fbpx
Connect with us

Kehamilan

Ini 7 Penyebab Utama Kematian Janin dalam Kandungan

mm

Published

on

kematian janin dalam kandungan
Kematian janin bisa disebabkan oleh 7 hal ini, Bun.

Kematian janin dalam kandungan berbeda dengan keguguran, meski sering dianggap sama. Jika keguguran diasosiasikan dengan kematian janin ketika usia kandungan masih muda, di bawah 18 minggu, maka kematian janin atau stillbirth adalah peristiwa kematian janin di usia kandungan 20 minggu hingga menjelang persalinan. 

Berdasarkan peristiwa kematiannya, stillbirth bisa dikategorikan ke dalam 3 kelompok. Kematian janin awal jika terjadi di usia kandungan 20-27 minggu, kematian janin akhir (di usia kehamilan 28-36 minggu), atau term jika terjadi di usia 37 minggu ke atas. 

Ada banyak hal yang dapat memicu kematian janin dalam kandungan yang biasanya juga dikaitkan dengan usia kandungan dan faktor risiko tinggi yang diidap Bunda. Akan tetapi, pada banyak kasus, penyebab utamanya tidak dapat diketahui secara pasti.

Beberapa hal ini adalah yang kerap menjadi penyebab kematian janin dalam kandungan. 

Cacat janin atau masalah kromosom 

Keabnormalan kromosom diketahui sebagai penyebab utama keguguran, akan tetapi beberapa jenis masalah kromosom dan cacat janin juga dapat meningkatkan risiko kematian janin. Di antara kedua hal tersebut, prosentase masalah kromosom sebagai penyebab kematian janin lebih tinggi. Menurut National Institutes of Health (NIH), sekitar 14% stillbirth disebabkan oleh cacat janin atau masalah genetik. 

Intrauterine Growth Restriction (IUGR) atau janin tidak berkembang 

IUGR merujuk pada kondisi janin yang perkembangannya di bawah standar dan terjadi selama beberapa minggu kehamilan Bunda. Pada kasus yang serius, janin yang tidak berkembang ini bisa berakhir pada kematian janin atau bayi lahir dalam kondisi tidak bernyawa. Salah satu penyebab utama IUGR adalah suplai oksigen atau nutrisi yang kurang lancar, dari plasenta ke janin. 

Meningkatnya risiko IUGR  juga bisa disebabkan oleh kondisi kesehatan dan gaya hidup ibu hamil. Tenaga kesehatan yang menangani ibu hamil biasanya akan melakukan penapisan atau pemeriksaan untuk mendeteksi hal ini di awal kehamilan Bunda. Beberapa faktor yang meningkatkan risiko IUGR di antaranya adalah preeklampsia dan merokok selama kehamilan. 

Untuk mendeteksi dan mencegah IUGR berkembang menjadi kematian janin, tenaga kesehatan seperti dokter kandungan atau bidan yang menangani kehamilan Bunda akan melakukan pemeriksaan rutin untuk memonitor perkembangan janin. 

Abrupsio plasenta

Dikenal juga dengan nama solusio plasenta, adalah istilah untuk kondisi plasenta yang lepas dari rahim sebelum waktunya. Abrupsio plasenta bisa terjadi karena kondisi kesehatan ibu hamil, trauma atau benturan pada perut, atau ketidaknormalan struktur rahim. Faktor gaya hidup seperti merokok atau penggunaan obat-obatan terlarang juga dapat meningkatkan risikonya. 

Apa tanda Bunda mengalami abrupsio plasenta? Kondisi ini ditandai dengan sakit perut, kontraksi dan perdarahan. Jika mengalami ketiga hal ini, segera kunjungi fasilitas kesehatan untuk mendapat pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut ya, Bun. 

Infeksi 

Beberapa infeksi bakteri dan virus, termasuk penyakit menular seksual  (PMS) diketahui dapat meningkatkan risiko stillbirth. Secara global, infeksi menyumbang sekitar 13% kasus kematian janin dalam kandungan.

Lilitan tali pusat 

Meski terdengar sepele, kondisi ini bisa berujung pada kematian janin dalam kandungan. Misalnya ketika tali pusat melilit leher janin. Meski jarang, kematian janin yang disebabkan oleh kondisi ini mencapai 10% loh, Bun. 

