sickness melanda, Bunda pasti kerap membayangkan betapa segarnya semangkuk soto atau bakso pedas untuk meredakan mual. Namun, sebelum menurutinya, pertimbangkan dulu yuk baik dan buruknya.

Efek Makanan Pedas pada Janin

Kabar baiknya, Bun, makanan pedas sepenuhnya aman untuk janin. Tidak ada dampak yang berarti ataupun membahayakan janin. Hanya saja, seperti dikutip dari healthline, sebuah riset pada tahun 2019 menemukan bahwa konsumsi makanan pedas mungkin mengubah rasa cairan ketuban. Namun, tidak dijelaskan jumlah makanan pedas yang dapat mempengaruhi rasa ketuban. 

Makan makanan pedas selama hamil juga akan mempengaruhi selera si kecil loh! Jadi, jika selama hamil Bunda hobi mengonsumsi makanan pedas, mungkin saja saat dewasa nanti si kecil akan lebih suka makanan pedas dibanding makanan lainnya.

Bagaimana Efeknya pada Bumil?

Nah, ini kabar buruknya. Meski makanan pedas sepenuhnya aman bagi janin, tidak demikian bagi Bunda. Terlalu banyak mengonsumsi makanan pedas saat hamil bisa mengganggu pencernaan, apalagi pada Bunda yang memang sudah memiliki gangguan pencernaan dari sebelum hamil.

Bila sebelumnya tak terbiasa makan makanan pedas, Bunda bisa mengakalinya dengan mengatur porsi. Jangan konsumsi makanan pedas di setiap waktu makan. Sesekali saja dalam kurun waktu beberapa hari. Dan jangan lupa untuk tetap terhidrasi ya, Bun. Minum air yang cukup.

Efek di Tiap Trimester

Jika Bunda berpikir makanan pedas bisa meredakan gejala mual dari morning sickness, Bunda keliru. Konsumsi makanan pedas seringkali justru memperparah morning sickness. Sementara itu, di trimester kedua dan ketiga efek samping inilah yang mungkin akan Bunda alami.

  • Heartburn. Sensasi terbakar pada dada karena terlalu banyak mengonsumsi makanan pedas mungkin akan Bunda alami pada trimester lanjut, apalagi ukuran rahim sudah kian membesar dan menekan lambung.
  • Muntah-muntah dan mual
  • Diare dan perut kembung
  • Kemunculan gejala GERD

Efek ini mungkin terdengar biasa atau ringan ketika Bunda sedang tidak hamil. Namun, percayalah, mengenyahkan hal-hal ini ketika hamil akan jauh lebih sulit. Pasalnya, ibu hamil tidak boleh sembarang minum obat karena dapat berbahaya bagi janin.

Mitos Seputar Makanan Pedas

Ada beberapa mitos yang beredar tentang mengonsumsi makanan pedas ketika hamil. Ini dia beberapa di antaranya yang perlu Bunda ketahui kebenarannya.

  • Ngidam makanan pedas berarti sedang hamil anak laki-laki. Tidak ya, Bun. Ini hanyalah anekdot dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Mengonsumsi makanan dengan citarasa tertentu tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin bayi.
  • Makanan pedas membantu proses melahirkan jadi lebih cepat. Ibu yang telah hamil lewat waktu seringkali disarankan untuk mengonsumsi makanan pedas agar bayinya cepat lahir. Ini juga tidak benar. Makanan pedas mungkin akan membuat Bunda mulas yang sensasinya mirip dengan kontraksi. Makanan pedas juga tidak menyebabkan keguguran, ya.
  • Konsumsi makanan pedas membuat janin lebih aktif menendang. Ini juga merupakan pernyataan yang keliru. Yang benar adalah janin akan aktif menendang setelah Bunda mengonsumsi makanan apapun hingga kenyang, terlepas dari jenis makanannya.

Itulah Bunda informasi seputar mengonsumsi makanan pedas kala hamil. Intinya, atur porsi makan pedas, jangan sampai berlebihan dan membuat Bunda sakit ya.

Continue Reading

Trending