Kehamilan lewat waktu

Penelitian menunjukkan usia kehamilan lewat waktu (42 minggu ke atas) dapat meningkatkan risiko kematian janin dalam kandungan. Salah satu pemicunya adalah karena kemampuan plasenta dalam memberi nutrisi dan oksigen untuk janin semakin berkurang. 

Kondisi medis 

Beberapa kondisi medis yang dialami ibu hamil juga bisa meningkatkan risiko kematian janin. Bisa kondisi kesehatan yang memang dialami Bunda sebelum hamil, atau baru muncul setelah hamil. Beberapa kondisi kesehatan yang turut berkontribusi meningkatkan risiko kematian janin: 

  • Kondisi autoimun seperti lupus 
  • Masalah penggumpalan darah
  • Diabetes
  • Hipertensi atau tekanan darah tinggi 
  • Obesitas

Ibu hamil yang mengalami kondisi di atas amat disarankan untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin. Umumnya diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kehamilan yang nyaman dan aman bagi Bunda dan si Kecil.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kehamilan

Benarkah Minyak Zaitun Bermanfaat untuk Bumil?

mm

Published

on

manfaat minyak zaitun untuk ibu hamil
Minyak zaitun bermanfaat baik bagi ibu hamil maupun calon bayi.

Minyak zaitun kerap menjadi pilihan yang lebih menyehatkan untuk menggoreng. Karena itulah, orang yang ingin menjalani pola hidup sehat biasanya “hijrah” dari minyak goreng biasa ke minyak zaitun. Namun, apakah aturan ini berlaku pula untuk ibu hamil? Apakah minyak zaitun juga memiliki manfaat untuk ibu hamil?

Apakah Minyak Zaitun Bermanfaat bagi Ibu Hamil?

Ternyata jawabannya adalah iya. Sama seperti manfaat minyak zaitun pada umumnya, konsumsi minyak zaitun pada ibu hamil juga memiliki segudang manfaat. Ini karena minyak zaitun mengandung lemak baik yang bagus untuk tubuh. Tak hanya itu, minyak zaitun juga mengandung vitamin A dan omega 3 yang tentunya baik bagi bumil. Inilah beberapa manfaat minyak zaitun pada ibu hamil.

Menghindarkan Ibu Hamil dari Infeksi

Saat hamil, imun tubuh biasanya akan melemah. Dan dengan begitu, Bunda akan lebih mudah terserang infeksi. Salah satu cara agar Bunda tidak mudah terkena infeksi adalah dengan mengonsumsi pangan yang mengandung vitamin A. Minyak zaitun adalah salah satu sumbernya.

Mengurangi Risiko Stretch Mark dan Puting Kering

Tak hanya dikonsumsi, minyak zaitun juga bermanfaat sebagai pemakaian luar. Saat hamil, Bunda pasti rentan mengalami stretch mark karena kulit yang tiba-tiba melar. Untuk mengurangi risiko ini, Bunda dapat mengoleskan minyak zaitun ke area perut dan paha. Aplikasi minyak zaitun secara rutin dapat membuat Bunda terhindar dari stretch mark loh! Kalaupun stretch mark muncul, biasanya tidak akan terlalu parah dan cenderung samar.

Oh ya, aturan aplikasi yang sama bisa Bunda terapkan pada puting. Menjelang persalinan, puting maupun areola biasanya akan kering dan pecah-pecah. Jika dibiarkan, tentu akan membuat Bunda tidak nyaman. Aplikasikanlah minyak zaitun untuk meredakan gejalanya. Namun, pemakaian minyak zaitun pada puting tidak disarankan saat si kecil sudah lahir ya. Khawatir minyak zaitun yang menempel pada puting akan tertelan oleh bayi.

Manfaat Minyak Zaitun pada Bayi

Rupanya, minyak zaitun yang dikonsumsi semasa kehamilan tidak hanya bermanfaat bagi Bunda saja, tetapi juga bagi bayi yang dikandung. Inilah sejumlah manfaat yang bisa diperoleh.

Baik untuk Perkembangan Otak dan Jantung Janin

Minyak zaitun yang kaya dengan omega 3 sangatlah baik untuk perkembangan jantung janin. Pun, bayi yang lahir dari ibu yang mengonsumsi minyak zaitun selama kehamilan, memiliki proses belajar yang lebih baik.

Refleks Psikomotor yang Lebih Baik

Seperti dilansir dari momjunction.com, bayi yang lahir dari ibu yang rutin mengonsumsi minyak zaitun selama kehamilan juga terbukti memiliki refleks psikomotor yang lebih baik. 

Berkaitan dengan Rendahnya Risiko Mengi

Mengi atau nafas dengan suara tinggi adalah salah satu hal yang kerap terjadi pada bayi. Tahukah, Bunda? Sebuah studi yang dipublikasikan oleh Pediatric Pulmonology menunjukkan bahwa konsumsi minyak zaitun selama kehamilan berkaitan dengan rendahnya kejadian mengi pada bayi di satu tahun pertama kehidupannya. Luar biasa, bukan?

Cara Mengonsumsi Minyak Zaitun selama Kehamilan

Setelah tahu manfaat minyak zaitun bagi ibu hamil dan janin, Bunda tak perlu ragu lagi untuk mengonsumsi minyak satu ini selama kehamilan. Namun, bagaimana sih konsumsi yang disarankan? 

Untuk mengonsumsi minyak zaitun selama kehamilan, Bunda bisa menggunakannya sebagai alternatif minyak untuk menggoreng atau memanfaatkannya sebagai salad dressing. Mengenai seberapa banyak konsumsi minyak zaitun dalam sehari, Bunda bisa mengonsultasikannya pada dokter masing-masing karena dokter pasti akan melihat riwayat kesehatan Bunda.

Bunda, itulah informasi seputar manfaat minyak zaitun bagi ibu hamil. Selamat menjalani hidup yang lebih sehat!

Continue Reading

Kehamilan

Benarkah Aspirin Bisa Meningkatkan Risiko Keguguran? Ini Faktanya

mm

Published

on

aspirin keguguran
Studi mengenai dampak aspirin pada keguguran memiliki hasil beragam.

Aspirin atau yang dikenal dengan asam asetil salisilat merupakan obat dengan beragam manfaat, mulai dari meredakan demam, nyeri, hingga dimanfaatkan untuk pengobatan jantung dan pengenceran darah. Obat satu ini lazimnya dikonsumsi atas resep dokter. Namun, ada pula jenis aspirin yang dapat dibeli bebas di apotek atau toko obat.

Meski beberapa jenis aspirin dapat dibeli bebas, Bunda mesti hati-hati mengonsumsinya, terutama bagi yang tengah hamil. Pasalnya, beberapa temuan mengaitkan aspirin dengan risiko keguguran. Walau temuan terkait hal ini masih penuh perdebatan, tak ada salahnya jika kita waspada, bukan? 

Aspirin dan Risiko Keguguran

Aspirin adalah salah satu jenis obat anti-inflamasi nonsteroid. Dilansir dari verywellfamily.com,  salah satu studi pada awal tahun 2000-an menunjukkan adanya peningkatan risiko keguguran sebesar 80% pada perempuan hamil yang mengonsumsi jenis obat ini. Studi lainnya pada tahun 2003 mencatat temuan yang sama, yakni penggunaan obat anti-inflamasi nonsteroid dapat meningkatkan potensi keguguran.

Meski telah ada dua studi yang mengaitkan penggunaan obat anti-inflamasi nonsteroid dengan keguguran, yang mana aspirin termasuk di dalamnya, hasil ini belum sepenuhnya meyakinkan. Mengapa? Karena bisa jadi penyebab keguguran pada partisipan dalam studi bukanlah penggunaan aspirin itu sendiri, melainkan penyakit awal yang diderita si ibu hamil yang membuatnya mengonsumsi aspirin. Hal seperti ini tidak dijelaskan dalam studi. Pun, temuan dari studi lainnya sangatlah beragam sehingga kesimpulannya belum jelas betul.

Bisakah Aspirin Mencegah Keguguran?

Meski beberapa studi mengaitkan penggunaan aspirin dengan peningkatan risiko keguguran, ada pula studi yang menunjukkan hal sebaliknya. Hmm, kontradiktif sekali, ya?

Namun, hal ini menjadi masuk akal mengingat aspirin kerap dimanfaatkan sebagai obat pengencer darah. Nah, aspirin mungkin saja bermanfaat bagi perempuan yang mengalami keguguran berulang karena sindrom antifosfolipid atau sindrom kekentalan darah. Penggunaan aspirin dalam dosis rendah, atas saran dokter tentunya, dapat menghambat terbentuknya gumpalan darah. Aliran darah menuju janin pun akan lebih lancar sehingga risiko keguguran dapat dihindari.

Bermanfaat bagi Kehamilan Berikutnya

Disadur dari WebMd, konsumsi aspirin rupanya juga bermanfaat bagi kehamilan berikutnya pada perempuan yang pernah mengalami satu atau dua keguguran. Ashley Naimi, Profesor Epidemiologi Emory University, mengatakan bahwa hal ini mungkin terjadi karena sifat aspirin sebagai anti-inflamasi. Yang mana, keguguran mungkin terjadi karena inflamasi yang tidak terdeteksi.

Dalam studinya yang dipublikasikan dalam Annals of Internal Medicine, sekitar 1.200 partisipan yang memiliki riwayat 1 hingga 2 keguguran terlibat. Hasilnya, perempuan yang mengonsumsi aspirin dosis rendah sebanyak 5 hingga 7 kali per minggu lebih mungkin untuk hamil kembali dan melahirkan bayi yang sehat dibanding yang tidak mengonsumsi aspirin. Menarik sekali ya, Bun, temuannya.

Itulah Bunda beragam temuan yang membahas keterkaitan aspirin dengan risiko keguguran. Untuk sampai pada kesimpulan yang adekuat, masih diperlukan penelitian lagi. Yang terpenting, jika saat ini Bunda sedang hamil, lebih baik berkonsultasi dulu dengan nakes sebelum mengonsumsi obat apapun, termasuk aspirin. Semoga sehat selalu ya, Bun.

Continue Reading

Kehamilan

Bunda, Pahami Penyebab Pembengkakan yang Terjadi saat Hamil

mm

Published

on

bengkak saat hamil
Bukan hanya perut yang akan membesar selama kehamilan, beberapa hal ini juga.

Tubuh mengalami banyak perubahan selama kehamilan. Di masa awal, banyak calon ibu merasakan kulit yang lebih berkilau atau rambut yang terasa lebih lebat. Namun seiring bertambah besarnya perut, semua gejala kehamilan yang menyenangkan itu berubah dengan kulit yang menjadi lebih gelap, kaki dan tangan yang membengkak, bahkan wajah pun ikut membengkak. Selain kenaikan berat badan, hal ini juga disebabkan perubahan dalam tubuh Bunda. 

Penyebab tubuh bengkak saat hamil 

Tahukah Bunda, tubuh ibu hamil menyimpan lebih banyak cairan di dalam tubuhnya. Selama hamil, volume cairan di dalam tubuh bisa meningkat hingga 8 liter banyaknya, atau 33 cangkir! Wow, banyak ya, Bun! Nggak heran kalau Bunda merasakan tubuh lebih berat.

Tidak hanya cairan, volume plasma tubuh ibu hamil juga meningkat sebanyak 30-50 persen, loh. Itu artinya, total volume darah dalam tubuh Bunda juga meningkat banyak. 

Lantas, ke mana cairan tersebut disimpan? Apakah beredar di dalam tubuh secara merata? 

Beberapa bagian cairan tersimpan dalam sel tubuh untuk menjaga fungsi sel tersebut. Sisa cairan tersebut tersimpan di luar sel untuk meningkatkan sirkulasi oksigen, sistem pembuangan sampah, dan mengontrol aliran elektrolit. 

Sementara peningkatan plasma darah merupakan reaksi dari meningkatnya kebutuhan plasenta dan organ maternal Bunda. Intinya, pertambahan volume plasma atau darah memang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan janin dan organ tubuh Bunda. 

Artinya, semakin bertambah usia janin, semakin meningkat pula kebutuhannya. Menjelang waktu persalinan di trimester ketiga, volume darah di tubuh Bunda pun mencapai puncaknya. Itu sebabnya, pembengkakan pada beberapa bagian tubuh akan sangat terasa di trimester ini. 

Bukan hanya itu yang bisa menyebabkan pembengkakan saat hamil, Bun. Meningkatnya kadar sodium dalam tubuh juga bisa jadi biang keroknya. Pasalnya, sodium mempengaruhi bagaimana tubuh menyerap dan memproses air. Kenaikan kadar sodium sedikit saja bisa menyebabkan pembengkakan. 

Mana yang normal dan yang tidak?

Sebagian besar penyebab pembengkakan saat hamil memang wajar terjadi. Akan tetapi, Bunda juga perlu mewaspadai beberapa penyebab yang tidak wajar. Lalu bagaimana membedakannya? 

Pada dasarnya, tidak perlu panik jika Bunda mengalami bengkak pada kaki, pergelangan kaki, jari-jemari atau tangan. Bunda juga mungkin menyadari kalau pembengkakan ini menjadi lebih parah menjelang akhir hari. Hal ini disebabkan karena cairan ekstra di dalam tubuh kerap berkumpul di bagian tubuh yang terjauh dari jantung sebagai organ pemompa. Selain itu, kondisi cuaca yang panas dan lembap serta aktivitas yang membuat Bunda lebih banyak berdiri juga bisa menyebabkan pembengkakan. 

Akan tetapi, ada beberapa kondisi selama kehamilan yang juga menyebabkan pembengkakan, yaitu preeklampsia dan pembekuan darah. Harap diingat bahwa kedua hal ini merupakan faktor risiko yang perlu dipantau secara serius oleh tenaga kesehatan. Selain itu, pembengkakan yang terjadi karena kedua kondisi ini berbeda dari bengkak biasa. 

Pembengkakan yang terjadi karena preeklampsia biasanya terjadi pada area lengan, muka, dan sekitar mata yang terjadi secara tiba-tiba atau bertahap. Pada pengidap preeklampsia, pembengkakan ini juga diikuti gejala lain seperti rasa sakit kepala yang menetap, gangguan penglihatan, nyeri perut, dan pertambahan berat badan yang terjadi secara tiba-tiba. 

Sementara pembengkakan yang terjadi karena pembekuan darah biasanya juga disertai dengan gejala:

  • Rasa nyeri yang nyata
  • Kulit kemerahan 
  • Area tubuh yang bengkak juga terasa lembek 
  • Hangat jika disentuh

Jika Bunda mengalami gejala-gejala ini, segera menghubungi dokter kandungan atau bidan ya.

Mengatasi pembengkakan normal

Jika pembengkakan yang disebabkan oleh preeklampsia dan pembekuan darah perlu ditangani oleh dokter, maka pembengkakan normal bisa diatasi dengan beberapa cara berikut ini: 

  • Angkat kaki hingga posisinya berada di atas jantung Bunda. Misalnya dengan berbaring di kasur dan mengganjal kaki dengan beberapa bantal yang ditumpuk. Cara ini bisa membantu mengalirkan cairan kembali ke arah jantung. 
  • Minum banyak air untuk membuang cairan ekstra dan sodium yang tersimpan dalam tubuh. 
  • Gunakan kaos kaki kompresi untuk meningkatkan sirkulasi darah, apalagi jika Bunda terpaksa duduk dalam satu posisi dalam waktu yang lama, misalnya saat bepergian jarak jauh. 
  • Hindari beraktivitas di luar rumah saat cuaca panas dan lembap. 
  • Naikkan kaki beberapa kali jika Bunda berdiri dalam waktu yang lama. 
  • Hindari sepatu berhak tinggi dan gunakan sepatu yang nyaman. 
  • Konsumsi lebih banyak makanan yang mengandung potassium seperti pisang dan avokad untuk mengeluarkan tumpukan sodium dalam tubuh. 
  • Kurangi konsumsi makanan asin seperti makanan kaleng, fast food, dan keripik. 

Semoga cara tersebut bisa membantu mengurangi ketidaknyamanan yang dirasakan saat mengalami bengkak ya, Bun.

Continue Reading

Trending